Langsung ke konten utama

Drama Empat Babak

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

Penuh warna warni di panggung Patani. Dalam tradisi suluk, warna-warna mempunyai makna sebagai lambang yang berbeda dengan yang biasa diartikan dalam tradisi Melayu: hitam menyatakan kehadiran malaikat maut, kuning menyatakan datangnya makhluk-makhluk halus seperti setan dan jin, hijau menyatakan kehadiran Nabi Ibrahim, hijau-terang menyatakan datangnya Nabi Musa dan Idris, merah menyatakan kehadiran Jibril, dan kelabu menyatakan datangnya Nabi Isa.

SETIDAKNYA begitulah yang dikatakan oleh Raymond Laroy Archer dalam tulisannya ‘’Muhammadan Mysticism in Sumatera’’ yang dimuat dalam Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, September 1937.

Setelah beberapa pertemuan singkat dengan orang-orang Patani, saya mendapat kesan bahwa mereka kurang fasih dan kurang petah berbahasa Melayu, tidak seperti orang-orang Johor dan Riau. Dilihat dari sudut pandang orang-orang yang berlogat Johor-Riau lafal mereka yang berasal dari Patani itu merupakan salah-satu logat Melayu yang kurang sempurna. Namun barangkali saja orang-orang Patani menyangkal pendapat ini. Bahkan bisa jadi salah-salah hemat mereka beranggapan sebaliknya.

Namun setelah merenungi hal ini sejenak, saya lalu bertanya pada diri sendiri, apakah kesan yang saya dapatkan itu bukan karena saya tidak pernah benar-benar berdepan dengan naskah ‘’Hikayat Patani’’, karya yang oleh V I Braginsky, baik dalam bukunya yang sedang tebalnya Erti Keindahan dan Keindahan Erti dalam Kesusatraan Melayu Klasik (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1994) maupun dalam buku yang amat tebal tapi sangat mengasyikkan Yang Indah, Berfaedah dan Kamal-Sejarah Sastra Melayu Abad 7-19 (Indonesia-Netherlands Cooperation in Islamic Studies [INIS], Jakarta, 1998) disebut sebagai drama empat babak disertai cerita simetris yang mengisahkan Helah-helah di Istana atau Keindahan Gerak-gerik yang Bermakna?

Selanjutnya saya pun bertanya-tanya pada diri sendiri sebenarnya ‘’Hikayat Patanikah’’ atau V I Braginsky dengan kedua bukunya yang tersebut di atas yang mempesona saya sehingga membuat gambaran selintas tentang suatu peristiwa pada suatu masa dulu di negeri Melayu yang sekarang masuk dalam kekuasaan bangsa Siam itu seperti yang saya bentangkan ini.

Braginsky menamakan salah-satu episode yang dianggapnya paling mencengkam dan mencabar dalam ‘’Hikayat Patani’’ sebagai drama empat babak. Dan saya hendak menambahkan keterangan sedikit sehingga menjadi drama empat babak yang dibentangkan di atas panggung yang penuh dengan warna warni semarak. Tambahan keterangan inipun saya dapatkan dari penjelasan memukau yang dibuat Braginsky juga dengan kedua bukunya yang tersebut di atas tadi.

Jadi, kalau saudara-saudaraku para pembaca merasa tertarik dan jatuh asyik sejenak pada gambaran tentang drama empat babak penuh warna warni di panggung Patani yang saya tunjukkan ini hendaklah saudara-saudaraku para pembaca berterimakasih kepada Braginsky, bukan kepada saya. Karena bukankah saya bertindak cuma sebagai telangkai antara penerimaan tuan-tuan dengan gambaran milik dan hasil keringat otak Profesor Braginsky? Ia pun mengatakan bahwa drama ini merupakan sebuah cermin didaktis yang utuh meskipun tidak secara langsung memperlihatkan sifat didaktisnya; dalam karya seni seperti inilah yang selalu dipandang sebagai karya yang piawai.

Kabarnya, menurut tradisi Melayu-Islam warna hijau ialah pakaian penduduk surga. Apakah itu bermakna raja perempuan Patani dalam drama empat babak itu siap menyongsong kedatangan maut? ‘’Ambil dan kaurasailah nikmat kekuasaan!’’ Agaknya itulah makna tindakannya dengan menyerahkan selempang kuning kepada Bendahara.

Dalam drama empat babak yang sangat dominan bisunya ini warna hijau dan kuning bermain kilas berkilas, ganti berganti, dengan tertib, dengan liar. Ada pula lambang jambatan baik sebagai penghubung dan juga sebagai jambatan sebagai pemisah. Bila lambang ini menjadi penghubung dan bila pula menjadi pemisah? Raja perempuan yang terus membisu menyerahkan kekuasaan kepada seorang pendurhaka yang dulunya dikenal sebagai politikus tangguh. Bukankah di negeri ini dulu pernah ada sebuah drama tari yang dahsyat berlangsung ketika seorang seniman yang juga anggota keluarga diraja menciptakan sebuah tarian yang mengisahkan tentang burung kesayangannya yang terlepas dari sangkar, terbang menghilang ke dalam rimba. Drama empat babak warna warni di panggung Patani ini dihantar dengan membisu, dengan isyarat dan warna-warna dapat lebih dahsyat efeknya dari serangkaian kata-kata yang dapat menguap segera setelah diucapkan.

Di Patani pada suatu masa dulu, setidak-tidaknya seperti yang telah ditinjau oleh Profesor Braginsky, telah berlangsung drama empat babak tanpa kata-kata, dialognya dibuat dengan gerak dan warna-warna. Dan warna-warni yang terpakai dalam bentangan drama empat babak itu bukanlah warna-warna yang dikenal dalam sufisme seperti yang dinyatakan oleh Raymond LeRoy Archer sebagaimana dijadikan semboyan pemandu pada tulisan ini. Drama empat babak itu menggambarkan tentang perlawanan tanpa kata-kata dengan warna-warna setempat. Maka siapa yang sempat jatuh asyik ketika merenunginya tergolong dalam sekelompok orang yang beruntung, karena dapat menikmati karya seni.***

5 Februari 2012

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo