Mengenang Kartini, Membaca Julia

Suara Perempuan sebagai Saksi Zaman

Judul buku: Sex, Power, and Nation: An Anthology of Writings, 1979 – 2003
Penulis: Julia Suryakusuma
Penerbit: Metafor Publishing
Tebal: xxxvii + 453 halaman
Peresensi: Melani Budianta*
http://www2.kompas.com/

Salah satu aspek diri Kartini yang kurang dimunculkan dalam peringatan setiap tanggal 21 April adalah sosoknya sebagai seorang pemikir kritis yang terjebak oleh zamannya. Sejak berusia belasan tahun, gadis bangsawan Jawa itu mengamati segala sesuatu di sekitarnya, dan yang terjadi pada dirinya dengan sorotan yang jernih dan tajam.

Surat-surat yang ditulisnya dalam bahasa Belanda untuk sobat-sobat kolonialnya merupakan saksi zaman dari suara seorang perempuan intelektual yang terpingit dan terbungkam oleh kebudayaannya sendiri yang tak mungkin memahami dan menerima gagasan emansipatorisnya. Membaca hidup Kartini adalah menyaksikan bagaimana kekuasaan-yang oleh feminis masa kini disebut “patriarki”-beroperasi melalui tradisi budaya lokal untuk mengatur tubuh dan seksualitas perempuan, dan bagaimana negara kolonial yang telah memberikan pencerahan pikiran melalui bahasa dan sastra, menutup telinga terhadap jeritannya.

Bagaimanakah para perempuan pemikir yang lahir sesudah Kartini menyikapi zamannya masing-masing? Karya mereka tersebar, dari esai-esai jurnalistik Rohana Koedoes sampai Maria Hartiningsih, esai kebatinan SK Trimurti sampai esai filosofis Karlina Leksono, puisi Nursjamsu sampai ledakan karya sastra perempuan akhir-akhir ini. Masih perlu waktu untuk menelusuri sejarah pemikiran feminis di Indonesia. Jangankan menyambung mata rantai dari satu tokoh ke tokoh lainnya, mengumpulkan tulisan masing-masing tokoh yang umumnya masih berserakan, merupakan suatu tantangan.

Seratus tahun setelah meninggalnya Kartini, Indonesia dihadiahi sebuah buku kumpulan 20 tulisan Julia Suryakusuma dalam bahasa Inggris berjudul Sex, Power and Nation. Membaca esai-esai Julia Suryakusuma menjelang Hari Kartini di tahun 2005, mengingatkan kita tentang, di satu sisi, bagaimana sosok perempuan dikonstruksikan dari zaman ke zaman, dan sisi lain, bagaimana perempuan menyuarakan pendapatnya melalui tulisan dan menjadi pelaku perubahan. Kartini diabadikan sebagai putri Indonesia dalam lagu WR Supratman di tahun 1930-an, menjadi pahlawan nasional di tahun 1964, dan menjadi ikon wanita dalam perspektif pembangunan di zaman Orde Baru. Dalam hidupnya yang singkat, Kartini sendiri tidak berpeluang untuk membuat banyak pembaruan, tetapi surat-suratnya yang penuh pergulatan jiwa dan pikiran menjadi inspirasi untuk gerakan emansipasi.

Generasi Julia Suryakusuma mempunyai kesempatan lebih besar untuk bergerak di ruang publik. Julia adalah pendiri Yayasan Almanak Politik Indonesia (API) dan termasuk salah satu aktivis yang turun ke jalan dalam aksi Suara Ibu Peduli, demonstrasi pertama dalam rangkaian gerakan massa yang menggerakkan reformasi. Tetapi, dalam wawancaranya di The Jakarta Post pada tahun 1999, Julia menandaskan bahwa aktivisme yang sebenarnya terletak pada tulisan-tulisannya yang menggugat berbagai konstruksi mapan yang ada.

Sorotan pertama Julia dalam buku ini adalah “negara dan bangsa”. Melalui sembilan esai, yang dipublikasikan di berbagai media massa dan jurnal mancanegara, Julia muncul bukan sebagai seorang komentator politik “dari dalam” yang memberikan pembaruan kepada dunia tentang perubahan sosial politik yang terjadi di Indonesia, sambil meletakkan konteksnya dalam perspektif sejarah. Esai-esai tentang persoalan kepemimpinan, kebebasan pers, partai politik, kekerasan negara sampai sikap mental bangsa Indonesia ini ditulis pada titik-titik kritis paruh dekade akhir Orde Baru sampai era Reformasi. Tak mengherankan jika bagian yang diberi judul Building a New Nation ini dibuka dengan esai yang menghadirkan kembali detik-detik menegangkan sepuluh hari menjelang berhentinya Soeharto.

Dari bagian pertama ini tampil sosok Julia, sebagai komentator politik independen yang fasih bicara untuk komunitas global, suatu profesi yang jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari di Indonesia, bisa disebut di sini, antara lain, Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan Goenawan Muhamad. Dalam hal ini Julia menunjukkan bahwa berbeda dengan stereotip yang ada, intelektual perempuan tidak hanya berurusan dengan persoalan perempuan, tetapi membawa perspektif perempuan untuk mengkritik persoalan bangsa dan negara. Ulasan kritisnya tentang perspektif partai terhadap partisipasi publik perempuan merupakan contoh visi semacam ini. Pada saat yang sama, observasi yang lebih umum tentang masa depan partai politik di Indonesia tak kurang relevan sampai sekarang. Menurut Julia “masa depan partai dan demokrasi di Indonesia akan tetap bergejolak sampai masyarakat dapat diajak untuk menolak rayuan primordialisme dan komunalisme para elite politik, dan berani mendesak pertanggungjawaban mereka atas kebijakan publik”.

Jika di bagian pertama, perspektif feminis Julia mewarnai esai-esai politiknya, bagian kedua yang berjudul Sex and Power merupakan inti pemikiran feminis Julia yang menunjukkan keterkaitan antara permasalahan perempuan dengan persoalan politik dan negara. Bab ini dibuka dengan salah satu karya terpentingnya, yakni State Ibuism, yang merupakan ringkasan tesis MA di Insitute of Social Studies, The Hague tahun 1988. Tesis Julia tentang ibuisme negara ini dibongkarnya dari ideologi Orde Baru, seperti terlihat pada Dharma Wanita, PKK, dan berbagai kebijakan tentang perempuan pada masa itu. Dilengkapi dengan esai kedua dengan topik yang sama tentang negara dan seksualitas dalam budaya birokrasi pegawai negeri, kedua tulisan Julia telah menjadi acuan “wajib” bagi para pakar Indonesia maupun mancanegara yang mempelajari masalah perempuan di Indonesia. Dalam bagian ini Julia membahas persoalan perempuan dari berbagai aspeknya, dari masalah mode sampai bentuk-bentuk formal aktivisme perempuan; dari persoalan perempuan sebagai buruh dan pekerja migran sampai korban kekerasan dan militerisme.

Julia mengakui bahwa kecenderungan negara memakai konstruksi-konstruksi gender untuk berbagai kepentingan bukan hal yang baru. Sumbangan pentingnya di sini adalah menunjukkan bagaimana hal tersebut terlihat dalam perwujudannya yang spesifik dalam berbagai konteks di Indonesia dalam era pembangunanisme Orde Baru, dalam konflik dan militerisme, serta kapitalisme global-lokal.

Tulisan-tulisan Julia mendobrak anggapan bahwa feminisme adalah perang melawan laki-laki. Walaupun tidak menjadi fokus perhatiannya, Julia menunjukkan bagaimana laki-laki (pegawai negeri, buruh perkebunan, misalnya) juga mengalami penindasan. Tidak terjebak dalam dikotomi penguasa-korban, Julia mengilustrasikan-dalam catatan etnografis yang rinci di perkebunan karet Citandoh-berbagai strategi perempuan dan laki-laki untuk bertahan dalam berbagai kungkungan ekonomi dan sosial.

Dibandingkan dengan bagian sebelumnya, sebagian besar bagian ini merupakan hasil penelitian akademis yang didukung oleh survei, statistik, dan catatan etnografis. Penelitian ini diolah sedemikian rupa menjadi esai-esai yang enak dibaca. Bagian yang sangat penting bagi mahasiswa dan peneliti kajian perempuan di Indonesia ini, di sisi lain menunjukkan betapa banyak amunisi ilmiah perlu dikerahkan untuk menggoyahkan aksioma “di Indonesia tidak ada masalah dengan perempuan”. Melalui esai-esainya yang menyentuh permasalahan yang traumatik bagi perempuan Indonesia, yakni pemerkosaan massal di bulan Mei 1998 dan kekerasan militeristis di daerah-daerah konflik inilah, Julia menjadi juru bicara yang penting bagi korban dan aktivis kemanusiaan. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak pihak yang menolak mengakui bahwa kekerasan semacam ini pernah terjadi.

Jika bagian pertama buku ini berkaitan dengan profesi Julia sebagai pendiri API dan sebagai komentator politik, dan bagian kedua berkaitan dengan landasan ideologi feminis dan akademisnya, maka bagian ketiga-yang paling tipis-merupakan penyaluran hobi Julia di bidang sastra. Sebetulnya nama Julia muncul pertama kali di media massa di awal tahun 1970-an sebagai pemenang sayembara menulis tentang buku melalui ulasannya tentang karya Iwan Simatupang. Esai terakhir dalam buku ini adalah ringkasan dari tesis BA Honoursnya di City University, London, pada tahun 1979, yakni tentang kaitan sastra dan politik dalam karya sastrawan Lekra. Julia melihat kontradiksi, baik dalam gerakan Manikebu maupun PKI. Kelompok Manikebu dilihatnya sama siapnya untuk “memakai sastra sebagai alat perjuangan ideologi”. Sedangkan strategi aliansi damai PKI dalam politik berkontras dengan garis revolusionernya yang keras di bidang sastra dan budaya-kekeliruan yang menjerumuskan sastra pada “dogmatisme, simplifikasi, romantisme perjuangan, propaganda dan konfrontasi tanpa basis teoretis yang memadai”. Dari sastra perjalanan karier Julia bergerak ke feminisme dan politik (perjalanan yang secara kronologis disusun terbalik dalam bukunya). Meskipun demikian, ulasan Julia tentang pengarang Indonesia mutakhir di bagian ketiga, seperti Rieke Diah Pitaloka dan Djenar Maesa Ayu, menunjukkan bahwa ia masih tertarik mengikuti perkembangan sastra.

Surat-surat Kartini dikumpulkan oleh Nyonya Abendanon, sahabatnya, diterbitkan dalam bahasa Belanda di tahun 1911, dalam bahasa Indonesia di tahun 1938 dan dalam bahasa Inggris di tahun 1920, dan edisi khusus dengan pengantar Eleanore Roosevelt di tahun 1964. Tulisan Julia (tujuh makalah ilmiah, satu catatan etnografis, tujuh esai, dua tesis dan tiga kolom) yang tersebar di berbagai jurnal dan koran mancanegara ini dikumpulkannya sendiri sebagai hadiah untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-50. Dalam sebuah kolom di majalah wanita baru-baru ini, Julia menjelaskan motivasi di balik “hadiah untuk diri sendiri”: “Mungkin hadiah yang paling ’tinggi’ adalah kepuasan yang kita dapat dengan memberi dari diri kita-ilmu, waktu, energi, perasaan, kasih sayang-bagi orang lain, yang membuat kita merasa berguna. Semua hal ini membutuhkan pengorbanan, disiplin, dan dedikasi. Tapi apakah artinya hidup tanpa semua itu? Masing-masing dari diri kitalah yang bisa menentukan, apakah hadiah yang paling berharga yang ingin kita berikan kepada diri kita. Masalahnya, bersediakah kita membayar harganya?”

Hadiah Julia adalah kehadiran kuat pribadinya dalam tulisan-tulisannya. Dengan penuturan yang mengalir, Julia berbicara lugas dan spontan. Bandingkan dengan gaya menulis ilmiah yang umum di Indonesia-yang cenderung meniadakan diri dalam kalimat-kalimat pasif. Suara Julia datang dari perpaduan yang kompleks: Julia yang sekuler dan rasional, dan yang spiritual-reflektif, Julia yang percaya diri dan yang peka, yang suka berdandan dan yang turun ke jalan, yang sensual dan yang radikal, yang skeptis dan yang romantis, yang berpusat pada diri sendiri dan yang mengamati orang lain. Tidak semua orang setuju dengan gagasan-gagasannya, dan suka pada gaya dan sosoknya, seorang “anarkis” (sebutannya sendiri) yang sewaktu-waktu siap menjadi liar dan mengusik. “Just write however the spirit moves you,” katanya.

Strategi ini membawa konsekuensi terhadap konsistensi ulasan. Dalam membahas karya sastra, misalnya, Julia bisa berpanjang lebar membicarakan pengarang kesukaannya, dan meyentuh secara permukaan pengarang yang tidak terlalu memancing perhatiannya. Esai-esai sosial politiknya di beberapa bagian diwarnai oleh bingkai ilmiah dengan kategori dan klasifikasi; dan di bagian-bagian lain oleh opini-opini yang dilemparkannya dengan ringan tentang tokoh dan peristiwa yang diamati.

Tak enggan berspekulasi, Julia membuat esai-esainya menggoda dan mengusik. Bacalah teorinya tentang lima sikap mental Manusia Indonesia (tidak matang, penuh ketakutan, tak berdaya, irasional, dan sulit menata diri) yang mengingatkan kita kepada Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis. Manusia Indonesia, menurut Julia, belum mencapai modernitas tetapi telah meninggalkan tradisi. Terperangkap dalam konflik kepentingan global dan internal, Manusia Indonesia menumbuhkan mentalitas jalan pintas yang cenderung mereduksi permasalahan menjadi generalisasi sempit.

Celetukan-celetukannya terkadang berseberangan dengan opini yang populer pada masanya. Sosok Wiranto di mata Julia menimbulkan tanda tanya: seorang populis yang secara terbuka mendukung reformasi, tapi kemudian berbalik arah, “apakah karena kesetiaan pada mantan atasan dan kroni, atau karena niat untuk menjaga stabilitas demi bangsa dan Negara?”. Sebaliknya, Gus Dur, yang kelebihannya sebagai pluralis diakui oleh Julia, dikecamnya dengan keras karena telah merendahkan diri untuk menjatuhkan Megawati berdasarkan orientasi keperempuanannya.

Di sisi lain, keberadaan Julia di berbagai persilangan, termasuk persilangan bidang minat, disiplin ilmiah (antropologi, sosiologi, politik) memperkaya dimensi tulisan-tulisannya. Kerumitan yang dialaminya karena berada di dunia perbatasan (“Barat-Timur, intelektual-aktivis, pemimpi yang idealis/realis, pemberontak-tradisionalis dan … feminis-’femme fatale’) dimanfaatkannya untuk menjadi sumber kreativitas dan sarana untuk menjadi “mediator budaya”. Satu abad yang lalu, seperti Julia, Kartini juga dibesarkan di perbatasan dua dunia dan dua bahasa, tetapi posisi ini membawa konsekuensi yang sangat berbeda. Penguasaan bahasa dan budaya yang menjadi kunci lompatan bagi generasi Julia untuk memperoleh akses dan kebebasan gerak, dalam konteks Kartini menjadi pembuka kesadaran akan kungkungan yang tak mungkin dilampaui.

Kartini dan Julia, dua perempuan yang haus ilmu ini jelas dibesarkan dalam kondisi yang bertolak belakang. Bandingkan potret Julia di buku itu yang bergaya bak foto model dengan potret Kartini yang nyaris tanpa ekspresi dalam konvensi fotografi zaman kolonial yang serius dan muram. Jika Kartini bermimpi untuk bersekolah di negeri Belanda, Julia Suryakusuma mendapatkan gelar MA dari sebuah institut ilmu sosial di negeri Belanda. Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa yang hanya mengirim anak laki-laki ke luar negeri, sedangkan Julia lahir di New Delhi, India, dan dibesarkan di Eropa, sebagai anak diplomat Indonesia yang terbiasa melanglangbuana. Jika Kartini remaja melahap literatur dunia dalam Bahasa Belanda diam-diam dalam pingitan di kamarnya, Julia membaca filsafat dunia dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman, di usia belasan tahun di sebuah sekolah internasional Amerika di Roma.

Tidak banyak pemikir perempuan menikmati kemewahan seorang Julia dengan aksesnya yang global. Tapi kita tidak boleh lupa, berapa harga yang harus dibayar untuk melahirkan tulisan-tulisan seperti ini. Surat-surat Kartini lahir dari penderitaan, dan bahkan Julia harus membayar aktivitas dan karyanya bukan saja dengan keringat, waktu dan uang. Aktif menulis di zaman Orde Baru, Julia menulis baris demi baris tulisannya dengan ancaman ditangkap bahkan beberapa kali diinterogasi. Posisinya sebagai intelektual dengan pendidikan akademis dibayarnya dengan meninggalkan anak selama tiga tahun, sebuah ongkos yang penuh pergulatan emosi dalam diri maupun keluarga. Dalam kaitan itu, bagian yang paling menyentuh dalam buku ini, dan merupakan dokumen yang bernilai adalah esai biografis (pengantar) tentang pergulatannya sebagai seorang intelektual dan seorang perempuan, istri, ibu dan anak dalam gejolak perubahan zaman.

Tidak seperti kiprah politik atau bisnis, sumbangan pemikiran penting bagi dunia tapi tak secara langsung kasat mata. Surat-surat Kartini tak pelak lagi menjadi inspirasi bagi para pemikir perempuan di Indonesia dan kekayaan bagi kesusastraan dunia. Dalam untaian rantai selanjutnya, tulisan-tulisan Julia membukakan wawasan bagi pemikir perempuan lainnya. Myra Diarsi, aktivis perempuan di Komnas Perempuan mengakui bahwa kesadaran feminisnya mulai mendapatkan ruang setelah membaca artikel Julia dalam Jurnal Prisma di tahun 1980-an. Kumpulan tulisan Julia merupakan salah satu dokumen penting untuk perkembangan feminime di Indonesia dan sumbangan bagi pemikiran kritis tentang bangsa dan negara.

Berbeda dengan dua perempuan yang datang dari kelas menengah atas ini, Indonesia masih dipenuhi oleh buruh-buruh kecil tanpa pendidikan yang menulis di remang-remang lampu teplok di pemukiman kumuh. Di sanalah tersisa pergulatan Kartini- Kartini abad ke-21 di era yang masih terpingit di tengah hiruk-pikuk persilangan global-lokal. Sebagian dari mereka punya kesempatan mengaktualisasikan diri melalui komunitas buruh atau komunitas sastra, sebagian besar tak punya akses untuk membuat suaranya terdengar. Bagaimana mereka menyikapi proses-proses peluasan atau penyempitan ruang gerak dalam otonomi daerah, dalam tatanan ekonomi global, dalam kekerasan berbasis budaya maupun ideologi? Siapa akan mendengar mereka?

Di tempat-tempat lain, perempuan-perempuan korban kekerasan mengunci suaranya, dan kita pun melupakannya. Suatu hari, tiba-tiba, seorang perempuan korban kekerasan mengirim surat elektronik kepada saya: “Jangan buka identitas saya, jangan sebut alamat saya, tapi bacalah cerita hidup saya.” Ketakutan membayangi nadanya. Saya berjanji suatu waktu meneruskan ceritanya. Masih banyak Kartini-Kartini yang bahkan belum bisa menemukan suara mereka. Berapa harga yang harus mereka bayar untuk bersuara dan siapa yang akan menanggungnya?

*) Pengajar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Komentar