Langsung ke konten utama

SASTRAWAN DAERAH SULAWESI TENGGARA PAHLAWAN YANG KESEPIAN

La Ode Balawa *
http://sastrakendarisultra.blogspot.com/

Bukan untuk mengajarkan kesombongan pada Komunitas Sastrawan Daerah Sultra (Sulawesi Tenggara), tapi demi kejujuran dan keadilan saya harus membuka risalah ini dengan pernyataan: sepanjang sejarah berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara baru Komunitas Sastrawan Daerah Sultra (satu-satunya) yang sudah berhasil mempersembahkan medali emas/tinta emas nasional terhadap daerah ini.
Bukan hal yang berlebihan kalau sejarah harus mencatatat bahwa piala emas nasional yang pertama kali tiba di Sulawesi Tenggara itu diboyong oleh Subadir Kete (mahasiswa PBSI FKIP Unhalu) sebagai Juara I Lomba Baca Puisi dalam rangka kegiatan PORSENI MAHASISWA NASIONAL Tahun 2006 di Makassar. Medali emas kedua dipersembahkan oleh La Ode Muhammad Urfan (pelajar SMUN 4 Kendari) yang meraih Juara I Lomba Baca-Tulis Puisi dalam rangka kegiatan FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) pada tahu 2009 di Yogyakarta. Diakui atau tidak, dipedulikan atau tidak, mereka tetaplah pahlawan emas bagi keharuman nama Sulawesi Tenggara di tataran nasional. Mereka telah mengangkat nama dan martabat daerahnya di arena nasional.

Di samping itu, di bidang kepenulisan komunitas sastrawan Sulawesi Tenggara juga telah diperhitungkan di tataran nasional. Sekadar menyebut beberapa nama, La Ode Boa dan I Nengah Negara pernah menyabet Juara II dalam Lomba Menulis Cerita Fiksi Nasional yang diselenggarakan oleh Direktort Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. Pada tahun ini Amiruddin Ena (dari Kota Bau-Bau) meraih posisi Juara II Lomba Menulis Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Jakarta.

Adapun yang paling menarik perhatian para pemerhati sastra nasional adalah pergerakan laskar-laskar sastra di Kota Kendari yang iramanya makin menderas dalam perpaduan arus antara kelompok seniman/sastrawan dari dunia akademis yang terdiri atas dosen-dosen dan mahasiswa Unhalu dan seniman/sastrawan kota Kendari dan sekitarnya yang berkecimpung di berbagai sanggar dan teater yang sangat subur dan produktif dalam dekade terakhir ini.

Sebutlah Teater Sendiri dan Komunitas Arus misalnya, keduanya kini telah menjelma sebagai rumah kreatif yang telah berjasa mengangkat nama Sultra di tataran nasional. Dari kedua rumah sastra itu, kini kita telah memiliki sejumlah seniman dan sastrawan Sultra yang mampu bicara di berbagai kegiatan sastra nasional. Sekadar menyebut beberapa nama, seperti Achmad Zain alias Zain Stone (Pimpinan Teater Sendiri), Irianto Ibrahim (Pimpinan Komunitas Arus), Syaifuddin Gani, Ahid Hidayat, Abdul Razak Abadi ”Ady Rical”, Iwan Com Com ”Iwan Konawe”, dan Sendri Yakti. Nama dan karya mereka telah menghiasi berbagai majalah dan surat kabar nasional.

Pada hari ini geliat dan perjuangan tanpa pamrih para seniman/sastrawan Kendari itu kembali menorehkan tinta emas bagi daerah Kendari (Sultra). Dalam kegiatan Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang pada tanggal 28—31 Oktober yang lalu, Kota Kendari (ibu kota Sultra) telah ditempatkan sebagai salah satu di antara 10 kota termaju pertumbuhan sastrawannya di Indonesia. Bacalah buku Antalogi Puisi Temu Sastrawan Indonesia III, Percakapan Lingua Franca atau Antalogi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III, Di Ujung Laut Pulau Marwah, misalnya, pada kata pengantar kurator dalam kedua antalogi itu nama KENDARI sudah bertengger di antara 10 kota termaju pertumbuhan sastrawannya di Indonesia, yang sejajar dengan nama Lampung, Jakarta, Bali, Yogyakarta, Riau, Surabaya, Bandung, Banjarmasin, Medan, dan Kepulauan Riau.

Atas semua kenyataan itu, sudah sepatutnya pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tenggara berterima kasih kepada para seniman/sastrawan Sultra yang telah sangat berjasa mengangkat dan mengharumkan nama dan kehormatan Sulawesi Tenggara di tingkat nasional pada saat ini. Pemerintah Sultra pada hari ini dan hari esok tak sepantasnya lagi terus-terusan membutakan mata dan menyepelekan urusan sastra dan sastrawan di daerah ini. Sadarlah bahwa salah satu tugas pemimpin daerah itu adalah ”mengangkat martabat daerahnya,” dan salah satu cara membuktikan itu adalah memberi perhatian dan dukungan sepenuhnya kepada generasi daerah yang telah berjuang dan terbukti berhasil ”mengangkat martabat daerahnya” di tengah-tengah kehidupan bangsanya.

Adalah dosa besar pada sejarah daerah Sultra kalau kita menyepelekan dan menyia-nyiakan segala jasa besar sastrawan Sultra pada hari ini. Sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat memberikan apresiasi dan penghargaan yang semestinya kepada para sastrawan di daerah ini. Terus terang rasa keadilan pada diri saya sering terluka melihat sikap dan tindakan pemerintah daerah yang kurang adil terhadap para sastrawan di daerah ini.

Bandingkanlah, misalnya, bagaimana perhatian dan dukungan pemerintah antara komunitas ”olahragawan” dan ”sastrawan”, sangat jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Komunitas ”olahragawan” didukung dengan dana besar mulai dari kegiatan latihannya sampai pengiriman rombongan atlet dan pelatihnya, tapi mari jujur apa yang sudah dipersembahkan oleh komunitas itu untuk nama Sultra sampai saat ini? Tapi sebaliknya, komunitas ”sastrawan” yang dianaktirikan selama ini, justru merekalah pelaku sejarah emas Sultra pertama dan baru satu-satunya hingga sekarang.

Contoh paling segar ketidakadilan perlakuan pemerintah itu adalah ketika menjelang TSI 3 di Tanjung Pinang baru-baru ini. Pemberitaan surat kabar dan jaringan internet berbagai daerah di Indonesia tentang kegiatan itu begitu ramai, hampir setiap hari berbagai daerah memberitakan kesiapannya memberangkatkan para sastrawan kebanggaannya ke ajang perhelatan akbar itu, tapi di Sulawesi Tenggara tidak ada sama sekali. Para sastrawan Sultra yang mendapatkan undangan dari panitia penyelenggara kegiatan itu, secara diam-diam mencoba mengemis dukungan dari instansi yang relevan di daerah ini, tapi hasilnya malu saya beritakan di sini. Tapi dengan semangat baja, karena sudah terbiasa dilanda kekecewaan, empat sastrawan tetap datang memenuhi undangan walaupun harus dengan membongkar celengan atau berutang demi itu semua. Alhasil karya-karya mereka semua lulus seleksi dan termuat dalam antalogi dan di samping nama mereka tertera tulisan tebal ”Sulawesi Tenggara”, dan yang lebih mengharukan lagi di pengantar buku itu tertera ”Kendari” sebagai salah satu di antara 10 kota yang termaju pertumbuhan sastra/sastrawannya di Indonesia.

Tanyalah pemimpin daerah ini setelah membaca tulisan ini, respon macam apa yang sudah mereka berikan kepada para sastrawan yang sungguh-sungguh pahlawan itu? Respon apa, baik langsung maupun tak langsung, yang sudah mereka berikan sepantasnya kepada Subadir Kete, Laode Muhammad Urfan, Achmad Zain, Irianto Ibrahim, Syaifuddin Gani, dan yang lain-lain itu? Respon apa? Respon apa pula dari para kepala dinas atau kepala kantor yang begitu semangat mempegawainegerikan seorang atlet yang hanya kebetulan jago kandang, hanya kepentingan untuk kebanggaan kantornya sebagai jago kandang? Benar-benar sangat tidak adil, atlet hanya untuk kebanggaan kantor dipegawainegerikan diberi fasilitas, sastrawan berjasa menorehkan emas nasional tak dipandang sebelah mata.

Kepada khalayak pembaca, maafkan kalau tulisan ini sengaja saya biarkan terlalu semangat! Sebab, hanya dengan modal terlalu semangat itulah sastrawan yang miskin harta dan miskin perhatian di Sulawesi Tenggara ini masih bisa berbuat yang berarti buat daerahnya. Mudah-mudahan tulisan yang terlalu semangat ini dapat mengusik perhatian para pemimpin di daerah ini. Tidakkah perubahan itu selalu dimulai dari ”perubahan cara pandang,” dan apakah tidak sebaiknya cara pandang dan cara tindak kita terhadap ”sastrawan” dan ”olahragawan” selama ini perlu ditinjau kembali. Bukankah pelajaran besar buat generasi kita, kalau seorang pemimpin berani berlapang dada mengakui dan bersedia mengubah sikap dan tindakannya yang keliru terhadap anak-anaknya yang tengah berjuang menunjukkan eksistensi dirinya baik sebagai ”olahragawan” maupun sebagai ”sastrawan”.

Kepada ”sastrawan Sultra” saya hanya bisa berteriak lagi ”Semangatlah!” agar sejarah tidak menenggelamkan kita sebagai pahlawan yang kesepian.

*) Penulis adalah Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Haluoleo
Dijumput dari: http://sastrakendarisultra.blogspot.com/2010/11/sastrawan-daerah-sulawesi-tenggara.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).