Lan Laku Kala Mangsane

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Setiap pertemuan selalu menyematkan risalah sebagai salah satu rahasia penting dalam hidup. Nyaris selalu. Kadang ia begitu menggelisahkan. Kadang ia menjadi begitu sukar dirumuskan. Namun tak jarang justru ia menjadi hal remeh-temeh yang luput dari pandangan sekaligus membisik lirih; “abaikan!”. Setiap pertemuan lantas berubah ujud menjadi sebuah koleksi peristiwa yang layak disematkan sebagai “berharga”. Untuk sedikit saja menyebutnya, misal lipatan nuansa yang terbangun pada saat pertemuan terhadap sesuatu yang “baru” dalam hidup; pengetahuan. Mungkin seperti Nabi Adam yang bertemu dengan bergugus-gugus nama. Lalu hadir sesuatu yang dirasa sebagai ‘berbeda’.

Lalu, saya ingin berkisah tentang satu hal dari pertemuan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “lan laku”. Kalau dialihkan ke bahasa Indonesia barangkali “dan jalan”. “Kala mangsane” kurang lebih bermakna “pada suatu ketika”. Saya memilih salah satu sebagai perasannya [meski memilih sejatinya adalah sesuatu yang tidak ringan bagi seorang seperti saya].

Suatu ketika di perjalanan bus malam yang saya tumpangi…

Saya teringat gurauan orang tua saya ketika kisah ini saya udar di depan mereka. “Wingit malam satu suro”, canda mereka. Tak pernah saya anggap sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh. Biasa saja. Bahasa lain barangkali ‘kebetulan yang tak terduga’. Dari Cilacap menuju Surabaya. Saat itu memang tepat malam satu Suro dalam almanak Jawa. Separo perjalanan saya ditemani salah seorang kolega kerja sebelum akhirnya dia turun lebih dulu di Jogja, lalu saya melanjutkan perjalanan seorang diri menuju Kota Pahlawan itu. Beberapa menit bus malam yang saya tumpangi berhenti di terminal Solo. Rehat sembari menerima operan penumpang dari bus lain. Saya duduk sendiri persis di belakang sopir. Seorang kakek, sekira umur 60-an lebih [di kemudian menit beliau mengatakan bahwa usianya hampir kepala tujuh], datang menghampiri. Dengan sopan menanyakan adakah kursi sebelah saya telah ada sang tuan. Saya menjawab kosong, lalu kakek itu meminta ijin untuk duduk di sebelah saya. Dengan senyum saya mempersilakan.

Percakapan antara kami dimulai saat bus mengeluarkan diri dari terminal. Kakek basa-basi menanyakan dari mana dan ke mana. Saya jawab; “Surabaya”. Rupanya, kami sama-sama berangkat naik bus dari Cilacap. Bertambah panjang kalimat kakek ketika menanyakan identitas saya. Saat saya jawab bahwa saya freelance di sebuah kerja keredaksian, tiba-tiba kakek itu menyalami saya dengan sangat hangat dan penuh penghormatan sembari berkata; “Wah, selamat. Saya senang sekali bisa bertemu dengan perempuan muda yang bla-bla-bla… [terminologi jurnalis berikut Kartini Muda ia munculkan dalam kalimat panjangnya]”. Saya nyengir saja. Sebentar kemudian saya meluruskan dugaan kakek tentang saya yang tak sepenuhnya benar. Saya bukan jurnalis, hanya seorang korektor naskah. Saya juga belumlayak disebut Kartini Muda, karena saya bukan pejuang sejati kaum saya seperti Kartini.

Sejurus kemudian, mengalirlah semuanya. Satu nama paling awal ia sebut adalah Mochtar Lubis. Berekor panjang kalimatnya tentang penulis kesohor itu. Saya terkesiap dalam diam. Beberapa menit awal, ternyata musti saya alami; bertemu dengan orang yang memiliki redaksi berlembar-lembar padahal kami sama-sama orang asing yang baru saja bertemu. Tapi saya senang. Gaya bicara, materi, dan diksi yang dipilihnya begitu menarik dan membuat saya dengan mudahnya menilai bahwa kakek ini luar biasa. Sangat beruntung saya bertemu orang asing yang dalam beberapa menit awal perjumpaan sudah memberikan saya banyak hal yang bisa dibagi; CERITA.

Penceritaan tidak terstruktur memang, gado-gado, berselang-seling antara publik dan domestik. Antara separo gosip dan ilmiah. Antara dunia akademik dan supranatural. Antara sesuatu yang antara-antara…antara lain-antara lain. Ketika saya katakan bahwa ini perjalanan pertama saya seorang diri menuju Surabaya, kakek itu menukas; “Saya doakan semoga perjalananmu kelak yang kedua ke Surabaya telah tidak seorang diri, tapi bersama pasanganmu”. Saya tersenyum nyengir kecil. Rupanya kalimat klise itu menjadi awal ia mengorek secara halus dunia privasi saya. Saya sadar. Bahkan ketika kakek itu lalu mencoba memberi semacam “pengantar pemancing” agar saya berkisah padanya, saya paham betul hendak ke mana kalimat-kalimat selanjutnya diarahkan.

Kakek yang saya tak tahu namanya itu berkisah panjang lebih dulu tentang siapa dirinya. Menemukan bakat diri ketika memasuki bangku SLTA dengan menekuni teknologi di sekolah setingkat STM [Sekolah Teknologi Menengah], lalu melanjutkan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, hingga menjadi guru setelah sebelumnya beliau juga menempuh pendidikan di SGA [Sekolah Guru Agama]. Beliau penggila teknologi. Namun entah mengapa, pada titik apa dan mana beliau tak berkisah jauh terkait pekerjaannya kecuali bahwa ia keluar dari PNS dan memilih mandiri dengan berdagang.

Lalu, garis hidup mempertemukannya dengan kisah yang ia bilang “tak pernah diinginkan sebelumnya”. Menikah, memiliki beberapa putra, lalu bercerai. Pada bagian ini, saya terhenyak serius dalam batin. Pertanyaan otomatis itu pasti bergulir; “ada gerangan apa?”, namun hanya saya simpan. Sejak itu, lanjutnya, dimulailah petualangannya; beliau menyebut petualangan jiwa-raga [pada bagian ini, dalam batin saya meruyak juga. Inikah dunia lelaki dewasa? Logika saya pasti akan mengacuhkan, seperti yang sudah-sudah ketika saya musti mendengar hal yang menjauh dari nurani saya. Meski demikian saya selalu berusaha menyimak dan menerima apa pun penuturannya].

Tuhan masih mengijinkan kakek meneguhkan kepercayaan kembali dengan menikah untuk kedua kali. Bukan berarti selesai di sini. Kakek bilang, pernikahan yang sekarang, yang beliau ikhtiarkan sebagai terakhir, bukan tanpa badai. Beliau yang duda dengan beberapa putra telah beranjak dewasa, serta istrinya yang janda dengan beberapa anak remaja, mewarnai bahtera dengan segudang perselisihan yang menyulitkan dan menyakitkan. Tak disebutkan apa dan bagaimana semuanya mereka selesaikan serta bagaimana keluarga itu bertahan. Kakek itu lalu seperti membuat cerita sesegera mungkin selesai pada bagian ini. Sedikit pun tak ada tanya keluar dari mulut saya. Bukan wilayah saya untuk itu.

Satu babak yang bagi saya menarik adalah ketika beliau berkisah tentang “the only one” [kalimat berbahasa Inggris ini beliau gunakan apa adanya dan terus menerus]. Jauh di lubuk paling dasar hatinya, kakek itu berkisah tentang cinta masa lalu yang diakui sebagai yang teristimewa. Seorang kakek yang nyaris kepala tujuh bisa sebegitu mendalam mengenang cinta dan menguras langgam kenangan masa lalu? Saat realitas hidup telah mendudukkannya dalam bahtera yang ia kukuhkan sebagai yang terakhir? [saya bergumam, barangkali apa yang saya dengar adalah ‘salah’, barangkali saya memang tak pernah siap berdamai dengan logika realitas bahwa antara cinta dan keinginan untuk memiliki adalah sesuatu yang berbeda]. Pada saat saya menuliskan kalimat-kalimat ini, begidik hati saya. Tentu lah saya ngeri, mendialektikkan apa yang menjadi masa lalu menjadi terasa tak berjarak dengan hari ini dan mungkin hingga menutup mata kelak, dengan sebegitu hampanya dari persoalan yang mengkhawatirkan. Apalagi lalu disentuhkan unsur kesengajaan mencari celah, agar ada ruang yang terlepas dari jiwa demi ‘mencari pembenaran’ pemanjaan terhadap perasaan. Hmm, Tuhan…?

“The only one” si kakek rupanya telah menjanda ditinggal mati. Cerita lantas begitu mudahnya menghampiri dan mendukung ruang paling pribadi itu. Kerabat dan seluruh keluarga [juga istrinya sendiri], menerima dengan lapang saat pihak “the only one” itu bermaksud “ngunggah-unggahi” dalam sistem poligami. Seperti sinetron saja, mereka bertiga [kakek, istrinya, dan “the only one”] lalu berkunjung ke pemakaman, berziarah ke makam suami si “the only one”. Percakapan imajiner pun dilakukan. Seperti sebuah permohonan ijin untuk helat sakral. Di kemudian hari, si kakek membatalkan niatan itu. Beliau mengatakan tak ingin poligami. Tak hendak menyakiti istrinya. Kontan saya tergerak bertanya, mengapa lalu? Kakek kemudian agak panjang berkisah kepada saya soal cinta dan rumah tangga. Tak ada yang baru memang dari ujarannya. Hanya saja, saya menggarisbawahi bahwa sisi bijak sebagai orang tua yang ia kedepankan. [sebenarnya tak mudah bagi saya menuliskan kesimpulan ini, karena memang saya merasa dibenturkan dengan banyak hal yang jauh dari jangkauan hati serta logika yang saya amini selama ini].

Kakek yang mengaku memiliki dua orang idola dalam hidupnya, yakni Subhan ZE [politisi muda NU yang meninggal karena kecelakaan mobil di Makah pada jaman orde baru] dan Dr. Zakiah Daradjat [tokoh pendidikan] ini lantas beralih ruang kepada saya. Bertanya adakah saya memiliki “the only one” seperti ia miliki. Adakah saya pernah patah karena kelewat larut dalam mendulang sumur asmara. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah saya duga, tapi cukup kaget juga ketika mendengarnya. Terbata-bata saya berkisah. Betul-betul di luar praduga saya, saat kakek itu menyebut-nyebut penggalan ruang privasi saya dengan tepat. Betapa beliau tahu nyaris seluruh kisah asmara saya. Yang mengejutkan, kakek itu tiba-tiba mengatakan bahwa my first love, hingga detik ini, diam-diam masih mencintai saya meski pusara yang telah saya bangun untuknya kokoh tak tergoyahkan. Beliau juga mengatakan bahwa tepat saat berada di depan Ka’bah Januari 2005 silam, seseorang yang pernah spesial di masa lalu itu menyebut nama saya satu kali dengan kepasrahan total, seperti jenasah yang dimasukkan ke liang lahat. Merinding saya dibuatnya [sampai-sampai tak saya teruskan pikiran saya yang bertanya-tanya siapa sosok yang tengah berbincang dengan saya ini]. Beliau seperti dukun, seperti “winarah” terhadap hal yang sudah-sudah. Ah, entahlah. Saya sempat merasa sedih, lalu cepat-cepat berpikir bahwa sejarah saya itu sudah selesai dan tak perlu digelar lagi.

Detik selanjutnya tidak saya teruskan cerita pribadi saya yang ditanyakannya. Saya pasang kuda-kuda. Seperti berjaga-jaga. Sejurus kemudian, kakek yang seolah paham dengan apa yang tengah saya risaukan, berganti dari kalimat tanya menjadi kalimat berita. Tepatnya; wejangan. Oke lah, saya mendengar dan menerimanya. Sembari dalam hati berdoa semoga Tuhan saja yang akan membagaimanakan lelaku saya selanjutnya. Seolah mengakhiri subbab terkait cinta, kakek itu bilang; “Kalau saja aku masih memiliki anak lelaki yang bujang, ingin aku memintamu sebagai menantuku”. Wah! Saya tergelak dalam hati…!

Lalu, perbincangan bergulir ke ranah lain; sosial, politik, budaya, dan agama. Campur aduk tapi mengasyikkan untuk sebuah perjalanan panjang yang dipandu percakapan. Wawasan luas yang dimilikinya, berikut ketrampilan berceritanya, sangat memukau. Kerap saya menggelengkan kepala, entah sebagai tanda tak tahu saat ditanya entah sebagai tanda kekaguman. Sayang sekali saya tak sempat merekamnya, seperti saat beliau bercerita filosofi Ha Na Ca Ra Ka. Tentang Musollini, Hitler, Al-Ghozali, Soekarno, Tan Malaka, Sahrir, Semaun, juga Gus Dur. Seluruh rangkaian yang tergambar di depan saya terhadap sosok kakek ini, membuat saya saat itu mudah sekali menduga bahwa orang ini pastilah eks-tapol [saya tak memiliki argumen terkait ini, hanya feeling saja, bersebab beberapa kali saya berbincang dengan orang-orang eks-tapol enam lima, nyaris memiliki karakteristik khas macam kakek ini].

Dalam pejalanan berjam-jam itu, juga diselingi oleh sikap diam, sikap jeda antara kami untuk kemudian berbincang kembali. Ketika beliau bertanya tentang konten skripsi berikut dunia akademik yang pernah saya jalani secara berkarat-karat di kampus dulu, yang kemudian saya jawab dengan singkat bahwa saya ini pemalas, tak dinyana kakek itu berucap; “Anda ini radikal ya”. Kalimat panjangnya lalu terurai seperti sebuah analisa terhadap kisah hidup saya. Tak pelak saya terbahak-bahak. Saya menggeleng, menolak klaimnya. Kakek itu melanjutkan; “Kamu ini seperti burung walet hitam. Sulit diduga karena kamu telah pandai terbang”. Gubrak! Macam mana pula ini, protes saya membatin.

Nyaris tak pernah terbersit dalam benak, bahwa saya akan bertemu dengan orang asing dalam nuansa macam ini. Perjalanan singkat tetapi memanjangkan peristiwa seperti buku-buku tebal yang menarik untuk bolak-balik dibaca. Tiba di terminal Nganjuk, kakek itu turun setelah sebelumnya berpamitan dan menyampaikan salam hangat pada saya; “Kalau kita sebatas bertemu seperti ini namanya kebetulan komunikasi, tapi kalau kamu datang ke rumah saya di Blitar, baru namanya silaturahim. Lain saat, datanglah ke rumah. Saya dan istri dengan senang hati siap mengantarmu ziarah ke makam Bung Karno, saya juga siap menjadi guide untuk wisata sejarahmu”. Sungguh, saya hanya bisa bengong, melongo. Hingga tak terucap kalimat dari saya untuk mengekalkan detik-detik perpisahan itu dengan misalnya bertanya; “Nama Kakek siapa? Bisa bagi alamat untuk saya? Nama saya Ndari, bla-bla-bla”, tak saya ucapkan apa pun. Saya hanya senyum. Menjabat tangannya sembari singkat berucap terima kasih. Lepas itu, saya terhenyak dalam sendiri.

Deru laju roda bus yang saya tumpangi seperti memperjalankan laju hidup saya selanjutnya. Nganjuk – Surabaya, saya lalui dalam sepenuh diam. Ada yang lalu terasa membekas di alam pikir saya. Saya mencoba men-save naskah berlembar-lembar yang tertulis beberapa jam lepas bareng kakek itu di memori kepala. Termasuk ruah pertanyaan yang tak terjawab [siapa sosok kakek itu…]

Kaki saya menginjak lantai di terminal Bungurasih Surabaya dengan riang. Seorang kawan yang telah menanti saya mengajak sarapan pagi di salah satu warung makan di terminal yang sibuk itu. Tak saya buka kisah kakek itu padanya. Saya masih belum bisa slow, serta belum bisa bagaimana musti berkisah padanya. Seakan sebuah rahasia. Hingga kami melanjutkan perjalanan bersama ke Kota Gresik, melalui dua hari yang padat dalam kebersamaan segenap orang, segenap cerita panjang, membuat saya dapat melupakan sementara.

Lalu, sepulang dari kota panas distrik Jatim itu, semampang panjang dalam angkutan umum, yang kembali saya lalui dalam sendiri, hadirlah kesempatan itu. Saya buka kembali buku ingatan. Memutar rekaman. Saya baca sekaligus saya dengar. MP4 saya melagukan koleksi Chryse, seperti memandu dan menghadirkan nuansa sendu. Ada ruang dengan jendela yang banyak. Saya buka semuanya satu per satu. Menghilirmudikkan hawa segar. Bersulih dengan hawa dalam ruang. Saya menulis puisi singkat di telepon genggam. Mempertanyakan ihwal pertemuan yang saya inginkan. Yang saya rahasiakan. Sampai rasa haru menyeruak pelan dan berkeriapan; “Adakah akan saya sua sebuah pertemuan yang adalah salah satu rahasia penting dalam hidup?” [buliran bening jatuh perlahan…]

Yogyakarta, Maret 2010

Komentar