Derita Anak, Derita Ibu

Ahmad Zaini*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Temaram lampu dalam kamar menyorot wajah yang lembab air mata. Kilauan maniknya melintas pelan melewati relung pipi yang tampak merah lebam. Di atas ranjang yang beralas kasur, seorang gadis duduk termenung menatap bagian perut yang semakin lama semakin membesar. Selimut putih dengan variasi garis horizontal di gelar lantas digunakan untuk menutupi perutnya ketika pintu kamarnya terketuk pelan.

Rambut terurai sebahu kemudian dirapikan sembari menyingkap selimut yang menutupi perutnya. Wajah setengah tua dan berkebaya bermotif bunga telah berdiri di depan pintu. Muka murung terukir dari pancaran yang meredup menyedihkan sesuatu. Setelah ia melihat gelagat anaknya yang tidak mencurigakan kemudian wajah dari perempuan setengah tua itu mundur menyelinap di balik daun pintu menuju balai tamu. Di tempat itu kemudian ia duduk santai membaca majalah yang tertumpuk di bawah meja tamu.

Sekelebat bayangan anaknya melintas di depannya. Konsentrasi membacanya buyar dengan seketika lantas majalah yang baru saja ia baca ditutup kembali dan diletakkan di bawah meja itu.

“Akan ke mana kamu, Ras?” tanya ibu setengah tua itu.
“Keluar, Bu,” jawabnya dengan raut murung.
“Rasti…!” panggilnya dengan nada meninggi.

Rasti tak menoleh ke arah suara ibunya yang memanggil. Ia terus berjalan keluar lalu menyetarter motornya yang diparkir di depan rumah. Sesaat kemudian motor itu meninggalkan rumah yang hanya di huni ibu setengah tua yang menjanda dengan anak gadis satu-satunya.

Di sebuah taman yang dipenuhi pohon-pohon besar berdaun rindang, Rasti duduk di atas akar pohon mahoni. Ia terdiam melamunkan seseorang yang telah menghamilinya. Seseorang itu tak lain adalah pacarnya sendiri. Ia ambil HP yang diselipkan di dompet berwarna merah jingga. Berkali-kali ia menghubungi nomor HP pacarnya. Namun berkali-kali pula ia gagal menghubunginya. Rasti kesal kemudian melemparkan HP-nya ke tanah.

“Rusli, ke mana kau?” rintihnya kesal.
Muka kesal yang tertutup uraian rambutnya lambat laun memerah yang kemudian disusul tetesan air mata kecemasan. Rasti kawatir jika nanti pacarnya tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tangan lembutnya mengelus-elus perutnya yang ia rasakan semakin besar. Namun dengan seringnya ia mengelus-elus perutnya bertambah pedih pula hatinya.

Perlahan tangannya meraih HP yang tergeletak di sampingnya. Kemudian ia mencoba menghubungi Rusli, pacarnya. Namun juga tidak berhasil. Ia lantas berteriak memanggil nama Rusli hingga daun-daun yang rindang di atasnya luruh di sekitar tempat ia duduk.

Setiap kali ada hembusan angin yang membelai rambutnya ia selalu menitip pesan jika ketemu Rusli suruh dia datang menemuinya. Namun hembusan angin yang berkali-kali menerpanya tak ada yang mau menyampaikannya. Hingga angin yang terasa lebih dingin dari sebelumnya meraba kulitnya. Rasti baru sadar bahwa hari segera malam. Ia melihat sekeliling sudah tampak sepi. Rasti kemudian beranjak dari akar besar pohon mahoni yang didudukinya sejak beberapa jam lalu.

Sementara cahaya merah jingga menghias langit di sebelah barat. Tampak kelelawar terbang mengitari cakrawala mencari mangsa. Pada pohon jambu kelelawar tadi menyelinap dan bergelantungan menikmati manisnya jambu yang sedang masak. Tiba-tiba kelelawar tadi terbang menjauh dari pohon jambu ketika ada seorang anak yang yang memanjat untuk bersembunyi dari kejaran temannya. Ya, anak-anak dengan riang gembira bermain petak umpet di halaman rumah Rasti.

Tawa geli anak-anak memecah kegelapan malam saat persembunyian mereka diterpa cahaya lampu motor yang dikendarai Rasti. Kemudian mereka berlari meninggalkan tempat itu mencari tempat persembunyian yang lebih sunyi.

Pintu rumah sederhana perlahan terbuka kemudian terlihat sosok ibu yang cemas memikirkan anaknya yang baru tiba.

“Dari mana saja, Ras?”
“Dari rumah teman,” jawab Rasti tanpa menjelaskan nama temannya.

Kamar yang gelap sebentar menjadi tarang saat Rasti menyalakan sklar lampunya. Foto Rusli yang diberi bingkai simbul cinta dipandangnya berkali-kali. Ia berdiri mematung tak berkedip menatap wajah tampan yang telah menghamilinya. Dalam hatinya ia selalu menagih janji yang telah diucapkan Rusli di tempat durjana itu. Ia berjanji akan bertanggung jawab dengan menikahinya. Namun sampai kini Resti tak tahu kabar berita dari pacarnya.

Putaran waktu seakan semakin cepat dan tak terasa kehamilan Resti memasuki bulan ketiga. Badannya semakin segar dengan perut yang semakin membesar. Saat ia keluar dari kamar, ibunya curiga dengan perubahan bentuk tubuh pada diri Resti. Seorang ibu yang menjanda sejak empat tahun lalu tahu persis dengan bentuk tubuh seperti itu. Ia ingin mencari waktu yang tepat untuk menanyai anak semata wayangnya. Pada waktu selesai makan malam ibu Resti menyuruhnya duduk. Ia bertanya kepada Resti.

“Sejak kapan kamu tidak datang bulan, Res?” tanya ibunya.
Resti tidak segera menjawab pertanyaan itu. Resti diam dan takut jika kehamilannya nanti diketahui oleh ibunya.

“Jawablah, Nak! Ibu tahu dan paham apa yang terjadi pada dirimu. Resti, apakah kamu hamil?” tanya ibunya dengan sedikit memaksa.

“Iya, Bu. Saya sudah tiga bulan tidak datang bulan,” Resti mengaku kemudian berlari menuju kamar tidurnya. Ibunya tak tinggal diam. Ia berdiri dan menghampiri Resti yang tertelungkup di tempat tidurnya.

“Siapa yang telah menghamili kamu?” bentak ibunya.
“Rusli. Rusli yang telah menghamiliku, Bu,” jawab Resti dengan tangis.

Mendengar jawaban anaknya, ibu Resti tampak sock. Ia tertegun ketika mendengar pengakuan Resti bahwa yang menghamilinya adalah Rusli. Ia kemudian duduk lemas di kursi yang bersebelahan dengan tempat tidur Resti. Diraihnya segelas air putih di atas meja. Seteguk air cukup untuk memulihkan urat-urat syaraf yang menegang saat mendengar nama Rusli yang telah menghamili anak kandungnya.

Ibu Resti merasa bersalah karena yang mempertemukan Resti dengan Rusli adalah dirinya. Rusli adalah anak dari temannya yang saat ini mempunyai usaha konveksi di daerahnya. Mereka bertemu sewaktu ibu Resti akan memesan kaos untuk ibu-ibu PKK di kampungnya dengan tidak sengaja. Mereka kemudian saling bertukar pengalaman karena sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu. Kemudian mereka berencana menjodohkan anak-anak mereka. Dan ternyata hubungan mereka berlanjut hingga kini sampai-sampai Resti hamil sebelum mereka resmi menjadi suami istri.

“Sekarang di mana Rusli?”
“Saya sudah berkali-kali meneleponnya namun tidak pernah menyambung. Pernah sekali aku ke rumahnya, kata ibu Rusli ia pergi ke Sumatera untuk mengirim kaos kepada pelanggannya. Hingga kini aku belum pernah bertemu lagi,” cerita Resti.

Sesuasana sepi. Tak ada satu pun suara yang muncul dari kedua mulut mereka. Anak dan ibunya itu hanya sibuk menyeka air mata yang terus meluncur dari kedua matanya yang semakin memerah. Wajah ayu Resti lembab oleh guyuran air mata yang tersinar lampu temaram. Sekotak tissue di atas meja habis untuk menyeka air matanya. Dan di lantai kamarnya tampak cuilan-cuilan putih tissue yang mereka buang. Mereka sekarang bersedih memikirkan bagaimana agar janin yang berada dikandung Resti itu ada bapaknya.

Keesokan harinya ibu Resti datang ke rumah Rusli dan bertemu dengan ibunya yang tak lain adalah temannya sendiri. Ibu resti menceritakan keadaan sebenarnya yang dialami oleh anaknya. Dengan harapan semoga Rusli mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Alih-alih minta pertanggungjawaban, ibu Rusli mengelak jika anaknya tak mungkin melakukan perbuatan yang memalukan itu.

“Itu fitnah, fitnah. Tak mungkin anakku melakukan itu. Aku tidak terima dengan semua yang kamu tuduhkan,” kata ibu Rusli sambil berdiri berkacak pinggang di depan ibu Resti.

Mendengar ucapan ibu Rusli, Ibu Resti kemudian pulang dengan tertunduk lesu. Ia sedih memikirkan nasib yang menimpa anaknya. Ia hanya berharap mudah-mudahan Rusli pulang dan tahu bahwa Resti hamil kemudian ia sadar dan mengakui semua yang telah ia perbuat pada anaknya.

Sementara di rumah, Resti mengurung diri di dalam kamar. Ia tak berani keluar rumah karena malu kepada para tetangga. Perut yang semakin lama semakin membuncit berisi janin hasil hubungan gelap dengan pacarnya. Ia tak ingin kehamilannya diketahui oleh tetangga dan menjadi buah bibir orang sekampung. Kini Resti hanya berharap mudah-mudahan Tuhan mengampuni segala dosa yang telah diperbuat dan dipertemukan dengan Rusli agar mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. ***

______________________________
*) Ahmad Zaini, Penulis beralamat di Wanar Pucuk Lamongan, beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Majalah MPA (Depag Jatim), Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (Dewan Kesenian Lamongan,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Kidung Rumeksa Praja (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2010). Pembina SMA Raudlatul Muta’allimin Babat, Lamongan.

Komentar