Novel Perjuangan Kemerdekaan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Perang Kemerdekaan 1945-1949 banyak diungkap oleh para sastrawan yang sering digolongkan sebagai Angkatan 45. Mereka mengungkapkan gejolak perjuangan itu sebab mereka memang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang berkisah tentang sepak terjang pejuang di sekitar Jakarta. Pramoedya Ananta Toer juga menulis Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan,dll.

Yang menarik perhatian kita justru sejumlah novel yang menggambarkan kiprah para pejuang yang ditulis oleh seorang yang sebelumnya tak dikenal sebagai sastrawan, apalagi sebagai novelis. Namun, ternyata karya-karyanya mencengangkan, bukan lantaran deskripsinya yang jelas tetapi karena pengarang ini menulis sejumlah novel yang satu dengan yang lain saling kait-berkait.

Dia adalah Pandir Kelana, seorang pelaku Perang Kemerdekaan yang meniti karier militernya sampai berpangkat Mayor Jenderal. Nama aslinya RM Slamet Danusudirdjo adalah bekas pejuang yang kemudian menerima pendidikan militer di Eropa |Barat, Negeri Belanda dan Belgia, serta di Eropa Timur di Uni Sovyet. Jabatan non militer yang pernah diembannya adalah deputy Ketua BAPPENAS, Dirjen Bea dan Cukai, anggota DPA RI, dan rektor IKJ. Bayangkan saja, IKJ yang lembaga pendidikan kesenian, dipimpin oleh seorang jenderal tapi yang seniman.

Lantaran Pandir Kelana, nama yang dipilih RM Slamet Danusudirdjo untuk merendahkan dirinya, tak dikenal sebagai sastrawan, maka ketika novel-novelnya terbit silih berganti pada tahun 1991 dan 1992, publik pembaca dibuat terperangah. Ibu Sinder (1991), Kereta ApiTerakhir (1991), Bara Bola Api (1992), Rintihan Burung Kedasih (1992), Merah Putih Golek Kencana (1992), lalu Kadarwati Wanita dengan Lima Nama.

Novel-novel tersebut berketebalan antara 210 sampai 400 halaman, yang menunjukkan pengarangnya tidak main-main.. Novel-novel jenis lain, yakni novel sejarah, juga sudah terbit, antara lain Tusuk Sanggul Pudak Wangi (berlatar tahun 1291-1630) dan Subang Zamrud Nurhayati (berlatar tahun 1620-1630).

Waktu novel-novel tersebut terbit, Pandir Kelana berusia 66 tahun dan masih merencanakan untuk menulis beberapa novel lagi yakni Huru Hara di kaki Gunung Slamet, Quo Vadis, Di Sepanjang Garis Demarkasi, dan Madiun,Madiun!

Ciri Khas
Tema Perang Kemerdekaan menjadi salah satu ciri khas novelis gaek Pandir Kelana ini. Ciri yang kedua adalah, novel-novelnya saling terkait satu sama lain.

Dalam sejumlah novelnya, untuk menambah kejelasan wilayah kisahnya, Pandir Kelana menyertakan pula peta, seperti Peta Karesidenan Pati dan sekitarnya lengkap dengan gambaran mengenai Garis Demarkasi, Serangan Belanda, Kantong Gerilya, Jalur Komunikasi Gerilya, Serangan Balas TNI ke Semarang, dan Kedudukan Belanda. Peta ini disertakan dalam novel Rintihan Burung Kedasih. Pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai gerakan para pelaku dalam novel itu bilamana novelis menyebut nama suatu tempat.

Novel Merah Putih Golek Kencana bahkan menyertakan dua buah peta, yakni, peta Pelayaran Andi Ra’uf di sekitar Riau dan Peta Wilayah Semarang.

Ciri kedua justru yang sangat jarang dilakukan oleh pengarang lain, yakni, tokoh dalam sebuah novel muncul dalam novel yang lain. Tokoh Suro Buldog muncul dalam novel Ibu Sinder, serta novel Bola Bara Api.

Tokoh Bargowo dalam Bara Bola Api muncul pula dalam Kadarwati:Wanita dengan Lima Nama dan Rintihan Burung Kedasih. Tokoh Herman dalam Kereta ApiTerakhir muncul juga dalam novel Ibu Sinder, Kadarwati, dan Rintihan Burung Kedasih.

Sejumlah novel karya Pandir Kelana sudah difilmkan atau ditelesinemakan, antara lain Suro Buldog (telesinema), Kadarwati (film).

Tema Perang Kemerdekaan sudah jarang ditulis, apalagi oleh pengarang yang lebih muda. Dari sedikit nama, tentu kita dapat menyebut Suparto Brata (lahir 27 Februari 1932), novelis yang banyak menulis kisah perjuangan dalam Bahasa Jawa, tetapi kemudian juga dalam bahasa Indonesia. Dia terkenal dengan novel perangnya antara lain Lara-lapane Kaum Republik, Kadurakan ing Kidul Dringu, juga sejumlah novelnya yang disiarkan dalam Bahasa Indonesia. Tahun 2005 ini novelnya Mencari Sarang Angin (726 halaman) diterbitkan oleh Grasindo. Ceritanya bergerak sejak masa sebelum Perang Kemerdekaan, masuk ke Masa Pendudukan jepang sampai ke Masa Perang Kemerdekaan. Rata-rata novel karya Suparto Brata, baik yang berupa novel berbahasa Jawa maupun bahasa Indonesia mempunyai ketebalan luar biasa. Novel berbahasa Jawa Dongane Wong Culika ( Doa Orang Culas) setebal 535 hal ( 35 baris per halaman) diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta tahun 2004.
Sunaryono Basuki Ks (lahir th 1941) menulis Bumi Hangus dan Budiman Benggol (cerber Republika 1995-1996).

Tahun ini pula Budiman Benggol diterbitkan oleh Mizan dengan judul baru Maling Republik. Pengarang lain tentu saja YB Mangunwijaya dengan Burung-burung Manyar.

Seorang sastrawan eksil yang juga pelukis, Kuslan Budiman (lahir tahun 1933, mantan guru Sekolah rakyat di Pacitan) melontarkan novelnya Bendera Itu Masih Berkibar ( Penerbit Suara Bebas, Mei 2005). Novel setebal 308 halaman ini terbagi dalam tiga bagian: Benderra Itu Masih Berkibar, Malam berbintang, dan Pekarangan Rumah Wedana. Seluruh novel berkisah tentang Perang Kemerdekaan dengan suka dan dukanya.

Dalam merenungkan makna Hari Kemerdekaan serta mengenang jasa para pahlawan kita, sebaiknya kita membuka-buka novel-novel dengan latar Perang Kemerdekaan dan menaruh simpati dan terimakasih pada mereka yang telah memberikan segalanya untuk kemerdekaan yang sangat berharga ini.**

*) Penulis adalah novelis, dan Guru Besar Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja.

Komentar