Langsung ke konten utama

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Sedangkan sufi, berdasarkan dari bahasa Arab, secara harfiah adalah orang yang menjauhkan diri dari kemewahan dunia. Dalam sejarahnya, walaupun para sufi itu telah muncul sejak zaman Nabi Muhammad SAW, tapi mengalami puncak kejayaannya setelah masa Khulafur Rasyidin, yakni pada masa pemerintahan Islam dinasti bani Umayyah, berkelanjutan pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Hal ini karena para ulama dari para sahabat dan tabiin tersebut, mengalami dilema batin akibat tingkah laku penguasa yang hedonis, telah menyimpangkan ajaran Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW dalam kehidupan mereka. Dilema-dilema tersebut, kemudian menjelma sebuah ratapan dalam syair-syair, seperti Jalaluddin ar-Rumi. Bahkan banyak lagi di antara para sufi tersebut, selain dikenal sebagai sufi, juga seorang pujangga yang sangat masyhur di masanya dan sampai kini.

Edgar Allan Poe melontarkan sastra berfungsi menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu. Menurut sejumlah teoritikus, fungsi sastra adalah untuk membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Bahkan, kadangkala seorang sastrawan mengungkapkannya secara jelas dan tegas, terhadap sesuatu yang ia rasakan dalam gejolak batinnya.

Saini KM (1993: 21) mengatakan, sastra sebagai seni keratif merupakan ungkapan dari hasil pergulatan antara kesadaran dengan realitas. Dengan kata lain sastra konfrontasi manusia dengan masalah-masalah nyata kehidupan. Dengan memahami karya-karya sastra diharapkan para pembaca mendapat pemahaman yang lebih jernih, luas dalam tentang lingkungan rohani dan jasmaninya, dan dengan demikian dapat memiliki kemampuan yang lebih besar dalam mengendalikannya.

Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia. Penyair adalah warga masyarakat yang mempunyai status khusus, maka dari itu dia mendapat pengakuan dan penghargaan masyarakat dan mempunyai masa-walaupun hanya secara teoretis.

Pembahasan hubungan sastra dan masyarakat biasanya bertolak dari frase De Bonald bahwa ”sastra adalah ungkapan masyarakat“ (Literature is an expression of society). Masalah kritik yang berbau penilaian bisa kita temukan dengan menemukan hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat. Hubungan yang bersifat deskriptif : (1) Sosiologi pengarang, profesi pengarang, institusi sastra (2) Isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri (3) Permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra.

Maka tidak mengejutkan, saat kita mengetahui bahwa dalam sastra terdapat beragam aliran. Salah satunya adalah sastra sufi, yang disebut juga aliran sastra mistisme, Agustinus Suyoto mengatakan dalam makalahnya: “Aliran-Aliran Dalam Sastra,” bahwa dalam aliran ini terasa ciptaan yang bernapaskan rasa ketuhanan. Pengarang selalu mencari dan mendekatkan dirinya kepada Zat Yang Mahatinggi. Aliran ini melahirkan ciptaan yang didasarkan pada ketuhanan, pada filsafat, dan alam gaib.

Abdul Hadi WM, seorang satrawan terkemuka di Indonesia mengatakan, bahwa sastra sufi merupakan bagian penting dari keseluruhan khazanah intelektual Islam, baik di Dunia Arab, Persia, Melayu Nusantara dan lain-lain. Ia juga merupakan salah satu dari warisan peradaban Islam yang relevan dan diminati hingga sekarang dalam setiap tahapan perjalanan rohani atau pencariannya itu seorang penulis berikhtiar menafsirkan makna keadaan jiwa dan peristiwa-peristiwa batin yang mereka alami, serta kemudian berusaha mengungkapkan pemahaman dan penafsirannya dalam ungkapan estetik sastra. Ungkapan estetik mereka penuh dengan tamsil dan perumpamaan yang simbolik dan imaginatif.

Hal ini jelas sekali terbukti secara nyata dalam sejumlah karya para sufi semisal Hamzah Fansuri, salah seorang sufi yang berasal dari Aceh dan paling terkenal di kalangan para sastrawan nusantara. Bahkan pengaruh kepenyairan beliau sangat diagungkan oleh sastrawan dunia. Banyak para mahasiswa pasca sarjana jurusan sastra, baik itu yang studi S-2 maupun S3, yang mengadakan penelitian mengenai karya-karyanya.

Untuk membatasi ruang pembahasan ini, di sini penulis ingin mengambil salah satu syair Hamzah Fansuri, yakni syair Perahu. Di mana, dalam syair ini, beliau memberi suatu gambaran tentang kehidupan negeri akhirat dan beragam kondisi yang sangat tidak mampu dihadapi oleh manusia tanpa amal kebajikannya:

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Perahu adalah tubuh, yang akan mengarungi muara akhirat yang sempit, bagi manusia yang tidak cukup amalnya. Ikan dan hiu adalah simbol azab Padang Mahsyar. Banyak ayat al-qur’an dan hadist Rasulullah SAW, menyebutkan tentang azab-azab di sana.

Kita sering mendengar tentang kisah ular dan kalajengking yang mengerikan yang memangsa manusia karena amal perbuatannya tidak sesuai, bahkan jauh melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana di lautan, ia siap memangsa manusia, jika tak berhati-hati, bahkan tanpa persiapan sama sekali saat mengarungi samudera itu.

Muaranya dalam, ikan pun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Akhirat seumpama muara yang dalam, tak ada yang mampu mengukur kedalamannya. Dalam muara akhirat, di sanalah manusia mendapat balasan yang setimpal. Jika ia tak berbekal, sungguh akan tenggelam ke dasar perut neraka jahannam yang menanti-nanti, di mana azab memerih. Karangnya tajam seperti tombak, umpama azab yang siap menusuk-nusuk tubuh yang tak memiliki daya untuk mengelak.

Ketahui olehmu hai anak dagang,
riaknya rencam ombaknya karang
ikan pun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Saat pertama kali manusia dihimpun di padang mahsyar ribuan tahun lamanya, setelah mengalami masa kebangkitan dari barzakh, saat inilah azab mula datang. Manusia dihisab; penghitugan amal dengan keadilan Allah Yang Maha Tinggi. Lalu beralihlah ke azab yang lain. Ikan pun banyak datang menyarang, adalah simbol azab yang datang silih berganti. Panas sengatan matahari, yang hanya berjarak sejengkal dari kuduk, seolah membakar tubuh. Hendak membawa ke tengah sawang, inilah peradilan terakhir, berjalan di atas jembatan sawang; shirathal mustaqim, yang menentukan nasib manusia; apakah bahagia atau celaka.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit,
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Ingatlah, perbanyaklah amal kebajikan. Sebab muara akhirat sangatlah sempit bagi orang tanpa bekal iman dan taqwa yang dibawa, menuju sebuah negeri yang terlalu jauh. Jikalau ada pedoman dikapit / sempurnalah jalan terlalu ba’id, itulah bekal iman yang senantiasa menjadi penolong manusia menghadapi segala rintangan di negeri akhirat kelak.

Baiklah perahu engkau perteguh,
Hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Pada bait syair Perahu yang paling akhir ini, Hamzah Fansuri mengingatkan para pembaca, agar senantiasa meneguhkan diri dengan iman dan taqwa, dan berpegang teguh pada al-qur’an dan hadist sebagai tali sauh. Sebab, pelayaran arungi samudera menuju pulau yang diidamkan itu sangat jauh.

Dalam bait-bait syair tersebut di atas, memberi suatu pemahaman bahwa Hamzah Fansuri telah mengukuhkan jalan kepenyairan ini sebagai titian nasehat bagi pembaca. Fungsi sastra sebagai religiutas, mampu dijelmakannya dalam “Syair Perahu”. Bahkan oleh para pakar dan ahli sastra Indonesia, telah memberi suatu klafikasi tentang karya Hamzah Fansuri yang memiliki aliran mistisme (sufi). walaupun saat itu (lima abad lalu) aliran sastra belum dikenal sebagai suatu perbedaan dalam karakter karya sastra itu sendiri.

Hal ini, karena dalam karya-karyanya, khususnya dalam syair “Perahu”, sebagai topik dan ruang lingkup pemabahasan ini, Hamzah Fansuri banyak menggambarkan dan memberi suatu pencerahan bagi pembaca mengenai negeri akhirat sebagai rukun iman yang kelima, yang harus diyakini oleh setiap muslim.

Abdul Hadi WM menjelaskan, karena ilham penulisan sastra sufi dan bangunan estetikanya didasarkan pada kandungan falsafah perenial Islam yang uni-versal – terutama gagasan cinta (`isyq dan mahabbah), makrifat, iman, penglihatan rohani, hakikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan hamba-Nya, akibat-akibat buruk cinta berlebihan pada dunia dan gagasan lain – maka tak mengherankan apabila pesan moral dan kerohanian penulis sufi senantiasa relevan dan melampaui zamannya.

Kehampaan rohani yang dirasakan manusia modern akibat tekanan peradaban dan kebudayaan material, membuat sastra sufi kian relevan di mata beberapa penulis yang telah akrab dengan tasawuf. Memang, demikianlah sastra di mata kaum sufi. Mereka telah menjadikannya sebagai seuatu yang menjembatani antara dirinya dan Tuhannya. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir dari kejernihan kalbu yang dipenuhi cinta pada yang telah menciptakannya, kemudian lahir dalam tiap butir kata-kata.[]

_____21 August 2010
*) Mahdi Idris, adalah Sekretaris Umum FLP Lhoksemawe. Menetap di Dayah Terpadu Ruhul Islam Tanah Luas Aceh Utara.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com