Langsung ke konten utama

Upaya Membuat Kritik Sastra Indonesia

Judul buku : Darah-Daging Sastra Indonesia
Penulis : Damhuri Muhammad
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : 1, Maret 2010
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi : Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

JIKA kita sepakat bahwa esai, ulasan singkat, resensi buku sastra, yang tumbuh di koran-koran layak disebut sebagai kritik sastra, agaknya keresahan, keluhan, kecemasan sebagian kalangan pengamat dan praktisi sastra akan kelangkaan kritik sastra, menjadi tidak beralasan.

Hampir setiap minggu sejumlah koran dan majalah menyediakan ruang untuk esai, ulasan, resensi buku sastra, wawancara, serta reportase perihal kegiatan diskusi sastra. Dari tulisan-tulisan pendek tersebut kadang pula tersulut polemik yang saling bersahut-sahutan. Kadang sahut-sahutan yang terjadi tidak hanya muncul dari koran yang memuat tulisan yang memicu polemik, tapi juga dari koran-koran lain. Polemik yang terjadi dan tersebar luaskan oleh media itu meski acap tidak bersandar pada penelitian mendalam terhadap tema atau gagasan yang diperdebatkan, tapi pelak merangsang dinamika pemikiran sastra.

Model kritik sastra semacam itulah kiranya yang disodorkan buku Darah Daging Sastra Indonesia karya Damhuri Muhmmad. Buku ini tak lain memang kumpulan tulisan berupa esai, ulasan, resensi buku sastra yang sebelumnya terserak di sejumlah koran dan majalah. Tidak salah jika menyebut buku ini serupa kliping. Pula, sejak awal tulisan ini diniatkan untuk media koran dan majalah umum yang tidak menyediakan ruang yang cukup leluasa untuk menggelar kritik sastra. Sehingga membaca buku ini tidak harus secara runut dari halaman pertama sampai halaman akhir. Tapi bisa memilih dari halaman mana pun yang dianggap paling menarik. Panjang setiap tulisan pun tidak lebih dari dua sampai tiga halaman.

Melalui buku ini Damhuri seakan hendak memaklumatkan bahwa tindakan kritik sastra tidak selalu harus berupa tulisan-tulisan panjang berlumur teori-teori sastra mentereng yang dalam banyak kasus justru merumitkan pemahaman terhadap karya—yang bagi orang kebanyakan sudah rumit–yang diulas, sehingga makin menjauhkan sastra dari masyarakat luas. Kritik sastra model resensi buku dan ulasan ringkas pun sanggup menjadi kritik yang bermanfaat jika ditulis dengan perangkat yang memadai serta kesungguhan menyelam ke dalam teks secara intens dan integral. Yakni kritik sastra yang, sebagaimana diungkap Suminto A. Sayuti (2005), disiapkan dalam kerangka instrumental, regulatif, interaktif, dan respresentatif.

Terbukti, meski model kritik yang diamalkan Damhuri sangat ringkas, hanya butuh waktu 10–15 menit membacanya, tidak lantas batal menjadi sebuah kritik sastra yang tajam dan inspiratif. Bahkan, justru karena keringkasannya ulasan jadi lebih fokus, langsung menukik, sehingga dengan segera dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan teks sastra yang diulasnya. Ini tentu didukung ketekunan Damhuri dalam menyelam ke dalam darah daging teks, membedahnya dengan perangkat yang memadai.

Penguasaan Damhuri atas perangkat yang dipergunakannya, ditambah ilmu filsafat yang digelutinya, setiap ulasan yang ditulisnya hadir dengan pola penuturan dan bahasa yang jernih sehingga mudah dipahami. Misalkan pada tulisan Sastra (A) Moral? (hlm. 11). Esai yang merupakan respons atas esai Richard Oh, dengan gemilang menelanjangi kekeliruan lontaran pemikiran Richard Oh perkara moral dalam sastra. Demikian pula tulisan yang mengulas Glonggong, novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta (2006) karya Junaedi Setiyono. Secara cerdas dan telak Damhuri mementahkan pelabelan novel sejarah yang diberikan para juri terhadap novel tersebut. Hanya, pada tulisan Ikhtiar Menyelamat Puisi, Damhuri tampak kurang mampu menyembunyikan nada emosionalnya. Juga frase “penyair muda” pada tulisan yang mengulas kumpulan puisi Esha Tegar Putra (hal.158). Frase ini mungkin maksudnya dialamatkan pada hitungan usia si penyair, bukan hitungan mutu kepenyairan si penyair.

Secara umum kritik-kritik Damhuri terbebas dari semangat memaki setengah mati di satu sisi dan memuji setinggi langit di sisi lain. Ulasan-ulasan Damhuri tampil dengan imbang. Berlawanan dengan sebagaimana yang dilakukan kritikus-kritikus sastra yang menurutnya lebih pantas disebut tikus-tikus sastra yang perlu dibasmi?

Akhirnya, kehadiran buku ini selain bisa digunakan sebagai bahan belajar menulis karya sastra sekaligus menulis kritik sastra, akan menambah historiograpi sastra Indonesia.

Aris Kurniawan, sastrawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).