Langsung ke konten utama

Merayakan yang Dimangkirkan

Judul : Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan
Penulis : Yudi Latif
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, November 2009
Tebal : xxiv + 182 halaman
Peresensi : Damanhuri
http://www.lampungpost.com/

KEBANGKITAN setiap bangsa selalu bermula dari kerja wacana; beranjak dari aksara. Tonggak kebangkitan nasional di Indonesia pun sesungguhnya bermula dari kerja wacana yang berlangsung melalui kelompok studi, tulisan jurnalistik, juga karya sastra.

Maka, bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan ketika tahun 1924 Bung Hatta terlibat aktif di Perhimpunan Indonesia, dia pula penggagas dan pengelola utama jurnal Indonesia Merdeka, sembari tak lupa menulis puisi-puisi patriotik. Saat Bung Karno mendirikan Algemene Studieclub, dia pula yang menggagas dan merawat keberlangsungan jurnal Indonesia Moeda, sambil tak alpa aktif sebagai editor majalah Syarikat Islam (SI): Bandera Islam (1924–1927). Pun Sjahrir yang banyak berkiprah dalam mengelola jurnal Daulat Rakyat saat aktif di Perhimpunan Indonesia bersama Bung Hatta.

Rekaman sejarah yang kerap kita lupakan itulah yang coba diungkapkan ulang Yudi Latif dalam buku terbarunya ini. Ia mengajak kita menengok ulang jejak yang diterakan Bung Hatta-Bung Karno-Bung Sjahrir yang seolah-olah menegaskan, bahwa “tak ada bangsa yang dapat maju tanpa memuliakan keberaksaraan”.

Relevansi ajakan Yudi Latif terasa betul gaungnya ketika langgam hidup kita hari ini terus-menerus dilecut oleh arus utama budaya hedonistik, instant (mentalitas menerabas), dan segala anasir yang mendorong sebagian besar kita seolah jeri masuk ke kedalaman laku hidup asketis. Apalagi, proses peluruhan nilai-nilai asketisme itu juga bukan tidak terjadi di ranah akademik; dan telah berhasil meranggaskan tradisi keberaksaraan karena kerap dipandang sebelah mata sebagai aktivitas yang mustahil “memakmurkan” pelakunya.

(D)evolusi konsep kehormatan atau kemuliaan tampaknya memang tengah berlangsung di tengah sebagian (besar?) kaum cerdik-cendekia kita dan lambat-laun menyayupkan ajakan asketisme intelektual yang dulu diserukan mendiang Sartono Kartodirjo. Hasilnya: karena di tengah masyarakat akademik yang telah kehilangan asketisme intelektual tingkat kehormatan selalu diukur dengan hal-ihwal yang sepenuhnya ragawi belaka; maka jangan heran jika di negeri ini banyak akademisi yang nyambi jadi periset pesanan, penulis hantu, anggota tim sukses dalam perhelatan pilkada, dan segala aktivitas yang sesungguhnya hanya mengukuhkan dirinya sebagai—apa yang disebut Julien Benda “intelektual pengkhianat”.

Tapi, mari lupakan sejenak para cendekiawan yang mengkhianati khitah kecendekiawanannya itu. Kita kembali meneroka ulang pentingnya tradisi literasi dalam meletakkan batu-bata perdaban.

Dengan menyigi sumber yang begitu beragam, Yudi Latif menyodorkan ulang lima perkara yang mengalasi pentingnya keberaksaraan (literasi): pertama, tradisi tulis merupakan sarana olah ketepatan dan kekuatan yang berbeda dengan tradisi (ke)lisan(an) yang dianggap “longgar dan liar”; kedua, keberaksaraan merupakan standar keberadaban; ketiga, keberaksaraan adalah organ kemajuan sosial; keempat, keberaksaraan tidak lain merupakan instrumen budaya dan perkembangan saintifik; kelima, keberaksaraan merupakan instrumen perkembangan kognitif.

Sayang, tradisi keberaksaraan dan keluasan erudisi intelektual manusia Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Tradisi tersebut betul-betul tengah mengalami peluruhan luar biasa dengan dua ancaman terpentingnya berupa “vokasionalisme baru” (new vocationalism) dan multimedia, khususnya televisi.

Vokasionalisme baru adalah suatu konsepsi utilitarian dari institusi-institusi pendidikan yang hanya memberhalakan keterampilan teknis dan akhirnya cuma menghasilkan–apa yang disebut Frank Furedi–the cult of philistinism: kultus atau pemujaan berlebihan pada “budaya kedangkalan” akibat pemuliaan ekstrem pada interes-interes yang melulu material dan praktis. Institusi pendidikan mengalami penurunan gairah intelektual akibat terlalu dominannya etos manajerialisme dan instrumentalisme: suatu etos yang menghargai segala hal sejauh bisa melayani preferensi-preferensi praktis-ekonomis.

Di titik ekstrem lain, televisi—dengan pelbagai tayangan acaranya yang kebanyakan hanya menangkarkan kebanalan itu –sesungguhnya hanya menghidupkan kembali tradisi kelisanan; mendorong berkecambahnya lagi kebiasaan ngobrol dan kemalasan berpikir; serta melemahkan fungsi-fungsi keberaksaraan yang sesungguhnya belum lagi tumbuh dengan baik di negeri ini.

Konsepsi utilitarian kian tumbuh karena sejatinya segendang sepenarian dengan kecenderungan pendidikan kita untuk memuliakan satu kecerdasan (inteligensia) sambil menghinakan kecerdasan-kecerdasan lain yang sejatinya juga berhak mendapat tempat. Padahal, teori “kecerdasan majemuk”-nya Gardner jauh-jauh hari sudah mewanti-wantinya. Pula, kecenderungan mengunggulkan salah satu program studi (yang dianggap “ramah pasar”) sembari menomorsekiankan yang lain. Akibatnya: pelbagai program studi humaniora yang dianggap tidak “peka pasar” selalu dimangkirkan.

Kian pudarnya keberaksaraan dan menguatnya kembali kelisanan tentu saja musibah yang harus segera dicari antidotnya. Salah satunya, meninjau lagi arah pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sebab, selain merupakan jalan paling praktis untuk meretas budaya keberaksaraan, kesusastraan sejatinya juga wahana ideal bagi persemaian karakter. Apalagi, seperti kita ketahui, pendidikan karakter mustahil “diajarkan” dalam sebuah mata pelajaran tertentu. Ia harus diinkorporasikan dalam seluruh proses pendidikan–termasuk lewat jalan sastra, jalan aksara.

*) Kerani di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIN Raden Intan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo