Memaknai Perang Kata Dalam Prosa

:Sebuah Catatan dari Pelangi Sastra Malang [On Stage] #8
Yesi Devisa*
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang muncul dalam benak Anda jika mendengar kalimat “Perang Kata dalam Prosa”? aneh memang. Sesuatu hal yang seakan tidak pernah dibicarakan bahkan dilangsungkan. Prosa yang rata-rata berisi lebih dari kurang lebih 500 kata dibacakan dengan ekspresi dan penghayatan dalam satu forum pertemuan. Tapi, bukankah di dunia ini tidak ada lagi yang mustahil?

Acara unik itulah yang digelar Pelangi Sastra Malang bekerja sama dengan UKMP Universitas Negeri Malang yang dikemas dengan judul “Malang On Stage #8 ;Words War II: Perang Kata dalam Prosa”. Acara yang dirancang dengan sederhana ini (karena prediksi awal memperkirakan acara ini kurang menarik) ternyata terhelat begitu meriah. Berduyun-duyun, para penggiat komunitas sastra mengikuti perang ini dengan menjagokan punggawa-punggawa mereka masing-masing. Terlihat disana ada komunitas Lembah Ibarat, FLP Ranting UM, Komunitas Fiksi Mini Malang, Penggiat Teater Ego UB, Komunitas Tinta Langit, saudara-saudara dari LP3I, teman-teman dari SAMIN, juga dari UKMP dan Pelangi Sastra Malang tentunya, serta teman-teman penggila sastra yang tak bisa tersebutkan secara rinci. Satu-persatu dari mereka turut menyumbangkan ratusan kata untuk dijadikan “alat tempur” dalam acara tersebut.

Pembacaan prosa diawali oleh pertunjukkan Denny Mizhar dengan “Metamorfosis Sepatu Lubang”-nya yang atraktif. Sebuah awal yang memukau. Prosa dibawakan dengan memasukkan seni gerak tubuh. Penampilan pertama mampu menjadikan gazebo riuh akan sorak sorai kepuasan. Setelah itu acara pembacaan prosa disambung oleh teman-teman dari komunitas lain. Ada Kupu-kupu karya A. Aziz Rasyid yang dibacakan oleh Asrina, Mawar di Tiang Gantungan Karya Agus Noor yang dibawakan secara rombongan oleh teater HAMPA UM, Bulu Mata oleh seorang kawan dari LP3I, Jibril dan Aku karya Pringadi Abdi Surya dan masih banyak lagi. Suguhan prosa terakhir (Saya tidak tahu pasti, apakah ini bisa disebut prosa) dibawakan oleh rombongan kawan-kawan dari SAMIN yang secara berurutan membuat alur cerita dari inbok handphone masing-masing. Unik dan menggelitik.

Prosa paling singkat yang dibacakan adalah jenis fiksi mini. Kurang lebih terdiri dari 25 kata saja. Meski begitu, fiksi mini mampu menjelaskan peristiwa di dalamnya. Beberapa fiksi mini yang dibacakan kurang lebih berbunyi; Dosa pertama di sorga adalah ketika istriku membunuh bidadari yang melayaniku; Ibu guru segera menyuruhku keluar ketika aku menaruh sebuah apel merah di mejanya. Kupikir mungkin dia dulu Putri Salju; MADE IN INDONESIA, hingga seluruh urat di tubuhnya bermotifkan batik. Singkat. Tapi mampu dipahami maksudnya.

Dalam proses yang sebenarnya, tidak hanya terjadi perang prosa saja dalam acara ini, tapi juga tersirat perang batin para pembaca dan pendengar prosa (karena prosa dibacakan). Ada pesan yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi kita semua di sini. Pesan yang hanya mampu disimpul melalui kepekaan kita masing-masing.

Pak Amri, salah seorang dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang yang didaulat sebagai sesepuh pemberi petuah di akhir acara ini, menggambarkan bahwa mengikuti jalannya acara ini seperti mengikuti pementasan wayang di masa kecil beliau dulu. Meski di awal banyak penonton antusias yang berteriak-teriak keasyikan, namun jalan menuju akhir acara adalah kendali Dalang. Dalang adalah pembawa cerita yang pemegang kendali atas jalannya acara. Ketika penonton telah terbuai oleh cerita hingga merasa puas, berarti Dalang adalah orang yang telah berhasil dalam menyuguhkan pementasan wayang tersebut. Namun, jika penonton telah meninggalkan tempat sebelum acara selesai, maka Dalang telah gagal.

Penggambaran seorang Dalang dalam pementasan wayang ditujukan tentunya kepada pembaca teks prosa. Kepekaan seorang pembaca prosa diuji di sini. Dalam bahasa ringan yang diutarakan Pak Amri, kurang lebih berbunyi seperti ini; ketika kita didaulat untuk membawakan suatu pertunjukkan di depan orang lain, maka pertunjukkan itu bukan ditujukan untuk kepuasan diri kita melainkan untuk penonton”. Apalagi, acara yang diadakan malam itu merupakan acara pembacaaan prosa yang bahan bacaannya minimal satu halaman kuarto. Hmm…kata-kata Pak Amri bukan untuk dipertimbangkan lagi, tapi sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap penulis prosa yang menjadikan karyanya sebagai pertunjukan (dibacakan).

*Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang.

Komentar