Menyambut Ribuan Putu

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 16 Juni 2013

MENGHERANKAN bahwa apa saja yang ada di sekelilingnya dapat menjadi pokok ceritanya: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepakbola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer, atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru. Dalam membaca PW, terasa benar, bahwa ia tidaklah merencanakan terlebih dulu ceritanya, tapi bercerita selagi mengarang, dan hal ini dapat berkembang sedemikian jauhnya sehingga menimbulkan pertanyaan pada pembaca: apakah dia mengarang karena hendak bercerita, atau dia bercerita karena selalu mengarang?
Sekalipun ide adalah sesuatu yang tampaknya menjadi titik-tolaknya (semboyan PW: bertolak dari yang ada, dapat diterapkan pada cerita-ceritanya: bertolak dari ide), namun sebuah cerita bukanlah terjemahan ide tersebut secara naratif. Ceritanya bisa mempersoalkan, melecehkan, atau membantai sama sekali ide yang menjadi titik-tolaknya, tergantung dari perjalanan cerita itu dalam proses kreatifnya. Proses ini demikian dialektisnya pada PW, sehingga bisa dikatakan bahwa pada dia sebuah ide bukanlah hanya awal cerita dan sebuah cerita kemudian menghasilkan juga gagasan. Atau lebih tepat dari itu: sebuah ide melahirkan cerita dan cerita itu kemudian membunuh ide itu kembali (Kleden, 2004).

Begitulah sebagian paparan (dari ulasan panjang) Ignas Kleden tentang kepiawaian PW, sebagai seorang pengarang cerpen, novel, naskah teater, skenario, juga esai. Sampai saat ini PW telah menulis seribuan cerpen, puluhan novel, puluhan naskah teater, puluhan skenario film, dan jadi kolumnis tetap untuk harian Jurnal Nasional selama 7 tahun, dua tulisan setiap minggunya.

Hingga dari segi produktivitas berkarya, siapa pun sukar mengingkari, bahwa Putu memang memiliki kemampuan menulis dan mengolah cerita yang luar biasa. Dan pertanyaan Ignas, jadi layak kembali digarisbawahi, apakah Putu mengarang karena hendak bercerita, ataukah dia bercerita karena selalu mengarang?

Namun, tanpa harus menjawab pertanyaan itu pun, bisa disimpulkan, Putu memang selalu bergerak lancar oleh idenya yang muncul kapan saja, di mana saja, dan tentang apa saja untuk menjadi bahan cerita. Bahkan, menurutnya, ia tak pernah memiliki semacam ‘upacara‘ untuk memasuki dunia karang-mengarang atau tulis-menulis. Sebab, ia justru selalu bercerita dengan “seenaknya”.

PW mengisahkan, suatu ketika ia pernah memiliki kebiasaan menulis sambil mendengarkan walkman, yang memutar lagu-lagu Beatles. “Banyak kisah saya yang tertulis seiring lagu-lagu Beatles.‘ katanya. Dan hasilnya, PW tidak merasa keberatan bila cerita-cerita yang ditulisnya dengan iringan nada-nada Beatles itu, sering mengalirkan plot dengan arah tak disangka-sangka. Sebagaimana nada-nada Beatles, acap kali memang tak terduga, meski hanya memunculkan belokan nada pendek.

Namun, menurut sastrawan dan penggiat teater, Radhar Panca Dahana (2001), semua kerja kesenian PW boleh jadi bisa dirujuk pada kekaguman PW kepada Krishnamurti, seorang rohaniawan India yang antara lain memiliki pesan, “Manusia tak boleh terikat, harus bisa bebas dari yang kita kenal; setiap saat saya harus lahir kembali.‘

Artinya, dari setiap karya yang dihasilkannya, PW boleh jadi memang tidak pernah merasa melanjutkan karier kepengarangan. Tapi, dengan karya-karya yang ditulisnya sejak puluhan tahun lalu, sampai kemarin, hari ini, dan menuju esok, ia sebenarnya sedang merayakan kelahirannya hingga ribuan kali dalam setiap tulisannya. Ribuan Putu.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/artikulasi-menyambut-ribuan-putu.html

Komentar