Langsung ke konten utama

Peluru Olyrinson

Agus Sri Danardana *
Riau Pos, 1 Mei 2011

PELURU? Ya, betul. Empat belas barang tajam Olyrinson (baca: cerpen) telah keluar dari patrunnya, menyatu dalam Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011). Ibarat peluru, kini cerpen-cerpen itu siap dilepaskan kembali untuk meneror pembaca.

Betapa tidak? Di samping hampir semuanya pernah memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen (dari 14 cerpen, hanya 3 cerpen yang tidak memenangi lomba), oleh banyak pihak, cerpen-cerpen Olyrinson itu diakui memiliki sentuhan humanisme yang menusuk hati. Abel Tasman, misalnya, mengaku tidak kuasa membendung air matanya setelah membaca “Rembulan Tengah Hari” dan “Menjual Trenggiling”. Begitu pun Maman S. Mahayana, “Cerpen ‘Emak’ dan ‘Menjual Trenggiling’ menunjukkan kepiawian Olyrinson dalam memasuki dunia anak-anak. Maka kita dihanyutkan oleh kisahan yang sungguh menggores sentimen kemanusiaan kita,” tulisnya di sampul belakang antologi itu.

Olyrinson dan Karya Sastranya

Oly, demikian ia biasa dipanggil, mulai menulis (cerpen) sejak masih duduk di kelas dua SMA. Saat itu, cerpen-cerpennya dimuat di beberapa majalah remaja, seperti Aneka, Anita Cemerlang, Hai, dan Gadis. Ia semakin tunak menulis saat di bangku kuliah. Ia kerap memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen. Barangkali hal inilah (terlampau sering mengikuti lomba) yang menyebabkan sarjana ekonomi itu mendapat gelar dari teman-temannya sebagai “penulis lomba”.

Oly mendalami dunia sastra secara otodidak, tidak melalui pendidikan formal, kecuali pada 2004 ia pernah mengikuti workshop penulisan cerpen yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (bekerjasama dengan Creative Writing Institute [CWI]) di Jakarta. Dalam berkarya Oly mengaku banyak terinspirasi oleh Jhon Steinbeck. Ia lebih sering mengangkat topik tentang kemanusiaan dan kehidupan nyata di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam proses kreatifnya, tanpa disengaja Oly mencirikan dirinya sebagai penulis yang cenderung beraliran realis.

Berbeda dengan sastrawan lain, yang menulis ketika telah mendapatkan inspirasi, Oly malah sebaliknya. Ia menulis setelah menjemput inspirasi itu. Jadi, ketika ia merasa harus menulis, Oly akan membenamkan dirinya di depan komputer, lalu menghabiskan sepanjang harinya untuk menulis sampai tulisan yang diharapkannya selesai. Biasanya, hal itu dilakukan jika Oly akan mengikutkan karyanya untuk sebuah lomba/sayembara.

Sebutir Peluru dalam Buku adalah antologi cerpen tunggal Oly yang perdana. Sembilan cerpen yang termuat di dalamnya adalah cerpen Oly yang terhimpun dalam beberapa antologi cerpen bersama, seperti Rembulan Tengah Hari (2004): “Rembulan Tengah Hari”; Pertemuan dalam Pipa (2004): “Emak”, “Sandy Clay”, dan “Menjual Trenggiling”; Dari Zefir sampai Fujiyama (2004): “Konvoi”, La Runduma (2005): “Sebutir Peluru dalam Buku”; Tafsir Luka (2005): “Terompet Tahun Baru”; Keranda Jenazah Ayah (2007): “Keranda Jenazah Abah”; serta Pipa Air Mata (2008): “Jalan sumur Mati”. Sementara itu, lima cerpen lainnya tersebar di media cetak, seperti Riau Pos: “Menunggu Ayah Pulang Ninja” dan “Robohkan Pagar Itu, Datuk” serta di panitia lomba, seperti Krakatau Award 2005 (Dewan Kesenian Lampung): “Bulan Ngapapekon”, Dewan Kesenian Riau: “Malam Lebaran di Field”, serta Majalah Femina: “Wiwiah Beterbangan”. Cerpen-cerpen Oly lainnya dapat ditemukan dalam antologi Magi dari Timur (2004) dan Kolase Hujan (2009).

Di samping menulis cerpen, Oly juga menulis novel. Setidaknya telah lima novel ditulis Oly, yakni Sinambela Dua Digit (Yayasan Pusaka Riau, 2003), Gadis Kunang-kunang (Zikrul Remaja, Jakarta, 2005), Jembatan (Gurindam Press, 2006), Air Mata Bulan (Gurindam Press, 2005), dan Langit Kelabu (Gurindam Press, 2007). Konon, ketiga novel yang disebut terakhir itu, masing-masing, menjadi nomine pada Ganti Award 2005, 2006, dan 2007. Kini, bersama Marhalim Zaini, Budy Utamy, dan Hary B Kori’un, Oly aktif membina penulis-penulis muda di Sekolah Menulis Paragraf.

Sebutir Peluru dalam Buku

Sebagai sebuah antologi (apalagi yang perdana), patut diduga Sebutir Peluru dalam Buku (SPdB) berisi karya (cerpen) yang benar-benar pilihan. Artinya, ke-14 cerpen dalam SPDB tentu merupakan cerpen-cerpen yang telah dipilih Oly (dengan kriteria tertentu) sehingga menyisihkan cerpen-cerpennya yang lain. Jika dugaan itu benar, pertanyaan yang muncul kemudian adalah kriteria seperti apakah yang digunakan Oly dalam memilih cerpen-cerpennya itu serta mengapa SPdB diterbitkan?

Meskipun tidak dikhususkan untuk menjawab pertanyaan itu, dalam pengantarnya, Oly sebenarnya telah memberi keterangan sebagai berikut.

Kumpulan cerpen ini adalah hampir seluruhnya realita. Apa yang saya lihat, yang saya rasakan, yang saya pernah menangis karena memikirkannya, maka itu saya tulis. Karena begitu banyak kesusahan, kesengsaraan, air mata yang tumpah di negeri yang sangat saya cintai ini.

Melalui kumpulan cerpen ini, saya mencoba memaparkan realita itu, yang siapa tahu dengan membaca ini kita jadi sadar bahwa di belahan dunia yang selama ini dikenal dengan negeri kaya-raya, ada pedih yang begitu menyakitkan, yang selama ini terlupakan, terluputkan, dan terdiam-diamkan … (SPdB, 2011:v)

Begitulah, rupanya SPdB merupakan rekaman Oly atas realitas pedih yang ia lihat dan rasakan terjadi di negeri ini. Oleh karena itu, Oly pun berharap SPdB dapat menyadarkan kita (pembaca) atas realitas yang sering terlupakan itu. Benarkah demikian? Mari kita coba mengapresiasinya.

Dilihat dari latar ceritanya, peristiwa yang tergambar dalam sebagian besar cerpen (12 cerpen) Oly dalam SPdB berlangsung di daerah Riau. Hanya 2 cerpen yang berlatar di luar daerah Riau, yakni di Aceh (“Sebutir Peluru dalam Buku”) dan di Lampung (“Bulan Ngapapekon”). Yang menarik mengapa justru “Sebutir Peluru dalam Buku” yang diangkat sebagai judul antologi?

Entah disengaja atau tidak disengaja, judul antologi ini memang mengingatkan kita pada peristiwa hangat yang sedang merebak: bom buku. Barangkali justru di sinilah letak salah satu keunikan SPdB. Sebagai produk yang diproyeksikan mampu menembus pasar nasional (oleh Palagan Press, SPdB secara resmi didaftarkan ke distributor PT Buku Kita, salah satu jaringan distributor besar dan akan masuk ke hampir semua toko buku besar di Indonesia), SPdB pun secara kebetulan lahir beriringan dengan peristiwa yang menasional. Kemiripan antara bom buku dan peluru (dalam) buku, dengan demikian, adalah berkah. Diangkatnya “Sebutir Peluru dalam Buku” menjadi judul antologi, bisa jadi, dilatarbelakangi oleh keinginan menasionalkan SPdB. Betulkah? Betul, karena setelah membaca “Sebutir Peluru dalam Buku”, pembaca segera mengetahui bahwa Oly tidak hanya memotret kejadian di Riau, tetapi juga kejadian di tempat lain (dalam hal ini Aceh).

Keunikan lain (yang sekaligus menjadi kekuatan) SPdB adalah cara penyajian ceritanya. Tema-tema hidup keseharian orang-orang kecil yang tragis-realis di hampir keseluruhan cerpen dalam SPDB dikemas dalam ironi-ironi penuh kejutan. Membaca SPdB, dengan demikian, ibarat berselancar di laut bebas. Keasyikan dan kenikmatannya justru ketika gelombang tak terperikan (biasanya mengejutkan itu) datang. Dalam cerpen “Bulan Ngapapekon”, misalnya, cerita menjadi semakin menarik karena Oly mampu menghadirkan gelombang kejut itu. Andai tafsir atas bulan ngapapekon ‘bulan dilingkari awan’(yang oleh masyarakat Lampung, bulan ngapapekon diyakini sebagai pertanda bahwa akan ada orang besar meninggal) tidak “dibelokkan” Oly, mungkin cerpen itu akan menjadi hambar. Bagi kebanyakan orang (termasuk bagi si Aku, tokoh cerita), orang besar itu ya pejabat atau setidaknya orang kaya, bukan orang miskin seperti Abah (tokoh cerita yang lain).

Namun, karena yang meninggal pada saat bulan ngapapekon itu Abah, kita diberi pemahaman baru yang mengejutkan: Abahlah orang besar itu karena berani berkorban demi harkat dan martabatnya. Begitu pun cerpen “Sebutir Peluru dalam Buku”. Sepintas cerpen itu hanya berkisah tentang kekecewaan Ibrahim atas perlakuan Ibu Tati, guru SD-nya dulu, yang memberinya buku bacaan yang bolong. Ibrahim kecewa karena buku bolong itu telah memberinya julukan si Bolong, di samping membuat bacaan Ibrahim tidak sempurna. Namun, setelah mengetahui kisah buku bolong itu, Ibrahim berubah total: dari kecewa menjadi bangga. Seperti apa kisah buku bolong itu? Silakan baca sendiri.

Keironisan juga terdapat pada 12 cerpen lainnya. Ke-12 cerpen itu, yang semuanya menggambarkan ketragisan masyarakat (bawah) Riau, sesungguhnya adalah ironi itu sendiri. Bukankah sebuah ironi jika di Riau, yang konon termasuk salah satu daerah terkaya di Indonesia, masih ada warga masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sehari-hari. Gambaran warga masyarakat Riau yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sehari-hari itulah yang diangkat Oly dalam 12 cerpen itu.***

*) Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau. Tinggal di Pekanbaru.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/peluru-olyrinson.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).