Langsung ke konten utama

FENOMENA KAMAR MENCARI MIMBAR

Mukadimah Antologi Puisi KATARSIS
Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Berawal dari sebuah wacana, yang melebur ke dalam rencana, dan kini terlaksana dengan sederhana. Seperti itulah kira-kira gambaran lahirnya buku Antologi Puisi yang lalu saya juduli KATARSIS ini. Ya, buku berisi 150 anak kandung yang terlahir kerdil dan kecil dari rahim pena saya. Yang oleh beberapa orang menyebutnya karya sastra, meski saya sendiri tidak begitu yakin dengan sebutan tersebut.

Adalah rasa cinta, setia dan (bisa jadi) sedikit cita terhadap sastra, yang memotivasi saya untuk kembali mengumpulkan tulisan-tulisan sederhana ini lalu mengemasnya menjadi sebuah buku. Bukan hal mudah tentunya, mengingat di luar sana tumbuh-kembang sastra bak jamur di musim hujan. Di mana begitu banyak muncul penulis atau penyair ‘baru’ yang dengan semangat menyala seakan tiada henti saling mempertontonkan hasil karya masing-masing.

Bersyukurlah negeri ini, utamanya sastra, yang menurut saya kian memasyarakat dalam geliat kehidupan sehari-hari. Terlebih dengan berkembang pesatnya cyber sastra lewat social networking di internet, sungguh merupakan sebuah jembatan menuju pertumbuhan sastra dalam skala kuantitas, meski belum tentu dibarengi dengan peningkatan kualitas.

Di sinilah agak rancu-nya perkembangan sastra modern. Sebab bukan tidak mungkin bahwa tulisan-tulisan yang lahir dari para ‘penyair’ baru (termasuk saya), yang di atas kertas memang kebanyakan ‘bukan’ wong sastra, justru serupa membangun rumah dengan hanya memasang dinding dan atap, tapi lupa dengan pilar maupun pondasinya.

Sastra Kamar. Begitulah kira-kira banyak orang menamai tulisan-tulisan yang datang dari subjektivitas penulis dengan latar belakang sekelumit permasalahan dalam kehidupan individualnya. Yang serta-merta lalu diberi label ‘karya sastra’ oleh kalangan ‘tertentu’ setelah membacanya. Dalam pandangan awam secara pribadi, saya lebih memilih menganggapnya sebagai Sastra Timpang, atau bisa juga Sastra Euforia.

Mengapa saya berani berasumsi demikian? Sangat jelas jawabannya; karena tulisan-tulisan tersebut tercipta dari kecenderungan berpijak pada unsur ekstrinsik semata. Memang banyak hal yang bisa menjadi opsi dalam ranah ini, anggap saja misalnya muatan-muatan psikologi, sosiologi, kondisi sosial, politik dan ekonomi, motivasi, ideologi, tendensi, tradisi, dan banyak lagi permasalahan lainnya. Namun apakah berbekal hal-hal seperti di atas saja sudah cukup untuk melahirkan sebuah karya sastra? Tidakkah kita terpikir kembali bagaimana dengan unsur intrinsik karya itu sendiri? Akan kita sembunyikan di mana; diksi, rima, ritme, tipografi, tata aksara, dan unsur-unsur dalam yang meliputinya? Bagaimana pula dengan asonansi, aliterasi, persajakan, hingga pemaknaan bertingkat; anorganik, vegetatif, animal, humanis dan metafisika atau transendental karya tersebut? Sudahkah semua ini kita klasifikasikan pada tempatnya masing-masing?

Jika jawabannya adalah belum, maka asumsi Sastra Timpang bisa menjadi pilihan. Atau ada kemungkinan lain, yaitu Sastra Euforia. Ya, katakan saja euforia karena tulisan-tulisan tersebut lahir dari sekedar keinginan untuk turut meramaikan geliat sastra yang semakin marak ber-modern ria dalam label kontemporer-nya. Sebuah capaian yang prestisius dalam dunia sastra sebenarnya, di mana semakin banyak orang menjadi gandrung untuk menulis dan berkarya. Akan tetapi bisa saja menjadi antiklimaks bagi dunia sastra sendiri, sebab kebanyakan apa yang ditulis adalah ‘entah’ atau ‘antah berantah’ semata.

Yang semakin menggelikan, sebab segala ketimpangan dan euforia ini lalu diikuti dengan mewabahnya kritikus-kritikus sastra yang lantas dengan seenaknya menghakimi atau memvonis ‘plus-minus’ hasil karya orang lain dari beragam sudut pandang. Tanpa memandang apa, bagaimana dan dari mana karya itu berasal? Sekarang, mari kita bercermin lagi, mari mencari tahu dan bertanya kembali; apa tindakan ‘sastra’ sendiri kala mendapati polemik semacam ini? Bagaimana tanggapan ‘sastra’ dengan giat antikonsepsi seperti ini?

Sulit memang mencipta sebuah tulisan yang benar-benar bernilai sastra. Bahkan saking sulitnya, sampai-sampai dewasa ini kita malah kebanyakan disuguhi tulisan-tulisan yang lebih cenderung mengandalkan tameng lisensi poetika, apoetica, atau apalah namanya, sebagai modal utama untuk merdeka dan menulis semau gue. Bahkan tak jarang kita jumpai kemunculan bahasa-bahasa baru yang indikasinya seakan menjadi gambaran sebuah penyimpangan arti, baik yang berupa ambiguitas, kontradiksi, hingga nonsense sekalipun. Tapi ironisnya, karena ternyata bahasa-bahasa baru tersebut adalah kosakata-kosakata yang sedianya hanya dimaksudkan ‘lazim’ saja, tanpa penyimpangan apapun. Tetapi justru dengan sendirinya menjadi ‘tidak lazim’ karena ‘ketidaklaziman’ penulisannya.

Apa kira-kira penyebabnya? Apa lagi kalau bukan; tingginya hasrat seseorang untuk membuat tulisan yang ingin ‘diakui’ sebagai karya sastra, hampir sama tingginya dengan ketidakpedulian pada morfologi maupun kaidah bahasa yang ada. Lebih parah lagi sebab dalam proses pemilihan diksi ketika membangun sebuah karya tulis, 90% fokus konsentrasi para penulis ‘jaman sekarang’ habis terkuras pada nilai-nilai estetik semata, dan hanya menyisihkan 10% sisanya untuk kepentingan semantik. Dengan kondisi seperti ini, maka karya yang lahir pun bisa dipastikan akan sangat sempurna. Sempurna timpang-nya, sempurna euforia-nya.

Kembali pada kasak-kusuk Sastra Kamar, adalah pendapat yang sangat logis jika kelak pembaca mendapati buku ini sebagai sekumpulan karya bernuansa kamar. Sebab apa yang hendak saya sampaikan lewat buku ini memang tidaklah lebih dari sekedar membagi corak kehidupan, semangat berinteraksi, optimisme belajar, serta tekad dan ikhtiar untuk terus mencintai sastra dengan cara berkarya. Bukan pula buku ini berarti saya maksudkan sebagai bentuk protes atau pembelaan terhadap Sastra Kamar. Sama sekali tidak.

Lebih bijak jika saya katakan; buku ini adalah sebuah usaha pencarian jawaban tentang; bagaimana mendewasakan AKU, agar bisa berbicara tentang KAU, DIA, KAMI, KITA dan MEREKA. Dengan kata lain, sedikit harapan kepada Sastra Indonesia agar kiranya dapat mencipta sebuah konsepsi baru yang lebih cerdas dan sistematis, terkait metode mengusung Sastra Kamar menjadi Sastra Mimbar sebagaimana yang diharapkan. Agar nantinya tidak timbul lagi polemik dalam tumbuh-kembang sastra, menyangkut subjektivitas penulis yang terkadang dianggap ‘terlalu’ berperan dalam mencipta sebuah karya sastra.

Karena jika kita harus jujur dan benar-benar merenung, maka pertanyaan sangat mendasar yang wajib kita jawab adalah; bagaimana seseorang akan berkoar di atas mimbar jika kamar saja masih berantakan alias belum tertata rapi? Bagaimana kita akan memasuki pola pikir orang lain jika nalar sendiri belum mampu kita kuasai? Nah sekarang kenyataannya, sudah adakah manuver substansial dari Sastra Indonesia sendiri dalam upaya mencerahkan secerah-cerahnya subjek ini? Harapan kita semua tentu saja: semoga kelak akan ada konsep dan konteks lebih konkret yang bisa menyamakan ayun langkah para penggiat sastra. Bukan justru semakin bertambah banyaknya arah pada persimpangan, yang membuat penulis-penulis ‘baru’ kian bingung menentukan ‘tujuan’nya berkarya.

Besar harapan saya, bahwasanya apa yang tertuang dalam buku ini dapat menjadi sedikit motivasi bagi semua, terutama diri pribadi saya, demi upaya menambah kadar ‘bijak’ dan tingkat ‘kedewasaaan’ pada diri, baik dalam bersikap maupun berucap. Utamanya ketika diperhadapkan pada kontradiksi realita dengan ingin dan angan, sebab kurang lebih itulah roh utama dalam buku ini. Segala prahara dan ketidakpuasan, harapan yang berbanding terbalik dengan kenyataan, semuanya terangkum sederhana dalam buku ini. Dalam rentetan tanda tanya besar sebagai konstelasi nyata kekinian yang tentu saja mencari-cari dan mendambakan jalan keluar.

Sedikit tambahan, terkait corak dan gaya penulisan dalam buku ini yang mayoritas mengedepankan pola sajak rima sehingga cenderung nampak kaku dan terikat, semua itu tidak lebih dari sedikit ‘kerinduan’ pada sederhana dan indahnya karya-karya sastra lama. Sebab diakui atau tidak, suka atau tidak, kita sama-sama harus legowo mengatakan bahwa Sastra Indonesia Lama yang ‘serba kaku’ adalah nenek moyang dari Sastra Indonesia Baru yang kini tersohor dengan ‘serba bebas’nya. Jadi anggap saja sebagai sebuah transformasi yang merupakan peleburan karakter dan visi; penciptaan reuni Sastra Indonesia Lama dengan Sastra Indonesia Baru yang telah terpisah periodisasi sangat panjang, di dalam sebuah karya.

Pada kesimpulannya, saya ‘vonis’ saja buku ini sebagai perwakilan untuk kita bertanya; masihkah Tuhan adalah nomor satu? Masihkah surga berada di telapak kaki Ibu? Masihkah cinta menjadi hal yang mulia dan agung? Masihkah interaksi serba modern saat ini menjanjikan wanginya harmoni kehidupan? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak ketidakpastian. Semakin banyak ketidaktahuan, semakin banyak pula kejanggalan.

Maka demi melengkapi pertanyaan-pertanyaan di atas, saya serahkan sepenuhnya 150 puisi dalam buku ini kepada siapapun yang kini membaca, menghayati, memuji, mencibir atau bahkan menyesal karena telah membelinya. Semoga kehadiran buku ini dapat membawa sedikit manfaat dan menambah semarak gegap gempita Sastra Indonesia tercinta.

Akhir kata, selamat membaca, menelaah, menghakimi dan memberi anggapan pun tanggapan. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, saya mengajak kepada semua untuk sama-sama mencari tahu; mengapa 150 tulisan sederhana dalam buku ini lantas diberi judul KATARSIS?

Yogyakarta, 07 Juni 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).