Langsung ke konten utama

SAPARDI DJOKO DAMONO: Saya Sudah Lama Mempermasalahkan Waktu

Pewawancara: Ibnu Rusydi
http://korantempo.com/

Sapardi Djoko Damono kini berusia 69 tahun. Tapi, ia tak berhenti berkarya. Baru-baru ini ia meluncurkan buku puisi terbarunya, Kolam. Di Komunitas Salihara, Senin malam lalu, penggiat dan penggemar sastra membludak mengikuti diskusi bukunya.

Sapardi dengan tenang mendengarkan diskusi. Dia masih saja sederhana, dengan topi pet dan jaketnya yang itu-itu lagi. Seusai diskusi, dengan ramah dan rendah hati, ia masih tinggal melayani deretan permintaan tanda tangan dan foto bareng dari para fan. Setelah ruangan sepi, Tempo pun berbincang-bincang dengannya. Berikut ini petikan wawancara dengannya:

Puisi Anda kini dikatakan banyak menggunakan negasi?

Soal banyak negasi, saya tidak tahu. Ketika menulis saya tidak sadar. Saya juga kaget, “Oh, iya, tho?” Itulah gunanya nguping terhadap kritik dari orang.

Anda agak lama menulis Kolam?

Memang. Saya menulis tidak lancar lagi. Saya menulis Kolam pertama kali sejak 2003 atau 2004, terus diam lama. Saya betul-betul mencoba mencapai suatu teknik pengucapan yang tidak terpikir. Soneta, menulisnya itu tidak mudah, rumitnya minta ampun.

Apa pencapaian Anda di Kolam?

Saya ada pada taraf ketika aksara menjadi sangat penting. Sebetulnya ini mulai sajak Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002). Saya bermain-main dengan huruf besar dan italic. Tapi, kemudian saya lihat, hal-hal teknis ini tak penting bagi pembaca. Namun, ternyata bisa dipakai untuk menyampaikan sesuatu yang sangat problematik dalam kehidupan manusia: kontradiksi makna ganda dalam hidup. Karena sastra kita sastra tulis, ya lewat permainan huruf itu.

Anda bermain juga dengan Internet. Misalnya di Facebook. Tapi tak tampak banyak pengaruhnya di Kolam?

Saya tak tahu sampai seberapa jauh (teknologi) itu harus saya akui. Tapi memang, saya sadar ketika menulis sajak Di Depan Laptop, ternyata jargon dan konsep itu, pengertian itu, diksi itu, bisa dipakai. Cuma, memang saya belum seperti yang lain.

Sajak singkat Tempias menyiratkan kegelisahan Anda terhadap waktu yang berlari semakin cepat?

Saya sudah lama mempermasalahkan waktu. Memang ini concern saya sebenarnya (di sajak) itu, mulai lahir sampai mati. Kadang-kadang dalam hidup, sosial harus saya jadikan masalah saya sendiri, masalah personal. Kalau tidak, tak akan jadi (karya). Misalnya ada masalah Marsinah, Mei 1998, yang sebelum menjadi masalah personal, saya belum bisa menulis (tentang itu).

Kurt Vonnegut pernah bilang, “Penulis seperti radio yang menangkap “siaran” kreativitas dari sebuah pemancar, dari sebuah tempat di semesta.” Menurut Anda?

Saya kira iya. Tapi yang datang bukan konsep, melainkan kata. Bukan ide, tapi kata, ungkapan, imaji. Beranak-pinak kata-kata itu. Itu membentuk diri sendirinya sebagai sebuah dunia. Kata dengan sendirinya bergerak ke sana-kemari. Sebetulnya, yang membawa saya adalah kata-kata itu. Bukan saya yang membawanya.

Apa lagi yang Anda ingin capai sekarang?

Moga-moga, sampai pada ketika saya tidak ada, saya masih bisa menulis, tidak jompo, serta tidak linglung dan lupa. Saya selalu membayangkan bagaimana cara menulis yang lebih baik. Bila mentok, tidak bisa, cari cara pengucapan yang lain. Saya tak ingin ketika meninggal masih ada naskah yang belum jadi. Itu siksaan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo