Armageddon: Relegiusitas Danarto Pada Pertunjukan Teater

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Lampu menyala di panggung dengan setting batu-batu besar dan sebuah taman. Belakang terbentang kain separuh hitam dan separuh putih. Panggung pertunjukan pun dimulai, iringan musik yang digubah oleh Leo Zaini dan naskah drama yang diadaptasi oleh Okto Fajar dari salah satu cerpen karya Danarto “Armageddon” berpadu saling mengisi dan membatu menjadi satu kemasan pertunjukan teater. Di awali dengan adegan pencarian seorang Ibu mencari pada anak gadisnya yang sudah lima malam tidak pulang. Tokoh Ibu yang diperankan oleh Ade Diana Afrianti, sedangkan Gadis diperankan oleh Caulina Dike Virginis Sholiha.

Ibu tersebut khawatir terhadap anak gadisnya. Tiba-tiba muncul mahluk yang bernama Bekakraan yang diperankan oleh Erza Sahrul Mubarok. Ibu yang gelisah, kehilangan anak gadisnya didekati oleh Bekakra-an dengan membisikkan kalimat “aku adalah mahluk suci yang menemani setiap kesepian”. Ibu tersebut pun berbincang-bincang dengan Bekakraan yang selalu memainkan tubuhnya dengan dinamis, mengerakkan tangannya, kepalanya, meloncat dari batu ke batu, lahan berlahan membisikkan kebusukan sikap pada Ibu yang mencari anak gadisnya.

Tak disangka, anak gadisnya pun pulang dengan tubuh telanjang. Senyum sumringah, membelai-belai rambutnya, tubuhnya, wajah bahagia nampak pada gadis tersebut. Ibu gadis pun mengintograsi anaknya, ke mana perginya dengan waktu lima malam yang membuatnya resah. Anak gadisnya tak menjawab, ia ingin merahasiakan. Tetapi mahluk yang serbah hitam yang bernama Bekakraan sepertinya memiliki mata di mana-mana. Perbuatan anak gadis tersebut pun terbongkar. Hingga berujung dengan jawaban, bahwa kepergiannya selama lima malam ditemani Boneka.

Tentu saja Ibunya naik pitam. Sebab Boneka adalah kekasih Ibunya. Anak gadinya tidak tahu menahu, bahwa Boneka adalah kekasih Ibunya. Anak gadisnya pun meminta ma’af pada Ibunya atas ketidak tahuannya. Ibunya pun luluh dengan permintaan ma’af anaknya. Tetapi, Bekakara-an mahluk yang serba hitam melancarkan propaganda pada Ibu tersebut, dengan kesaktiannya Bekakaraan memutar waktu menampilkan kembali adegan percintaan yang dilakukan anak gadis tersebut dengan Boneka.

Tirai yang diwakili lampu membedakan ruang masa, di mana anak gadisnya terlihat sedang bercinta dengan Boneka. Tokoh Boneka yang diperankan oleh Nanang Syaiful Rohman dan Tokoh Gadis II yang diperankan oleh Januari Krintianti. Dengan alunan musik mereka menari dan membentuk simbol-simbol adegan percintaan yang bergairah. Gerak tari yang lembut dan sedikit erotis menjadi adegan bayangan Gadis dan Boneka bercinta yang dibuka waktu masanya oleh Bekakra-an.

Sepontan Ibu tersebut kembali naik pitam, anak gadisnya diikat. Sambil membawa kapak, lalu dipotong kedua tanggannya. Darah mengalir di batu tempat anaknya diikat. Anak gadinya terjatuh. Anak gadisnya pun menangis, memohon ma’af pada Ibunya. Bekakraan tetap saja memompa sikap kemarahan yang telah turun, menjadi naik kembali. Masih tetap saja dengan ulahnya yang banyak tinggkah. Akhirnya Ibu tersebut memotong leher anaknya, hingga terpisah antara kepala dan tubuhnya. Bekakraan pun tertawa dengan kemenanggannya. Akhirnya kapak tersebut juga menimpah tubuh Bekakraan, kahirnya bekakra-an pun ikut mati.

Gedung J9 Universitas Negeri Malang yang penuh dengan penonton persembahan dari Teater Pelangi Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Indonesia pun berakhir. Dialog-dialog liris dari tokoh Ibu dan Gadis, gerak karikatural dari tokoh bekaraan dan gerak tari teatral yang diperagakan oleh Boneka dan Gadis usai. Penonton yang menyaksikan adegan demi adegan bertepuk tangan.

Secara utuh pertunjukan “Armageddon” yang diadaptasi oleh Okto Fajar Syafari dapat ditangkap pesannya. Jika kita melihat karya cerpen tersebut yang ditulis oleh Danarto memiliki pesan relegius. Pesan yang disampaikan oleh Tuhan lewat ayat sucinya “Bahwa kerusakan alam ini karena ulah manusia sendiri”. Kita dapat mengamati akhir-akhir ini, moralitas kemanusiaan mulai luntur, keseimbangan alam juga goyang. Seorang anak yang berani melawan orang tuanya, orang-orang tua yang membunuh anak-anaknya sendiri. Bahwa dunia ini akan berakhir dengan tanda-tanda yang kian waktu menyapa pada keseharian kita. Dunia yang tak seimbang lagi, dunia yang njomplang akibat ulah manusia yang tak patuh pada hukum-hukum alam (kausalitas Tuhan).

Bekakra-an sebagai simbol nafsu angkara; manusia yang suka bertingkah polah, akan nangkring dalam hidup kita. Jika diri kita tidak pernah merenung dan menggali dasar kebertuhanan kita. Mentaati suara-suara Tuhan yang telah tertanam dalam diri kita, ketika ditiupkan roh pada kita dan akhirnya kita hidup menjadi manusia. Jalan kebebasan telah kita punyai, kebebasan berkehendak. Kehendak pada kebaikan atau kehendak pada keburukan. Tuhan telah membebaskan kita, tapi kebebasan kita kadang salah jalan. Yakni kebebasan pada jalan keburukan yang kita tempuh dan jalan kebebasana ke arah Tuhan tertutup. Begitulah manusia makan akan tertimpah akibatnya, ketakseimbangan kemanusiaan dan alam.

Tetapi banyak cela yang menjadi catatan pada pertunjukan “Armageddon” tersebut. Keaktoran yang belum tergarap sepenuhnya sehingga pada tengah jalan pertunjukan ada titik jenuh akibat dialog liris yang tidak sampai. Kesan natural yang tidak nampak dari dialog-dialog tersebut yang menjadi sebab, tetapi tertolong dengan gerak karikatural tokoh Bekakra-an dan menjadikan pertunjukan dapat sedikit mengelitik. Selain itu, dramatik juga tidak terbangun dengan baik, panggung juga belum terkelola dengan maksimal, gerak-gerak tanpa ada motif terjadi.

Dengan berbagai catatan cela, pertunjukan Teater Pelangi Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia “Armageddon” yang dilaksanakan dua kali yakni pada tanggal 23 & 24 Pebruari 2011 bertempat di Gedung J9 Universitas Negeri Malang, sukses dengan penonton yang berhimpitan saat menyaksikan pertunjukan tersebut, di tengah-tengah tontonan-tontonan populer yang tidak memiliki nilai education.

*Anggota Teater Sampar Indonesia Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang

Komentar