Langsung ke konten utama

Catatan Pendakian: Menuju Ranu Kumbolo

Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
http://sastra-indonesia.com/

Sebulan lebih yang lalu, Wawan Eko Yulianto (Wawan, penerjemah dan penulis lepas) mengajak saya mendaki menuju Ranu Kumbolo, sebuah danau di lereng gunung Semeru. Mendengar penjelasan Wawan tentang keindahan danau tersebut, serta-merta saya tertarik. Sudah lima tahun lebih saya tidak mendaki gunung dan ajakan ini membuat saya bersemangat. Saya pun mencari beberapa gambar danau tersebut di mesin pencari google. Dan memang menggiurkan. Mungkin di mata Wawan dan teman-teman serombongan saya tampak sangat bersemangat ketika hendak mendaki Semeru. Namun, nanti akan saya ceritakan: di pendakian ini, sayalah yang justru mendaki paling lambat.

Saya berpikir, ada baiknya teman-teman lain diajak. Saya pun menghubungi beberapa teman, mengajak mereka untuk turut serta. Setelah beberapa minggu kemudian, pendaki yang turut serta dengan saya dan Wawan ada tiga orang: Denny Mizhar (Denny, guru SMK Muhammadiyah Malang dan penulis lepas), Muhammad Ramadhani (Dhani, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo) dan Junaedi Ridwan (Jun, office boy TKK Mardiwiyata Malang).

Rencana ini awalnya hampir gagal karena berita lebay yang tersiar di beberapa situs internet dan televisi kalau kondisi Semeru berbahaya. Selama dua hari (tanggal 23 dan 24 Juni) kami terus memantau perkembangan Semeru. Wawan bahkan menelepon posko BTS (Bromo Tengger Semeru) untuk memastikan aman atau tidaknya pendakian. Petugas posko BTS menyatakan Semeru aman, istilahnya cuma “batuk-pilek” karena pergantian cuaca yang akhir-akhir ini dingin — hanya wilayah yang berada di dekat puncak gunung (sekitar 3 km) yang tidak boleh didaki. So, kami tetap berangkat.

Keberangkatan yang Melelahkan dan Lucu (Tumpang-Ngadas-Ranu Pani)

25 Juni 2011. Setelah sehari sebelumnya kami packing dan melakukan berbagai persiapan, pagi-pagi kami menuju Puskesmas terdekat rumah kami masing-masing. Wawan menuju Puskesmas di dekat rumahnya di Kerto Rahayu, Sumbersari. Denny pergi ke Puskesmas di dekat rumahnya di Tlogomas (sambil menggoda perawat yang sedang praktek di sana, uhuy!). Saya, Dhani, dan Jun menuju Puskesmas di dekat rumah saya di Pandanwangi.

Mengapa kami harus ke Puskesmas? Ternyata, kalau mendaki Semeru harus ada surat keterangan dokter dan fotokopi KTP, karena kalau ada apa-apa dalam pendakian, ada asuransi dan tindak lanjut. Dhani saya beritahu soal surat keterangan dokter ini, tapi tidak percaya. “Pakai SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) sekalian apa tidak?” tanyanya.

“Memangnya mau tes PNS!” jawab saya.

Jam 10.30, kami berlima berkumpul di sebuah perempatan di Malang. Dari perempatan itu kami menumpang angkot bertrayek TA (Tumpang-Arjosari) menuju Tumpang. Sampai di Tumpang kami mencari-cari pickup atau hardtop yang membawa kami ke atas, menuju lereng Semeru. Kami semua sama-sama tidak tahu, kalau para pendaki Semeru nyaris semuanya menggunakan hardtop. Karena dengan hardtop mereka langsung diturunkan di desa Ranu Pani.

Hardtop sudah tak ada lagi. Ada satu yang mau mengantar, tapi kami diminta menunggu dalam jangka waktu yang tak pasti. Akhirnya, yang kami dapatkan adalah sebuah pickup yang mengangkut bahan-bahan bangunan. Bersama kami, di bak pickup juga diangkut semen, asbes, pupuk, dan lain-lain. Tiap orang ditariki biaya Rp. 15.000,oo. Kami diturunkan di desa Ngadas, yang masih cukup jauh dari Ranu Pani. Kami berjalan kaki selama 5 jam dari Ngadas ke Ranu Pani. Kami mulai berjalan kaki sekitar pukul dua siang. Jalan kaki ini amat melelahkan karena nyaris terus mendaki.

Lucunya, jalan yang kami lewati dengan berjalan kaki ini dilewati mobil dan motor. Saat kami berjalan, para pendaki dan orang-orang lainnya berseliweran di jalan yang kami lalui. Mungkin ada yang menganggap kami pendaki yang sangat idealis — entahlah. Ini memang kesalahan kami bersama karena informasi seputar transportasi dari Tumpang ke Ranu Pani yang kami terima kurang memadai. Sewajarnya, perjalanan dari Ngadas ke Ranu Pani dilalui dengan hardtop yang berangkat dari Tumpang.

Namun, ada hal-hal yang kami syukuri dalam perjalanan kaki yang semestinya tidak perlu kami lakukan ini. Kami bisa melihat panorama yang indah di sepanjang perjalanan Ngadas-Ranu Pani. Terutama di daerah Njemplang. Di daerah ini ada ini ada sebuah menara kecil yang tingginya sekitar 15 meter. Wawan dan Dhani sempat mendaki menara itu, dan dari sana tampaklah tiga gunung: Semeru, Bromo, dan Tengger.

Selain panorama, saya juga bersyukur bisa mengobrolkan banyak hal seputar dunia sastra bersama Denny dan Wawan. Seingat saya, dalam perjalanan dari Ngadas ke Ranu Pani inilah kami paling banyak mengobrol. Saya menimba ilmu dari mereka bagaimana menikmati, menelaah, dan menemukan muatan-muatan penting sebuah puisi. Kami juga membicarakan soal sastra motivatif, musik, dan lain-lain.

Kami sampai di Ranu Pani, danau dengan ketinggian 2100 meter dpl (di atas permukaan laut) sekitar jam 7 malam. Di sana sudah banyak pendaki yang tiba terlebih dahulu. Banyak yang heran mendengar cerita kalau kami tadi berjalan dari desa Ngadas. Bersama 16 pendaki dari Jakarta dan Bandung, dan 17 pendaki dari Probolinggo, kami menginap di sebuah pondok di Ranu Pani. Di pondok itu kami disambut ramah oleh Pak Hambali, penjaga pondok dan anggota tim SAR di Semeru. Di dekat pondok ada pos registrasi mendaki ke Semeru, mushola, kamar mandi, dan warung.

Awalnya, saya merasa cukup sampai di sini saja pendakian kami. Karena mendaki 5 jam (Ngadas-Ranu Pani) bagi saya sudah cukup berat. Saya sangat jarang berolahraga. Di masa lalu, waktu masih SMA dan mahasiswa, kalau mendaki gunung pun tidak pernah sampai puncak, paling-paling cuma mendaki 3-4 jam ke tempat-tempat di lereng gunung yang berpemandangan indah. Selain itu, para mahasiswa Sejarah seperti saya kebanyakan pernah mendaki gunung, tapi dengan tujuan utama menyusuri jejak-jejak peradaban manusia masa lalu, tidak berambisi sampai ke puncak. Saya sudah pernah mendaki Penanggungan dan Arjuna menyaksikan beberapa peninggalan sejarah seperti menhir, sarkofagus dan arca-arca.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak empat teman saya lainnya. Saya kira, semuanya sempat berpikir lebih dari satu kali untuk melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Akhirnya, setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami semua sepakat: perjalanan dilanjutkan. Ranu Kumbolo, danau yang berada di ketinggian 2400 meter dpl ini, harus kami saksikan. Saya hanya berdoa agar tubuh saya dikuatkan. Dua minggu sebelum mendaki saya sudah melakukan persiapan fisik dengan rutin berolahraga setengah jam sehari, namun saya merasa itu masih belum cukup.

Menuju Ranu Kumbolo

“It is not the mountain we conquer but ourselves.”

Begitu kira-kira kata-kata yang tertulis di sebuah stiker yang ada di warung Ranu Pani, katanya diucapkan oleh Edmund Hillary. Kata-kata itulah yang saya ingat beberapa kali saat hendak mendaki ke Ranu Kumbolo di hari Minggu pagi, 26 Juni 2011, sekitar pukul 9 pagi. Terus terang, saat mendaki ke Ranu Kumbolo benak saya dipenuhi berbagai kekuatiran. Pertama, sepatu saya tapaknya licin. Kedua, kaki dan pundak saya sudah cukup lelah. Ketiga, sama seperti banyak gunung lainnya: ada jurang yang dalam, yang membentang di satu sisi jalan di hampir sepanjang lereng gunung dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo.

Kekuatiran-kekuatiran ini akhirnya membuat fisik saya makin lemah. Apalagi saya belum pernah mendaki gunung lebih dari 5 jam. Perjalanan ke Ranu Pani dari Ngadas telah membuat saya cukup lelah. Namun, saya membulatkan tekad untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Saya sangat bersyukur, di saat-saat ini, Jun, rekan saya mendampingi saya saat rasa lelah saya memuncak. Saya berhenti mendaki belasan kali. Para pendaki lain bisa melintasi perjalanan ini hanya dalam waktu 3 atau 4 jam. Namun, saya melewatinya selama 5 jam lebih.

Begitu danau itu mulai kelihatan, semangat saya bangkit kembali. Kelegaan yang besar saya rasakan di jiwa saya. Sebuah pencapaian telah berhasil diraih. Sekitar jam 3 sore kami sampai di Ranu Kumbolo. Di Ranu Kumbolo kami memasang dua tenda. Satu tenda untuk Wawan dan Denny; dan satu tenda untuk saya, Jun, dan Dhani. Di Ranu Kumbolo banyak sekali pendaki yang memasang tenda. Mungkin ada sekitar 100 pendaki dari berbagai tempat di Indonesia yang saat itu tumplek blek di sana. Saat kami mendaki bahkan sempat bertemu seorang pendaki dari Australia.

Makan malam kami amat spesial. Jun yang membawa peralatan masak lengkap (kompor gas mini, panci, teflon, dan dandang) menyajikan hidangan makan malam yang mbois habis: nasi putih, sosis goreng, dan sarden. Kami kenyang dan puas malam itu. Namun, tak banyak obrolan di antara kami karena sebelum jam 9 malam kami sudah tertidur. Di malam hari hujan sempat turun. Untunglah tidak terlalu deras. Hujan ini juga — entah dengan cara bagaimana, saya tak bisa menjelaskannya — membuat suhu udara di malam itu tidak terlalu dingin. Kadangkala, suhu di sana bisa mencapai -2 derajat C. Di malam itu, suhu udara berkisar 10-11 derajat C. Kami tidur dengan nyaman, walau saya mendapat sebuah mimpi buruk.

Kembali ke Ranu Pani (Pentingnya Kebersamaan dan Pendaki Utusan Tuhan)

Mimpi buruk saya sewaktu tidur di tepi Ranu Kumbolo adalah didatangi sundel bolong. Saya sebenarnya tergoda untuk menceritakan mimpi itu waktu di Ranu Kumbolo, ketika kami hendak kembali. Namun, saya mengingat beberapa pesan pendaki lain dan teman-teman saya: kalau kita mengalami hal yang ganjil dan aneh saat mendaki, semangat kita lemah, dan berbagai perasaan negatif lainnya, tak usahlah digembar-gemborkan. Saya pun tak menceritakan mimpi itu pada siapa pun.

Sebenarnya mimpi buruk itu tidak terlalu membuat saya ketakutan, tapi entah ada hubungannya atau tidak, cuaca saat kami turun gunung juga buruk. Setelah hampir dua jam turun dari Ranu Kumbolo, hujan mulai turun. Tanah basah, becek, dan licin. Di saat-saat inilah saya disadarkan lagi tentang pentingnya kebersamaan. Rutinitas sehari-hari masih memungkinkan kita untuk hidup tanpa begitu banyak bergantung pada orang lain. Namun, di saat-saat seperti ini, kehadiran seorang kawan sungguhlah amat berharga. Bila waktu mendaki saya bersyukur dengan kehadiran Jun yang selalu menyertai saya, kali ini ada Wawan yang sama sekali tidak pernah meninggalkan saya jauh-jauh.

Setelah saya dan Wawan berjalan turun gunung kira-kira tiga jam, ada jalan serupa gundukan. Gundukan itu tanah semuanya (tak ada rerumputan atau jatuhan dahan dan dedaunan kering), dan becek semuanya. Di samping gundukan membentang jurang yang dalam. Wawan yang cukup mahir mendaki saja merayapi gundukan itu pelan-pelan. Saya berusaha mengikuti gayanya, namun sepatu saya yang licin membuat saya terjatuh di gundukan itu. Wajah saya nyaris menyentuh tanah. Wawan yang sudah ada di depan saya panik menyaksikan apa yang tengah terjadi.

Saat saya terjatuh, sungguh tak terduga, ada seorang pendaki asing di belakang saya. Bersama Wawan dia membantu melepas tas yang saya bawa dan mengangkat saya berdiri. Dengan bantuan mereka berdua, saya pun lolos dari maut, tidak jadi masuk jurang. Saya masih ingat betul nama pendaki itu, Muhammad Iqbal. Dia juga turun gunung bersama 5 orang temannya yang ia tinggalkan di belakang. Dia masih kuliah di Universitas Jember, dan aktif di Forum Penanggulangan Bencana Indonesia (FPBI). Hingga kini, saya menganggap Iqbal sebagai pendaki utusan Tuhan.

Saat sudah di Ranu Pani, saya baru menceritakan mimpi buruk itu pada Wawan, Jun, Dhani, dan Denny. Pendakian ini akhirnya usai. Kami berlima beruntung bisa turun sampai ke Tumpang dengan dua rombongan (masing-masing rombongan beranggotakan 3 orang). Bersebelas kami turun dengan hardtop. Masing-masing membayar uang Rp. 37.000,oo karena tarif yang dikenakan supir hardtop untuk mengangkut penumpang dari Ranu Pani ke Tumpang sebesar Rp. 400.000,oo.

Sepanjang perjalanan turun kami terus menertawakan perjalanan kami berlima, para pendaki lugu, yang berjalan kaki dari Ngadas ke Ranu Pani. Perjalanan turun dari Ranu Pani ke Ngadas dengan menggunakan hardtop memakan waktu 40 menit; sementara perjalanan dari Ngadas ke Tumpang memakan waktu sekitar sejam.

Ranu Kumbolo sudah kami tinggalkan. Sebuah perjalanan yang penuh kesan telah kami lewati. Saya selalu berharap ada kesempatan seperti ini lagi dalam hidup saya. Saat warkop mulai membosankan, lampu-lampu jalan di Malang dan Sidoarjo di malam hari tampak muram, film-film di bioskop tak lagi menghibur hati, atau buku-buku jadi tampak begitu menjemukan… alam dengan segala keheningan dan tantangannya menjadi salah satu tempat di mana para pecintanya dapat menemukan lagi sesuatu yang berharga untuk dihayati dalam hidup ini. (*)

Malang, 28 Juni 2011

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com