Langsung ke konten utama

Kata Serapan Yunani dalam Kamus Indonesia

Judul Buku : Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia
Penyusun : JS Badudu
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Cetakan I, Maret 2003
Tebal : xiv + 378 hlm
Peresensi: Remy Sylado
http://www2.kompas.com/

SEBAGAI profesor bahasa Dr JS Badudu berpengalaman menyusun kamus: Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia, 1975; Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2001; Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (KKSADBI), 2003.

Maka, selain patut memuji dengan takzim akan pekerjaan beliau yang tak enteng itu, izinkan pula saya memberi sekelumit catatan untuk menunjukkan apresiasi bagi karya beliau yang terakhir, KKSADBI. Catatan ini khusus menyangkut kata-kata yang berhubungan dengan Yunani, bahasa yang melembaga dalam sejarah ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Menurut KKSADBI ’alokasi’ berasal dari bahasa Yunani. Membaca keterangannya “penentuan banyaknya barang yang disediakan”, maka sebetulnya makna itu dalam bahasa Yunani yang terpakai adalah ’anathese’ atau katanome’.

Menurut KKSADBI ’asbes’ dari bahasa Yunani. Keterangannya, “serat mineral dipakai dalam industri…”. Jika asbes di sini sama dengan bahasa Inggris ’asbestos’, maka bahasa Yunani yang terpakai adalah ’amiantos’. Sementara kata bahasa Yunani ’asbestes’ artinya ’kapur’.

Menurut KKSADBI ’autopsi’ dari bahasa Yunani. Padahal, bahasa Yunani untuk makna ’pemeriksaan mayat’ yang sama dengan bahasa Inggris ’autopsy’ sebetulnya ’nekrotome’.

Menurut KKSADBI ’dialog’ berasal dari bahasa Latin. Akan tetapi, sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Yunani ’dialogos’, kalimat percakapan dalam sastra drama, juga judul karya Plato.

Menurut KKSADBI ’teater’ dari bahasa Latin. Yang benar dari bahasa Yunani, ’theatron’ artinya ’tempat di mana drama dipentaskan’, turun dari kata ’theaomai’ artinya ’berkunjung untuk menyaksikan’.

Menurut KKSADBI ’teater’ dari bahsa Latin. Yang benar Yunani, dari ’thetron’ artinya ’tempat di mana drama dipentaskan’, turun dari kata ’theaomai’ artinya ’berkunjung untuk menyaksikan’.

Menurut KKSADBI ’ekumene’ dari bahasa Latin. Yang betul Yunani, dari kata ’oikoumene’ artinya ’segenap wilayah bumi yang ada manusianya’. Mulanya terbatas ’dunia hellenenisme’ seperti diacu Aristoteles dalam Meteorlogica (362 b 26).

Menurut KKSDBI ’evengeli’ dari bahasa Latin. Yang benar Yunani, dari ’euaggelion’ artinya tak lebih ’kabar baik’. Aristophanes mengacunya dalam drama komedinya Plutus (765). Selain itu, banyak pula lema yang seharusnya Yunani tetapi dalam KKSADBI disebut Belanda. Misalnya ’hierarki’, ’magi’, ’misteri’, ’paradigma’. Yunaninya ’ierarkhia’, ’magoi’, ’mysterio’, ’paradeigma’.

Malahan ada lema dari bahasa Yunani dalam KKSADBI disebut Perancis, khususnya ’paradiso’. Dalam bahasa Yunani ’paradeisos’ artinya ’surga’, diambil dari bahasa Persia ’pairi daeza’ artinya ’kebun taman’. Sejarah masuknya kata bahasa Persia ini ke Yunani melalui penerjemahan filologi Ibrani LXX atau Septuaginta atas titah Raja Mesir Ptolemy II (309-247 SM).

KKSADBI mengatakan ’idola’ adalah “orang atau tokoh yang dijadikan pujaan”. Dalam bahasa Yunani, aslinya ’eidolon’ berarti ’dewa kafir’ (pagan dei). Muasalnya di abad pertama Masehi orang Yahudi yang berbahasa Yunani menyejajarkan kata ini dengan kata-kata Ibrani ’gilullim’, ’terafim’, ’asabh’, kemudian dibuat muradif dengan ’mifletseth’, ’semel’, ’otseb’.

Adapun ’pornografi’ dari ’porno’ aslinya bahasa Yunani ’porne’ berarti pelacur, ’porneia’ berarti ’pelacuran’, ’porneuo’ berarti ’praktik sundal’. Sumber tulis Yunani sebelum Masehi tentang kata ini tersua pertama dalam karya Lucian, Alexander (5). Setelah tarikh Masehi, di abad pertama, kata ini mengacu pada persundalan di Roma dan Yerusalem, tersua dalam karya Ioanes, Apocalypsis (17.1).

PATUT diketahui, dalam studi teologi, bahasa Yunani dibagi dua, yaitu Yunani Sekular (untuk semua karya filologi sebelum Masehi) dan Yunani Eklesia (untuk bahasa Yunani setelah Masehi sekitar pustaka gerejawi). Banyak lema dari Yunani Sekular yang berubah makna saat ini melalui Yunani Eklesia.

Salah satu kata paling menarik dari pergantian Yunani Sekular ke Yunani Eklesia adalah ’hipokrit’. Dalam KKSADBI ’hipokrit’ diartikan ’munafik’. Yang diacu KKSADBI ini adalah Yunani Eklesia. Sebelumnya, dalam Yunani Sekular, ’hipokrit’, atau aslinya ’hypokrites’ berarti ’aktor’, pelakon drama atau penafsir peran di atas teater. Plato mengartikannya demikian dalam Republik (373 B), Sokrates menyebutnya dalam Symposium (194 B), Xenofon menyebutnya dalam Memorabilia(II 2.9).

Berubahnya ’hypokrites’ menjadi ’munafik’ sebab penulis evangeli dari latar Yahudi yang tak punya tradisi teater, memandang aktor dalam kesimpulan: laki-laki yang jadi perempuan, bertopeng, menangis pura-pura. Ini dihubungkan dengan kata bahasa Ibrani ’hanef’ artinya ’pelaku jahat’. Sumber pertama yang mengalihkan ’hypokrites’ dari aktor menjadi ’munafik’ adalah sastra Yunani yang ditulis Yahudi, Maththaion(7.5). Kini, setelah ’hypokrites’ berarti ’munafik’, maka sebutan untuk aktor dalam bahasa Yunani sekarang adalah ’ethopoios’.

Terakhir ’psalm’. KKSADBI benar, lema ini berasal dari bahasa Yunani. Akan tetapi, keterangannya tak tepat: “nyanyian pemujaan terhadap Tuhan dalam Injil”. Yang benar, ’psalm’ tidak ada hubungannya dengan Injil. Psalm, dari ’psalmos’ adalah terjemahan Yunani atas kitab Ibrani, Sepher Tehillim-Klinkert menerjemahkannya sebagai ’zabur tahlil’-dan umumnya dianggap sebagai puisi-puisi tembang Daud. Sedang Injil aslinya berbahasa Yunani dan tersua dalam kitab E Kaine Diatheke. Psalm sudah ditulis seribu tahun sebelum Injil ditulis. Seharusnya yang sudah lazim, ’psalm’ cukup disebut ’mazmur’.

Saya memang hanya membatas diri untuk menyimak lema-lema yang berhubungan dengan bahasa Yunani. Ini tidak berarti saya alpa memberikan apresiasi terhadap keterangan-keterangan yang diacu pada sejumlah lema yang lain. Dan, meskipun catatan-catatan saya ini menunjukkan adanya kekurangan, percayalah ini tidak mengurangi takzim saya tersebut. Seperti kata penerbitnya, “Kamus ini bukan kamus istilah, bukan juga buku yang berisi pedoman untuk mengistilahkan kosakata asing dalam Bahasa Indonesia.” Jadi, ya, syabaslah. Dari situ pula kiranya apresiasi ini bertolak.

*) Pemerhati bahasa.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo