Langsung ke konten utama

Karya dan Inspirasi

Thayeb Loh Angen
http://blog.harian-aceh.com/

Deraan bencana buatan manusia (perang) dan bencana alam (hantaman laut) telah menjadi isi karya seni di Aceh. Percintaan pun mendominasi hasil karya-karya tersebut, tapi yang paling mendominasi adalah ‘gun and rose’ (senjata dan bunga (gadis).

Lahirnya novel-novel dan cerpen serta puisi bertema perang adalah sebuah contoh bahwa perang telah menjadi luka yang tidak terobati di Aceh. Tidak seorang pun bisa mengobati ini selain yang terluka memaafkannya.

Setelah perang berakhir dan bencana laut jauh tertinggal, maka tinggalkan tubuh-tubuh trauma, maka hadirlah film komedi di Aceh yang menjadi isu baru dalam kesenian. Orang lupa, bahwa yang ia karyakan adalah masa depan, tapi ia menganggap menulis atau memvisualkan masa lalu. Ternyata tidak begitu, penikmat hasil karya seni kita adalah orang yang hidup sekarang dan itu mempengaruhi pikirannya dan orang-orang di sekeliling mereka, makanya hati-hati berkarya.

Sebagai contoh, Ali Hasyimi menulis buku-buku sejarah, jika Ali Hasyimi pikir itu masa lalu maka keliru, karena hasil tulisannya menjadi bahan referensi orang di masa setelahnya hidup, sehingga jika ia selipkan hayalannya dalam tulisan yang ia hasilkan maka orang-orang pun menganggap hayalannya adalah fakta di masa silam, dan mencoba mengklaim Aceh harus seperti itu.

Contoh lain, film komedi yang telah tenar di Aceh banyak mempengaruhi pikiran orang Aceh, menjadikan orang Aceh lebih berselera humor setelah didera perang dan bencana alam. Contoh buruk adalah para penulis atau peseni komersial, misalnya ada orang yang menulis cuma untuk mendapatkan ketenaran dan honor, dalam tulisan itu ia mengkritik siapa saja, padahal jika ia diminta melakukannya mungkin lebih parah. Orang seperti ini adalah salah satu penjahat yang lain.

Aceh tidak banyak berubah walau setiap hari apa opini di media karena kebanyakan penulis cuma omong besar dan tidak bisa melakukan apapun selain mencela orang bukan menawarkan solusi. Opini-opini seperti itu tidak perlu dibaca, hanya sampah tulisan.

Kritikan menghancurkan banyak hal, jadi kita bisa hitung berapa orang yang telah kita kritik, dan kita sendiri telah tahu rasa dikritisi yang kita anggap fitnah, cuma sedikit orang yang mampu berempati. Tidak ada orang suci atau si idealis sejati.

Kembali pada karya seni, dunia teater belum punya ruang di Aceh sehingga komunitas teater yang baru ada beberapa belum bisa dinikmati publik dengan santai sebagaimana film-film komedi. Selain nanyian, di Aceh, yang lebih dikenal publik adalah film-film komedi. Tulisan seperti novel dan cerpen menempati peringkat ke tiga. Ini mencermikan, sebagian besar masyarakat Aceh bukan penulis atau pembaca, tapi penonton atau pelawak.

Novel-novel yang terbit setelah perang berakhir di Aceh adalah karya Arafat Nur yang berjudul Percikan Darah di Bunga dan beberapa karyanya yang lain tapi diwakili oleh yang tadi. Setelahnya Novel Salman Yoga S berjudul Tungku, novel Ayi Jufridar berjudul Kabut Perang dan Novel saya berjudul Teuntra Atom, semuanya berbasis perang

Novel-novel tersebut, dianggap orang sebagai pelukisan secara hayal tentang masa yang telah lewat, namun jika diteliti secara psikologi ternyata sebaliknya. Novel-novel tersebut mempengaruhi pikiran pembacanya yang cenderung berpikir begitulah keadaan di masa silam dan ia melakukan sesuatu setelahnya berdasarkan kesimpulan sendiri tentang keadaan negeri.

Novel klasik riwayat Seribu Satu Malam adalah sebuah contoh lain tentang kesimpulan bahwa sebuah karya bukan menceritakan masa silam tapi menciptakan masa depan. Tidak ada seorang pun yang berpikir buruk tentang Baghdad, dan penyerangan kota Bagdad oleh Gorge Bush mungkin terispirasi dari dongeng Seribu Satu malam, bahwa ia mau menaklukkan Baghdab seperti Sinbad si pelaut. He..he…he.

Selain itu, mungkin pemerintah Aceh membuka perwakilan wisata Aceh di Penang Malaysia kerena terispirasi dari penaklukan Iskandar Muda terhadap semenanjung Melayu. Atau sebaliknya, orang-orang Malaysia menyimpan barang artefak Aceh di museum mereka karena terinspirasi bahwa di masa silam mereka telah dijajah dan sebagai penebusan mereka telah membalas dendang moyang dengan mengambil artefak dari Aceh.[]

Thayeb Loh Angen, Pemimpin Redaksi Majalah Saman Cultural Magazine. /23 October 2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo