Langsung ke konten utama

Novel Sejarah Lamongan

Judul buku : Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama
Penulis : Viddy A.D. Daery
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai), Februari 2011
Hal : 146 halaman
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

PENERBITAN novel-novel bergenre sejarah tampaknya sedang menjadi tren belakangan ini. Jika menilik rak-rak di toko buku, banyak novel-novel sejarah, mayoritas berlatar Jawa di masa silam.

Sastrawan Viddy A.D. Daery menerbitkan novel serial Pendekar Sendang Drajat Memburu Kertagama. Setelah meneliti sejarah Sendang Duwur dan Lamongan, penulis yang sekaligus keturunan Sunan Sendang Duwur, kakek Sendang Drajat, kemudian merekonstruksinya ke dalam novel. Tentu bukan hal mudah merekonstruksi sejarah dan memberi interpretasi baru ke dalam bentuk karya sastra.

Novel yang berkisah seputar Kerajaan Majapahit abad XV dibuka dengan deskripsi tokoh Pendekar Sendang Drajat alias Raden Ahmad yang bertugas menjaga keamanan Kasunanan Drajat dan Sendang Duwur. Dia hendak menyunting Dewi mengajaknya berjalan di sekitar Pelabuhan Kemantren. Dalam tamasya itu, mereka memergoki perkelahian dua pihak yang terjadi dalam wilayah pengawasannya.

Salah satu pihak yang berkelahi ternyata rombongan pendekar dari Melayu; Tumenggung Ismail bersama empat anak buahnya. Para pendekar pengembara dari Johor itu ke tanah Jawa hendak menyepi dari kekacauaan politik di tempatnya. Selain itu, mereka hendak ke ziarah ke Candi Gajah Mada. Menurut mereka, dalam peti di Candi Gajah Mada ada buku kuno berjudul Desa Warnana atau Kertagama yang banyak diburu banyak pendekar Nusantara, seperti dari Pasai, Banjar, Bugis, dan sekitarnya.

Pangeran Sendang Drajat merasa malu karena sedikit sekali yang dia ketahui tentang Kerajaan Majapahit yang telah runtuh. Dia hanya tahu dua nama besar dari Majapahit, Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Beberapa hari setelah pernikahannya dengan Dewi, Pangeran Sendang Drajat langsung mengemban tugas. Dia hendak mengantar para tamu dari negeri jiran ke tempat yang dituju. Perjalanan mereka tak mulus. Banyak kendala dalam perjalanan, misalnya dihadang para begundal yang hendak merampas harta mereka, bertemu Ratu Buaya Jamang. Dari ratu buaya ini, para pendekar mendapat informasi tentang Kesultanan Demak yang telah berkali-kali membantu Kesultanan Johor berperang melawan Portugis.

Candi Gajah Mada berdekatan dengan makam ibunda Gajah Mada, tepatnya di atas bukit di Desa Modo. Untuk ke sana harus menempuh perjalanan sungai dan darat.

Langit Kresna Hariadi, penulis novel sejarah, dalam endosemen buku ini, belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah.

Novel ini menjadi pintu masuk untuk mengetahui sejarah Lamongan di masa silam yang terletak di sebelah utara Majapahit, dan dahulu bernama Pamotan Tuban. Sebelum memasuki cerita silat dan petualangan Raden Ahmad, pembaca buku ini juga bisa melihat sejarah singkat Kabupaten Lamongan, Kerajaan Majapahit, dan silsilah pemimpin-pemimpin kala itu.

Dengan bahasa yang komunikatif, buku ini bisa dibaca semua kalangan, terutama pelajar dan anak muda zaman sekarang yang mungkin telah abai pada sejarah bangsanya di masa silam. Novel ini menjadi jembatan untuk mengetahui sejarah tanpa harus mengerutkan dahi. Selain itu ada unsur wisata dan budaya.

Jika pembaca merasa jalan cerita novel ini terkesan berbau film atau seperti sinetron-sinetron di televisi, barangkali sesuai dengan pengalaman penulis dalam menggarap skenario.

Akhir novel ini tidak menjelaskan bagaimana ujung perjalanan Pangeran Sendang Drajat dan empat tamunya dari Malaka. Pembaca jadi penasaran mengetahui kelanjutan kisah. Sepertinya penulis sengaja menyimpan cerita dan menyiapkan akhir perjalanan Pendekar Sendang Drajat dan empat pendekar itu dalam sekuel novel selanjutnya.

Arman A.Z., pembaca sastra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).