Senin, 09 Februari 2009

Lelaki yang Menghindari Hujan

Satmoko Budi Santoso
http://www.balipost.co.id/

Kisah yang paling menarik kuceritakan barangkali adalah soal hujan. Banyak ingatan peristiwa berharga yang akan menyembul ketika aku berbicara tentang hujan. Peristiwa-peristiwa yang tak diam-diam menyungkup di kepala, menjdai endapan alpa yang terbuang begitu saja. Tapi, apakah aku masih perlu mengenang hujan?

KURAPIKAN syal yang kukenakan, hampir saja beranjak pulang, ketika tak seorang pun yang kutunggu di kafe itu datang. Tak ada seorang kawan yang menepati janjinya, sekadar menghabiskan waktu bersama denganku. Bukan apa-apa. Aku suka berkelakar. Biasanya, kalau semua kawanku menepati janjinya untuk datang, aku bisa berkelakar tentang apa saja. Kelakar-kelakar yang ringan, kelakar-kelakar yang bisa dipantik entah dari isi kiriman SMS yang saru, entah masa kecil yang memalukan.
Yang pasti, justru bukan kelakar tentang hujan.

''Ssst,'' kataku, ketika seorang kawan akan memulai kelakarnya dengan hujan. Sungguh, siapapun yang akan memulai berkelakar tentang hujan, aku segera menyergap perhatian, mengalihkan pembicaraan.

Pertemuan terakhir antara aku dan kawan-kawanku malah membicarakan peristiwa yang -- syukurlah -- sangat jauh dari kemungkinan hujan. Waktu itu, seorang kawan memancing perbincangan dengan berbicara masalah kebiasaan suatu masyarakat, yang mempercayai kutukan bernama pulung gantung. Jadi, menurut kawanku, ketika ada celeret cahaya merah dari langit turun di sebuah kampung, tak lama lagi akan ada orang yang bunuh diri. Celurit, belati, kelewang, sabit atau benda tajam apa pun bukanlah alat pengantar kematian secara akrab, karena orang yang bunuh diri akan memilih gantung diri. Berarti, yang paling berguna sebagai pengantar kematian hanyalah tali gantungan berwujud tambang kecil atau sobekan kain menjelujur, pokoknya yang mampu menghentikan aliran darah pada tenggorokan, pada leher, dan si penggantung diri benar-benar akan mati.

Keyakinan itulah yang menggerakkan orang-orang di sebuah kampung yang dirahasiakan kawanku itu sehingga ketika ada seorang warga kampung yang melihat celeret cahaya merah seperti meteor jatuh, maka buru-burulah semua warga kampung memukul kentongan, sebagai tanda mengusir kemungkinan jatuhnya korban seorang warga kampung yang akan bunuh diri. Tak cukup hanya dengan memukul kentongan, semua warga kampung akan bersepakat untuk secepat mungkin mengadakan ruwatan dengan cara membikin orang-orangan seperti memedi sawah, yang dianggap sebagai pengganti seseorang yang mau bunuh diri.

Orang-orangan itulah yang akan digantung tepat di tengah lapangan sepak bola kampung, lantas dibakar. Yang jelas, jangan sampai seminggu sejak seseorang melihat celeret cahaya merah, acara ruwatan itu harus terselenggara. Meski begitu, ujar kawanku, belum tentu bencana pulung gantung itu tertolak. Lebih dari sekali, acara ruwatan tak bisa dibilang manjur. Tetapi ada warga kampung yang bunuh diri, dengan alasan apa pun. Biasanya, karena alasan ekonomi atau patah hatilah yang menyebabkan orang-orang di kampung itu makin berkurang jumlahnya, satu-persatu, jangan heran kalau setahun lebih dari sepuluh orang. Namun, dengan adanya ruwatan sungguh pernah menghalau peristiwa gantung diri, setidaknya sekitar dua bulanan setelah ada celeret cahaya merah tak terjadi peristiwa gantung diri.

''Ah, sudahlah, kita ini nongkrong di kafe, kenapa malah membicarakan mitos seperti itu? Mendingan ngomongin pernikahan Ine Febriyanti,'' sanggah seorang kawan yang waktu itu bosan dengan arah pembicaraan yang terkesan mengada-ada.

''Bukan begitu, si kawan kita satu ini amat keberatan bicara hal-hal yang romantis,'' tukas si pencerita, menunjuk diriku. Aku manyun.

Kini, kulihat arloji, terhitung sudah dua jam aku menunggu kawan-kawanku di kafe itu. Kalau aku mau, tinggal kupanggil seorang wanita penghibur yang duduk jauh di depanku untuk sekadar menemani. Aku hapal dengan siapa saja yang sering singgah di kafe itu. Namun, aku jengah untuk menikmati pilihan itu. Dan yang membuatku sebal, tak satu pun SMS dariku dibalas oleh salah seorang kawanku. Ketika satu persatu kawanku kuhubungi, rupa-rupanya mereka sengaja mematikan HP. Aku tambah kesal.

Tiba-tiba -- inilah sialnya dengan bulan Desember -- hujan menggemuruh datang. Siapa pun yang tahu kafe langgananku sekaligus tahu meja-kursi tempatku nongkrong pasti akan paham betapa aku harus menyingkir, pindah ke lain meja, karena tak mungkinlah tetap bertahan di sebuah meja yang hanya dipayungi langit. Aku biasa memilih duduk di tempat yang boleh dibilang bukan bagian dalam kafe. Aku suka duduk di bagian luarannya, namun masih tetap berada dalam satu area kafe itu.

Bagaimana aku tidak berpikir tentang hujan kalau di sebuah musim menjelang pergantian tahun aku masih bertemu dengan hujan? Padahal, meskipun aku menggenggam segepok cerita menarik yang berkaitan dengan hujan, bukankah aku selalu keberatan menceritakannya?

Karena tak ada kawan yang malam ini akan datang menemani, dan aku sudah memastikannya, maka kuputuskan untuk bertahan dengan cara menghibur diri dengan request lagu-lagu tertentu. Sambil kuperhatikan seorang bartender yang bego, memain-mainkan botol agar perhatian banyak orang condong kepadanya, namun sia-sia. Bukankah dalam suasana kafe yang sepi tak satu pun pengunjung mau memperhatikannya? Kuhitung pengunjung kafe hanya berjumlah tujuh kepala. Lagi pula, karena suara penyanyinya juga pas-pasan, lama-lama aku jadi malas request lagu-lagu tertentu. Aku memilih nongkrong saja, menunggu hujan reda, dan segera mungkin memutuskan pulang.

Sampai larut malam, sampai jam dugem di kafe itu habis, hujan masih saja mengguyur. Aku dihampiri oleh bartender culun yang bego itu.

''Kesepian, Mas,'' ujarnya. Dari aksen atau logat bicaranya aku menangkap kesan ia seorang banci.
Benar, memang.
''Kenapa ngelihat terus,'' ucapnya, ''kaget kalau aku gay?''
''Nggak, enggak,'' jawabku, sengaja menyembunyikan rasa gugup.
Ia mengerling, dengan pancaran mata yang sungguh-sungguh menggetarkan.
Tulang-tulangku seperti keropos. Rontok.
''Kita jalan?''

Aku masih terdiam. Pertanyaannya yang jelas-jelas menantang diriku akhirnya kujawab dengan mengalihkan sorot mata pada hujan di luar kafe.
''Nggak suka hujan? Takut masuk angin? Bawa mobil, kan?''
Benar. Ke mana-mana pun pergi aku selalu mengendarai mobil. Logikanya, tak mungkinlah ada sepercik air hujan yang akan mengenai tubuhku. Kenapa aku risau dengan hujan? Kalau aku berkeberatan bercerita tentang ingatan hujan, bukankah aku mestinya masih bisa menerima hujan itu sendiri?
''Tolonnglah aku, antarkan pulang. Kalau keberatan dengan ajakan kencanku, cukuplah Anda mengantarku pulang. Atau, Anda tak berselera?''

Dengan mengenakan payung dibawanya, aku memasuki mobil. Sepanjang perjalanan ia banyak bercerita tentang apa pun, dan tentu, akan kucegat pembicaraannya yang bakalan menyinggung hujan.

Malam itu, entah kenapa, aku berubah pikiran. Sebagai pengganti kekecewaan karena kawan-kawanku culas menepati janji, kuputuskan menginap di rumahnya. Sampai akhirnya pagi hari, aku mesti berangkat ke kantor, dan seluruh badanku pegal-pegal karena sama sekali tak tidur.

Tepat ketika aku akan berangkat ke kantor, semua kawanku mengirim SMS bersamaan. Kesemuanya meminta maaf tak dapat menepati janji. Kesemua alasannya sama, hanya karena hujan.

Tentu, aku makin bertambah mendendami hujan, karena kali itu, karena hujan pulalah aku memilih orang selain kawan-kawanku -- yang tentu saja masih harus belajar memahami diriku -- untuk menemani menghabiskan malam. Kini, ia, bertender culun yang di mataku tetap saja bego bahkan ketika kutahu bagaimana selera pergumulannya, masih tertidur pulas. Tak apa. Ketika malam sepulang dari kafe sudah kubilang kalau pagi-pagi aku mesti berangkat bekerja, dan ia pun mengerti dengan berkata, ''Kalau aku masih tertidur, yah pergi saja.''

Aku memang pergi, pergi begitu saja. Menutup pintu ruang tamu, membuka pagar rumahnya -- sesungguhnya kontrakankah? -- dan menancap mobil.

Pada hari yang ceria, sama sekali tidak hujan, dan berhasil membunuh banyak kenanganku terutama ketika aku tertipu karena mobilku sempat dibawa kabur seorang kawan, salah seorang gay yang tinggal di lain kota. Entah kini kabarnya, kata banyak kawan, ia sudah meninggal, tertembak polisi, gara-gara lebih dari dua kilo ganja kering terbukti ia tenteng dan ia lari tunggang-langgang karena kejaran polisi. Tentang mobilku? Aku ikhlaskan entah nyangkut di tangan siapa, aku yakin dibawa kawan-kawan terdekatnya.

Sayang, malam itu aku bergumul tanpa ganja. Padahal, siapapun tahu, bagaimana rasanya bergumul dengan aroma ganja? Bagaimana jika ditambah pil ekstasi? Berapa jam aku bisa bertahan, menundukkan malam hanya dengan bergumul? ***

Yogyakarta, 2003.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati