Langsung ke konten utama

Sekarang Ide Multikulturalisme lebih Diterima

Akmal Nasery Basral, Budi Darma
http://www.ruangbaca.com/

BUDI DARMA selalu dikenal sebagai sosok bersahaja dan rendah hati. Ketika sedang mempersiapkan disertasi doktoralnya yang berjudul Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novels di Universitas Indiana pada 1979-1980, ia menulis novel Olenka yang menorehkan namanya dalam lanskap sastra tanah air. Jauh sebelumnya di tahun 1963 saat usianya baru 26, ia sudah menjabat Dekan Fakultas Sastra dan Seni IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya/Unesa), kampus yang juga pernah merasakan gaya kepemimpinannya sebagai rektor (1984-1988).

Namanya juga tercatat sebagai anggota Modern Language Association, New York, dan dalam buku Who’s Who in the World. Tetapi ia selalu menolak dipanggil dengan sebutan akademis yang sudah menjadi haknya: Profesor Doktor. “Saya tidak memiliki prestasi luar biasa untuk dipanggil ‘doktor’ atau ‘profesor’. Apa yang saya tulis selama ini adalah kewajiban,” katanya. Padahal sumbangsihnya bagi dunia sastra tidak hanya dilakukan lewat Unesa. Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Tahun-tahun sebelumnya ia menjadi guru besar tamu di Barat maupun Timur. Dari Northern Territory University, Australia, almamaternya di Indiana, Bloomington; Ocemania University di Hyderabad India, sampai Nanyang University, Singapura. Tak syak lagi, lelaki kelahiran Rembang ini adalah seorang guru dunia. Selasa 25 April lalu, sang guru berulang tahun ke-69. “Saya berterima kasih kepada Tuhan, apalagi relatif tidak ada masalah kesehatan,” ujarnya kepada wartawan Tempo Akmal Nasery Basral.

Lebih jauh Budi Darma memaparkan pandangannya tentang Sastra Dunia dan perkembangan astra Indonesia dalam sebuah perbincangan yang menyenangkan. Berikut ini petikannya.

Bagaimana rasanya berusia 69 tahun?

Ini proses alami yang wajar. Saya berterima kasih kepada Tuhan, apalagi relatif tidak ada masalah kesehatan.

Maksud saya dalam konteks kreatif …

Kurang waktu untuk menulis. Cara saya menulis itu harus nge-blok waktu, tidak bisa terputus-putus. Banyak sekali tugas akademis dan makalah ilmiah yang harus saya kerjakan.

Termasuk untuk Seminar Redefinisi Sastra Dunia di Universitas Indonesia Juli nanti?

Ya. Tapi saya belum sempat menulis makalah sama sekali.

Mengapa harus ada redefinisi Sastra Dunia? Apa perbedaannya dengan pemahaman selama ini yang mengacu pada dominasi sastra berbahasa Inggris atau bahasa utama dunia lainnya?

Kita harus melihat pasca Perang Dunia II, pada tahun 1950-1960, ketika sastra Inggris dan Amerika sudah kekurangan darah, padahal publik ingin membaca hal-hal baru. Mereka beruntung dengan adanya penulis-penulis migran dari India, Jepang, dan Cina. Keadaan serupa juga terjadi di Prancis, Jerman. Lalu terjadi pergeseran makna sastra, antara lain lewat wacana posmo yang menyatakan bahwa semua tulisan adalah sastra. Tak ada tinggi rendah dalam sastra. Tulisan pop juga sastra, seperti semua bunyi adalah musik. Karena itu definisi sastra dunia perlu dipikirkan lagi. Tapi ada masalah di sini.

Yaitu?

Sekarang yang merajalela adalah budaya pop yang suka dengan sesuatu yang baru, tak suka yang usang. Setelah Perang Dunia II, musik-musik yang sebelumnya tidak dianggap, tiba-tiba mengubah wajah musik dunia seperti The Beatles, The Rolling Stones atau The Doors. Tapi kemunculan sastra pop tidak sehebat musik The Beatles atau grupgrup lain sesudah itu sehingga ketika membicarakan sebuah standar baru dalam sastra, yang muncul tetap saja standar lama seperti Hemingway atau Kipling.

Apakah penerjemahan ke dalam bahasa Inggris tidak bisa menjadi jembatan agar sebuah karya bisa disebut Sastra Dunia?

Belum tentu. Sastra Malaysia sangat gencar menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Inggris dan memasarkannya ke berbagai penjuru dunia. Tetapi di toko buku, karya-karya itu diletakkan di bagian bawah rak, atau tempat-tempat yang tidak mendapat perhatian utama pengunjung. Posisi karya sastra sebuah negara atau bangsa sebenarnya berkaitan dengan kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan mereka dalam konteks global. Faktor-faktor itu yang tidak dimiliki Malaysia.

Bagaimana dengan sastra negara-negara Afrika, misalnya Nigeria yang banyak melahirkan sastrawan dunia seperti Chinua Achebe atau Ben Okri, meski sebagai negara Nigeria tidak lebih kokoh posturnya dibandingkan Malaysia?

Mengapa Nigeria diperhatikan? Itu pertanyaan bagus. Menurut saya selain faktor bahasa Inggris yang mereka kuasai, juga menyangkut eksotisme. Kombinasi ini yang menyebabkan Chinua Achebe dan kawan-kawan lebih mendapat tempat dibandingkan sastrawan Asia. Dalam pandangan Barat, yang disebut Asia itu hanya India, Cina, dan Jepang yang meninggalkan jejak kebudayaan yang tinggi, terutama lewat pengaruh Hindu dan Buddhisme. Itu bagian dari eksotisme. Selain itu kiprah para penulis asal ketiga negara itu di Inggris atau Amerika juga meyakinkan seperti ditunjukkan Bharati Mukherjee.

Jika tadi disebutkan pengaruh Hindu dan Buddhisme yang lebih mudah diterima Barat, bagaimana terhadap agama lain, Islam khususnya?

Ada prasangka Barat terhadap Islam yang sesungguhnya telah terbentuk lama sebelum Peristiwa 11 September. Misalnya pada cerpen Anton Chekhov di abad ke-19. Salah satu cerpennya menggambarkan seorang tokoh lelaki yang ingin menikahkan anaknya dan mengundang banyak orang. Salah seorang tamu yang datang adalah pembantunya. Si tokoh ini melakukan salam cium kepada pembantunya seperti kepada tamu lain. Bukan berciuman, tapi salam cium. Tapi setelahmelakukan hal itu, istri sang tokoh kurang lebih berkata, “Saya percaya kamu tidak akan macam-macam, tetapi kamu ternyata pengikut Nabi Muhammad.” Contoh lain menyangkut kartun Denmark yang menghina Nabi Muhammad.

Menurut saya jejaknya bisa ditelusuri sampai karya Dante Alighieri terutama bagian Inferno.

Bukankah Olenka sangat terinspirasi oleh The Darling karya Chekhov? Bagaimana menjelaskan citra Chekhov yang bias terhadap Islam dengan Chekhov sebagai sumber inspirasi Anda?

Betul, tapi masalahnya kan berbeda. Yang saya ambil dari Chekhov itu perhatiannya terhadap isu kemanusiaan yang sangat kritis. Sama saja dengan novel Anda Imperia yang concernnya juga terhadap masalah kemanusiaan. Saya kira pengaruhnya juga dari banyak pihak.

Tentang Sastra Indonesia, bagaimana Anda melihatnya sebagai sastra nasional?

Sebagai wacana, Orde Lama melihatnya sebagai pluralisme. Ini buah dari kompromi Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane yang ditengahi oleh Ki Hajar Dewantara, sehingga muncullah rumusan seperti kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, dan seterusnya itu. Tapi sekarang yang lebih diterima adalah ide multikulturalisme. Artinya, semua bentuk kebudayaan daerah itu mendapat tempat yang sama. Semuanya adalah kebudayaan nasional, sastra nasional, termasuk kebudayaan Cina yang mulai diakui secara terbuka sejak pemerintahan Gus Dur.

Adakah contoh multikulturalisme sebagai bentuk sastra nasional di negara lain?

Contoh terdekat adalah Singapura. Sastra Nasional di negeri itu ada empat bentuk, yakni Sastra Melayu, Sastra Cina, Sastra Tamil, dan Sastra yang ditulis dalam bahasa Inggris. Semua diakui sebagai bentuk Sastra Nasional. Jadi kalau ide multikulturalisme ini mau kita gunakan di Indonesia, maka setiap karya sastra dalam bahasa daerah apa pun ditulis sesungguhnya adalah sastra nasional.

Menjelang pergantian millennium Anda menyebutkan adanya bagian dari aliran pokok Sastra Indonesia, antara lain “Sastra Kabur” dan Sastra Feminis. Bagaimana kecenderungan dalam 5-6 tahun terakhir?

Dulu jumlah pengarang kita terbatas. Sastra kabur itu mencoba mengikuti bentuk seorang penulis terkemuka tetapi tak jelas hasilnya. Kalau kita lihat di tahun 50-an, semua penulis ingin seperti Toto Sudarto Bachtiar. Setelah itu, semuanya ingin menjadi Sapardi Djoko Damono atau Goenawan Mohamad. Tetapi yang dihasilkan adalah kekaburan. Saat ini kesempatan menulis ada di mana saja, dan setiap individu bisa menulis tanpa perlu mengidolakan penulis sebelumnya.

Yang muncul adalah segmentasi seperti teenlit atau chicklit. Saat ini setiap hari muncul 15 novel dalam bahasa Indonesia.

Anda sempat baca chicklit dan teenlit?

Ya. Tentu tidak semua, tapi saya ikuti perkembangannya.

Tentang sastra feminis di Indonesia apakah ada perkembangan baru yang Anda perhatikan?

Sastra feminis harus dibedakan dengan emansipasi wanita. Yang terakhir ini sekadar memberi cita-cita seperti karya Sutan Takdir “Layar Terkembang”. Sedangkan feminisme adalah gerakan yang menyalahkan laki-laki. Semua karya NH Dini menunjukkan ini dengan “memaki-maki” lelaki. Ayu Utami menurut saya tidak termasuk feminis. Kecuali dalam pendeskripsiannya tentang seks, ada kesetaraan jender antara pria dan wanita yang jelas dalam karya-karyanya. Misalnya jika si tokoh wanita melihat seorang lelaki terlambat menepati janji, dia tidak akan bilang, “Dasar lelaki!”, tetapi “Dasar tidak bertanggung jawab.”

Apakah Anda melihat predikat post-novel dalam karya sastra Indonesia sebagai sebuah konsep yang bisa dipertanggungjawabkan secara teoritis?

Ini tentang Tuan dan Nona Kosong dari Hudan dan siapa itu yang wanita?

Mariana Amiruddin.

Ya, Mariana. Saya kira mereka berdua menginginkan kebaruan dalam bentuk penceritaan.

Berhasilkah?

Waktu yang akan menentukan. Tapi cerpen “Kota Kelamin” yang ditulis Mariana (dimuat oleh edisi minggu Jawa Pos akhir tahun lalu – red) lebih banyak seksnya ketimbang muatan sastra. Di sini (Surabaya – red) menjadi heboh sampai ada yang berkomentar, “Matamu picek.” Itu ungkapan keras sekali dalam bahasa Jawa Timuran.

Siapa penulis Indonesia yang karyanya sedang Anda baca?

Filosofi Kopi dari Dewi Lestari. Dia tampaknya menulis secara main-main tapi isinya serius.

Sekarang kita bicarakan karya-karya Anda sendiri seperti Orang-orang Bloomington atau Olenka. Setelah tiga dekade berlalu, sejauh mana relevansinya sekarang?

Masalah kemanusiaan dalam karya-karya itu rasanya masih relevan. Hubungan antarpersonal, dan bagaimana individu mendefinisikan dirinya sendiri dalam konteks masyarakat. Saya kira sama juga dengan Imperia yang mencoba menyodorkan universalitas kemanusiaan dengan mencoba menghubungkan apa yang terjadi di Barat dengan problem kemanusiaan di Indonesia.

Boleh tidak sekarang saya yang bertanya, ‘Bagaimana Anda sendiri melihat Imperia?’

Secara umum belum puas.

Itu bagus. Setiap penulis selalu merasa tidak puas dengan karyanya, dan hal itu yang menyebabkannya menulis lagi. Penulis Abasalom Absalom (William) Faulkner berkata, “Penulis yang mudah puas itu sama saja dengan bunuh diri.” Tetapi, ada juga penulis yang hanya mau menulis sekali dan merasa karyanya itu masterpiece. Contohnya adalah E.M. Foster yang menulis A Passage to India. Setelah menulis itu, dia berhenti.

Karya-karya Anda banyak mengandung lanturan (digresi) berupa loncatan-loncatan pemikiran dari persoalan pokok yang justru memperkuat tema utama yang ingin disampaikan. Tapi teknik ini tak selalu berhasil dilakukan penulis lain. Bagaimana caranya agar lanturan itu tetap dalam kontrol penulis?

Prinsipnya kalau semua lanturan itu diurut kembali, maka semuanya harus relevan dengan tema utama. Setiap penulis saya kira tahu kapan tema lanturannya mulai tidak relevan. Ketika itu terjadi ia harus stop. Tapi sepanjang masih relevan, lakukan saja.

Hollywood semakin sering membuat film dari novel Jane Austen. Yang terakhir adalah Pride & Prejudice. Bagaimana Anda sebagai pakar Austen melihat hal ini?

Karya-karya Austen itu selalu mengejek orang-orang snob. Pada jaman dia menulis, yang disindirnya adalah bangsawan-bangsawan kecil kelas kampung. Ada juga istri-istri bangsawan atau pejabat yang tiba-tiba menjadi penyair atau pembaca puisi. Ini jenis snobisme yang juga ada di Indonesia sampai sekarang, juga di banyak masyarakat.

Jika harus diringkas, siapa tiga sastrawan yang paling banyak mempengaruhi Anda?

Pertama tetap Chekov dan Tolstoy. Kedua, penulis Yahudi (Isaac Bashevis) Singer yang pernah menerima Nobel Sastra (1978). Karya- karyanya sangat dalam. Lalu Albert Camus.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo