Gelombang Pendidikan Sastra

Aan Frimadona Roza
Lampung Post, 18 Des 2010

MENELAAH puisi-puisi dan catatan dewan juri Batu Bedil Award yang dimuat Lampung Post, Minggu, 5 Desember 2010, dalam rangkaian Festival Teluk Semaka 2010, saya benar-benar seperti diajak mengarungi keluasan samudera yang tak berbatas. Setidaknya bagi saya yang tengah menjadi penumpang sekaligus nakhoda dalam bahtera sistem pendidikan membuat saya bertambah yakin betapa lomba cipta puisi seperti ini tidak hanya memberi dampak positif bagi promosi pariwisata dan budaya daerah bersangkutan, tetapi juga bersinggungan dengan tujuan mulia lain, yaitu meningkatkan derajat pendidikan khususnya bidang kesusasteraan.

Meningkatkan derajat pendidikan yang saya maksud dalam konteks ini adalah betapa pendidik seperti saya bersama-sama para siswa akan lebih aktif untuk belajar langsung melalui impresi-impresi, pengalaman visual, pengalaman auditif maupun pengalaman kinetik yang kesemuanya kerap disebut sebagai “pengalaman puitik”. Di sisi lain, guru pun akan lebih aktif menambah kapasitas dirinya sebagai pendidik, khususnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang kadung dianggap masyarakat telah mengetahui segala ihwal kesusasteraan.

Ketika pendidik dan siswa dapat bersama-sama memaknai sebuah karya sastra yang berangkat dari lingkungan alamnya, keesaan Tuhan, perilaku manusia, keindahan alam dan sebagainya serta-merta saya teringat tujuan pendidikan yang diungkapkan bapak pendidikan nasional kita, Ki Hajar Dewantara. Tujuan pendidikan yang semestinya adalah memanusiakan manusia, menumbuhkembangkan nilai-nilai perikemanusiaan, serta membangun budi pekerti.

Tidak hanya pada tataran siswa saja konteks pencapaian kesusasteraan, tetapi pada guru khususnya bagi guru bahasa dan sastra juga guru seni budaya akan memberikan suatu sistem pengajaran yang dinamis. Selama ini siswa melulu dijejali dengan teori-teori pengajaran kesusasteraan saja, akan tetapi sedikit banyak ada semacam praktek langsung kepada peserta didik untuk mengejewantahkan dari teori yang didapat selama ini. Hal ini akan menambah daya kreativitas guru akan membangun suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) yang selama ini didengung-dengungkan.

Membaca ulasan dewan juri yang menyebutkan bahwa ada 103 puisi yang dinilai, saya berharap-harap cemas apakah karya-karya puisi itu didominasi oleh peserta pelajar khususnya dari Provinsi Lampung? Kalau jawabannya “ya” tentulah hal ini menjadi kabar sukacita bagi keberlangsungan regenerasi kesusasteraan di provinsi ini, tetapi bila jawabannya “tidak” tentulah ada pertanyaan besar ikutan selanjutnya: Ke mana para siswa dan para pendidik khususnya guru bahasa dan sastra atau guru seni budaya yang begitu meyakini bahwa suasana pembelajaran yang mereka lakukan telah aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan?

Apakah ada yang salah di dunia pendidikan sastra kita? Kurikulum yang kurang menyentuhkah? Pendidik yang tidak berkapasitas mumpunikah? Atau jangan-jangan? Ah, saya mungkin terlalu banyak bermimpi: Membayangkan para siswa dan guru saling membaca puisi mereka di bawah pohon nan rindang atau di selasar sebuah ruang kelas dengan duduk bersila dengan suasana hangat saat jam istirahat tiba.

Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus dalam menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi Nasional Batu Bedil Award 2010 dalam rangkaian Festival Teluk Semaka tahun ini. Hal ini merupakan terobosan-terobosan dalam mengairahkan perkembangan sastra khususnya di Provinsi Lampung yang kita cintai ini setelah dimulai pertama kali oleh Dewan Kesenian Lampung pada 2002 dengan Lomba Penulisan Puisi bertajuk Krakatau Award.

