Langsung ke konten utama

YANG BERPOLA PIKIR, YANG RAJIN MENYINDIR

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sindiran boleh saja datang, dari siapapun, dan dari manapun. Namun jelas, bahwa si empunya sindiran adalah mereka yang merasa, dirinya sebagai tokoh yang merasa lebih berkepentingan dalam sesuatu persoalan, sehingga merasa pula berhak mengeluarkan pendapat. Saya teringat akanMultatuli, yang dalam “Max Havelaar”nya memperlihatkan kekuatan pena yang luar biasa, lantaran dia menyindir penguasa kolonial di Hindia Belanda, yang semena-mena itu.
Mungkin, seraya menampilkan kisah “Saijah dan Adinda” yang tragis, dengan alur cerita yang sebenarnya cuwer itu, pena Multatuli berbasah tinta, dengan sikap yang seperti seorang dari kelompok oposant. Kiranya lumrah, seperti diungkapkannya berulangkali dalam buku satirenya yang tajam sayatnya, penghisapan imperium Singa Walanda itu bukan lagi merupakan drama penghinaan kemanusiaan secara serampangan, melainkan juga menandakan bahwasanya kelompok-kelompok terpelajar Belanda yang duduk di belakang meja pemerintahan, telah lalu. Cuma saja, saya merasa mendongkol, bahwa dia menuduh ningrat-ningrat pribumi lebih kasar lagi dalam memainkan kekuasaan, sementara penguasa kulit putih “pura-pura tak melihat” praktek-praktek penghisapan yang dilakukan pegawainya. Kalau dia lebih jujur terbuka sedikit, niscaya akan terasa, tindakan-rindakan yang dilakukan ambtenar pribumi belumlah seberapa dibandingkan dengan kelaliman Belanda masa itu. Karena pola laku keijakan sebagaimana dicetuskan oleh intelektual lulusan negri kincir angin, yang berpanjikan Pax Neerlandica, seharusnya insyaf akan lalainya memberlakukan segala sesuatu yang lebih memberatkan kaum kecil, semasa Tanam Paksa dan sesudahnya.

2.
Di atas dinamika pembangunan, kendati pada masa kolonialpun, berdiri figurpenghiba hati, yang mencoba melencengkan garis wicaksana untuk memerintah negeri ini. Saya kira, kalau kita menggunakan darah dan daging, dan menggunakan pula rasa weningnya, takkan terbingkis kekejaman-kekejaman di luar kemanusiaan. Seperti diketahui, banyak benteng, penjara, kamp-kamp konsentrasi yang dibikin, atas nama imperialisme. Tanpa kita menuduh siapa pelakunya, namun harus ditandaskan, bagaimmana soal semacam ini terus menggugat hati kita di sini, hingga tak terbatas. Kacamata sejarah ini bisa berkata lain, bila diperhatikan, tentang periodisasi penjajahan ini—dan bagaimana warga desadijadikan sapi perah, untuk tugas-tugas penanaman lahan kosong. Dikatakan demikian, karena semasa penguasa pribumi memerintah, adipati, Pangeran, Sunan, Sultan, telah pula menugasi penduduk untuk mengikuti pranatan “Kering Aji” (pengerahan kawula untuk mengerajakan ladang sawah, sebagai kerja bakti), dan “Pundhutan Dalem” (penugasan para pamong dan warga desa untuk mempersembahkan hasil palawija dan ternak, sebagai persembahan bagi ritus-ritus suci di kraton). Jelas, fungsi dan kepentingan feudal-aristokratik pribumi. Namn, setelah pranatan ini kemudian dicangkokkan kepada peraturan Gubermen ( Pemerintahan Kolonial Belanda), pelaksanaannya menjadi lebih memprihatinkan. Kalau disimak dari peristiwa historis, ketaatan rakyat kepada Gustinya adalah jalaran “wedi-asih” (takut bercampur sayang) terhadap junjungan terhormat. Sedangkan kepada penguasa Belanda, rakyat justru merasa “lilah-luluh” (jadi terpaksa ikhlas, lantaran dipaksa untuk taat). Para ilmuwan Javanologi, marilah terus kita bandingkan kedua materi ini sebagai bahan ulasan. Ayo!

3.
Kesusastraan senantiasa punya kecendrungan yang aneh. Ia misalnya, punya tendensi yang tak bisa dilihat oleh mata yang kabur, yaitu tendensi seolah-olah TELAH menemukan suatu masyarakat yang ideal, yang oleh karenanya sastra mengambil langkah-langkah revolusioner. Wataknya memang sepi dari pamrih, non profitable—lantaran jangkauan yang digapainya adalah kemerdekan rohani yang lebih bersifat buani, ketimbang sesuatu “gebyar” di lingkup yang bersifat regional. Maka sastra yang bertendensi universal ini, secara tak langsung mengajak pengarangnya untuk jinjit-jinjit ke alam lebih cerah, bukan dalam artian memperoleh hadiah, melainkan agar suara jiwa yang melantun itu bisa ditangkap oleh kawula-kawula dari banyak bangsa, kaum, partai dan mazhab, di mancapraja. Pantas diakui, kesusastraan adalah salah satu urat nadi kekuatan yang menggerakkan sejarah. Seringkali malahn menciptakan sejarah—dan oleh sebab itu, orang segan dan hormat padanya.

4.
Perbendaharaan sejarah justru antara lain menekankan, adanya pengabdian yang tulus, yang dilakukan sedari usia muda. Karena di sini akan dapat ditilik, apakah kerja yang dihayati dalam langkah-langkah itu secara individual didorong oleh spirit untuk menyampaikan kebolehan yang dimiliki ataukah hanya bersandar pada ambisi tertentu (lebih-lebih lagi manakala disebabkan oleh bujukan lain orang). Manusia tumbuh keinsyafan seperti ini, justru para usia empatpuluh plus, dan jarang yang sebelumnya. Sebudi-akalnya, senantiasa dicelupkan pada ember yang penuh air, agar rambut di kepala makin kuyup, dan otak jadi lebih jernih dalam sejenak. Masyarakat menanggapi setiap lakon yang ditempuh sesuatu sosok, dengan terutama memperebutkan harga personalitas dan bukan imbas dari tumpahan-lelah yang berwujud benda-benda mewah. Karena itu, sebatas dunia intelek memungkinkan, maka orang berniat mengambil bidang “kecerdasan pikir” yang ditopang sesuatu gelar akademis, dan niscaya berikut pula semacam “ke-limpahruah-an sabda dan piwulang” dari beranda kalbu. Hanya dengan cara begini, kadar penghargaan menjadi lebih pinasti.

5.
Rasanya masih ada di antara kita yang ingat akantropenkolder –istilah yang bukan hanya secara kebetulan terbentuk di antara warga masyarakat colonial pada zaman Hindia Belanda dhulu. Ini semacam penyakit yang diderita oleh ambtener kulit putih, yang di satu pihak, dirinya merasa sebagai kaum yang superior, di atas orang-orang pribumi kulit berwarna ang diinjaknya. Peranggapan demikian hadir, sewaktu dia berkacakpinggang sebagai “ndoro tuan” atau “Kanjeng Yang Dipertuan” di sini. Tapi begitu mereka kembali ke kampung (atau mungkin hanya perlop sebentar, atau menikmati pasca pensiun), mereka dipaksa oleh keadaan, untuk mengakhiri rasa superior ini. Soalnya, warga bangsanya sendiri di sana, tak setinggi itu menghormatinya. Maka ia alami frustasi, sebagai warga Nederland, di kampung sendiri. Begitu pula, kaum intelektual Belanda, yang beranggapan, “ Lu tau apa he, pribumi goblok”, dan punya tesis-tesis gemilang tentang bidang ilmiah tertentu, menajiskan peranan pemikir di sini. Sayang, mereka keliru kelewat jauh. Karena, wawasan-wawasan orang sini genial, toh tetap memperoleh reputasi yang baik, di Nederland, sebatas semua itu berargumen kuat, ditopang data-data akurat. Maka, acapkali terjadi, bahwa dalam masyarakat kolonialis-imperialis, penghargaan atas diri sendiri didukung oleh tendensi rasial yang berkelebihan. Sedangkan penilaian sehat hanya akan terjadi, pada saat aparat-aparat penjajahan di sadarkan oleh lingkungan kampung halaman, yang menuding pada kenaifannya itu.

6.
Jikalau kita amati untaian pandang Sutan Syahrir dalam “Perjuangan Kita”, kentara bahwasanya dia memperluaskan soal-soal berikut : adakah seseorang yanmg benar-benar setia kepada persekutuan yang pernah ditaatinya, dan dilabuhinya selama bertahun-tahun, jika misalnya dia mesti menentukan cara pilih dan cara pandang, takkan mendurhaka pada teman-teman lamanya? Adakah, untuk suatu gambaran masa datang yang masih samar, ada orang atau kelompok yang merelakan dirinya sebagai kolaborator, yakni mereka yang terpaksa ataupun sukarela bekerjasama dengan musuh selama zaman penjajahan? Adakah pula, bahwa pemilihan hak serta wewenang yang lekat pada diri kita, kita secara gampang memindahkan soal ini ke kiri atau pun ke kanan, semata lantaran terdapat arus kuat yang menderu? Syahrir menginginkan, intelektualisme di satu pihak, bukan alas pijak kita sendiri, lebih-lebih jika perkataan harus satu asap dan satu api dengan pola budaya barat yang jauh di seberang sana. Apalagi, jika kita sendiri, kebanyakan belum siap dan belum mantap menjadi orang-orang intelek, karena pelabuhan masing-masing teramat dangkal dan tak memadai. Diharapkan, perkembangan lebih baik jika Masa Merdeka tiba.

7.
Dalam pertemuan antar manusia, maka implikasi yang timbul adalah bagaimana manusia saling menyampaikan makna. Apalagi jika pergulatan batin yang tengah diliyerkan dan dialihkan dalam hubungan sosial semacam ini merupakan gejala transendensi , yakni per-lewat-an batas-batas dunia empiric, di mana penguasaan atas materi oleh jiwa yang berlangsung, juga lantaran jiwa mengatur dialektik alam. Praktis, jagat kesenian merujuk kepada suasana kerja intelek, darimana orang per orang mencoba mengolah produksi kreatifnya dalam bentuk pengemongan imaginasi, dan penjabrana imaginasi, seluas-luasnya, sebangkit-bangkitnya. Trandensi ini pulalah yang merupakan habitus yang sensual dalam mengakurkan nilai praltis yang ada dengan daya muat masyarakat yang menerima wedaran-wedaran para pujangga. Kadar yang dimungkinkan oleh kerja saling mempersilahkan begini, menuju kepada synthese yang aman, kukira. Persoalannya, hidup sastrawan (yang mempergandakan seni sebaga produk humaniter) dan ilmuwan (yang membincangkan teori dan materi sekaligus, dalam rangka mengkomunikasikan ide lebih bernas suatu waktu), barangkali bisa sehaluan, sepanjang kenyataan bahwa ada kekuasaan yang menjembatani.

8.
Problema terpanjang dalam kemanusiaan ini—di mana manusia harus menjadi penentu hari esoknya sendiri, pengendali proyek hari depannya sendiri!—adalah bagaimana meniadakan ketakutan yang ada dalam dada. Adakalanya, ketakutan untuk mengeluarkan pendapat, senada dengan ketakutan untuk menyumbangkan reaksi spontan yang argumentatif. Adakalanya, ketakutan untuk menjadi penyerta dalam birokrasi kekuatan politik yang kekar, yang dia sendiri kuatir, untuk dianggap sebagai perngkritik yang sengit. Adakalanya pula, buah pikiran yang dipergelarkan pada palladium mahabijak, justru kelewat memperdengarkan kesetiakawanan sosial, dan bukan memancangkan kesetiakawanan mitra usaha, yang tengah dilandungkan. Namun demikian, pada saat orang tengah kebingungan untuk melontarkan krida pribadinya yang sejati, dan di mana terdapat kesenjangan berkemaku sekitarnya, maka lumrahnya, ada yang ditumbangkan. Artinya, salah satu harus kalah, demi kemenangan sosok lain. Bincangan, jadinya mengandung perasaan yang terbelah, sebelum pemerataan dibenahi seapik-apiknya.

* Tanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).