Jumat, 25 Desember 2020

Multatuli, Sebuah Kenangan

Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli (1820-1887)
 
Pramoedya Ananta Toer
 
Multatuli? Ya, kapan nama itu pernah kudengar? Jauh di masa lewat. Semasa tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat aku terus teringat. Soalnya bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.
 
Di rumah kami terdapat perpustakaan yang cukup besar, untuk ukuran kota kecil, dalam keadaan tak terawat, bahkan selalu berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte untuk mengajar bahasa Belanda tingkat sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah dari rumah para pejabat Belanda yang dilelang barang-barangnya menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang Multatuli, biar pun dalam perpustakaan terdapat beberapa jilid karyanya. Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu – ia tidak membaca Jawa – juga tidak pernah.
 
Awal tahun 1930-an rumah kami menjadi pusat kegiatan para nasionalis kiri non koperator. Para pemuda yang berbakat melukis mulai membikin lukisan dengan cat, dijajarkan sepanjang dinding rumah. Setiap di antara kanak-kanak dapat membaca nama-nama di bawahnya: Rasuna Said, Diponegoro, Alibasah Sentot Prawirodirjo, Soekarno, Sartono, Gatot Mangkupraja, Iwa Kusumasumantri, Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo.
 
Tapi Multatuli? Tidak melalui lukisan, juga tidak melalui dongengan di rumah. Di tempat lain aku diperkenalkan kepadanya. Masih awal tahun 1930-an itu, KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) tempat kami mengangkat aku jadi wakil ketua regu nomor kesekian. Bukan karena ada prestasiku dalam kepanduan. Hanya karena ayahku seorang tetua KBI yang dengan beberapa orang lainnya, dalam suatu malam api unggun telah melakukan sumpah sambil memegangi ujung sang merah-putih. Atau hanya karena ayahku seorang non-koperator sejak 1923.
 
Sebagai wakil kepala regu setiap Rabu sore kami harus berkumpul di suatu ruangan sekolah Budi Utomo untuk mendapat bimbingan. Didongengkan tentang riwayat gambar-gambar di rumah. Ditambah dua nama lagi: S.K. Trimurti, yang juga sering diceritakan oleh ibuku. Dan: Multatuli. Begitu tahu orang yang bernama Multatuli itu orang Belanda dan pejabat tinggi pangreh praja pula aku terperangah dan mengambil sikap. Tidak lagi sebagai anak didik yang patah, sudah jadi opposan. Ya, sebelum lagi aku dilahirkan udara rumah kami telah dibuntingi oleh kebencian terhadap penjajahan. Segala yang buruk, keji, biadab, berasal dari penjajahan. Belandalah wakil penjajahan itu. Secara langsung atau tidak orangtuaku mengajar kami membencinya. Kami muak pada serdadu kolonial, kami jijik terhadap polisinya, dan kami memandang rendah pegawai-negerinya.
 
Mana mungkin ada orang Belanda yang baik? Beberapa kali kulihat sendiri seorang polisi Belanda menendangi para penjual dan bakulnya yang menjual barang-barangnya di luar pasar. Hanya karena menghindari pajak pasar. Berapa harga dagangannya? Paling banyak senilai duapuluh lima sen. Dendam itu kamilepaskan berdua waktu memapasi seorang agen polisi yang masih muda berkendara sepeda seorang diri di jalanan senyap siang hari. Berdua kami melemparinya dengan batu dan menyumpahi: anjing! khianat! kemudian hambur melarikan diri menuruni jalan kecil tebing sungai yang tak mungkin bisa tersusul dengan sepedanya.
 
Pada hari-hari tertentu serombongan polisi lapangan (veld-politie) dengan bedilnya melalui depan rumah kami untuk pergi ke luar kota latihan menembak. Sudah kutaksir pohon kapok tetangga untuk memasang ujung tali. Bila rombongan polisi lapangan lewat, ujung tali dari seberang jalan akan kutarik. Mereka akan melanggarnya dan akan jatuh susun-tindih bergelimpangan. Sayang mereka hanya berangkat pagi bila latihan, tak pernah malam. Rencana itu tak pernah terlaksana.
 
Pernah kusaksikan sendiri seorang mantri polisi datang ke sekolah dan merampas buku-buku karangan ayahku. Pernah kulihat sendiri bagaimana pegawai-pegawai pajak mengangkuti perabot rumah yang terbagus dari rumah kami, sehingga yang tinggal hanya barang-barang buruk dan perasaan tersinggung telah dipermalukan di depan umum.
 
Semua sumbernya tak lain dari kekuasaan Belanda. Mulatuli? Orang Belanda? Dia takkan lebih dari yang lain-lain. Dan tidak lain dari ayahku sendiri yang di sekolah menceritakan bagaimana Diponegoro ditipu oleh Jendral de Kock, diundang berunding, tapi kenyataannya ditangkap dan dibuang.
 
Hari-hari riuh itu padam. Tak ada lukisan-lukisan, tak ada nyanyian mengagungkan Indonesia Raya, tak ada suara bersama menyambut terbitnya bangsa baru di timur. Apalagi Multatuli. Tak ada yang menyebut-nyebutnya lagi.
 
Dalam perayaan tahunan sekolahan sekarang muncul hanya satu lukisan: Pak Tom. Dr. Soetomo. Ya, sekolahan kami memang didirikan olehnya pada 1918, ia meninggalkan bangunan dua kelas sebelum dikembangkan oleh ayahku menjadi 7 kelas. Dalam tahun-tahun tenang itu, aku sudah duduk di kelas 6, beberapa guru tertentu memberikan pengetahuan umum ekstra kurikuler di sore hari. Di antaranya tentang Multatuli. Tentu saja tentang peristiwa Lebak. Tentu sajatentang Saija dan Adinda. Sementara itu sejumlah orang muda di kota kami mempelajari bahasa Jepang melalui diktat stensilan yang dikeluarkan oleh Instituut Ksatrian, Bandung, yang dipimpin oleh E.F.E. Douwes Dekker. Rupa-rupanya masa ini dipertautkan nama Multatuli, E. Douwes Dekker, dengan E.F.E. Douwes Dekker oleh diktat tersebut. Dan pengembaraan nama Multatuli menjadi semakin luas.
 
Juli 1941. Suatu kegemparan keluarga. Asisten Residen – aku tak ingat namanya – memanggil ayahku. Dapat dibayangkan: bencana baru akan menimpa keluarga kami. Tak ada sesuatu yang baik dapat diharapkan dari Belanda dan penjajahannya. Yang terjadi lebih menggemparkan: ayah diminta kembali mengajar di HIS setelah 18 tahun menjadi non-koperator. Sampai jauh di kemudian hari, sebelum tahu tentang adanya liga atau front anti-fasis internasional dan pendekatan kerjasama anti-fasis antara bangsa-bangsa penjajah dan yang terjajah, aku malu melihat perbuatan ayahku, dan tidak mampu mengampuninya. Sekali pun dalam hati mulai percaya ada Belanda yang baik, berbudi, dalam diri Multatuli.
 
Dengan cepatnya keadaan berubah. Jepang datang. Aku pindah ke Jakarta. Seorang teman sekolah, yang tinggal di kios buku bekas bernama “Indonesia Sekarang” membuat aku sering datang ke kios itu. Penuh buku Barat dari rumah-rumah orang Belanda yang masuk ke tawanan. Di situ aku mulai berkenalan langsung dengan Multatuli. Bukan Multatuli yang didongengkan, tetapi tulisannya dengan bahasanya yang a lot. Ya, sekedar berkenalan saja.
 
Guru bahasa Indonesia, Mara Sutan, memperkenalkan kami pada sejumlah pengetahuan baru ekstra kurikuler, dari Sokrates, Imam Sjafei Kayutanam, sampai Multatuli. Dialah yang membikin aku setiap hari Minggu nongkrong di perpustakaan Musium Gajah membacai koran dan majalah lama. Dari bacaan itu dapat kusimpulkan: semua nasionalis barisan terdepan pernah mempelajari, bukan sekadar membaca, Multatuli. Dia tonggal awal dalam sejarah Indonesia yang menampilkan seseorang yang membela rakyat kecil dari kejahatan cultuurstelsel klasik van den Bosch. Yang memberikan keberanian, kelugasan, kecerahan, dan hidup mudanya pada perlawanan terhadap kerakusan para pembesarnya sendiri, para pembesar sebangsa sendiri. Yang memberitahukan, bahwa sampai Raja Belanda pun, dapat dihimbau, bahwa kepala desa, kepala distrik sampai Gubernur Jendral bukan pagar-pagar kekuasaan yang tak tertembusi oleh daya tulisan dan daya cetak. Dia yang mengajarkan bagaimana tumbuh, berkembang, lurus ke atas, dengan integritas tetap utuh, tidak mondar-mandir dan berpusing dalam lingkaran setan.
Tahun 1950-an mulai kukumpulkan tulisan-tulisan semasa tentang dia. Paling banyak menyebutnya adalah Buyung Saleh. Dalam kurun 1950-an itu juga Han Resink pernah mengejuti aku dengan satu penilaian. Itu terjadi di rumahnya pada suatu sore:
 
“Sastra Jawa dan sastra Indonesia belum pernah melahirkan cerita Percintaan dari kalangan rakyat jelata. Orang pertama di negeri ini yang pernah menuliskannya, dan bukan tidak berhasil, tak lain dari Multatuli dengan Saija dan Adinda.”
 
Masih tentang cerita percintaan ia mengakui, sastra Jawa pernah melahirkan karya agung. Seorang gadis rakyat bawah memprotes dengan hidupnya pada feodal yang justru sedang pada puncak kejayaannya. Gadis itu adalah Roro Mendut. Tetapi cerita percintaan antara gadis dan perjaka dari kalangan tani? Ia menggeleng.
 
Ya, Saija dan Adinda dan pidato Lebak lebih meluas daripada karya-karya Multatuli selebihnya dalam kurun ini.
 
Seorang pelukis Lekra, yang telah membacai Multatuli sejak masa kolonial, S., sampai tahun itu masih terpaut hanya pada Saija dan Adinda. Pembicaraannya sekali ini ia batasi pada pemberontakan Lampung.
 
“Kalau Saija atau Adinda, atau siapa saja di antara kita waktu itu, melemparkan tombaknya atau mengayunkan parangnya, yang pertama atau yang ke sekian, itu merupakan peristiwa budaya. Karena pembatasan budaya yang menyebabkannya berbuat yang tidak berbudaya. Pembatasan sosial, ekonomi dan politik, untuk jangka waktu tertentu masih bisa ditenggang. Itu sebabnya Saija dan Adinda berada di Lampung, sudah meninggalkan Banten, suatu masa tenggang. Kalau Kompeni melepaskan tembakan untuk pertama atau kesekian kali, itu untuk intensivikasi atau ekspansi kekuasaan sosial, politik dan ekonominya, untuk dominasi budayanya. Pemberontakan Lampung bukan sekadar peristiwa militer. Sepanjang sejarah kemiliteran menempati kedudukan yang kesekian dalam kehidupan manusia. Budaya, pernyataan manusia sebagai makhluk.”
 
Ia tak pernah sempat mengembangkan pikirannya, karena lukisan-lukisannya belum mampu menghidupinya. Masyarakat lebih sibuk mencari sesuap nasi daripada memajang dindingnya dengan lukisan.
 
Dalam periode ini jilid demi jilid kumpulan karya Multatuli terbit. Makin berhamburan dengan Latin, huruf Yunani, dan persoalan-persoalan yang makin alot.
 
Saija dan Adinda telah dibikin cerita panggung oleh beberapa orang dan dipentaskan di panggung umum, di sekolahan, di lingkaran-lingkaran pemuda. Untuk Indonesia Multatuli adalah Saija dan Adinda.
 
Mengingat bahwa Multatuli dengan pengaruhnya yang konstruktif telah berjasa dalam memberikan suluh pada para nasionalis barisan depan maka dalam 1959, dalam sidang para Ketua Komite Perdamaian Pusat, kuajukan usul untuk mengadakan peringatan ulang tahun 140 tahun Mutaltuli secara nasional dan mendirikan patungnya di tempat-tempat ia pernah membikin sejarah. Ya, tentu saja usul diterima dengan aklamasi. Dan diharapkan dariku memberikan pada dewan materi tentangnya. Tulisan-tulisan tentangnya dalam koleksiku kuserahkan untuk diperbanyak. Delegasi pun terbentuk. Mereka menghadap Presiden Soekarno. Hasilnya?
 
Seorang anggota delegasi datang ke rumah untuk melapor. Ia duduk sambil menghembuskan nafas. Ya? Sapaku. Dan ia meringis.
 
Ternyata Bung Karno tidak menjawab.
 
“Apa katanya?”
“Bung Karno justru yang bertanya: mengapa Multatuli? Mengapa tidak Baars? Tidak Sneevliet?”
 
Dengan demikian patung Mutlatuli belum pernah berdiri. Yang didirikan justru patung Kartini, bikinan pematung Jepang, dengan penampilan sebagai peragawati. Walau waktu hidupnya angkatan Kartini belum mengenal kantong dada, KD atau katakanlah BH, Kartini peragawati nampak-nampaknya sudah mengenakan. Tapi bukan itu keberatanku. Walikota memanggil. Rupanya ia membutuhkan kupingku untuk dapat ditiup dengan kata-katanya:
 
“Nah, bagaimana? Itu kan hadiah dari orang asing. Apa harus ditolak?”
 
Dia tidak bicara tentang Multatuli, sekali pun dia tahu, juga Multatuli punya saham menentukan dalam proses penjadian Kartini.
 
Pada 1964 LEKRA mendirikan Akademi Sastra Multatuli. Tentu saja aku ikut mendapat kehormatan menjadi salah seorang pendiri. Hampir tepat setahun kemudian Akademi itu runtuh untuk selamanya bersamaan dengan runtuhnya Presiden Soekarno. Namun tidak mengurangi kenyataan, di bidang sastra Multatuli oleh jajaran organisasi kebudayaan rakyat ini dianggap sebagai guru besar. Dan memang LEKRA sebelum dijatuhkannya Soekarno yang banyak memperkenalkan Multatuli di Indonesia. Ia dinilai sebagai humanis besar, bukan saja mengenal kolonialisme dan wataknya, juga mengenal rakyat jajahan, dan lebih-lebih menghayati keterbatasannya dalam penghidupan, dalam berbudaya, dalam berlawan, bahkan dalam bercinta.
 
Sewaktu di Buru, seorang teman yang baru pulang dari kerjapaksa di pelabuahan membawa sesobek kertas, diberikannya padaku sebagai oleh-oleh. Sensor telah tidak meloloskan produksi bersama Indonesia-Belanda film Mutatuli. Alasan: karena orang Indonesia (semasa Multatuli belum ada orang Indonesia!) ditampilkan lebih jahat daripada orang Belanda. Siapa tidak dibikin terkekeh, lagi-lagi bertemu dengan kemulukan domestik sisa warisan bangsa terasing? Diberitakan juga tentang kekecewaan pihak Belanda. Tentusaja. Setidak-tidaknya itu kekecewaan sejumlah pribadi, paling-paling kekecewaan grup atau golongan. Sumbernya masih tetap: orang belum bisamelihat Indonesia sebagai pewaris kolonialisme Belanda, paling tidak di bidang teritorial dan infrastrukturnya, bahkan dalam sejumlah struktur. Apa salahnya kalau juga jadi pewaris syah di bidang mentalitas kolonial? Kan mentalitas itu juga yang menolak dan membuang Multatuli? Apa salahnya kalau filmnya pun ditolak? Kan Indonesia tidak mungkin ada tanpa kolonialisme Belanda?
 
Sekembali dari Buru nampaknya masalah penolakan sensor itu tetap hidup. Beberapa kali orang mengajak bicara tentangnya. Seorang malah menyatakan ikut terlibat dalam pembikinan film tersebut. Tapi tak seorang pun pernah mengatakan, bahwa kemulukan domestik juga memerlukan penghormatan.
 
Sementara itu publikasi tentang dan dari Multatuli semakin banyak di Indonesia. Ia juga diperkenalkan secara kurikuler di sekolah-sekolah dasar. Multatuli dalam film tetap menyinggung kemulukan domestik, karena dalam banjir produski teknologi mutakhir – lebih menggelora dari banjir akibat penggundulan hutan, ia tetap produk domestik yang asli.
 
Jenuh kemulukan membuat orang rindu pada kesederhanaan, kelugasan. Dalam hubungan dengan Multatuli, membikin aku terkenang pada suatu kali di Warsawa. Seorang Polandia, pengarang, bercerita padaku, dia mengenal Indonesia melalui seorang bocah kampung yang bersahabat dengan kerbaunya. Ditas punggung sahabatnya itu seekor macan menyerang dan kerbau sahabat itu melindunginya. Itulah Indonesia yang dikenalnya. Dan heran, ia tidak kenal Multatuli, sekali pun membicarakannya. Adegan ini sudah kudengar, keketahui sejak kecil. Seperti orang Polandia itu, juga tanpa mengenal namanya.
 
Entah berapa ribu bocah dalam setiap angkatan kembali mendengar dan menceritakan adegan itu, atau mewujudkan dalam buku gambarnya. Mereka mendengar, bercerita dan menggambar Multatuli, tanpa pernah mengenal namanya.
 
Jakarta, April 1986

http://sastra-indonesia.com/2010/05/multatuli-sebuah-kenangan/

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati