Langsung ke konten utama

Idealisme dalam Berkesenian

Syaiful Irba Tanpaka *
Lampung Post, 24 Agus 2008

SPIRITUALITAS berkesenian menjadi barang langka. Sama langkanya dengan harimau sumatera. Sseniman kita lebih banyak tidur dan bermimpi.

Beberapa catatan menarik tentang dunia kesenian di Lampung saya dapatkan setelah membaca Lampung Post. Ari Pahala Hutabarat menulis kurangnya kesadaran seniman mendudukkan karya seni pada pondasi rasionalitas (Teater dan Usaha Menjadi Rasional, 27-7); Iswadi Pratama yang mengungkapkan masih banyak seniman yang malas dan takut menekuni kesenian secara mati-matian karena tidak menjanjikan masa depan (Kesenian di Lampung; Rasional, Spiritual atau Libidinal, 3-8); dan Isbedy Stiawan Z.S. yang menyatakan pentingnya spirit berkesenian untuk mempertahankan eksistensi kesenian (Bangun Spiritual Berkesenian?, 10-8).

Berangkat dari tiga tulisan itu, saya pun ingin turut memberikan iuran pemikiran seputar kehidupan kesenian kita di Lampung.

Perihal Idealisme dan Profesionalisme

Ini hal mendasar bagi kehidupan dunia kesenian di Lampung. Banyak seniman tidak memiliki idealisme dalam menekuni kesenian sehingga karya-karya yang dihasilkan adalah karya-karya yang tidak ideal. Karya-karya amatiran yang dibuat (seringkali) secara instan berdasarkan even-even plat merah (pemerintah) atau pesanan ini pesanan itu, dalam rangka ini dalam rangka itu. Sedikit yang mengasah potensi wawasan dan gagasan kreatifnya secara idealis.

Idealisme ini penting sebab, pertama, merupakan modal utama seniman memilih dan menentukan konsepsi estetik untuk diekspresikan dalam karya-karyanya sehingga dapat membedakan dengan jelas ekspresi artistik karya seniman yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana kita mencermati karya-karya lukis Affandi (abstrak) Basuki Abdullah (realis) dan Dede Eri Supria (surealis) atau karya-karya Chairil Anwar (ekspresionisme) Sapardi Djoko Damono (impresif) dan Afrizal Malna (obskurantis).

Kecenderungan konsepsi estetik ini yang kemudian dalam perjalanan sejarah estetika dunia memperkenalkan adanya estetika masa renaisans (Prancesco Petrarca, Leonardo da Vinci, Francis Bacon), estetika easionalisme kontinental (Descartes, Alexander Baumgarten), estetika masa romantik (Schopenhauer, Nietzsche) dll.

Dalam skala makro dapat kita sebutkan adanya estetika Yunani Kuno yang bertumpu pada suatu kerangka kosmosentris di mana alam menjadi sesuatu yang sakral. Sedangkan estetika abad pertengahan bersifat teologis, yang menjadi titik acuan refleksi estetis adalah Tuhan. Lalu estetika masa modern dengan kata kunci “antropos”, di mana manusia menjadi titik pusat, titik tolak, dan titik gerak.

Kedua; idealisme secara otomatis akan membangun spiritualitas berkarya. Tidak hanya kemauan dan ketekunan tapi juga semangat mengeksplorasi proses kreatifnya menuju pencapaian yang bersifat inovatif.

Bagaimana misalnya Pablo Neruda (Peraih Nobel Kesusastraan Tahun 1971) terus memperbaiki gagasan-gagasannya dalam Obras Completas yang diterbitkan tahun 1951 sebanyak 459 halaman dan di tahun 1962 menjadi 1925 halaman lalu di tahun 1968 menjadi 3.237 halaman. Seperti juga karyanya Odas Elementales (1954–1959) yang berisi pesan-pesan kemanusiaan kepada dunia. Atau Elias Canetti (Peraih Nobel Kesusastraan Tahun 1981) yang menulis novelnya Die; Blendung pada tahun 1930-1931. Tentu masih banyak yang dapat dicontohkan bagaimana seniman dunia maupun Indonesia yang tetap memiliki semangat berkarya karena idealismenya, katakanlah Putu Wijaya.

Lalu, ketiga, idealisme akan mendasari moralitas seorang seniman untuk berkarya secara orisinal. Meski dikatakan “tidak ada yang baru di muka bumi ini” tapi buat seorang seniman yang bermoral tidak akan pernah berkarya dengan berdasarkan karya orang lain. Interteks dalam batas-batas tertentu adalah suatu kewajaran namun plagitasi merupakan “kekurangajaran” yang menghancurkan struktur nilai-nilai moralitas.

Dalam seni musik, suatu karya dikatakan sebagai karya plagiat apabila terdapat kesamaan dengan karya sebelumnya sebanyak 8 bar. Dalam karya sastra, suatu karya puisi sudah dapat dikatakan sebagai karya palgiat apabila terdapat kalimat “aku ini binatang jalang/dari kumpulan terbuang” dari puisi Aku Chairil Anwar yang sangat terkenal itu bila tanpa menuliskan alasan kenapa ia memakai larik-larik sajak itu.

Alhasil, idealisme dengan ketiga unsur yang dibangunnya yakni konsep, semangat, dan moral berkarya inilah yang membuat seniman menjadi profesional. Suatu kesadaran bahwa kesenian yang digelutinya adalah sebuah profesi.

Tentang profesionalisme ini, Iswadi Pratama pernah menganalogikan dengan sangat baik ketika membedah kesenimanan Isbedy Stiawan Z.S. yang dikatakannya ibarat “nelayan” maka apatah mungkin dapat disamakan dengan seseorang yang ingin mendapatkan ikan dengan memancing di kolam pemancingan sebagai rekreasi?
***

Fenomena kesenian di Lampung yang dituturkan Iswadi sebagai keadaan “jahiliah” sangat dimungkinkan karena ketiadaan idealisme seniman. Sehingga dalam banyak even kesenian kita seringkali kebingungan mencari konsepsi estetik karya-karya yang digelar, umpamanya. Kita lebih banyak menemukan karya-karya instan yang tidak didukung pengetahuan teknis standar, wawasan budaya yang memadai serta gagasan kreatif yang bernas. Kesenian yang inginnya berakar pada nilai-nilai tradisi tapi tidak dibarengi pengetahuan dan wawasan tentang filosofis tradisi itu sendiri. Kesenian yang maunya mengangkat nilai-nilai kontemporer namun miskin perenungan tentang peristiwa politik, ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi di sekitarnya. Jadilah kesenian tanpa roh. Kesenian yang libidinal. Kesenian yang lahir dari syahwat berkreasi yang temporal.

Dalam keadaan ini maka spiritualitas berkesenian menjadi barang langka. Sama langkanya dengan harimau Sumatera. Pasalnya seniman kita lebih banyak tidur dan bermimpi. Baru satu-dua kali melukis sudah bergaya seperti Leonardo da Vinci. Baru satu-dua kali menulis puisi menganggap diri seperti Sutardji Colzum Bachri. Baru satu-dua kali bikin koreografi lagaknya kayak Boy G. Sakti. Baru satu-dua kali buat komposisi menganggap mirip Harry Roesli. Manajemen yang dipakai dalam proses kreatifnya adalah Manajemen Houdini (ilusionis kondang itu). Simsalabim!!!

Begitulah kenapa yang terhormat seniman kita enggan membedah keseniannya sampai putih tulang belulang. Tidak menjadikan keseniannya sebagai learning process. Lesu darah. Kehilangan motivasi. Pragmatis. Maunya mencari mutiara tapi takut menyelam. Maunya berburu rusa tetapi takut masuk rimba.

Terjadi kesenjangan yang begitu lebar antara keinginan dan tindakan. Paradoks! Karena itu barangkali saya tidak perlu heran ketika mendapatkan karya-karya kesenian seniman Lampung yang menyajikan ikon-ikon tradisi Lampung sebagai ornamen belaka bukan jiwa dalam karya-karya yang katanya berakar tradisi. Lampung itu.

Bagaimana, misalnya, sebagian besar koreografer kita cuma memahami gerak-gerak dasar tari Lampung tapi tidak untuk filosofis ke-Lampung-annya. Sehingga yang kita saksikan dalam LombalTari Kreasi Festival Krakatau dari tahun ke tahun adalah koreografi yang hampir seragam, begitupun musik pengiringnya. Tersebab para koreografer dan penata musiknya hanya bertumpu pada gerak-gerak dasar tari Lampung dan ragam musik Lampung bukan pada nilai-nilai filosofis kehidupan masyarakat Lampung.

