Langsung ke konten utama

Polemik yang Tak Aplikatif

Beni Setia
Lampung Post, 5 Sep 2010

KHASANAH sastra Indonesia penuh pertentangan biner yang tidak ada putusnya. Dari polemik kebudayaan dengan pilihan mem-Barat atau mereaktualisasi Timur. Lantas yang mendunia dengan yang menggali kekayaan lokal.

Terjadi clash antara sastra realisme sosial versus sastra agamawi dan humanisme universal. Keperkasaan liris menghasilkan penentangan berwujud Pengadilan Puisi di Bandung, di Surabaya almarhum Muhamad Ali mengeluhkan dominasi c.q. esei Izinkan Saya Bicara pada dekade 1970-an. Lantas lahir sastra sufi eskapistik dan sastra kritik sosial. Lalu muncul gerakan RSP dan BP.
Apa yang dominan dari semua itu. Apa ciri positif itu masih ada di polemik terakhir.

***

SEBAGAI pengarang yang menulis puisi dan cerpen, minat saya pada teori sastra, teks kritik, dan esei analisis, dan telaah karya selanjutnya: teks nonfiksi, terkadang sangat praktis. Melulu mencari yang bisa diaplikasikan bila nanti berkreasi menulis fiksi. Sampai di titik: pengetahuan yang ditemukan itu instan operasional ketika menulis fiksi, jadi pencerahan nonfiksi yang teraplikasikan dan mewujudkan satu karya sastra. Sebuah rambu untuk perambahan mencari kemungkinan ucap lain.

Kalau memakai termin bentuk serta isi, yang pantas diperhatikan itu hanya apa ada potensi bentuk yang bisa dipakai mewadahi isi teks fiksi yang diisyaratkan teks nonfiksi. Isi teks fiksi itu sendiri terumuskan karena sang kreator mengikuti poin, asumsi atau tesis yang dirumuskan teoretikus serta kritikus yang menulis teks nonfiksi. Meskipun kilasan ilham itu sifatnya subjektif dan tergantung dari anugerah kemurahan Allah, tapi ilham itu tetap menuntut harus diperkaya dulu dengan wawasan di satu sisi. Sambil mengkaji berapa kemungkinan pentersuratannya sebagai karya dengan merujuk pada segala poin, asumsi, dan tesis yang disimpulkan dari pembacaan teks nonfiksi bahkan aneka teks nonfiksi.

Satu polemik dengan bukaan-bukaan referensi terkini, yang memperluas wawasan akademik pun terkadang cuma diinventarisasi potensi aplikasinya. Hanya sejauh (sebagai) tawaran bentuk ungkap baru atau cara cerdas memperkaya dari isi ungkap yang mungkin cocok dengan bentuk ungkap itu. Hingga semua teks nonfiksi, bahkan dari polemik yang penuh sergahan vulgar, hanya ditelusuri kandungan potensi aplikasi serta kuasa mungkin bentuk ungkap terbaru atau cara untuk memahami apa yang akan diungkapkan dengan memperkaya materi ilham sehingga menghadirkan bakal isi (teks) alternatif.

***

VERIFIKASI nyaris hanya merujung pada potensi aplikatif yang bisa operasional di zona (penciptaan) kreatif fiksi, bukan di tataran ide para intelektual, akademisi, teoretikus dan kritikus. Bahkan, ketimbang suntuk dengan teori sastra dan corak baru analisis kritik, saya lebih tertarik dengan fenomena bagaimana pisau analisis berpraktek mengupas karya dan mengetahui apa kelebihan dan kekurangan teks karya yang dianalisis dan dikritik. Sehingga punya gambaran: jangan menulis seperti itu, atau jangan sampai mengandung cacat seperti itu. Bahkan aktif mencari serta membaca karya yang ditunjuk oleh teks nonfiksi itu sebagai pembanding dan rujukan.

Motif adaptasi serta aplikasi dalam pembacaan teks nonfiksi itu amat berbeda dari akademisi dan kritikus, pihak yang menjadikan teks nonfiksi itu sebagai referensi dalam rangka menganalisis teks fiksi sebagai kajian ilmiah. Atau dalam rangka membangun teori sastra atau untuk menyelenggarakan pertukaran pendapat cerdas dalam diskusi, polemik, atau ceramah. Saya hanya mempertimbangkan teks nonfiksi itu sejauh bisa menemukan yang bisa diaplikasikan saat menulis fiksi. Saya tak begitu tertarik teori sastra murni demi pengayaan khazanah pengetahuan serta referensi sastra. Saya (naluriah) hanya mengukur potensi aplikatif memastikan-memperkaya kilasan ilham, dan jadi batu arah perencanaan (draf) penulisan fiksi.

Bukan pisau analisisnya, bukan karena referensinya, serta bukan lantaran datanya valid. Bukan level akademiknya, meski kadang terpukau mengikuti akrobatika referensi, analisis, dan hipotesis. Jadi sebuah polemik yang paling menarik minat dan mengguncang emosi pun tidak pernah diikuti dengan kekaguman pol pada analisis orisinil serta referensi akademiknya. Ukurannya tetap potensi aplikasi, apa sumbangannya bagi teknik penulisan dan metoda (untuk) memperkaya wawasan. Yang itu bukan tujuan meski aktif mencari fakta dan memvalidisasinya jadi data ilmiah, karena semuanya dikelompokkan sebagai potensial atau inproduktif bagi proses pertukangan menulis fiksi.

***

SAYA merasa aneh ketika pembacaan cermat pada polemik terkini, yang motifnya pragmatis mencari potensi aplikatif melulu untuk penciptaan fiksi diapresiasi dengan tuntutan superbiner, dengan tuntutan harus ada pernyataan sikap berupa pemihakan. Ikut yang sejak awal sudah tegas memisahkan mana kawan mana teman. Sebab itu alih-alih memperluas wawasan dan menambah referensi polemik jadi zona identifikasi eksklusif, dengan ganas menghujat lawan dan lembut mengelus kawan. Tak ada suasana akademik, melulu cuma teriakan meminta bukti keberpihakan aktif. Tapi apa pentingnya pemihakan bagi proses kreatif menulis fiksi?

Polemik seharusnya menghasilkan terobosan-atau postulat si batu arah bagi ilmu sastra, bagi teori serta kritik sastra, bagi eseis, kritikus, mahasiswa serta akedemisi sastra, atau kemungkinan aplikatifnya untuk penulisan fiksi mutakhir. Tanpa itu sebuah polemik akan degradatif jadi cerca, melulu hanya cemooh pada pihak lain. Menjadi sia-sia dan tak menjanjikan selain pembongkaran segala cacat teks dan kesalahan personal kreatornya. Hanya nonsensia. Gelombang permukaan yang jauh dari kedalaman (palung) yang tenang konsentratif Zen bila mengutip epilog Musashi hanya badai dalam gelas. Perilaku lalar gawe, kata tetangga di Caruban.

Beni Setia, pengarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/09/polemik-yang-tak-aplikatif.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo