Langsung ke konten utama

Kisah Perempuan Telanjang

Eko Hendri Saiful *
Tabloid Seputar Ponorogo, edisi III, 17-23 Jan 2012

Jika kawan melewati alun-alun kota kami, engkau akan menemukan sebuah menara yang berdiri tonggak di pojok alun-alun. Bentuknya seperti menara telephone seluler di kota-kota besar yang terbuat dari kesatuan besi berwarna hitam. Jika diukur kurang lebih 20 meter tingginya. Kebanggaan bagi kami selaku warga kota kecil memiliki menara setinggi dan semewah itu. Kabar terakhir menara itu dimiliki oleh sebuah stasiun radio swasta dikota kami dan berfungsi sebagai pemancar.
Pemandangan terakhir yang kulihat seeorang perempuan seusia ibuku tampak kebingungan di depan pintu masuk pagar menara. Tampaknya ia sedang mencari sesuatu untuk anak digendongannya. Bukan maksud saya untuk meminta sumbangan air mata, tetapi memang tragis kondisi lahir perempuan itu. Badannya tak tertutup sehelai kainpun memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka. Rambutnya kumal, bergelombang dan tak terurus. Selain itu di wajahnya tampak lecet. Terlihat juga kejenuhan menimpa perempuan itu karena menyeret kakinya yang pincang.

Perempuan itu melewati kawat pelindung menara. Menerobos, memanjat, dan melipur anaknya yang menangis sedu. Wajahnya melukisakan keputusasaan yang mendalam. Menandakan usianya yang semakin lapuk dikoyak nasib. Orang-orang sering mencibir karena bau amis dari gelombang rambutnya yang hitam kemerahan. Ia menaiki tangga demi tangga dan berusaha menggapai puncak menara.

Dalam sekejab menara di pojok alun-alun itu di penuhi hiruk pikuk masyarakat kota. Dari mulai petani, kiai, politisi, hingga penjudi hadir dalam upacara dadakan itu. Mereka merayu agar perempuan telanjang itu segera turun dari menara. Namun perempuan itu tetap diam. Kakinya masih ragu untuk melangkah ke bawah. Dia masih mencoba melipur tangis anaknya dari atas menara. Bujukan orang-orang tak masuk telinganya.

“Ibu mari turun! kasihan anakmu”. Teriak seorang warga.
“Ayo Bu kubantu”. Bujuk yang lain.

Perempuan itu tetap diam. Tak sedikitpun rumah siputnya bergetar oleh rayuan itu. Tampaknya ia asyik menimang anaknya yang kira-kira masih berumur satu tahun. Sungguh malang nasib anak itu, wajah dan tubuhnya usang terpanggang terik matahari. Sementara di kakinya tampak bekas luka seperti sayatan pisau. Agaknya ibunya enggan merawatnya.

“Apakah saudara tahu mengenai riwayat ibu itu?” Tanya wali kota yang turut hadir di kerumunan itu.

Mendengar perkataan wali kota warga mulai berpikir dan mencari identitas perempuan itu. Mereka berpandangan cukup lama dengan penuh tanya, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui identitas perempuan telanjang itu. Banyak orang tak waras yang mampir di menara tersebut, namun warga tak pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Mungkin dia orang luar kota kami yang terjaring operasi pembuangan.

“Ibu ……! Apa yang engkau kehendaki dan bolehkah kutahu tentangmu?” Wali kota bertanya dengan wibawanya.

Seketika dalam bibirnya yang kelam, perempuan itu sadar siapa yang bertanya padanya. Tentunya orang yang paling disayang dan dipandang di kota ini. Orang bijak terhormat yang mengubah krisis di kota ini.

“Wahai wali kota yang bijaksana, sesungguhnya aku adalah wargamu. Dulu aku adalah orang yang paling dekat dengan pendahulumu. Kelelahan menimpaku setelah lama berteman dekat dengannya. Perihal kehendakku… !” Perempuan itu memotong ucapannya, menghela nafas dan meneruskannya.

“Bolehkah ku kuminta kain untuk menutupi tubuhku dan anakku”.
“Baiklah ibu engkau akan mendapatkannya”.

Kesanggupan yang diterima wali kota mengharuskannya untuk meminta kepada seluruh warga mencarikan kain sesuai permintaan perempuan itu. Seluruh masyarakatpun berbondong-bondong melaksanakan perintah pemimpinnya. Dari mulai daerah terpencil di kota, rumah-rumah mereka, hingga memasuki pusat kota yang dipadati gedung bertingkat mereka obrak-abrik untuk menemukan kain penutup bagi perempuan dan anaknya. Bahkan ada sebagian dari mereka mencari hingga keseluruh propinsi dan ibu kota negara. Namun tak satupun dari mereka menemukan sehelai kain penutup tubuh perempuan itu. Hingga petang mereka berputus asa dan kembali berkumpul di menara.

“Maafkan aku ibu, masyarakatku sudah berusaha mencari permintaanmu sampai ke propinsi bahkan melapor ke ibu kota negara. Namun tak satupun dari mereka menemukan kain untukmu” Wali kota berucap mewakili masyarakatnya.

Suasana hening kembali menyelimuti menara. Beberapa orang terlihat sibuk mempersiapkan bantuan untuk menurunkan perempuan itu. Dan sebagian lagi masih berusaha membujuk perempuan itu untuk turun.

Tiba-tiba salah seorang masyarakat menghampiri wali kota.
“Bapak wali kota kutemukan selembar kain kafan di lorong tikus rumahku. Kain ini peninggalan ayahku dulu. Tapi tampaknya kain itu tak cukup untuk mereka berdua”. Lelaki itu berbisik pada wali kota.

Dari atas menara perempuan itu mendengar percakapan wali kota dan warganya. Dia mulai melepas gendongan anaknya dan berteriak di sisa tenaganya.

“Wahai wali kota tak apalah kain kafan itu. Aku hanya butuh kain untuk tubuh anakku.Tubuh anakku lebih membutuhkan kain itu dari pada tubuh amisku. Aku mohon jangan kau lepas kain kafan itu hingga anakku bisa balas budi padamu”.

Akhirnya perempuan itu bersedia turun dari atas menara. Wargapun bersiap menurunkan ibu dan anak itu. Namun sepertinya sungguh sangat beresiko bila menurunkan mereka secara bersamaan. Dan warga pun sepakat untuk menurunkan anaknya dengan alasan bobot yang lebih kecil.

Setelah berhasil diturunkan anak itupun segera dibalut dengan kain kafan yang sudah disiapkan. Wali kota pun berbahagia, mendekapnya dan menimang-nimang tak karuan. Senyum bahagia juga melekat pada perempuan itu karena melihat anaknya selamat. Ia ingin segera menyusul anaknya.

Kini giliran perempuan itu untuk diturunkan. Orang-orang sudah siap dengan tali dan peralatan lainnya. Seseorang membimbing dari atas menara. Satu meter, dua meter, tiga meter dengan berirama perempuan itu mulai meninggalkan pucuk menara. Masyarakat siap mengadakan pesta penyambutan.

Tetapi tiba-tiba tali tersebut putus. Perempuan itu terjatuh. Keras tanah di bawah menara dan ketinggian menara menyebabkan kepalanya pecah dan kedua tangannya patah. Bersamaan dengan itu darah memancar dari seluruh tubuhnya. Orang-orang tertegun. Mobil Dinas Kesehatan segera berdatangan. Perempuan telanjang itu tewas mengenaskan karena rusaknya beberapa organ dan patahnya anggota gerak.

Berita kematian perempuan itu segera meluas hingga seluruh kota, propinsi, bahkan ke seluruh negeri. Ribuan media massa baik media cetak maupun elektronik yang tergolong lokal maupun nasional menjadikan kematian perempuan itu sebagai berita utama. Sepertinya topik di seluruh negeri sudah diisi mengenai berita kematian perempuan telanjang…

Sementara itu, di pusat gedung DPRD kota sedang diadakan demonstrasi masal. Hajatan itu dimulai dari pukul 08.00 WIB pagi hingga pukul 13.00 WIB itupun masih ada extra time. Rakyat mengamuk, mahasiswa menyeruduk. Beberapa anggota DPRD diseret, ditendang, dan dibakar. Seperti tak mau kalah dengan teman-teman mereka yang beraksi sebelumnya, mereka membongkar gedung, mememecahkan kaca lalu meruntuhkannya. Kedahsyatan mereka melebihi gempa Yogyakarta. Setelah anggota dewan habis, para pengguna jalan pun jadi sasaran berikutnya. Kendaraaan mereka dirampas, mereka dibunuh dan anak mereka dibuang. Hingga berita kematian perempuan telanjang itu sampai ke salah satu dari demonstran melalui sebuah koran lokal yang ditemukan di bak sampah.

“Hentikan !” seseorang itu berteriak di tengah emosi kawan-kawannya.
“Mengapa? Pesta kita belum usai kawan. Mimpi kita belum tercapai”. Seorang demonstran bertanya.

“Tidak…….! Kita telah berhasil kawan. Mimpi kita akan terwujud”. Lelaki itu meyakinkan kawannya serta menujukkan berita mengenai kematian perempuan telanjang yang tewas karena terjatuh dari menara….

Sorak-sorai terdengar di depan gedung DPRD kota diikuti dengan dengungan yel-yel kemenangan. Semua anggota demonstran melonjak kegiarangan yang diiringi dengan pelukan hangat kebahagiaan. Mereka sepakat untuk menghentikan aksinya dan segera meninggalkan gedung . Aroma kebahagian memayungi sepnjang perjalananmereka. Dengan berjalan tegap mereka membawa bendera Negara yang bergambar kepala demokrasi. Sepanjang jalan mereka bernyanyi riang menyusuri jalan-jalan kota hingga melewati pasar, pertokoan, perumahan, rumah sakit dan berakhir di pemakaman. Mereka ingin menghadiri pemakaman teman mereka yang tewas karena terjatuh dari menara sehari sebelumnya. Seorang perempuan telanjang yang tewas karena terjatuh dari menara.

*) Eko Hendri Saiful, Ketua Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo