Langsung ke konten utama

Putroe Neng, Pemakan 99 Kemaluan Laki-laki

Dudi Rustandi *
http://www.kompasiana.com/dudirustandi

Aceh, ternyata banyak menyimpan wanita-wanita perkasa. Tidak hanya Syeikh Keumala Hayati yang mampu melawan merubuhkan 100 prajurit Portugis dalam medan Pertempuran pada tahun 1600-an, juga ada wanita perkasa lainnya yang kerap menjadi ikon pejuang wanita Indonesia, Cut Nyak Dien yang dengan segenap jiwa raganya mengorbankan segala yang dimilikinya agar Indonesia tidak jatuh ke tangan Penjajah, begitupun dengan Cut Meutia. Melalui mereka Indonesia dapat bertahan, dan Aceh adalah salah satu daerah yang tidak pernah dikuasai oleh Penjajah.

Berdasarkan hasil kajian sejarah, ternyata tidak hanya tiga orang yang telah disebutkan sebagai perempuan perkasa Aceh yang masa lampu dikenal dengan nama Darod Donya Darussalam. Terdapat perempuan yang dengan gagah menumbangkan lelaki perkasa, tidak hanya di medan tempur, tapi juga di Ranjang pengantin. Sebanyak 99 laki-laki yang menjadi suaminya telah menjadi korban keganasan peremuan ini. Ialah Putroe Neng, perempuan perkasa ‘pemakan’ kemaluan 99 laki-laki dari suaminya.

Putroe Neng, adalah perempuan perkasa yang diceritakan oleh Ayi dalam Novelnya yang berjudul sama ‘Putroe Neng, Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki’.

Inti novel tersebut berada pada bab paling awal bercerita tentang kegagahan seorang Panglima Perang, Nian Nio Liang Khie yang mengubah namanya menjadi Potroe Neng setelah menikah dengan Sultan Meurah Johan. Walaupun pada akhirnya bertekuk lutut di medan tempur, namun tidak pernah menyerah di medan ranjang. Meurah Johan bersimbah darah oleh senjata mematikan yang dimiliki oleh Putroe Neng, Meurah Johan adalah laki-laki pertama yang merasakan dahsyatnya senjata pamungkas Potroe Neng. Walaupun tidak pernah bermaksud untuk membunuh suaminya sendiri, namun senjata yang dimiliki oleh Putroe telah memakan korban pertama, senjata itu adalah racun yang ditanam dalam kemaluannya sendiri yang dipasang oleh neneknya Khie Nai-nai. Di atas ranjang malam pertamanya, Sultan Meurah Johan tergeletak dengan tubuh yang sudah membiru. Sebiru lautan lamuri di siang hari (hal 11).

Meurah Johan sendiri adalah seorang pangeran yang telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Putroe Neng di medan tempur.

Kekalahan ini mempertemukan Sultan Meurah Johan dengan Laksamana Nian Nio di pelaminan. Demi menyatukan kerajaan-kerajaan yang ada di Darud Donya Darussalam, Meurah Johan yang telah menjadi menantu Raja Indra Saktipun menerima keinginan dari Nian Nio. Namun malang segera menjemputnya. Meurah Johan menjadi korban pertama keganasan kemaluan Niaon Nio yang mengandung racun mematikan. Dari sinilah kisah 99 lelaki yang menjadikan malam pertama sebagai malam terkahirnya dimulai. Bukan keinginan Putroe Neng untuk menjadikan malam pertama menjadi malam terakhir bagi suami-suaminya, karena hal tersebut sebagai antisipasi dan senjata ampuh yang ditanam oleh neneknya, Khie Nai-nai, agar Putro tidak menjadi korban keganasan perang di luar ancaman fisik lainnya. Khie Nai-nai, neneknya telah memasukan ramuan ke dalam kemaluan Putro saat ia beranjak remaja.

Kesadaran Putroe Neng akan bahaya racun tersebut tidak menyurutkan para pemuja kecantikan untuk menikahi Putroe. Mereka terlalu bangga dan selalu mengatakan bahwa nanti akan bermalam bersama Putro, namun tidak ada yang pernah mengatakan bahwa tadi malam telah bercinta dengan Putro. Mereka semua tewas di ranjangnya sendiri, termasuk seorang Tabib yang berniat mengobatinya (hal. 322).

Hanya Syeikh Syiah Hudamlah yang bisa mengatakan bahwa dia telah bermalam dengan Putro karena hanya dialah yang mampu mengeluarkan racun mematikan tersebut. Puluhan tahun menjadi guru Putroe Neng menjadikan Syeikh mengetahui apa sebenarnya yang tertanam dalam kemaluan Putroe. Syeikh mampu mengeluarkan racun tersebut tanpa disadari oleh Putroe sendiri. Kekhawatiran murid-murid Syeikh yang menganggap bahwa Syeikh mencari lubang kematian dengan menikahi Putroe tidak terbukti. Namun tidak sia-sia doa sepanjang malam yang dipanjatkan oleh murid-murid Syeikh selama malam pertama, doa tersebut bersambut dengan keahlian syeikh sehingga Putroe tidak kembali memakan korban. Setelah malam pertama, Syeikh datang ke surau bersama Putro yang membuat gembira para muridnya (hal. 360).

Membaca Novel ini kita akan diajak penulisnya berkeliling-keliling ke wilayah kerajaan Aceh masa lampau, terutama menyampaikan pesan tentang kearifan bangsawan Islam yang tumbuh di Aceh. Islam bukanlah agama perang, bahkan seorang muslim akan mengulurkan tangannya kepada nonmuslim jika benar-benar membutuhkannya seperti dilakukan oleh kerajaan Peureulah dan Syeikh Syiah Hudam. Kearifan Islam inilah sesungguhnya yang menjadi daya tarik bangsa lain terhadap Islam seperti ditunjukan oleh kerajaan Indra Purba. Penulis dengan baik berhasil menggambarkannya. Novel ini pun mengajarkan bahwa sebuah do’a akan terkabul jika dibarengi dengan ikhtiar fisik sehingga mendapat hasil yang sempurna seperti dilakukan oleh Murid dan guru (Syeikh Syiah Hudam) saat melewati malam pertamanya.

Jjika salah-salah membaca, novel ini akan dianggap sebagai sejarah Aceh pada masa lampau belaka dengan menjadikan Putroe Neng sebagai pelengkap cerita belaka sebagai salah satu daya tariknya.

Judul Buku : Putro Neng, Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki.
Penulis : Ayi Jufridar
Penerbit : PT. Grasindo (Kompas Gramedia Group)
Tahun Terbit : 2011
Jml Halaman : vii + 384

______________05 August 2011
*) Konsultan dan Penulis di Inhouse media, mengajar mata kuliah komunikasi di beberapa PT tinggi wilayah Bandung, mengelola blog kroyokan. Beberapa tulisan dimuat di Harian Kompas, Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar, serta jurnal.
Dijumput dari: http://media.kompasiana.com/buku/2011/08/05/putroe-neng-pemakan-99-kemaluan-laki-laki/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).