Langsung ke konten utama

Antara Jalan Beraspal dan Bahasa Indonesia

Mahmud Jauhari Ali
__Banjarmasin Post

Secara sadar kita dapat mengatakan bahwa manusia normal tidak dapat langsung berjalan tanpa proses belajar. Tentu saja seorang anak harus melalui proses belajar secara bertahap hingga ia mampu berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Begitu pula dengan kemampuan berbahasa seseorang tidak didapatnya secara sekaligus, melainkan didapatnya secara bertahap hingga ia mampu berbahasa dengan lancar. Sebagaimana kita ketahui bersama di Indonesia terdapat ratusan bahasa daerah dan satu bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia.
Kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang di daerah kita dengan menggunakan bahasa daerah kita, bahasa Banjar. Akan tetapi, pernahkah kita renungkan sebuah kenyataan bahwa bahasa Banjar tidak dapat kita gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di luar daerah kita seperti orang-orang Jawa atau Sumatera? Tentu kenyataan itu menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya memerlukan sarana penghubung yang dapat kita gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di luar daerah kita tersebut. Tidak lain sarana penghubung itu adalah bahasa Indonesia.

Kembali kepada masalah berjalan kaki di atas, ketika kita sudah mampu berjalan kaki tentu kita juga memerlukan sarana penghubung yang dapat kita gunakan untuk kita lalui menuju tempat tujuan kita. Sarana penghubung yang satu ini sudah sangat akrab dengan kita dan kita sebut dengan kata jalan. Kita sangat memerlukan jalan untuk dapat menuju tempat-tempat yang kita inginkan dengan cepat. Sebenarnya bukan perkara berjalan kaki saja yang berhubungan dengan sarana penghubung yang satu ini. Dengan adanya alat transportasi yang dapat kita gunakan seperti sepeda motor dan mobil, sarana penghubung yang kita butuhkan haruslah jalan beraspal. Persoalan kita mengenai sarana penghubung, baik jalan beraspal maupun bahasa Indonesia belum selesai sampai di sini. Dewasa ini kedua alat penghubung yang kita perlukan tersebut sedang mengalami masalah di daerah kita, Kalimantan Selatan. Apa masalahnya?

Masalah pada jalan beraspal di Kalimantan Selatan adalah kerusakan yang terjadi pada badan jalan di beberapa daerah, seperti jalan utama di Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Batola, Jalan Pemurus di Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar, dan di Jalan Sultan Adam Kotamadya Banjarmasin. Contoh kerusakan tersebut adalah banyaknya aspal jalan yang terkelupas sehingga batu pengeras jalan pun berhamburan tidak beraturan. Bahkan sudah banyak lubang besar terdapat di badan jalan akibat batu-batu pengeras jalan yang berhamburan di sana-sini. Kerusakan seperti ini bertambah parah ketika turun hujan di daerah-daerah tersebut di atas. Padahal akhir-akhir ini hujan semakin kerap turun di daerah kita. Kenyataan ini tentunya mengakibatkan kurang lancarnya arus lalu-lintas di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Bukan hanya itu, keselamatan pemakai jalan pun terancam karena keadaan jalan yang kita lalui mengalami kerusakan. Padahal masyarakat Kalimantan Selatan selalu membayar pajak. Dalam iklan di televisi yang dibuat oleh Derektorat Jenderal Pajak dengan jelas disebutkan bahwa uang pembangunan jalan diambil dari duit pajak masyarakat. Akan tetapi, kenyataannya lain, yakni pajak jalan, tetapi jalan di derah kita tetap rusak. Melihat kenyataan ini sudah semestinya pihak yang berwenang sesegera mungkin memperbaiki sarana penghubung arus lalu-lintas yang sudah rusak di beberapa daerah di Kalimantan Selatan.

Masalah utama pada bahasa Indonesia di daerah kita adalah bahasa Indonesia belum “membumi” secara keseluruhan di Kalimantan Selatan. Terbukti dengan adanya pemakaian bahasa asing dalam kalimat bahasa Indonesia di beberapa daerah, terutama di pinggir jalan raya. Begitu pula dengan adanya pencampuran bahasa Melayu dialek Betawi atau yang lebih dikenal dengan bahasa Betawi atau bahasa gaul dengan bahasa Indonesia oleh sebagian warga Banjar di masyarakat Kalimantan Selatan. Padahal bahasa Indonesia tidak perlu dicampur pemakaiannya dengan bahasa Melayu dialek Betawi. Sudah seharusnya pemakaian bahasa asing dan bahasa Melayu dialek Betawi kita hindarkan alam pemakaian bahasa Indonesia. Kesimpulan dalam tulisan ini adalah bahwa jalan beraspal dan bahasa Indonesia sama-sama merupakan sarana penghubung yang penting bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Masalah-masalah pada keduanya harus segera diatasi sesegera mungkin guna terciptanya kemakmuran yang merata bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).