Langsung ke konten utama

Sastra, Kebangsaan, Konferensi

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

HUBUNGAN antara sastra dan proses terbentuknya kesadaran suatu bangsa adalah hubungan yang niscaya. Sejarah kesusastraan, di mana pun, senantiasa memiliki korelasi dengan proses berlangsungnya karakteristik suatu bangsa, bagaimana kesadaaran itu tumbuh dan berproses dalam berbagai perdebatan, bahkan pertentangan. Dengan kata lain, berbagai perdebatan dalam kesusastraan dan kebudayaan umumnya senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan soal pembangunan kesadaran karakter bangsa dan kebangsaan. Terlebih lagi, nasionalisme senantiasa menghendaki bentuk-bentuk pengertian yang bergerak demi menjawab waktu dan ruangnya yang menjadi konteksnya.

Namun demikian, dalam berbagai perkembangan, politik pembangunan negara yang dikembangkan lembaga pemerintahan, sangatlah langka melibatkan kesusastraan dalam berbagai penyusunan kebijakannya. Alih-alih kesusastraan (dan kebudayaan umumnya) dipercaya sebagai ruang kesadaran demi memaknai nasionalisme, pada masa Orde Baru karya sastra juga dilihat dengan penuh kecurigaan.

Akan tetapi, sejak 1998, dinamika perkembangan karya sastra berkembang leluasa dalam merepresentasikan berbagai kesadaran ihwal negara, kekuasaan, dan nasionalisme. Karya sastra tumbuh secara sporadis dalam euforia yang menukik pada tema-tema sosial politik yang mendapatkan ruang pelepasannya. Di lain sisi, berbagai isu global pun leluasa masuk karena perkembangan teknologi informasi yang tak dapat dicegah. Seluruh perubahan ini mengusung berbagai kesadaran dalam memeriksa ulang apa yang selama ini dipercayai. Termasuk ihwal identitas hingga apa itu nasionalisme hari ini.

Seluruh gelombang perubahan ini niscaya mengubah karakteristik kesadaran kebangsaan yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja ini tidaklah mengejutkan, sebab, sekali lagi, nasionalisme selalu menghendaki adanya perubahan paradigma dari waktu ke waktu.

Akan tetapi di lain hal, perkembangan karya sastra dalam ruang yang sporadis selama lebih dari sepuluh tahun ini meninggalkan jejak yang kerap mencemaskan. Gairah kemunculan para sastrawan muda yang mengusung berbagai kecenderungan tematiknya, ternyata tidak diimbangi oleh institusi yang semestinya melakukan pembacaan ke arah mana perkembangan itu bergerak. Institusi dimaksud adalah dunia kritik.
**

BERANGKAT dari asumsi itulah Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat Bandung merasa perlu menyelenggarakan konferensi internasional. Konferensi yang mengundang sejumlah guru besar kesusatraan, rektor, dan akademisi kebudayaan dari sejumlah perguruan tinggi sebagai pembicara ini, hadir dengan tema “Membaca Ulang Fungsi Sosial Sastra Dalam Menumbuhkan Nilai dan Sikap Kebangsaan”. Konferensi ini akan berlangsung di Isola Resort Hotel, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 5-7 Agustus 2009.

Sejumlah sastrawan, kritikus, dan akademisi, akan tampil sebagai pembicara dalam konferensi ini. Di antaranya, Prof. Dr. Melanie Budianta, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Prof. Dr. Riris Sarumpaet, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Prof. Dr. Irwan Abdullah, Dr. Haryatmoko, dan penyair Acep Zamzam Noor.

Konferensi ini secara tematik membagi dirinya menjadi empat subtema, yang masing-masing diandaikan memiliki benang merahnya untuk menyaran pada tema besar yang diapungkan. Karena secara tematik konferensi ini menekan pada soal fungsi sastra, subtema pengajaran sastra memang menjadi keperluan untuk dipermasalahkan. Terlebih dalam konteks sastra dan pertumbuhan nilai kebangsaan. Subtema ini akan mengurai sejumlah persoalan dalam pengajaran sastra yang mungkin telah berulang-ulang didiskusikan, diseminarkan, disemilokakan, diworkshop-kan, hingga dikonferensikan.

Sementara subtema berikutnya mencoba memasuki fenomena aktual dalam hubungan sastra dan pasar, dalam hal ini apa yang disebut dengan karya sastra populer. Subtema ini akan mengurai bagaimana sastra populer berhubungan dengan gagasan kesadaran tentang nasionalisme. Subtema ini pun akan bersinggungan dengan produksi sastra dalam konteks media.

Jika karya sastra diasumsikan menjadi representasi dari kesadaran ihwal Indonesia, bagaimanakah hal itu mengemuka dalam konteks memandang masyarakat perbatasan atau pesisir? Pertanyaan ini penting dan menarik untuk diurai mengingat betapa karya sastra Indonesia hari ini relatif belum cukup merepresentasikan multikulturalisme yang ada, terutama dalam konteks geokulturalnya. Subtema ini tampaknya akan menguji sejauh mana perkembangan sastra komtemporer hari ini menghadirkan keberbagaian Indonesia.

Sementara bagaimana konferensi ini memeriksa kembali hubungan antara sejarah sastra dan sejarah kebangsaan akan menjadi subtema yang menantang. Di sini bagaimana sebenarnya para sastrawan bekerja dan memaknai perannya dalam keperluan membangun gagasan kesadaran nasionalisme. Tentunya sastrawan hari ini amatlah berbeda dengan mereka yang hidup dan berkarya di awal-awal tumbuhnya kesadaran sebuah Indonesia. Hanya soalnya bagaimanakah perbedaan itu dihadirkan, baik dalam bentuk pengucapan atau kesadarannya?

Menurut kritikus Acep Iwan Saidi selaku panitia pengarah, konferensi ini juga mengandaikan pembacaan terhadap bagaimana sesungguhnya karya-karya sastra kontemporer melihat kesadaran kebangsaan, yang tentu saja berbeda dengan generasi para sastrawan sebelumnya yang hidup di tengah konteks sejarah yang berbeda.

“Dalam karya sastra, sikap nasionalisme selalu tampil dalam bentuk yang lain. Ketika karya berbicara tentang realitas sekeliling, dia sebenarnya sudah menanamkan kesadaran tentang kebangsaan, begitu juga ketika karya mengungkap potensi lokal. Sastra kita menarik jika dikaitkan dan berbicara modernis dan posmodernis. Modernisme antilokal, tetapi dalam perjalanannya, sastra kita sangat lokal. Pada titik itu saya melihat kesadaran kebangsaan kita sangat tinggi,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Prof. Dr. Riris Sarumpaet, betapa dalam karya sastra hari ini kesadaran nasionalisme itu tidaklah diungkapkan secara langung. Sesuatu yang berlainan dengan masa-masa generasi Moh.Yamin, Rustam Effendi, hingga Chairil Anwar.***

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo