Langsung ke konten utama

Kembang Matahari Perpuisian Kita

Judul : Memburu Matahari
Pengarang : A. Faruqi Munif, dkk
Editor : Eko Putra
Pengantar : Wayan Sunarta
Penerbit : Bisnis, Maret 2011
Tebal : vi + 124 halaman
Peresensi : Asarpin *
http://www.lampungpost.com/

PUISI ibarat matahari dengan teriknya yang panjang, garang, yang berbeda dengan fajar dan senja yang memancarkan cahaya singkat. Sebagai matahari, maka terdapat puisi yang abadi, yang gema dan pengaruhnya sangat panjang. Maka tak heran jika banyak yang gerah terhadap kehadiran makhluk bernama puisi, terutama mereka yang terbiasa berhadapan dengan kata-kata biasa, bukan kata-kata yang memburu, membakar, memanggang serta menghanguskan sekujur tubuh mereka hingga terkulai tak berdaya.

Puisi juga ibarat pusat gravitasi yang mampu menjadi daya penarik bagi matahari-matahari kecil di sekitarnya. Ia bisa mewujudkan dirinya sebagai sesosok cumi-cumi yang memiliki seribu tangan dan kaki untuk menangkap setiap hal yang berkelebat di sekitarnya. Ia bisa amat sangat berbahaya kendati terasa amat sangat sederhana.

Maka, kalau di zaman yang supersibuk oleh tetek-bengek perekonomian dan politik nasional dan internasional yang aneh ini masih ada penyair yang bergelut dengan perih untuk menghadirkan sesosok makhluk bernama puisi, di saat ketika sebagian besar rekan mereka memburu pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil dengan gaji yang mantap dan stabil sehingga sangat dibangga-banggakan orang tua dan kekasih mereka, lidah saya terasa kelu dan sekujur tubuh saya merinding. Bukan saja karena saya mengamini apa yang diucapkan Oktavio Paz yang dikutip Wayan Sunarta dalam pengantar buku antologi puisi Memburu Matahari (Bisnis2030, 2011) yang akan menjadi fokus pembicaraan saya kali ini, bahwa puisi adalah puncak pencapaian derita para penyair, tapi banyak hal yang tak kuasa saya lukiskan.

Terus terang, saya iri dengan kemampuan 20 penyair yang mencatatkan diri dalam buku bunga rampai ini. Bukan karena usia mereka rata-rata masih 20-an tahun telah menghasilkan sejumlah sajak yang mantap, tapi pencarian yang mereka lakukan dan kemampuan untuk menuliskannya. Tidak hanya mantap dilihat dan dirasakan dari segi larik, tapi juga irama, pilihan kata dan tema. Bahkan di antara mereka tampak memiliki bakat sebagai penyair besar untuk ukuran nasional.

Masalah usia saya kira tak perlu lagi dipersoalkan, karena matang-tidaknya sebuah sajak sama sekali tak terpaut dari segi usia. Ada penyair yang menulis puisi sangat bagus dalam usia kanak-kanak atau remaja, tapi juga bakat-bakat sebagai penyair yang tangguh sering juga muncul di usia yang dianggap tidak muda lagi. Chairil dan Sapardi serta masih banyak lagi, mampu menghasilkan puisi dahsyat dalam usia relatif muda. Dulu Ahmad Yulden Erwin memublikasikan sejumlah sajaknya dengan pengucapan filosofis yang cantik ketika masih duduk di bangku SMP. Tapi Sutardji Calzoum Bachri justru menghasilkan puisi bagus di saat usia menjelang 30, bahkan di usia 35 tahun. Kategori tua-muda juga mesti segera ditangguhkan karena ini sering menyakitkan, juga menyesatkan.

Apresiasi pertama yang mesti disampaikan di sini, dan untuk buku himpunan puisi ini, saya tujukan kepada editor yang dengan tekun dan cerdas memilih sajak yang untuk kumpulan ini. Sekalipun ada satu-dua sajak yang masih tampak goyah dan kedodoran dari banyak segi, tapi secara keseluruhan telah menunjukkan usaha yang keras untuk menghadirkan para pemburu kedalaman kata dan makna.

Bolehlah kita sedikit lega dengan perkembangan perpuisian kita saat ini, dan menaruh harapan yang besar kepada beberapa penyair di masa mendatang untuk mencatatkan dirinya sebagai virtuoso di lapangan perpuisian kita, setidaknya untuk ukuran nasional.

Memang ada sedikit kecemasan, kalau bukan kekhawatiran, yang tampaknya telah menjadi gejala umum bagi perkembangan puisi kita, yakni keseragaman bentuk pengucapan dan pilihan pada bentuk lirik yang konvensional. Tapi kekhawatiran ini bisa segera ditepis sejauh mereka jujur dan memang sungguh-sungguh bergulat, bukan sebagai pengekor atau epigon yang memalukan. Jika terdapat kemiripan satu-dua sajak dari sajak para pendahulu, hal itu sangat lumrah tejadi kepada siapa pun, dan tak usah jadi beban bagi generasi kini.

Sajak-sajak yang saya anggap sudah selesai dari urusan teknis perpiuisian, dan terasa mantap dan menggugah ruang batin saya sebagai penikmat puisi lirik, dapat disebut, di antaranya sajak Anne Frank (Ammad Subki). Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan (Dea Anugrah), Pada Sebuah Taman (Dwi S. Wibowo), Kampung Keramat, Desaku (Eko Putra), Padma Suci (Faisal Syahreza), Di Malam Purnama (Moh. Nurul Kamil), Percakapan (Muhammad Amin), Berkunjung ke Desamu (Na Lesmana), Ingatanku, Bayangan Sebuah Negeri (Pranita Dewi), Surat Dari Bandung (Zulkifli Songyanan), dan masih beberapa yang luput disebutkan.

Mungkin hanya kebetulan saja kalau sebagian besar puisi dalam buku ini yang berhasil justru ketika bicara soal matahari. Ada matahari dengan cahayanya yang kelewat panas, tapi ada yang sedang dan tak terlampau menyengat tapi bisa membuat tubuh tetap berkeringat. Ada yang terasa asing, aneh, lebai, tapi ada yang unik dan cantik menawan hati.

Kita mungkin tak terlampau betah hidup selamanya di bawah kaki langit dengan matahari yang menyilaukan dan membakar sepanjang siang, apalagi di saat berada dalam perjalanan, tapi cukup dengan matahari yang sedang, yang memancarkan cahaya yang tak kelewat garang. Kita membutuhkan keseimbangan antara malam dan siang, hangat dan dingin sehingga menyejukkan. Seperti kata salah satu penyair dalam buku ini, yang mungkin tidakditujukan kepada keseluruhan penyair yang disapanya kita, dengan kehadiran buku puisi ini, semoga kolam di langit akan tumpah malam nanti, dan kita bisa menjenguk sejuk siang hari sambil menatap kembang matahari.

Asarpin, pembaca sastra

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com