Langsung ke konten utama

Berthold Damshäuser, Nietzsche, dan Indonesia

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 19 Sep 2010

BERTEMPAT di Goethe Institut Bandung, Senin (27/9) malam, buku Syahwat Keabadian akan diluncurkan dan didiskusikan dengan pembicara Bertold Damshäuser dan Agus R. Sarjono. Bagi publik sastra Indonesia, Bertold Damshäuser bukanlah sosok yang asing. Pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Institut für Orient-und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia) di Universitas Bonn dan Pemimpin Redaksi Orientierungen (jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia) ini, getol menerjemahkan puisi-puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia, dan puisi Indonesia ke dalam bahasa Jerman. Seri Puisi Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia merupakan bukti upaya kerja kerasnya mempertemukan khazanah sastra Jerman dan Indonesia.
“Saya mengamati sastra Indonesia sejak akhir 1970-an, ketika saya mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Köln. Sebagai pencinta sastra, tentu saja saya tertarik pada sastra Indonesia. Karya sastra suatu bangsa merupakan cermin kebudayaannya, juga sumber yang sangat penting untuk memahaminya,” ujar Berthold Damshäuser yang oleh para sastrawan dan publik sastra di Indonesia akrab disapa Pak Trum ini.

Menurut Pak Trum, dalam rangka kerja sama kebudayaan, teks, termasuk teks kesastraan, seharusnya diberi peranan yang menonjol. Dalam sejarah pertukaran budaya, tekslah (teks agama, filsafat, sastra, juga sains) yang sejak dulu merupakan faktor yang paling menentukan. Penyebaran ide-ide baru terutama dilakukan melalui teks yang diterjemahkan.

“Karya sastra tentu saja sanggup memberi sumbangan pada proses itu, karena sastra pun cenderung mengandung unsur pembaruan ide, filsafat. Maukah Jerman dan Indonesia saling memperkaya? Kalau, ya, karya sastra sebanyak mungkin mesti diterjemahkan ke dalam bahasa masing-masing, lalu disebarkan,” tutur salah seorang pendiri Komisi Jerman-Indonesia untuk Bahasa dan Sastra yang tahun ini dipilih sebagai Presidential Friend of Indonesia.

Dibantu penyair Agus R. Sarjono sebagai co-editor, menurut dia, penerjemahan puisi memang perlu dilakukan oleh atau melibatkan seorang penutur bahasa tujuan yang sanggup berpuisi. Proses penerjemahan itu baginya demikian membahagiakan, apalagi bila kerja keras itu bisa menghasilkan terjemahan puitis dalam bahasa Indonesia yang tak kalah indah dengan teks aslinya.

Sebelum terbitnya Seri Puisi Jerman, terjemahan Indonesia dari puisi Jerman hanya terdapat dalam bentuk satu-dua antologi dan di berbagai majalah. Boleh dikatakan, puisi Jerman belum hadir di Indonesia. Termasuk puisi Goethe, Brecht, Rilke, dan Nietzsche. Oleh karena itu, sudah waktunya untuk menghadirkan puisi Jerman di Indonesia. “Dan saya kira, ada baiknya juga bila publik Indonesia kini dapat membaca puisi Goethe yang bernafaskan agama Islam, puisi Paul Celan yang mengangkat tema holocaust terhadap bangsa Yahudi, atau puisi Enzensberger yang berkaitan dengan keadaan masyarakat Jerman yang modern,” tutur pak Trum.

Tentang puisi Nietzsche yang kini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, siapa pun kiranyanya tak bisa membantah pengaruh besar filsuf dan penyair Jerman yang satu ini. Bagaimanapun “nyeleneh” dan radikalnya gagasan-gagasan Nietzsche sehingga ia juga dianggap gila, tetapi ia adalah tonggak penting dalam perkembangan modernitas, bahkan hingga pascamodernitas yang riuh rendah seperti hari ini.

Oleh karena itu, dalam pandangan Pak Trum, filsafat dan kesenian abad ke-20 akan berbeda andai tak ada Friedrich Nietzsche. Ia semacam perintis filosofi eksistensial dan filosofi kehidupan, juga filosofi analitis. Filosof-filosof seperti Wittgenstein, Sarte, Heidegger -untuk menyebut beberapa nama saja- terilhami oleh karya-karya Nietzsche. Tak terhitung juga jumlah seniman-sastrawan, pelukis, pemusik- yang menghasilkan karya di bawah pengaruh Nietzsche, misalnya komponis Richard Strauss dengan simfoninya Also Sprach Zarathustra. Dan, dampak pemikirannya terasa sampai kesusastraan Jerman yang kontemporer. Sulit memang bagi tiap cendekiawan, tiap seniman untuk lepas dari daya tarik Nietzsche. Di Indonesia, hal itu terasa juga, tiada pemikir atau sastrawan Jerman yang diminati seperti Nietzsche.

“Saya ingin sebutkan satu-dua dari sekian banyak gagasan atau pikiran Nietzsche yang patut direnungkan, bukan saja oleh orang Indonesia melainkan oleh manusia mana pun. Yakni, kesangsian Nietzsche akan kebenaran mutlak, juga sikap skeptis terhadap keyakinan sendiri, dan cara penilaian yang perspektivistis. Dan, tentu saja ide Nietzsche tentang pribadi mandiri, manusia yang “bukan domba”, yang bukan budak yang tenggelam dalam massa, yang dengan gampang digerakkan atau dihasut untuk memenuhi kehendak otak-otak yang kerdil dan jahat,” ujarlelaki kelahiran Wanne-Eickel Jerman tahun 1957 ini.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/09/berthold-damshauser-nietzsche-dan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).