Sebagai perbandingan layak dicermati bagaimana seorang Eri Mefri mengangkat nilai-nilai tadisi Sumatera Barat dalam karya-karya koreografinya. Ini cuma contoh kecil dari kemalasan seniman kita.

Begitupun di bidang sastra masih kita lihat kosa-kata kosa kata Lampung yang dipergunakan dalam sebuah puisi atau cerpen melulu sebagai tempelan tanpa memengaruhi substansi filosofis dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Dan barangkali bila kosa-kata itu diganti dengan kosa kata yang sepadan dari daerah lain maka pesan yang terkandung dalam puisi masih tetap sama.

Pasalnya para seniman kita tidak pernah membaca dan memahami secara serius adat istiadat budaya Lampung. Masih sebatas permukaan saja. Mana pula ingin melakukan penelitian yang panjang untuk kebutuhan keseniannya. Melakukannya dengan metodologi-metodologi. Rasanya hampil mustahil apa yang diharapkan Ari Pahala untuk menjadi lebih rasional.

Lantas bagaimana dengan moralitas kesenian kita? Bagi para kreator, bagaimana ia membatasi proses kreatifnya dalam koridor etis dan estetis. Norma-norma yang disepakati sebagai bingkai moral berkesenian. Bahwa plagiator itu tindakan primitif dan karenanya tidak boleh mendapat tempat dalam dunia (kreativitas) modern. Bahwa kualitas karya lebih utama ketimbang kuantitas karya (produktivitas) sehingga penggalian kreativitas harus terus menerus dilakukan. Bahwa eksplorasi ide-ide lebih penting untuk menghasilkan pencapaian kreativitas yang inovatif.

Dan bagi para aktor mengasah kemampuan lewat latihan dan membaca literatur-literatur lebih perlu ketimbang pementasan-pementasan. Sebab pementasan yang utama itu adalah latihan itu sendiri. Bahwa materi bukanlah tujuan karena yang lebih afdol ialah kebutuhan “menjadi aktor”. Ini merupakan persoalan-persoalan moral berkesenian yang harus diatasi.

Pada sisi lain terjadi kasus-kasus moral yang sempat mewarnai kesenian kita. Dewan Juri Lomba Menulis Cerita Pendek untuk pelajar yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Lampung pernah kecolongan; ternyata seorang pemenang memplagitasi karya sastrawan Hamsad Rangkuti.

Kasus moral ini mungkin bisa dimaklumi karena menyangkut seorang pemula namun tetap harus diberi peringatan keras bahwa plagiarisme merupakan cara-cara tidak bermoral dalam dunia kreatif. Juga menurut hukum dapat diberikan sanksi secara pidana.

Kasus lainnya saya temui di bidang seni tari kalau ternyata seorang koreografer di Lampung yang notabene sarjana seni tari, karya-karyanya justru memplagitasi koreografi yang dipentaskan dalam event tingkat nasional. Lalu karena minimnya wawasan dewan juri yang tidak mengikuti perkembangan tari nasional, karya-karya plagiat itupun beberapa tahun jadi juara pertama dalam event Lomba Tari Kreasi Festival Krakatau.

Sungguh dunia tari di Lampung sudah “diledek” dan “dikentuti”. Tapi kenapa orang-orang tari tidak ada yang bersuara? Tidak mengikuti perkembangan tari nasional atau enggan menggugatnya. Padahal sudah beberapa tahun terjadi. Karena itu saya menyarankan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung jika betul-betul turut serta dalam pembinaan dan pembangunan dunia kesenian di Lampung, setelah pelaksanaan Lomba Tari Kreasi diadakan diskusi publik tentang pertanggungjawaban dewan juri dan para koreografernya. Jangan apriori dan menganggap ini bukan persoalan pemerintah daerah. Bukankah pembangunan kesenian menjadi tanggungjawab kita bersama: Seniman, pemerintah, dan masyarakat?

Kita tentunya tidak mengharapkan kesenian di Lampung dicemari oleh tindakan oknum-oknum seniman yang tidak memiliki moralitas berkesenian. Kesenian kita dicederai oleh karya-karya seniman yang culas. Yang berkarya atas nama kepentingan-kepentingan sesaat. Yang penting karyanya terlihat bagus. Yang penting dapat juara. Persetan kalau sudah melakukan pelecehan kreativitas.

Sungguh suatu hal yang memperihatinkan. Yang membuat satu faktor kenapa kesenian kita kurang mendapat tempat yang layak dan senimannya begitu langka yang meraih prestasi nasional.

Maaf kalau kebetulan saya mengambil bahasan dari dunia tari. Karena dibanding cabang-cabang seni yang lain (yang telah meraih prestasi nasional secara mandiri) bahwa seni tari kita belum bisa bicara apa-apa.

Betul kita memiliki penata tari yang meraih prestasi tingkat nasional sebagai koreografer terbaik Parade Tari Daerah (alm. Edi Bastari dan Titik Nurhayati) namun itu belumlah bisa dibanggakan karena terjadi pada event plat merah bukan hasil pencapaian kreatif yang “mengharu biru” (Taufiq Ismail).

Belum ada satupun koreografer kita yang dengan karyanya mendapatkan dana hibah dari Yayasan Kelola, misalnya. Ini tolok ukur yang sederhana. Konon pula yang diundang pada perhelatan akbar semacam Pentas Koreografer Muda Indonesia atau Indonesian Dance Festival (IDF) atau Arts Summit. Belum pernah ada.

Karena itu perlu menjadi renungan kita (para koreografer khususnya) bersama. Bahwa kondisi ini merupakan sebuah keprihatinan sekaligus peluang untuk berkompetisi secara konstruktif menjadi koreografer pertama yang menembus blantika seni tari nasional secara mandiri dan profesional. Tidak gampang memang. Karena merupakan hasil proses panjang berkesenian.

Seni dan Politik

Mencermati kegelisahan Isbedy tentang hubungan seni dan politik (pemerintah) sebagai suatu kenaifan. Saya pikir bukan suatu kesalahan dan bukan dosa manakala seorang atau sekelompok (komunitas) seniman menyertakan peran pemerintah dalam memproduksi karya keseniannya. Dan peran nyata dari pemerintah itu adalah dukungan dana yang memadai. Karena memang sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mengambil peran itu.

Sebagai perwujudan dari tanggung jawabnya mengembangkan kebudayaan bangsa. Sehingga menjadi suatu kewajaran bagi seniman mengambil langkah itu sebagai bagian dari strategi manajerial dalam me-manage keseniannya.

Isbedy (mestinya) tidak perlu merasa khawatir kalau ada seniman-seniman yang memiliki kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh tertentu yang memiliki pengaruh dalam pemerintahan akan mengurangi dukungan pemerintah untuknya. Pemerintah dengan secara bijak telah mengalokasikan dana bantuan buat pembinaan dan pembangunan kesenian.

Justru kita harus merasa bangga bila pemerintah dapat mendukung seluas-luasnya setiap kegiatan kesenian dan membantu sebanyak-banyaknya seniman. Dan kita harus menerima kenyataan bahwa seniman sebagai manusia memiliki banyak karakter, motivasi dan tujuan berkeseniannya. Don’t worry be happy. Karena betapa pun juga ada hubungan yang erat antara seni dan politik. Sebuah hubungan timbal balik.

Komunikasi dialogis. Dengan mengambil setting Rusia awal abad ini Leon Trotsky mengungkapkan bahwa seni tidak pernah lepas dari kepentingan dan muatan politik. Banyak seniman yang menjalankan kreativitas seninya dalam rangka mencari kedudukan dan prestasi politis atau sekadar menyelamatkan diri dari kemungkinan malapetaka politis, dengan membuat karya yang mengagungkan para penguasa. Di sisi lain banyak juga penguasa yang meneguhkan status quo dengan mendayagunakan para seniman. Mereka, dengan janji maupun ancaman, memaksa para seniman membuat mitos-mitos tentang keagungan para pahlawan dan para petinggi negara. Dan terbukti seni sangat efektif.

Di samping persetujuan; di sisi lain karya seni juga mengandung penolakan dan bahkan pemberontakan terhadap pemerintah. Dan kita tidak bisa menghakimi keduanya. Karena keduanya diberikan tempat yang sama dalam tubuh dan jiwa demokrasi. Maka saya berharap kita dapat mengarifi kondisi ini sebagai capaian manajemen yang baik dari para seniman dalam memfungsikan peran negara.

* Syaiful Irba Tanpaka, Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung.
Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2008/08/apresiasi-idealisme-dalam-berkesenian.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo