Langsung ke konten utama

Mitos Indonesia

Radhar Panca Dahana
Kompas, 19 Mei 2010

SEJAK pertama kita beraktivitas hidup masa kini, sebenarnya ada kenyataan baru sadar atau tidak yang kita akui: Indonesia, negeri tempat kita bertaut dan mengacu diri, ternyata telah menjadi mitos.

Kenyataan baru telah menggeser kenyataan menjadi dunia abstrak, gelap, tak terukur, dan terpendam di dasar ingatan.

Dunia baru yang menghidupi dan kita hidupi saat ini adalah sebuah ruang yang diisi berbagai tatanan yang mengartifisialisasi, mematerialisasi, menyuperfisialisasi, hampir semua perangkat dasar kemanusiaan kita, baik fisikal, mental-spiritual, maupun intelektual. Semua jadi terukur, mekanis, dan praktis. Dalam gradasi keakutan masing-masing, hidup kian pragmatis, oportunis, bahkan hedonis.

Apa yang kita bayangkan sebagai manusia (kepulauan) Indonesia yang ramah, santun, jujur-percaya, spiritualistis, gotong royong, empatik, atau penuh rasa hormat, tinggal jadi cerita usang. Dalam lelucon, sinisme, fabel, atau roman-roman, sastra lisan dan buku-buku komik. Semua yang berkumpul di satu ceruk kesadaran mistis kita adalah kenyataan yang kita bayangkan senantiasa ada, padahal ia hanya khayal atau obsesi belaka.

Asing di rumah sendiri

Kenyataan yang ”terangkat” (atau ”terpendam”?) itu segera tersadari ketika masuk ke rumah sakit mana saja. Kita seperti kehilangan hak, terabaikan, terkomodifikasi karena harus mengeluarkan lebih dulu sejumlah uang sebelum kita ditangani. Segera kita merasa asing. Merasa menjadi tamu murahan di sebuah rumah, yang sesungguhnya hanya kamar kecil atau bagian dari rumah besar bangsa kita.

Apakah tidak demikian yang kita alami, saat dihentikan polisi dari balik tikungan atau keremangan pepohonan? Saat terjebak dalam antrean: tiket mudik Lebaran, lalu lintas macet, hingga permohonan jaminan kesehatan? Saat bertemu aparat pemerintah yang selaiknya melayani tetapi ternyata memecundangi kita? Saat menonton televisi tentang kelakuan elite di parlemen, kabinet, partai politik, lembaga penegak hukum?

Apakah Anda menemukan diri sendiri, menemukan Indonesia yang kita pahami sejak dini (mungkin sudah dalam bentuk sejarah atau cerita rakyat), saat mencoba mengerti apa yang terjadi di balik kasus Century, Sri Mulyani, Sekber Partai Koalisi, hingga penangkapan Susno?

Betulkah itu Indonesia, saat kedegilan, keserakahan, kebencian, kebohongan, dan semua tabiat hitam manusia, secara terbuka dan tanpa urat malu muncul dalam skenario politik, perilaku, drama, dan gaya hidup elite kita belakangan ini?

Indonesia yang kita pahami dan coba terus kita kenali—yang ironisnya kian tidak kita kenali—memang sudah pergi, meninggalkan kita. Meninggalkan masa kini dan masa nanti kita.

Sejarah mitologis

Masa lalu bagi negeri ini, bagi kita, bukanlah data yang cerah, jelas dan bening, seperti yang dibayangkan ilmu dan rasionalitas. Karena kelangkaan data, minimnya catatan tertulis, buruknya tradisi dokumentasi kita, juga karena ”permainan” dari para orientalis serta ”indonesianis” hingga permainan politik dan ideologi penguasa, hampir seluruh momen penting dalam sejarah, sesungguhnya telah kabur, remang-hingga-gelap, abstrak, bahkan mistis.

Ketika peradaban-peradaban tua seperti Mesir, China, dan India memiliki data dan bukti adekuat tentang kenyataan purba mereka, bahkan hingga ribuan tahun sebelum masehi, peradaban kepulauan ini hanya menyimpan data dan bukti sekitar 500 tahun lalu dalam mitologi belaka.

Bagaimana sebenarnya tata hidup Majapahit, siapa sesungguhnya Gajah Mada, Wali Sanga-Syekh Siti Jenar, bilakah Islam masuk, hingga siapa itu Joko Tingkir atau Untung Suropati, belum pernah diketahui pasti. Tak perlu terlalu jauh. Bagaimana terjadinya dan di mana keberadaan Supersemar, masih teka-teki. Padahal, baru terjadi 44 tahun lalu. Bahkan, apa yang terjadi di balik reformasi, siapa sebenarnya yang ”menjatuhkan” Soeharto, belum kita dapatkan.

Sebagaimana kita cepat melupakan persoalan, sebesar dan sevital apa pun tentang bangsa ini, kita secara kolektif dan umumnya diinisiasi kepentingan elite, senantiasa memproduksi cerita bahkan fiksi dari sebuah data (peristiwa). Menciptakan mitologi—modern atau urban—kita sendiri. Setiap hari.

Pengerdilan

Sejarah tempat adab, adat, dan tradisi tersimpan, tidak lagi menjadi sumber eksistensi. Posisinya diminorkan dan distigmatisasi oleh standar hidup masa kini. Segala bentuk jati diri dan upaya eksistensial cepat terlempar ke masa lalu menjadi hikayat. Betapa pengerdilan ilmu dan rasionalisme telah memangkas makna sejarah.

Sesungguhnya dengan pengerdilan itu, hampir delapan bagian dari diri kita, dari peradaban sejati bangsa kepulauan ini, terpendam dalam misteri.

Karena itu, masih menimbulkan rasa bingung dan tidak percaya, bahkan sebagian menerimanya sebagai ”teror” kemustahilan ketika ada temuan: sejak ribuan tahun sebelum Masehi bangsa kepulauan ini telah memiliki teknologi kelautan dan pelayaran canggih serta menjadi rujukan banyak peradaban lain.

Bahkan, fakta adanya suku bangsa yang cukup berpengalaman di masa kita, oleh buku sejarah resmi dikabarkan masih menjadi manusia-goa. Bahwa bukan kita yang jadi tempat pelarian atau penjelajahan bangsa kontinental, melainkan justru bangsa kitalah yang mendarat dan menetap di sana lebih dulu. Ternyata, masih terasa begitu aneh untuk menyadari bahwa kita bukanlah bagian dari bangsa-bangsa dan peradaban kontinental (daratan), melainkan maritim (kelautan).

Terlebih jika saya menyodorkan sebuah proposisi hipotetikal: semakin mengetahui realitas diri kita (yang kita mitologisir sendiri itu), sesungguhnya semakin dekat kita pada pengetahuan yang memiliki kemampuan adekuat untuk mengantisipasi dan menjawab tuntas persoalan-persoalan kehidupan kita masa kini. Ini bukan soal memercayai atau tidak, melainkan membuktikan. Tinggal, apakah Anda masih bergeming menyatakan apa yang disebut ”lalu”, ”adat”, ”tradisi”, bahkan ”mitologi” sebagai dunia yang beku, statis, zombiistik, kuno, dan ”tidak modern”?

Bisa jadi, kunci dari kekuatan peradaban (purba) kepulauan ini sesungguhnya ada di sikap mental itu. Begitu akutkah? Begitu beratkah mengubahnya? Jawaban sebenarnya tersedia. Namun, Anda yang memberi lebih dulu.
________________________
*) Radhar Panca Dahana, Budayawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/05/mitos-indonesia.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).