Langsung ke konten utama

Sastrawan Muda, Orisinalitas, dan Internet

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 2 Juni 2013

SUARA instrumen mengiringi langkah para penikmat sastra juga penulis muda masuk ke sebuah kafe di Plaza Semanggi, Jakarta, sore itu.

Di balik ingar suara di mal itu, sebuah peluncuran buku kumpulan cerpen Milana karya Bernard Batubara dihelat. Mayoritas tamu ialah para remaja. Mereka antusias ikut membedah 15 cerpen yang ditulis Bernard dalam rentang waktu 2010 hingga 2013 itu, yang dimuat dalam Milana.
“Cerpen yang saya buat memang berakar dari masa-masa saya di Yogyakarta. ‘Bergaul’ dengan masa lalu membuat saya dapat menuangkan pengalaman ke dalam fiksi,” tutur Bernard.

Milana terbitan Gramedia ialah buku keempat sekaligus kumpulan cerpen pertama Bernard. Sebelumnya ia telah meluncurkan novel Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), serta Kata Hati (2012).

“Cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini lebih beragam karena memang saya menuliskan semua kisah sebagai cerita lepas yang tidak pernah saya niatkan untuk dibukukan sebelumnya.” Lelaki kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989, itu kemudian bertutur tentang galau, cinta, dan kehilangan yang mengisi setiap kisah Milana.

“Saya ini anak kampung yang tinggal sekitar 20 kilometer dari Pontianak. Saya menulis untuk melepaskan kegundahan,” tuturnya, seraya membacakan sepenggal cerpen dalam buku setebal 187 halaman itu.

Pada cerpen Pintu yang tak Terkunci, Bernard bermain dengan imajinasi nan surealis. Kisah itu ia adaptasi dari puisi The Lockless Door karya penyair Amerika Serikat Robert Lee Frost (1874-1963).

Pada cerpen realis Semangkuk Bubur Cikini dan Sepotong Red Velvet, giliran kisah percintaan dengan sisi romantisme dikupas Bernard.

Ia menyajikan pertemuan hingga percintaan di antara dua tokoh utamanya, lelaki dan perempuan. Klimaksnya terbilang menggairahkan, kisah percintaan pertama.

Terinpirasi blog

Cerpen itu merupakan pengembangan tulisan Satu Jam Lagi karya bloger Chacha Thaib. “Saya melihat tulisan seorang bloger yang cukup saya senangi. Lalu, mencoba untuk melakukan interpretasi dan perubahan sehingga menghasilkan cerpen baru,” kilahnya, seraya menunjuk ke arah Chacha yang juga hadir dalam perhelatan itu.

Selain Bernard, di beberapa toko buku di Jakarta, sederet kumpulan cerpen dipajang di rak-raknya. Ada karya kumpulan cerpen Zelfeni Wimra (Yang Menunggu dengan Payung), Sulis Bambang (Catatan di Bawah Bantal), M Aan Mansyur (Kukila), Leila S Chudori (Malam Terakhir), Santi Ayuni Lestari (Istriku enggak Perawan), hingga Reynata Dinata (Bintang Cinta).

Everything for You

Selain cerpen, Indah Hanaco juga baru saja merilis novel terbarunya, Everything for You (Bentang Pustaka). Ia berkisah tentang Liv yang merasa seakan hidup di alam mimpi. Semua perasaan yang mengepung membuat kakinya seperti tidak menjejak bumi (hlm 220).

Perasaan itu menggambarkan Liv tengah jatuh cinta. Namun, sejak bercerai, Liv menjadi waspada dan pencemas. Dia tahu itu tidak baik, tapi sungguh sulit menghilangkannya.

Alur cerita yang berliku-liku belum diiringi klimaks yang maksimal buat mempertahankan ingatan tentang novel di otak pembaca.

Kisah tentang penulis-penulis muda yang menggarap sastra dengan serius juga berlanjut pada Sandy Firly, sastrawan Kalimantan Selatan yang baru meluncurkan novel Lampau.

Ia berupaya menghadirkan latar belakang tradisi Borneo yang kuat dan membungkus konflik dari realitas dalam tuturan kata-kata.

Ya, semangat buat merawat sastra Indonesia itu masih menyala-nyala, dan itu mestinya sejalan dengan disiplin menjaga orisinalitas karya, terlebih kini upaya untuk menjelajahi karya-karya lewat dunia daring cukup dilakukan telunjuk.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/pigura-sastrawan-muda-orisinalitas-dan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).