Menjemput Kata dari Penjara

Riza Multazam Luthfy *
http://www.lampungpost.com/

Kadang, saya sampai pada pemikiran bahwa lebih baik dipenjara saja supaya bisa menghabiskan satu hari untuk membaca buku dengan tenang. (Julian Assange, pendiri WikiLeaks).

PENJARA merupakan sebuah sangkar yang menjerat dan membatasi kebebasan manusia. Di sanalah manusia dilatih agar menjalani kehidupan minim dengan segala fasilitas. Penjara mengajak penghuninya untuk lebih bersahaja dan hidup ala kadarnya.

Beberapa tokoh nasional pernah merasakan pengapnya udara penjara. Namun, dengan gerak fisik yang selalu terbatas, hal tersebut tidak lantas memasung pemikiran mereka. Tengok saja Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka—yang menerbitkan gagasan-gagasan besar justru dari bilik penjara.

Dengan pengawasan ekstraketat serta tekanan fisik luar biasa, Mochtar Lubis berusaha bagaimana agar sanubarinya tetap berkata lantang dan meradang-menerjang. Usai berpenat-penat menjinakkan waktu dan pikiran, ternyata ia mampu merampungkan buku Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru. Nirbaya sendiri adalah nama sebuah penjara yang terletak di bagian timur Jakarta. Dilukiskan oleh Mochtar, bahwa Nirbaya berdekatan dengan lokasi Taman Mini Indonesia Indah. Nirbaya kerap menjadi tempat penahanan sejumlah tokoh penting di masa lampau, termasuk para tahanan dari peristiwa Gerakan 30 September atau mereka yang dituduh pemerintah Orde Baru terlibat di dalamnya.

Sebelumnya, Mochtar telah menulis Catatan Subversif sebagai gambaran kondisi penjara yang ia alami pada masa pemerintahan presiden Indonesia pertama. Naskah ini jauh lebih panjang dibandingkan dengan naskah catatan penjara pada zaman Orde Baru. Catatan Subversif total berjumlah 402 halaman. Sedang Nirbaya hanya kurang dari 150 halaman saja.

Penjara: Awal Sebuah Berkah

Sebagian tokoh dunia mendayagunakan penjara sebagai loka menggayuh tujuan. Sebut saja Boethius, Sayyid Quthb, Adolf Hitler, serta Antonio Gramsci.

Boethius (475-525), filsuf klasik sejati, dicemplungkan ke penjara oleh Raja Italia, Theodoric, karena alasan paganism dan mempraktekkan ilmu hitam. Tidak puas dengan keadaan kala itu, ia menganggit The Consolation of Philosophy, di mana ia menolak kebenaran agama Kristen. Ia menuturkan bagaimana Dewi Philosophia tiba-tiba muncul tepat di depannya di dalam sel guna “mengarahkannya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya”.

Pada November 1954, Sayyid Quthb ditangkap oleh Gamal Abdul Nasser bersamaan dengan penangkapan besar-besaran pemimpin Ikhwanul Muslimin. Quthb bersama kawan-kawannya dituduh bersekongkol untuk membunuh Nasser (subversif) dan melakukan kegiatan agitasi antipemerintah sehingga dijatuhi hukuman 15 tahun “kerja keras”. Selama bermukim di penjara, ia berhasil merevisi tiga belas juz pertama Tafsir fii Zhilal dan menyusun beberapa masterpiece-nya, termasuk Hadzad Diin dan Al-Mustaqbal Hadzad Diin.

Adolf Hitler mengantongi kesempatan mengambil jarak dari realitas semasih meringkuk dalam penjara sehingga dapat menggariskan visi dan misi politiknya secara lebih perinci. Hitler mengarang Mein Kampf (terdiri dari dua jilid. Jilid pertama ditulisnya semasa dipenjara, sedangkan jilid kedua setelah keluar dari penjara)—yang diamini sebagai kitab suci kaum Nazi. Penjara merupakan tempat ideal bagi Hitler untuk menggodok konsep-konsep politiknya, mengonsolidasikan pendukungnya, serta menyusun rencana-rencana guna mencapai ambisinya. Mein Kampf memuat ide Hitler yang gila. Menurutnya, sejarah merupakan catatan pertarungan ras-ras manusia. Ia meyakini pandangan Lanz von Liebenfels bahwa ras Arya yang berpusat di Jerman, akhirnya akan menang dan memimpin seluruh dunia. Dalam buku itu, Hitler mengutuk bangsa-bangsa yang dianggap sebagai ras rendah—oleh karena itu layak dimusnahkan. Yang sering disebut adalah bangsa Yahudi dan Slavia. Rencana ekspansi ke timur—untuk menaklukkan Rusia—juga disebut. Dari sana, ia akan menguasai dunia dan memerintah atas nama superioritas ras Arya. Ide lain Hitler yang tidak kalah gila dalam Mein Kampf adalah Lebensraum (konsep ruang hidup). Sebagai bangsa yang besar, Jerman memerlukan sejumlah besar wilayah taklukan. (A. Pambudi: 33-34).

Buah pikiran Antonio Gramsci dapat dilacak melalui surat-suratnya dari dalam penjara yang berhasil diselundupkan melalui kegigihan iparnya, Tatiana, dan dibukukan dengan titel Prison Notebooks. Sayang, sulit sekali memahami karya itu sebab disusun sangat abstrak dan penuh sandi untuk menghindari sensor sipir. Gramsci harus mengganti marxisme dengan filsafat praksis, kelas dengan kelompok sosial dominan dan bawahan, lalu revolusioner dengan pangeran modern. Akibatnya, penelaahan pemikiran Gramsci yang paling gigih pun selalu merasa ragu, apakah sungguh telah memahami apa yang ia maksudkan. Akan tetapi, setidaknya ada tiga pokok pikirannya untuk memahami kapitalisme lanjut dan mengaplikasikan marxisme. Pertama, masyarakat sipil dengan institusinya seperti sekolah, partai politik, gereja, dan media massa, yang dalam kapitalisme Barat juga dimanfaatkan sebagai senjata guna menaklukkan masyarakat. Kedua, hegemoni yang secara genial telah dipraktikkan dan menguasai pikiran masyarakat tanpa disadari. Ketiga, perang posisi, yaitu kemampuan mengintip untuk melakukan pukulan balas saat kapitalisme guncang. (Aulia A. Muhammad: 34).

Maka, berbahagialah para koruptor yang tengah menikmati aroma penjara. Siapa tahu, di tempat itulah mereka dapat menelurkan karya dan menularkan ilmu kepada generasi selanjutnya.

Riza Multazam Luthfy, mahasiswa Pascasarjana Hukum UII Yogyakarta /18 March 2012

Komentar