Langsung ke konten utama

Akhmatova

Hasif Amini
Kompas, 18 Juni 2006

Anna Andreevna Gorenko lahir di Odessa, Ukraina, tahun 1889. Tak lama kemudian orangtuanya pindah ke sebuah wilayah bernama Tsarskoe Selo (Kampung Tsar), tempat berlibur keluarga kerajaan di pinggiran kota St Petersburg. Di sana ia tumbuh menjadi seorang gadis manis yang pendiam, dan suka menulis puisi diam-diam. Pada suatu hari, di usia 17, ia berniat menyiarkan karyanya di sebuah majalah yang terbit di St Petersburg. Ayahnya mendengar kabar itu, memanggilnya, dan seraya menegaskan bahwa ia tak melarang anaknya menulis puisi, meminta Anna agar tak menggunakan nama keluarganya yang terhormat.

Si gadis patuh saja, dan memilih nama leluhur dari pihak ibunya yang memiliki darah Tartar. Leluhur itu adalah Akhmat Khan, salah satu turunan Jengis Khan. Sejak itulah ia menggunakan nama Anna Akhmatova, termasuk dalam setiap dokumen yang mesti ditandatanganinya. Sejak itulah pula nama Anna Akhmatova memasuki khazanah puisi Rusia.

Joseph Brodsky, ketika menceritakan kejadian itu dalam sebuah esainya, berkomentar bahwa permintaan ayah Anna Gorenko sebenarnya berlebihan. Di lingkungan aristokrat Rusia masa itu memang beredar pandangan angkuh bahwa profesi sastra tidak pantas bagi kalangan mereka, dan lebih cocok untuk kaum yang lebih rendah dalam usaha mengabadikan nama. Namun, kata Brodsky, Gorenko toh bukan nama keluarga pangeran. Barangkali bermukim di tempat peristirahatan keluarga Tsar telah membuat tinggi hati ayah si calon penyair yang kelak menjadi salah satu sosok terbesar dalam kesusastraan Rusia modern itu.

Setelah belajar hukum di Kiev, Ukraina, selama dua tahun sejak 1908, Akhmatova kembali ke St Petersburg dan mempelajari sastra Rusia. Pada musim semi tahun 1910 ia menikah dengan penyair Nikolai Gumiliev, dan berbulan madu di lingkungan bohemian di Paris. Sepulang dari sana, pada tahun 1911, mereka mendirikan Tsekh Poetov (Gilda Penyair), yang sekaligus menandai hadirnya sebuah gerakan sastra baru: akmeisme. Penggunaan kata “gilda" juga memperlihatkan sikap baru kepenyairan yang mengutamakan olah keterampilan ketimbang mengandalkan ilham dari antah berantah.

Akmeisme menyerukan suatu puitika yang hendak menghayati hidup sehari-hari dengan sederhana: puisi adalah cermin bening pengalaman batin, yang menjaga keseimbangan bentuk dan ekspresi langsung lewat imaji (bukan saranan tak langsung melalui simbol), yang menerima ide sejauh itu memperkuat efek emosional dan bukan untuk mendukung sikap ideologis. Suara demikian memang merupakan perlawanan terhadap gerakan simbolisme, dengan segenap gelora imaji dan semangat mistisnya, yang merupakan arus dominan dalam kesusastraan Rusia sejak akhir abad ke-19. Selain itu akmeisme hendak membebaskan diri dari cekaman ideologi yang mulai membayang pada gerakan futurisme Rusia waktu itu.

Puisi lirik Akhmatova pada dasarnya adalah suara lirih yang intens dan jernih, sering dalam bentuk dan metrum yang tertib, tentang dunia sehari-hari: tentang cinta yang raib, makam seorang teman lama, asin air mata, liuk asap tembakau biru kelabu, peta kusam, selai murbei, sarung tangan…. Tetapi rupanya pengalaman hidup membuat ia tak selalu bisa bersuara demikian. Petang (1912), kumpulan pertamanya yang berisi sajak-sajak cinta, dan kumpulan kedua, Rosario (1914), yang memasukkan citraan religius, memperlihatkan Akhmatova sebagai seorang lirikus yang cemerlang. Kumpulan ketiga, Kawanan Putih (1917), mulai banyak menyinggung soal perang dan akibatnya atas nasib manusia. Adapun Anno Domini MCMXXI (1921), yang antara lain mengangkat ihwal hukuman mati atas Nikolai Gumiliev dan pelbagai teror oleh negara kala itu, membuatnya menjadi penyair yang dibungkam hingga 20-an tahun kemudian. Ketika anaknya, Lev, ditahan dan dibuang ke Siberia pada tahun 1949, Akhmatova bahkan terpaksa menulis sejumlah sajak pujian untuk Stalin demi pembebasan anaknya itu.

Dalam rangkaian sajak Rekuiem (1935-40), yang ia gubah di tengah suasana tegang dan muram di bawah Stalin, ia menulis: Air matamu yang hangat melubangi/ Lantai dingin es tahun baru./ Pohon poplar penjara itu terus membungkuk,/ Tak terdengar suara—namun betapa banyak nyawa/ Tak berdosa tengah menghampiri mautnya.

Dijumput dari: http://hasifamini.blogspot.com/2008/09/akhmatova.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).