Langsung ke konten utama

Mengenang Sanento Yuliman

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 23 Jan 2010

Siapakah, dengan jari-jari selembut bisikan
Mengorakkan bunga demi bunga, kuncup demi kuncup, dan pelahan
Mengangkat kita dari bawah dunia, untuk melihat cahaya pertama
Dan mendengar kokok ayam, berulang-ulang memanggil kita
Dari atas bukit?

LIMA larik puisi tersebut dipetik dari puisi “Laut”, karya penyair sekaligus kritikus seni rupa kenamaan dari Kota Bandung, Sanento Yuliman. Empat larik puisi di atas dipetik dari bait pertama bagian keempat. “Laut” merupakan puisi monumental karya Sanento Yuliman, yang ditulis sepanjang lima bagian. Masing-masing bagian ditulis dengan larik-larik dan kalimat yang panjang. Puisi tersebut dimuat dalam antologi “Laut Biru Langit Biru” (ed. Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, 1977). Puisi yang kaya dengan nilai-nilai psikologis, sosial, dan politik ini, mendapat pujian dari majalah sastra Horison pada 1967, sedangkan esainya, “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”, memperoleh hadiah sastra dari majalah yang sama pada 1968. Sejumlah puisi lainnya, dimuat dalam “Tonggak 3″ (ed. Linus Suryadi AG, Gramedia 1987), selain itu pernah pula sejumlah puisi yang ditulisnya dimuat pada HU Pikiran Rakyat.

“Lewat puisi ’Laut’ saya ingin membongkar sisi gelap kehidupan manusia dari berbagai sisi. Hanya dengan menyadari bahwa kegelapan adalah bagian yang harus ditaklukkan di dalam diri manusia, maka manusia akan mendapatkan pencerahan spiritual. Filsuf eksistensialisme asal Prancis, Jean Paul Sartre bilang, loncatlah dalam gelap agar kita tahu apa dan bagaimana diri kita saat ini. Tentu saja puisi yang saya tulis tidak hanya digali dari pikiran yang demikian, sepenuhnya digali dari berbagai pengalaman yang cukup pahit dalam hidup saya,” begitu kata Sanento Yuliman dalam percakapannya dengan penulis, pada awal Juli 1992, di Studio Jeihan, Jln. Padasuka Bandung. Pada saat itu, hadir antara lain Mamannoor, Herry Dim, Diro Aritonang, Juniarso Ridwan, dan Beni R. Budiman, dan sejumlah penyair lainnya.

Saat itu, Sanento Yuliman hadir di Studio Jeihan antara lain atas kesiapan dirinya menjadi dewan pembina atau semacam Dewan Penasihat Forum Sastra Bandung ,yang akta pendiriannya secara resmi didirikan pada 12 Juli 1992 di Notaris Obing C. Adikusumah S.H. Sungguh tidak diduga, pada 14 Juli 1992, tersiar kabar Sanento Yuliman meninggal dunia. Sehari sebelumnya, kata Herry Dim, ia masih jalan-jalan dengan pelukis Mamannoor dan dirinya, menghubungi sejumlah pelukis di Bandung untuk projek penulisan buku seni rupa Bandung. Buku yang direncanakan itu, sayangnya hingga kini tidak terwujud. Pelukis Mamannoor di kemudian hari, menyusul Sanento Yuliman ke alam keabadian, dipanggil Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan meninggalnya Mamannoor pada satu sisi, sebagaimana meninggalnya Sanento Yuliman, Kota Bandung kehilangan pengamat seni rupa yang tekun mencatat sejarah, tidak hanya tertuju pada apa dan bagaimana gerak seni rupa itu sendiri. Akan tetapi juga pada denyut kesenian lainnya, yang satu melengkapi yang lainnya. Data semacam ini menjadi penting untuk dicatat kembali, agar kita tidak lupa pada gerak sejarah yang di dalamnya ada kelokan-kelokan kecil, bukan hanya arus besar.

Sekali pun Sanento Yuliman lahir di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 14 Juli 1941, dia sangat mencintai Kota Bandung. Pada 1968, ia menyelesaikan pendidikan di Departemen Seni Rupa ITB. Pada 1976, ia berangkat ke Prancis, memperdalam ilmu seni rupa di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris. Gelar doktor diraihnya pada 1981 dengan disertasi berjudul “Genese de fa Feintura Indonesienne Contemporaire de S Sudjojono”. Sanento pada sisi yang lain, teman akrab penyair Wing Kardjo, yang juga memperdalam ilmunya di Prancis. Wing pun kini sudah tiada. Keduanya dalam dunia kepenyairan di Kota Bandung khususnya dan di Indonesia pada umumnya memiliki ciri yang khas, mandiri, dan penganut gerakan puisi simbolisme Prancis.

Sekali lagi, meskipun Sanento pernah belajar melukis di Departemen Seni Rupa ITB, rupanya perhatian dia lebih tertuju kepada dunia tulis menulis, khususnya menulis kritik seni rupa. Setelah meninggal dunia, Jurnal Kalam menebitkan antologi kritik seni rupa, yang ditulis oleh Sanento Yuliman di majalah Tempo dengan judul “Dua Seni Rpa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman” (Kalam, 2001). Buku tersebut dijadikan rujukan oleh sejumlah kritikus seni rupa, yang dengan pikiran yang jernih, serta luasnya wawasan Sanento membongkar apa dan bagaimana seni rupa Indonesia dalam arus globalisasi. Selain itu, tentu saja Sanento juga banyak menulis kritik teater di HU Pikiran Rakyat dan tulisan-tulisan lainnya pada zaman Suyatna Anirun menjadi redakturnya.

Pelukis Jeihan Sukmantoro berpendapat, kritik seni rupa yang ditulis Sanento Yuliman tidak hanya bicara soal teknis apa dan bagaimana sang pelukis menggarap bidang-bidang lukisannya di atas kanvas dengan sapuan kuas dan palet, tetapi mampu mengungkap nilai-nilai kejiwaan macam apa saja yang terkandung di dalam lukisan yang tengah dikritiknya itu. “Untuk itu, tulisannya terasa hidup, karena si pembaca diberi wawasan yang cukup luas,” ujar Jeihan, yang mengaku dirinya banyak mendapatkan pelajaran dari Sanento Yuliman.

Mendiang Suyatna Anirun pun pernah pula berpendapat semacam itu bahwa tulisan Sanento tentang teater yang dimuat di HU Pikiran Rakyat atau tulisan-tulisan lainnya tentang seni dan budaya, selalu memberikan pencerahan kepada para pembacanya. “Lihat saja puisi ’Laut’ yang ditulisnya, kaya dengan referensi. Kita dibuat berpikir, selain kaya dengan gaya ungkap. Puisi Sanento seperti ’Laut’ itu, memberikan warna baru pada zamannya. Sayang, hingga Sanento Yuliman meninggal dunia belum terbit kumpulan puisi tunggal yang ditulisnya,” kata Suyatna Anirun, yang pada saat itu, kembali bekerja di HU Pikiran Rakyat, setelah sebelumnya sempat ditugaskan pada HU Bandung Pos dan Mitra Desa. Sebelum itu, Suyatna menjadi Redaktur Opini di HU Pikiran Rakyat. Kini, seperti juga Sanento, Suyatna Anirun pun sudah tiada pula di muka bumi. Ia dipanggil Yang Maha Kuasa ke alam keabadian.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/mengenang-sanento-yuliman.html

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com