Silap Bahasa, Hilang Bangsa

Muhammad Subarkah
Republika, 28 Juni 2011

MESKI mampu berbahasa asing dan terdidik secara Barat, para pendiri bangsa bangga akan bahasa nasionalnya.

“Orang pintar dan pejabat kita bicara mirip kompeni!” Ungkapan kekesalan ini diucapkan seniman, pakar bahasa, dan penulis novel kondang, Remy Sylado. Dia secara terbuka mengkritik sikap angkuh sebagian elite Indonesia yang suka pamer berbicara dengan bahasa ‘Indoenglish’ atau bahasa ‘gado-gado’, gaya bertutur tentara kolonial di Zaman Belanda dulu. Campur aduk diselingi patahan kalimat asing.

Belakangan, keresahan publik makin menggelak ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono acap kali berpidato memakai bahasa Inggris sesudah lagu kebangsaan Indonesa Raya dikumandangkan. Padahal, ada aturan hukum dalam setiap acara resmi, pejabat negara harus menggunakan bahasa Indonesia. “Itu melanggar undang-undang,” kata budayawan Ajip Rosidi.

Keengganan untuk ‘bersolek dengan bahasa asing’ ini berbanding terbalik dengan apa yang dipraktikkan para pendiri bangsa ini. Proklamator Bung Hatta, misalnya, ketika berpidato dalam acara penyerahan kedaulatan pada tahun 1950 di Belanda, dengan bangga dan penuh rasa syukur memakai bahasa Indonesia dalam pidatonya. Ia tak merasa jengah menyambut pidato Ratu Juliana yang saat itu berpidato dengan bahasa Belanda.

“Saya punya rekaman filmnya saat Bung Hatta berpidato dalam acara penyerahan kedaulatan itu. Saya dapat arsip film itu dari almarhum Des Alwi,” kata penggiat budaya Fadli Zon. Dia mengatakan, tampak Hatta dengan kesadaran penuh menggunakan bahasa itu. “Sama sekali tak ada perasaan minder karena kita tahu Bung Hatta sangat menguasai bahasa asing.”

Sikap Hatta ini dapat dimengerti berkat pengalaman panjang hidupnya ketika hidup dalam penindasan kolonial. Dia paham bahasa Indonesia adalah salah satu bentuk perjuangan dan bukti eksistensi adanya sebuah bangsa yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Bahasa adalah pilar bangsa, sama dengan Pancasila dan konstitusi negara.

Untuk mencapai sosok bahasa nasional itu, jelas bukan hal mudah. Fakta sejarah menunjukkan banyak elite bangsa pada saat menjelang Sumpah Pemuda enggan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Elite priyayi Jawa, misalnya, saat itu sudah menyiapkan ‘bahasa Jawa bagongan’ sebagai satu alternatif bahasa nasional.

Yang lucu lagi, Van der Plass, selaku pengamat resmi Pemerintah Kolonial Belanda pada waktu Kongres Pemuda yang berlangsung pada 26-28 Oktober 1928, melaporkan bahwa Soegondo Djojopoespito sebagai pemimpin kongres tak mampu berbahasa Indonesia. “Pemimpin kongres, pelajat Soegondo, tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurangan otoritas. Ia mencoba untuk berbicara dengan bahasa Indonesia, tetapi tidak mampu dan membuktikan dirinya mampu melakukannnya dengan baik.”

Bukan hanya itu, dilaporkan pula, saat itu ada penolakan secara diam-diam dari beberapa peserta terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Perwakilan dari Putri Indonesia Siti Soendari pada saat kongres masih menggunakan bahasa Belanda. Dia baru dapat berpidato dengan bahasa Indonesia selang dua bulan ke depan, yakni pada Kongres Perempuan Indonesia, 22-25 Desember 1928. Itu pun harus dilakukannya dengan persiapan penuh dan bekerja ekstrakeras.

Bila ada pepatah bahasa menunjukkan bangsa, hal ini sangatlah dimengerti. Contoh ini juga dipraktikkan oleh pejabat negara asing yang lain ketika berkunjung atas nama utusan negara. Salah satunya dicontohkan menteri luar negeri Cina beberapa tahun silam ketika berkunjung ke Gedung Parlemen, Senayan. Pada saat itu, wartawan sibuk bertanya kepada dia dengan bahasa Inggris. Namun, alangkah mengagetkan saat pejabat Cina itu menjawab pertanyaan. Dia menggunakan bahasa Cina yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menteri itu enggan menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris. Dia adalah diplomat senior dan lulusan Universitas Sorbone di Prancis. Jadi, dia pasti tahu ketika ditanya dengan bahasa Inggris.

Kebanggaan akan berbahasa itulah yang sudah ditunjukkan oleh Bung Hatta dan menteri luar negeri Cina itu. Mereka sadar bahasa adalah jiwa bangsa. Bila anak bangsanya sendiri sudah silap akan bahasanya, bangsa itu pun sebenarnya sudah tak ada lagi. Mereka hanya jadi orang asing di negeri sendiri dan ini jelas menyedihkan.

“Sekarang ini ada keadaan yang buruk, di mana para pejabat dan kaum intekletual kita, apalagi kaum selebriti, bahasanya memakai bahasa ‘gado-gado’ atau bisa disebut saja dengan bahasa gaul dengan logat Jakarta. Ini jelas menunjukkan posisi intelektual mereka seperti apa sebenarnya. Mereka gemar memakai kata atau kalimat-kalimat bahasa Inggris. Padahal, itu tidak perlu, sebab ini hanya menunjukkan bahwa bahasa nasionalnya tidak mampu mewadahi ekspresi pikiran dan perasaan dia,” lanjut Ajip Rosidi.

Ajip yang lebih dua dasawarsa mengajar di berbagai universitas di Jepang menegaskan, tindakan itu jelas merendahkan bahasa Indonesia. Apalagi, bahasa Indonesia sudah terbukti dapat dipakai sebagai bahasa untuk menulis tentang ilmu apa pun juga. “Setengah abad yang lalu, pada tahun 1950-an, banyak mata pelajaran atau kuliah yang tidak bisa diberikan dengan bahasa Indonesia. Tapi, sekarang hal itu tidak perlu lagi. Mau kuliah apa pun dengan mempelajari ilmu apa pun bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia. Dari segi ekspresi seni, sekarang karya sastra Indonesia sudah diakui di dunia internasional,” ujarnya.

Menurut Ajip, asal penyebab para elite berbahasa ‘gado-gado’ karena takut dianggap bodoh. Dia merasa minder dan tidak ingin ketahuan bila tidak bisa mengucapkan kalimat Inggris. Namun, pada sisi yang lain juga disebabkan oleh buruknya cara pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Mereka hanya ditumpukkan untuk belajar tata bahasa belaka, bukan untuk belajar bagaimana menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat untuk mengekspresikan diri.

“Pelajaran bahasa Indonesia, baik tingkat dasar sampai tingkat akhir, banyak yang salah. Kalau saya baca buku-buku pelajaran kelas enam sekolah dasar, misalnya, di sana siswa diharuskan tahu mengenai apa itu subjek atau predikat. Nah, padahal ini apa gunanya. Yang penting kan siswa sekolah dasar itu dalam pelajaran bahasa Indonesia harus dididik supaya bisa mengemukakan pikiran dan perasaannya dengan bahasa itu,” tandas Ajip.

Ancaman amnesia penggunaan bahasa Melayu pun kini sudah terjadi di Singapura dan Malaysia. Sastrawan terkemuka Singapura Suratman Markasan memperkirakan, pada 2020, sudah tak ada lagi orang di negeri itu yang menggunakan bahasa Melayu dalam percakapannya. “Saya menjangkakan ini mudah-mudahan tak terjadi. Melihat situasi yang ada, kira-kira pada tahun 2020 seluruh orang Melayu di Singapura akan ngomong memakai bahasa Inggris.”

Hal yang sama juga dikatakan pakar bahasa dan sastrawan Malaysia Siti Zainon. Di kalangan elite, pelaku bisnis, dan pemuda ada kecenderungan menyepelekan penggunaan bahasa nasional, yakni bahasa Melayu. Cara berbahasa mereka campur-campur, mirip seperti makanan rujak. Papan nama atau reklame juga banyak bertebaran dengan bahasa Inggris campur Melayu.

“Di kalangan pejabat, hanya sedikit yang masih konsisten berbahasa nasional. Lainnya, campur-campur. Namun, yang paling degil adalah kalangan bisnis. Mereka cenderung tak hirau lagi akan bahasa nasional. Padahal, bahasa adalah jiwa bangsa. Kalau bahasa nasional sampai hilang, sebenarnya bangsa itu pun tak ada lagi keberadaannya,” tegas Siti Zainon.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/06/teraju-silap-bahasa-hilang-bangsa.html

Komentar