Tokoh `Kecil’ Dalam Sejarah Besar

Ayi Jufridar *
http://blog.harian-aceh.com/

KALAU mengikuti perkembangan penerbitan buku fiksi belakangan ini, kita akan melihat begitu banyak fiksi sejarah yang beredar. Para penulis dari berbagai generasi seperti berlomba menggali harta karun sejarah berbagai tokoh, kerajaan, termasuk perjalanan masyarakat Indonesia menjadi sebuah bangsa. Tidak selamanya tokoh yang diangkat tersebut merupakan tokoh utama yang punya nama besar. Ada kalanya merupakan tokoh kecil dalam sebuah kejadian besar. Kedudukannya kecil, tapi kadang menentukan.

Salah satunya adalah Arumdalu. Buku kedua karangan Junaedi Setiyono ini memotret perjalanan hidup Raden Ayu Danti yang lebih dikenal sebagai Arumdalu. Perempuan cantik itu dipanggil Arumdalu karena kesukaannya menyuntingkan bunga itu di rambutnya. Arumdalu mungkin bukan tokoh utama dalam perjalanan sejarah pada masanya, kendati pada awal 1825 atau saat meletusnya Perang Jawa, hampir semua lelaki muda Salatiga mengenal gadis itu. Arumdalu tentu saja tidak lebih penting dari Perang Jawa, tetapi seperti yang ditulis dalam sampul buku fiksi sejarah tersebut; tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri.

Danti Arumdalu memang hanyalah setitik air dalam samudra Perang Jawa. Namun, bagi Den Mas Brata atau tokoh aku, Danti itulah perang yang sesungguhnya. Tidak ada yang lebih berharga bagi Brata selain Danti. Sejak pertama melihat perempuan itu semasa mereka masih bocah, Brata tidak pernah bisa melupakan Danti dan terus berupaya memiliki gadis ayu itu. Ketika beranjak remaja ia menyatakan cintanya kepada Danti, perempuan yang senang berpakaian serbaputih itu menjawabnya dengan senyum. Ketika Brata menegaskan kalimatnya, Danti malah tertawa. Ternyata sebelum Brata, sudah lebih dari selusin lelaki di Salatiga yang menyatakan cintanya kepada perempuan itu. Tapi tidak satu orang pun yang berhasil memikat hati Danti.

Perempuan itu menolak cinta banyak lelaki karena sudah mempunyai tambatan hati sendiri. Lelaki itu beruntung karena dicintai Danti, tetapi cinta itu juga yang menghancurtkan keluarganya hingga membuat ayahnya, Ki Abilawa, tewas dibunuh. Kecantikan Danti berubah menjadi kutukan bagi Resa dan keluarganya.

Den Mas Brata merasa kalah dalam persaingan merebut Bunga Salatiga itu. Lebih menyakitkan lagi karena yang “mengalahkannya” bukan seorang lelaki keturunan bangsawan. Resa hanyalah anak seorang tukang jagal sapi. Brata mendapatkan kepastian kabar tentang pilihan hati Danti itu dari Danar. Danar hafal betul dengan gerak tubuh dan roman adiknya ketika menyukai seseorang, juga saat membencinya (hal. 32).

Penuturan ini membuat penggambaran karakter Danar terasa lemah karena berikutnya Danar malah mengeroyok Resa setelah dipanasi Brata mengenai calon adik ipar Danar yang seorang tukang jagal sapi. Logikanya, kalau memang Danar sudah tahu lebih dulu adiknya jatuh hati kepada Resa, kenapa justru dia terlambat panas setelah mengetahui kedekatan Danti dengan Resa yang berujung kepada pengeroyokan Resa (hal. 42). Selanjutnya, Danar berjuang mati-matian menjodohkan Danti dengan Den Mas Lesmana kendati harus menyingkirkan Resa dengan berbagai cara, termasuk dengan kekerasa. Namun, motifnya menjadi lebih kuat karena Danar ingin memperkaya diri dan memperkuat pengaruhnya.

Brata tidak pernah berhasil memikat hati Danti, bahkan sampai perempuan itu menikah dengan Lesmana. Brata ikut berperan untuk menjadikan Danti sebagai istri Lesmana yang digambarkan sebagai seorang lelaki cengeng yang hidup di bawah ketiak orang tuanya. Setelah kematian Lesmana yang misterius, Brata ikut membantu Danar menjadikan Danti sebagai istri simpanan Den Mas Pringga, seorang bangsawan kaya raya dari Ngayogyakarta Hadininggrat. Ketika itu, Danti sudah tinggal di sebuah loji bergaya India yang dibeli Den Mas Pringga untuk memanjakan simpanannya.

Brata yang sudah terpuruk kehidupannya setelah kondisi politik berubah, akhirnya menjadi centeng Danti dan sejak saat itulah dia lebih dikenal sebagai Ki Brontok. Baginya, bisa berdekatan dan terus memelihara kekagumannya terhadap Danti sudah sangat menghibur setelah gagal mendapatkan perempuan itu. Sebagai pelampiasan nafsunya, sejak muda Brata sering menginap berhari-hari di Kahyangan, sebuah pusat pelacuran di Salatiga. Dia selalu mencari perempuan yang mirip dengan Danti dan membayangkan perempuan itu dalam setiap persetubuhannya.

Junaedi Setiyono mengisahkan kehidupan di Jawa dalam kurun 1811 – 1830 dengan begitu bersinar dalam setiap rangkaian kalimatnya. Penulis yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo ini menghindari penggunaan diksi kontemporer sehingga suasana pada masa lalu sangat kental terasa, termasuk dalam penggambaran waktu dari pagi sampai pagi lagi. Untuk semua istilah yang tidak lazim baik dalam bahasa Jawa maupun Belanda, Junaedi menyediakan glosarium di halaman belakang sehingga pembaca mendapatkan pengetahuan baru menyangkut berbagai istilah dalam kedua bahasa tersebut.

Sayangnya, ada beberapa istilah yang tidak lazim terdengar tidak terlihat dalam glosarium, entah sebuah kealpaan atau memang penulisnya menganggap istilah tersebut sudah familiar bagi pembaca. Namun, terlepas dari itu, pilihan kata yang sesuai dengan zamannya menjadi salah satu kekuatan novel ini. Junaedi yang karya pertamanya, Glonggong, masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2008, mengisahkan Arumdalu seolah ia hidup dalam masa itu, kendati kisah dituturkan melalui dari sudut pandang Ki Brontok.

Entah karena sudah menjadi ciri khas, dalam Arumdalu penulisnya sangat banyak memulai kalimat dengan kata sambung “dan”. Beberapa di antaranya seharusnya tidak dimulai dengan kata itu sehingga terlihat sebagai pembuka kalimat yang tidak mengandung banyak arti. Jika kata itu dihilangkan, malah kalimatnya terasa lebih bersinar. Bayangkan, sampai halaman 73 saja, sedikitnya terdapat 48 kata “dan” di awal kalimat. Artinya, dalam dua halaman minimal terdapat satu kalimat yang dimulai dengan kata “dan”. Ini belum termasuk “dan” yang terletak di tengah kalimat. Dalam sebuah paragraf yang tidak terlalu panjang, bisa terdapat lima “dan” baik di awal maupun di tengah kalimat.

Hal ini semakin mengganggu ketika sejumlah tokoh di dalamnya juga mengawali kalimatnya dengan kata sambung itu sehingga mengesankan penulisnya tidak mengoptimalkan kekayaan kata yang dimilikinya. Tanpa kata sambung itu pun tidak akan mengubah arti dan tidak mengurangi urgensi pesan yang ingin disampaikan.

Di luar kisah Danti, dalam Arumdalu kita juga merasakan suasana embrio perjuangan melawan penjajahan Belanda. Pembaca ikut merasakan kegagalan demi kegagalan mengusir kaum penjajah karena semangat perlawanan belum menjadi sebuah kekuatan yang terintegrasi. Perlawanan masih terkotak-kotak sehingga begitu mudah dipatahkan, selain masih banyak kalangan priayi yang tidak mendukung perlawanan tersebut karena sudah nyaman menjadi kaki tangan kaum penjajah. Alih-alih dianggap sebagai pahlawan, para pejuangh tersebut justru diberi predikat sebagai pemberontak yang membuat kekacauan demi kekacauan. []

Data Buku:
JUDUL : ARUMDALU
PENULIS : JUNAEDI SETOYONO
PENERBIT : PT SERAMBI ILMU SEMESTA
TEBAL : 378 hal.
CETAKAN : PERTAMA, MEI 2010
ISBN : 978-979-024-210-4
*) Peresensi adalah jurnalis dan penikmat sastra. Tinggal di Lhokseumawe.
Sumber: http://blog.harian-aceh.com/tokoh-kecil%E2%80%99-dalam-sejarah-besar.jsp

Komentar