Langsung ke konten utama

Seniman Yogyakarta Mengenang Dick Hartoko

Anang Zakaria
http://www.tempointeraktif.com/

Sejumlah seniman dan budayawan mengenang kembali almarhum Dick Hartoko, budayawan Indonesia yang meninggal dunia 10 tahun lalu, di gedung Karta Pustaka Yogyakarta, Sabtu malam, 21 Mei 2011.

Rohaniawan Katolik yang lahir pada 9 Mei 1922 itu meninggal dunia pada 1 September 2001. Semasa hidupnya, dia banyak menulis buku-buku sastra, filsafat, seni dan budaya. Dia juga dikenal sebagai redaktur majalah Basis.

Peringatan yang bertajuk "Mengenang Dick Hartoko: Guru, Budayawan, Kawan Kita (9 Mei 1922-1 September 2001)" itu dilakukan dengan cara kembali membaca tulisan-tulisan Romo Dick, demikian Dick Hartoko biasa disapa, di rubrik Tanda-Tanda Zaman pada majalah Basis. Di antara mereka yang turut membacakan tulisan itu adalah Landung Simatupang, Hairus Salim, Mahatmanto dan Ons Untoro. "Tulisannya masih cukup relevan dengan kondisi saat ini"” kata Ons Untoro.

Karya Romo Dick yang berjudul "DPR" yang dibaca Ons misalnya. Ditulis pada April 1976, tulisan itu sangat tepat menggambarkan perilaku anggota dewan yang hingga kini masih sering alpa hadir di ruang sidang. "Ketika pada tanggal 28 Februari lalu RUU APBN 1976/1977 disahkan oleh DPR, ternyata dari jumlah 460 orang anggota hanya 135 anggota hadir, walaupun daftar presensi memperlihatkan angka 284."

Tak hanya tulisannya yang tajam dan terus terang, Romo Dick juga cukup berani dalam mempertahankan prinsipnya. Ons mengenang, di tahun 1970-an acara-acara yang digelar di Karta Pustaka tak pernah melewati prosedur perijinan ke pihak kepolisian. Padahal, di masa itu penguasa Orde Baru cukup gencar mencurigai tiap kegiatan yang digelar di masyarakat. "Kalau ada yang tanya, bilang ini tanggung jawab saya," kata Ons menirukan ucapan Romo Dick kala itu.

Namun, Romo Dick tetaplah manusia biasa. Dia pun pernah didera ketakutan akibat tulisannya di rubrik Tanda-Tanda Zaman majalah Basis. Budi Sarjono, salah seorang staf redaksi di majalah Basis, ingat bahwa akibat tulisannya tentang Kedung Ombo dianggap menyinggung Orde Baru, Romo Dick pernah diinterogasi seorang intelijen kejaksaan.

"Mas Budi, tolong siapkan handuk, sabun, odol dan sikat gigi. Kayaknya saya mau ditahan," kata Romo Dick, seperti ditirukan Budi, setelah menjalani interogasi itu. Beruntung, lantaran bantuan seorang petinggi militer di Yogyakarta, Romo Dick tak jadi dibui.

Direktur Yayasan Karta Pustaka Yogyakarta, Anggi Minarni, mengatakan, persiapan acara itu digelar terburu-buru. Tak kurang dari dua pekan. Bermula dari obrolan di jejaring media sosial, akhirnya didapat kesepakatan bahwa di bulan Mei ini, hari ulang tahun Romo Dick, harus digelar acara peringatan. "Saya sampai termehek-mehek mempersiapkan," kata dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).