Momen Batu Bedil Award 2010 ini bisa jadi titik tolak untuk dapat ditiru oleh kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Lampung, dengan tidak hanya melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saja, tetapi juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dengan berperan mengompori guru dan siswa di sekolah untuk menyukai dan mengikuti kegiatan kesusasteraan.

Inilah yang saya maksudkan sebagai gelombang pendidikan sastra, apabila ada kegiatan serupa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus ini juga dilakukan di Kabupaten Way Kanan yang memiliki agenda tahunan Festival Radin Jambat, di Kota Bandar Lampung dengan Festival Kesenian Bandar Lampung, di Kabupaten Lampung Timur dengan Festival Way Kambas, di Kabupaten Lampung Barat dengan Festival Teluk Stabas, di Kabupaten Lampung Utara dengan Festival Kesenian Akhir Tahun, di Metro dengan Festival Kesenian Kota Metro ataupun di kabupaten lain yang menggagas di mana di situ ada semacam rangkaian dalam anugrah karya sastra entah itu puisi atau cerpen. Hal ini akan menjadi “darah segar” untuk denyut sebuah kegiatan yang kerap terjebak pada rutinitas seremonial belaka.

Saya membayangkan ribuan siswa dan ratusan guru bahasa dan sastra juga seni budaya seprovinsi ini akan bersama-sama menafsir tentang Lampung dan segala ihwal sejarah yang pernah, sedang dan akan terjadi lalu dituangkan dalam sebuah karya? Bukankah ini menjadi “data empirik” yang luar biasa bobotnya ketika harus dihadapkan dengan data-data statistik ketika masyarakat dan pemerintah sudah semakin pragmatik?

Meskipun demikian, saya teramat menyadari, akan ada banyak kendala ketika guru–guru bahasa dan sastra ataupun guru-guru kesenian yang minim pengalaman membuat karya sastra, jarang terlibat forum-forum diskusi, pelatihan-pelatihan pembuatan karya sastra semacam workshop, seminar dan sebagainya sehingga menimbulkan efek domino: Guru menjadi tidak percaya diri dalam “menguasai medan sastra” apatah lagi para siswanya?

Meskipun saya rasakan catatan dewan juri Batu Bedil Award 2010 itu kurang menguliti lebih dalam dan perinci tentang karya-karya yang layak menjadi pemenang sehingga dapat menjadi sumber pustaka bagi pengayaaan guru dan murid, tetapi saya tetap meyakini bahwa setiap momen kesenian di daerah dapat menjadi riak-riak kecil yang terus menggumpal yang akan menjadi gelombang dahsyat bagi perkembangan pendidikan sastra di daerah.

Semoga saja hasil kegiatan lomba penulisan puisi nasional ini benar akan diterbitkan dalam buku seperti janji dewan juri, karena dengan demikian bertambah kaya lagi literatur kesusasteraan asal provinsi ini yang kemudian akan dikancah, dianalisis, diperdebatkan secara akademis dengan pengharapan munculnya gagasan-gagasan dan teori-teori baru.

Akhirnya, ucapan selamat kepada para peraih Batu Bedil Award 2010 juga tahniah kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus yang berani dan kreatif untuk lebih dahulu memulai membuat “momentum budaya baru” di tingkat kabupaten di provinsi ini maka sebagai orang yang berdomisili di Kabupaten Way Kanan tentunya saya tidak berlebihan apabila kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus ini dapat juga dilakukan di bumi ramik ragom karena saya tetap meyakini hidup ini singkat tapi seni tetap abadi. Ars longa, vita brevis… n

*) Aan Frimadona Roza, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 4 Baradatu Way Kanan
Dijumput dari: http://ulunlampung.blogspot.com/2010/12/gelombang-pendidikan-sastra.html

Komentar