Perempuan di Jendela

Jusuf AN
http://www.hariansumutpos.com/

Kita pernah menyimpan mimpi, atau lebih tepatnya angan-angan kosong tentang rumah itu. Rumah yang sekarang kau huni itu. Dulu, ketika kau masih sering bertandang ke kamar kos yang terletak di lantai dua yang sampai sekarang masih aku tempati ini, kerap kau membuka jendela, lalu menatap rumah itu lama-lama. Kau mengetahui kalau rumah bergenting biru itu tak ada penghuninya, menunggu ada yang mau menyewa. Dan kau mengungkapkan keinginanmu: ingin menikah denganku lalu tinggal di rumah itu. Rumah mungil sederhana yang dikelilingi sawah, “Berdua tinggal di sana, pastilah nyaman dan indah,” katamu.

Sekarang, apakah kau benar merasa nyaman dan indah? Hanya sebatas itu aku berani bertanya, dan itu semua aku tanyakan lewat tatapan mata. Sudah seminggu ini, setiap pagi mata kita selalu berjumpa di udara. Kau dari jendela rumahmu, aku dari jendela kamarku. Apakah kau pandai menerjemahkan bahasa mataku, Hany?

Kita memang pernah melewati waktu bersama selama lebih dari dua tahun lamanya. Aku tahu banyak hal tentangmu; apa yang biasa kau lakukan sejak bangun tidur hingga tidur lagi semuanya sudah kau ceritakan. Aku tahu kau tidak suka belanja, alergi dengan mall dan supermarket, tidak senang menonton televisi, penggemar novel petualangan dan senang makan ikan segar. Seperti aku, kau juga senang bersepeda santai, dan seringkali mengutuki asap knalpot ketika sedang berjalan. Tapi tetap, akan sulit rasanya bagi kita untuk bercakap-cakap dengan bahasa mata dengan jarak kurang lebih dari tiga puluh meter. Tak ada gerak bibir, lambaian, senyuman, atau cibiran. Tak ada yang bisa aku tangkap dari matamu kecuali keasingan.

Dan kini, pada pagi yang mendung ini, aku kembali menemukanmu. Aku kembali menjumpai keasingan dalam tatapan matamu. Aku tidak membuka gorden dan hanya mengintipmu. Kulihat kau bersandar pada kayu jendela yang memiliki engsel di bagian samping. Kau telah buka lebar-lebar daun jendela itu hingga kesiur angin mengibarkan rambut pirangmu. Hei, setahuku kau tak pernah memakai anting, tapi benda apakah yang mengerlip di dua cuping kupingmu itu. Ah, mungkin kau tidak lagi seperti kau yang dulu. Mungkin kini kau telah senang berdandan dan memakai perhiasan. Ya, bukankah itu wajar bagi seorang perempuan? Bukankah kau telah menempuh hidup yang baru. Aduh, kenapa aku seperti tidak rela dengan takdir yang membelitku? Kenapa kau mendadak penting untuk aku pikirkan, penting untuk kukenangkan?

“Aku tahu kau masih jauh untuk memikirkan pernikahan. Dan aku tak akan lagi mempermasalahkan itu,” katamu, ketika suatu hari kita tengah bersama menikmati udara senja di alun-alun kota.
“Aku rasa akan lebih menyenangkan jika kita tidak setiap hari berjumpa.”

Kenapa kini aku begitu menyesali kalimat itu? Kalimat yang entah kenapa membuatmu tak lagi berkunjung ke kamar kosku selama seminggu. Sungguh, Hany, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Dugaanku kalau kau benar-benar siap menunda atau membuang pikiran untuk menikah sementara waktu, ternyata keliru. Segera setelah menyadari kesalahan kalimat itu aku berkunjung ke kamar kosmu, tapi kata kawan-kawanmu kau sedang pulang ke Magelang. Dan aku hanya meninggalkan pesan pada kawan-kawanmu, jika kau kembali ke Jogja suruhlah datang ke tempatku. Dan seminggu kemudian, pagi-pagi sekali kau mengetuk pintu kamarku, membawakanku sebungkus nasi gudeg yang masih panas.

“Orang tuaku menyuruhku pulang,” terangmu, setelah terlebih dulu menyuruhku sarapan. “Aku kira kau sedang sibuk garap proyek penghijauan, jadi aku tidak memberitahukanmu.”

Tidak biasanya, pikirku. Tidak biasanya kau merasa takut untuk menggangu kesibukanku. Tidak biasanya pula kau sanggup menahan diam selema lebih dari sepuluh menit. Biasanya kau akan bercerita banyak hal, tentang kawan-kawan satu kos denganmu yang senang menghambur-hamburkan listrik dan kosmetik, atau tentang pembimbing skripsimu yang selalu menyalahkan kerja-kerjamu, juga ayahmu yang tidak bisa berhenti merokok. Tapi waktu itu, kau terdiam lama, duduk selonjor dengan kepala menunduk. Ketika aku sebut namamu, kau geragapan, seakan pikiranmu baru saja terseret arus yang kencang.
“Kau kenapa, Hany?”

“Mhh, baru saja aku mau bertanya begitu, eh kau sudah tanya duluan. Kau yang kenapa? Kenapa kau tidak menanyakan tentang orangtuaku yang menyuruhku pulang?”
“Jadi, kenapa orang tuamu menyuruhmu pulang?”
“Sangat berat untuk menjawabnya.”
“Orang tuamu sehat-sehat saja, kan?”
Kau mengangguk.
“Apa mereka tidak berbicara tentangku?”
“Mhh…”

“Sebenarnya aku ingin main ke rumahmu lagi, tapi aku tidak enak dengan ayahmu. Kelihatannya ayahmu tidak senang denganku.”
“Itulah, kenapa aku berat menerangkan padamu tentang kenapa orang tuaku menyuruhku pulang.”
“Benar kan, ayahmu tidak suka denganku, dengan penampilanku, juga pekerjaku yang tidak jelas? Aktivis LSM. Ha..ha..ha.. Pasti orang tuamu menertawakan pekerjaan macam itu.”
“Bukan itu.”
“Lalu?”

Kau kembali menunduk. Di kepalamu aku menebak ada sesuatu yang berkecamuk.
“Oran gtua jaman dulu, tentu kau tahu seperti apa.”
Aku belum dapat menebak arah pembicaraanmu.
“Sejak dalam kandungan, mereka telah menentukan hidup takdirku.”

Suaramu terdengar sumbang. Dan ketika kulihat matamu berkaca-kaca, aku segera merangkulmu, menyandarkan kepalamu di dadaku. Saat itulah, dengan suara isak, kau mulai membuka semuanya.

Bahwa kau sudah dijodohkan sejak dalam kandungan dengan seorang putra dari kawan dekat ayahmu. Kau mengaku baru tahu akan hal itu. Kau yang sadar benar seberapa besar pengorbanan orangtua merasa tak sanggup untuk membantah mereka. Lalu kau meminta maaf padaku seperti merasa sangat berdosa.

“Akan lebih berdosa jika kau tidak menuruti orang tuamu,” kataku. “Sudahlah, hidup ini terlampau singkat untuk bersedih. Jalani dan nikmatilah.

”Meski aku bersikap setegar pohon beringin tertua di alun-alun kota, tetapi kau seakan dapat membaca air mukaku yang mungkin merah padam. Kau memelukku kian erat. Lama dan semakin erat. Dan aku tidak menyadari, bagaimana kemudian diriku menjelma menjadi seekor kumbang yang kehausan, sementara bunga-bunga penuh madu bermekaran di atas tubuhmu.Bau keringatmu masih tertinggal di kamarku, Hany. Baju yang kau tumpahi dengan air matamu juga belum aku cuci ketika aku dengar kabar dari kawanmu bahwa kau telah benar-benar melangsungkan pernikahan. Segera setelah mendengar itu, aku membersihkan kamarku, sesuatu yang jarang aku lakukan.Tembok yang dulunya aku cat dengan warna hijau kesukaanmu kini aku ganti warna hitam legam. Aku semprot parfum autotheraphy yang sebenarnya tidak aku sukai. Aku buang semua fotomu dari dompet dan di komputerku. Aku cuci karpet dan semua pakaianku dengan deterjen yang berlimpah-limpah. Beraharap aku dapat melupakanmu.

Aku juga banyak menghabiskan waktu bersama kawan-kawan di kedai kopi, naik gunung, dan mulai kembali konsentrasi dengan buku-buku dan kerja-kerjaku. Beberapa nomor telepon perempuan juga sudah aku dapat, dan aku mulai rajin menulis SMS. Hampir saja, ya hampir saja aku dapat melupakanmu jika aku tidak pernah membuka jendela kamarku kemudian melayangkan mata ke jendela yang lain.

Kau masih di sana sekarang. Bersandar di jendela yang memiliki engsel di bagian samping dan telah kau buka lebar-lebar itu. Kau tetap tak berpaling dari menatap jendela kamarku. Sementara aku masih mengintipmu dari balik gorden dengan kepala yang berat, sesak oleh tanya.

Kenapa kau memilih tinggal di rumah itu bersama suamimu? Aku tahu, kau memang harus merampungkan skripsimu baru setelah itu pulang ke Magelang, tetapi bukankah kampusmu jauh di jalan Solo, dan banyak rumah kontrakan di sekitar sana? Mengapa kau memilih kontrakan di jalan daerah Kasongan?

Mungkin saat ini kau sedang berusaha keras untuk menerangkan pertanyaan-pertanyaanku itu lewat tatapan matamu. Tapi, bagaimana caraku menerjemahkan bahasa matamu, kecuali jika aku langsung berkunjung ke rumahmu dan menanyakan langsung.

Berkunjung? Bukan suamimu aku takuti, Hany. Aku hanya takut apabila setelah kunjunganku ke rumahmu, perahu keluargamu goyah, lalu pecah terbelah. Ah, apakah aku harus menyamar sebagai pencatat rekening listrik seperti di film-film komedi hanya untuk melihatmu dari dekat kemudian diam-diam menanyakan alasanmu tinggal di rumah itu? Konyol sekali!

Kau masih di sana sekarang. Tidak seperti biasanya, tak aku lihat suamimu merangkulmu dari belakang sebelum kemudian kau menutup jendela dan melangkah entah kemana. Cukup lama kau berdiri di sana. Sampai kemudian, aku melihat punggungmu terguncang-guncang, mulutmu terbuka mengeluarkan cairan. Kau muntah?

Mendadak aku jadi teringat saat terakhir kali kau bertandang ke kamarku pagi-pagi sekali dengan membawa nasi gudeg kesukaanku. Aku seperti dihentakkan dari peristiwa yang tidak pernah sebelumnya aku sadari akan terjadi. Peristiwa di mana diriku menjelma kumbang yang kehausan sementara di tubuhmu bermekaran bunga-bunga penuh madu. Mendadak aku bertanya-tanya, apakah kau sedang masuk angin, sampai muntah-muntah begitu? Atau kau, hamil? Mendadak aku sangat mencemaskanmu, Hany. Apakah suamimu tahu bahwa kau tak suci lagi saat dinikahi lalu mencampakkanmu yang kini hamil? Ah, mudah-mudahan kau hanya masuk angin.***

Wonosobo, 2008

Komentar