Langsung ke konten utama

Gus tf Sakai; Dari Payakumbuh Melintas Batas Dunia

Hendra Makmur
http://mediaindonesia.com/

Jika menyadari hidup dalam kampung global, tidak ada relevansinya jika kita mempertentangkan hidup di kota atau di pelosok desa. Lihat saja, dari Payakumbuh, sebuah kota kecil sekitar 150 kilometer di timur laut Kota Padang, Gus tf Sakai mampu menembus sekat-sekat Indonesia bahkan antar negara, melalui sastra. Karyanya berupa novel, cerpen dan puisi menjangkau atmosfer yang luas, bukan sekedar budaya habitatnya, Minangkabau.

Penyair yang bernama asli Gustrafizal ini memutuskan hidup menjadi penulis setelah tamat dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang pada 1994. Keputusan tersebut kemudian dibarengi dengan pilihannya untuk kembali tinggal di daerah asalnya yang acap disebut Luhak 50 Koto.

Tinggal di kota kecil, malah mendukung kreatifitas Gus. Puluhan penghargaan ia peroleh sejak dari tingkat internasional hingga ke nasional. Antara lain, penghargaan sastra Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001), Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi Susi, 2000 M (2002), SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004) dan Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk kumpulan cerpen Perantau (2007).

Pada peringatan kemerdekaan Agustus lalu, pemerintah provinsi Sumbar memberi Anugerah Tuah Sakato untuk Gus bersama 13 orang lainnya. Sebuah penghargaan baru untuk menghargai tokoh Minang yang konsisten berkarya di bidangnya.

Gus kaget atas penghargaan itu. Semoga telah berubah. Orang Minangkabau biasanya lebih menghargai orang-orang yang tinggal di rantau, katanya kepada Hendra Makmur dari Media Indonesia, Kamis (2/10) lalu.

Ia lalu bercerita banyak tentang proses kreatifnya, mainstream sastra dunia serta sastra Indonesia yang masih sering terjebak dalam konflik kelompok. Berikut petikan wawancaranya:

Sudah puluhan penghargaan yang Anda terima hingga dua yang terakhir Khatulistiwa Literary Award dan Anugerah Tuah Sakato dari Gubernur Sumbar. Apa yang Anda rasakan?

Saya tentu berterima kasih. Ada sesuatu yang beda. Sesuatu yang semoga telah berubah. Orang Minangkabau, Anda tahu, biasanya lebih menghargai orang-orang yang tinggal di rantau ketimbang yang tinggal menetap di kampung sendiri.

Bagaimana proses pencarian ide Anda ketika berkarya? Apakah mengalir begitu saja? Ataukah butuh pemicu atau peristiwa sebagai pemantik?

Saya kira kedua-duanya. Sangat banyak yang kita tak tahu. Dan mencari adalah suatu keharusan. Begitu kita menemukan sesuatu, keinginan menulis akan sangat besar. Tapi di sisi lain kita membutuhkan segalanya mengalir begitu saja agar apa yang kita tulis menjadi wajar, tak terkesan dibuat-buat atau dipaksakan.

Bagaimana perbedaan proses pencarian ide untuk karya puisi dan prosa? Nama Gus tf dan Gus tf Sakai yang Anda bedakan untuk karya puisi maupun prosa, apakah berlatar belakang perbedaan yang mendasar ketika menghasilkan dua karya itu?

Dulu, pada masa atau periode awal-awal menulis, memang ada semacam pertimbangan apakah suatu ide lebih cocok untuk puisi ataukah lebih cocok untuk prosa. Tapi sekarang rupanya tidak. Apa pun idenya, bila yang ada Gus tf, maka yang muncul adalah puisi. Bila Gus tf Sakai, yang muncul prosa. Jadi tak ada beda mendasar. Satu hal yang agak jelas: Gus tf sering muncul ketika sedang bepergian atau dalam perjalanan, sedangkan Gus tf Sakai ketika sedang menetap atau tinggal lama, membaca-baca, menyelidik, meneliti sesuatu tak ke mana-mana.

Apa yang membuat Anda memutuskan berdomisili di Payakumbuh, sementara banyak sastrawan lain merasa perlu pindah ke Jakarta?

Saya tak tahu apa pertimbangan sastrawan lain. Tetapi saya kira, dengan kemajuan dan segenap kemudahan yang disediakan teknologi, domisili tak lagi penting. Dunia telah mengecil. Anda bisa melompat dari suatu dunia ke dunia lain dalam hitungan detik

Apakah Anda tidak merasa ketinggalan informasi dengan tinggal di kota kecil?

Tidak. Bagaimana akan ketinggalan informasi bila suatu kejadian di suatu belahan dunia bisa dengan mudah hadir di hadapan kita, bahkan pada saat yang sama?

Dengan memilih tinggal di Payakumbuh, pasti kota ini ada kelebihannya untuk Anda. Boleh tahu apa itu?

Ya, saya kira ada. Kemudahan dan kebergegasan informasi membuat Anda berada dalam irama hidup yang cepat. Dan kota kecil semacam Payakumbuh, di mana segalanya masih berjalan relatif alami dan pelan, akan memberi Anda semacam keseimbangan.

Sepertinya Anda menikmati betul tinggal di Payakumbuh. Apakah itu mempengaruhi proses Anda dalam berkarya?

Ya saya kira juga. Selain keseimbangan tadi, di mana Anda bisa ulang-alik antara kebergegasan dan kepelanan, lebih dari itu semua, saya tetap berada di dunia nyata. Maksud saya, saya tak berjarak dari atmosfer hidup yang melahirkan saya. Dengan kata lain, saya tak mudah tercerabut dari akar budaya, sesuatu yang sangat penting yang memberi kontribusi, sekaligus perbedaan, antara satu pengarang dengan pengarang lain.

Dari banyak karya Anda, Anda dikatakan melintas batas-batas daerah dan bahkan dunia. Bagaimana Anda bisa menulis banyak tentang tempat lain, sementara Anda lebih banyak tinggal di Payakumbuh? Apa cukup dengan media massa dan internet saja?

Sudah saya katakan, kemajuan teknologi telah memanjakan kita untuk bisa berada di mana saja. Kita bisa melintas, ulang-alik, dari satu belahan dunia ke lain belahan dunia. Bahkan dari satu masa ke lain masa. Tapi jangan lupa, karena kemajuan teknologi juga telah menyeragamkan banyak tempat di dunia, baiklah kita mengenali atau menyebut segala jarak tempat dan waktu itu sebagai khasanah. Hanya dengan begitu kita bisa melihat segalanya dengan berbeda, yang pada gilirannya memperkaya. Tapi pula, tentu selalu ada kasus di mana internet dan media massa saja tak cukup. Dan saya beruntung karena kadang diundang ke berbagai tempat.

Apa kegiatan Anda selain menulis sekarang?

Tak ada, atau mungkin belum ya?

Apakah Anda sedang menyelesaikan karya baru?

Ya, tapi selalu tak pernah selesai.

Novel, cerpen, atau puisi?

Ya semua. He he

Kalau boleh dapat bocoran, tentang apa?

Novel, tentang sebuah kampung yang hilang. Cerpen dan puisi macam-macam.

Kapan rencananya akan terbit?

Tak tahu kapan akan terbit. Ya karena itu tadi, tak pernah selesai-selesai. He he

Bagaimana pendapat Anda tentang banyaknya penulis baru saat ini yang langsung melejit, terkenal, dan laku di masyarakat?

Ya bagus. Mereka mestinya cerdas-cerdas ya? Mereka lahir dan tumbuh pada zaman di mana banyak hal datang dari segala arah.

Apa ini hal positif? Atau ada tidak baiknya?

Ya positif kalau mereka bisa memberdayakan itu semua. Tapi bisa pula negatif, karena banyak hal yang datang timpa-bertimpa itu membuat kita bisa terjebak dalam kedangkalan. Dan dalam masyarakat kita, Indonesia, yang amburadul dan direpotkan oleh banyak hal ini, sesuatu yang dangkal cenderung disukai. Maka yang melejit, terkenal, laku, sangat sering berkebalikan dengan kualitas.

Menurut Anda, ke mana arah mainstream sastra dunia sekarang?

Ke kesadaran betapa beragam sumber penciptaan. Kekayaan dari berbagai khasanah mulai jadi perhatian. Sastrawan dengan tradisi sastra yang kokoh seperti Eropa, untuk mempertahankan tradisi itu, mulai membongkar dan mendekontruksi tradisinya. Kita lihat sekarang penghargaan-penghargaan sastra internasional mulai banyak diperoleh oleh karya-karya sastra hibrida, yang pengarangnya berasal dari negara-negara kolonial atau bekas jajahan.

Di Indonesia ke mana?

Sepertinya masih meraba-raba. Kalau saja mereka tahu betapa kayanya sumber-sumber lokal.

Mengapa seolah sastawan tak lepas dari intrik sejak dulu. Banyak perpecahan, misalnya adanya blok Utan Kayu, Horizon, dll. Bagaimana Anda memandangnya? Apakah ini tidak merugikan?

Ya tentu saja merugikan. Selain tradisi sastra kita masih sangat muda, ini tak lepas dari sejarah awal kesusastraan kita yang tidak berfungsi atau diletakkan atas dasar kepentingan sastra, melainkan atas dasar kepentingan lain seperti politik. Sastra belum kita pandang sebagai suatu teks yang punya sifat dan ukuran-ukuran sendiri. Dan jejak itulah yang masih membekas sampai kini.

Bagaimana solusinya ke depan menurut Anda?

Tak lain, marilah kita kembalikan ini semua. Mari kita lihat hanya teks sastra, kepentingan sastra. Jangan lagi kepentingan kelompok. Sastra yang karena ukuran-ukurannya bersifat menyatukan, kok malah menjelma jadi alat kepentingan kelompok yang sifatnya justru memisahkan. Sesuatu yang sangat bertolak-belakang, bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).