Langsung ke konten utama

Sentimentalitas Kehormatan Martin Aleida

Aa Aonillah
http://www.kabar-priangan.com/

Karya sastra merupakan wadah bagi seorang penyair dalam mencurahkan seluruh imajinasinya. Hal itu dikarenakan dalam menulis sebuah karya sastra, seorang dituntut untuk berimajinasi tinggi sehingga mampu menghasilkan sebuah karya yang imajiner, dan fantastik. Salah satu genre sastra tersebut adalah cerpen. Pengarang mampu menggambarkan keadaan yang berada di sekelilingnya dengan mengapresiasikan imajinasinya lewat teks.

Seorang pembaca, jika ingin mengetahui ihwal konteks yang ingin disampaikan pengarang dalam sebuah cerpen, maka sudah menjadi kewajiban bagi pembaca untuk membedah karya itu. Alat bedah yang digunakan pembaca diharuskan mampu menelusuri imajinasi pengarang, baik dari unsur kesejarahan, struktural, moral, sosiologis, semiotik maupun stilistika. Kali ini saya mencoba membedah cerpen “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh” karya Martin Aleida, dari kumpulan cerpennya berjudul “Mati Baik-Baik, Kawan” yang diterbitkan oleh Akar Indonesia tahun 2009.

Membaca cerpen “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh” ini akan lebih pas jika menggunakan pendekatan historis, karena melihat latar belakang dari Martin Aleida itu sendiri. Martin Aleida merupakan sastrawan dari komunitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang pada waktu itu dianggap sebagai musuh oleh para Penganut rezim Orde Baru karena berpaham komunis.

Dalam cerpen tersebut Martin Aleida tidak banyak memilih diksi leksikal untuk mengacu pada pengertian yang lainnya. Ia lebih banyak memilih gaya penulisan yang sederhana, namun tetap mengajak kita sebagai pembaca untuk menyelami hakikat keadilan dan kebebasan sebagai manusia. Lewat tokoh “Mangku” ini, Ia mencoba mewakilkan sosok dirinya yang menderita sesuai dengan
penderitaan yang dialami si Mangku.

Kesederhanaan Martin Aleida dalam cerpen ini terbukti dari penggalan percakapan tentang pembunuhan terhadap para anggota dari Organisasi Tani. Kejadian itu sama persis saat rezim Orde Baru berkuasa pada massanya, mereka yang tergabung dalam organisasi tani mengalami penderitaan itu.

“Orangtua itu dibunuh karena menerima tanah cuma-cuma dari Organisasi Tani yang dituduh merampas tanah tuantanah dan membagi-bagikannya kepada petani tak bertanah seperti dia”

Gaya penulisan yang sederhana tersebut seolah menggambarkan keinginan pengarang untuk menyampaikan penderitaan tokoh dengan hal yang pernah dialaminya. Pengarang mengajak pembaca hanyut dalam kesederhanaan yang dipendamnya.

Mangku dengan ditemani anjing dan keranya merantau ke kota lain demi mendapatkan kesejahteraan dalam hidupnya, terbebas dari ketidakadilan, akan tetapi dalam perjalanannya itu Mangku tetap menderita karena yang menjadi temannya harus menerima ketidakadilan, yang berujung pada kematian. Niatnya yang ingin mendapatkan doa dari para pelayatnya ternyata tidak bisa kesampaian, karena baik mati di tanah kelahiran maupun di tanah perantauan yang ia impikan sama beratnya. Dalam hal ini sentimental pengarang sangat terasa.

Pengarang juga mengulas tempat-tempat yang pernah menjadi saksi kekejaman pembantaian dari penguasa, seperti Bali, Jakarta, dan sebagainya. Ini dimaksudkan agar para pembaca diarahakan untuk sengajak menengok ulang sejarah yang terjadi di tempat tersebut, agar mampu membandingkan antara fiksi yang dibangun pengarang dengan kejadian sebenarnya.

Meskipun kesederhanaan yang digunakan pengarang untuk mengantarkan pembaca dalam mendalami maknanya bisa diartikan tercapai, akan tetapi nilai kebenaran dari cerita itu belum bisa terungkapkan, sejarah masih terikat oleh kepalsuan sebuah rezim. ***

Aa Aonillah, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Siliwangi Tasikmalaya /19 Oct 2011

Komentar

wnarta adisubrata mengatakan…
menganjurkan hadirnya martin aleida melalui karya karya cerpennya di pasar buku frankfurt 2015 melengkapi indonesia

saran ini terutama ditujukan kepada ibu dr windoew nuryanti
penentu kelengkapan indonesia di pasar buku internasional frankfur 2015, mumpung masih keburu (insya allah)

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).