Sketsa Penyair Lampung

Iswadi Pratama*
Pikiran Rakyat, 20 Mei 2006

MULANYA panitia “Festival Mei 2006″ meminta saya untuk menuliskan peta kepenyairan Lampung. Namun, tidak setiap jengkal ranah sastra yang terbentang di Lampung sejak era Isbedy Stiawan Z.S. hingga generasi yang muncul belakangan saya pahami. Kesulitan itu semakin besar disebabkan fakta bahwa sebagian besar penyair di Lampung tidak selalu dapat dilacak karyanya melalui media massa atau antologi puisi yang pernah diterbitkan. Namun jelas, para penyair yang memilih untuk “menyimpan” karyanya itu akan mendamprat saya jika mereka tidak terpetakan hanya karena alasan-alasan yang bersifat publisitas. Buktinya, dalam beberapa kali Dewan Kesenian Lampung menerbitkan antologi puisi banyak sekali penyair yang terpaksa tidak dapat disertakan lantaran “tak terlacak” –padahal jumlah penyair yang karyanya ikut dibukukan sudah cukup banyak.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Nirwan Dewanto pernah menyebut Lampung sebagai “negeri penyair” –tapi masih dalam harapan menjadi “negeri puisi”.

“Perkembangbiakan penyair yang cukup subur ini barangkali ada kaitannya dengan kondisi geografis Lampung, khususnya Bandar Lampung yang berbukit-bukit dan dekat dengan laut. Daerah seperti ini memang cocok untuk para penyair.” Demikian ujar Binhad Nurrohmat, salah seorang penyair kelahiran Lampung yang kini menetap di Jakarta. Saya kira, Binhad memang sedang bergurau ketika mengutarakan hal itu. Sebab, itu bukanlah sebuah pernyataan “ilmiah” yang berdasarkan pada data-data atau semacam riset tentang “Pengaruh Kondisi Geografis terhadap Kesuburan Penyair Lampung”. Namun, sebagaimana umumnya para penyair yang senang bermetafor –bahkan dalam obrolan sehari-hari– pernyataan Binhad itu bisa saja ditafsirkan bahwa di sebuah daerah yang masyarakatnya telah berkembang menjadi “semacam” masyarakat modern namun kedekatan dengan alam masih kuat, menjadi penyair adalah sebuah cara memosisikan diri yang paling romantis (memikat). “Itulah sebabnya di Lampung banyak penyair liris dan bersemangat romantis,” ujar Binhad seraya menunjuk saya sebagai salah satu di antaranya. “Untuk sampai ke rumahmu saja, kita harus melewati kota dengan jalanan yang meliuk-liuk, lembah, gunung, dan pepohonan, ini adalah lirisme secara geografis. Beda dengan saya yang tinggal di Jakarta atau teman-teman penyair lain yang hidup di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. Sukar bagi saya menulis angin, sungai, gerimis, hujan, pohon, sepi, hening. Itu juga yang menyebabkan karya saya dan sebagian penyair lain yang tinggal di kota-kota besar punya ekspresi yang lebih keras!”

Saya tahu Binhad tidak bermaksud melakukan generalisasi. Saya kira ini hanyalah usahanya untuk memahami sebuah keadaan: Lampung banyak penyair dan banyak karya dari sebagian besar mereka bersemangat romantis dan liris. Binhad berhak mempertahankan argumentasinya dengan cara pandang seperti itu. Namun, ada beberapa fakta yang berkaitan dengan jumlah penyair Lampung yang lumayan banyak itu.

Era ’80-an

Periode tahun ’80-an yang saya gunakan di sini hanyalah untuk menandai kemunculan para penyair Lampung yang pada periode itu karya-karyanya telah dikenal secara luas dalam ranah sastra Indonesia. Generasi ini ditandai dengan beberapa penyair seangkatan yakni Isbedy Stiawan Z.S., Iwan Nurdaya Djafar, Sugandhi Putra –ketiganya pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum Penyair Lampung 1987.

Selain ketiga penyair, masih ada nama-nama seperti Achmad Rich, Dadang Ruhiyat, Hendra Z., dan Juhardi Basri. Achmad Rich (sekarang telah wafat), Dadang Ruhiyat, Hendra Z., Juhardi Basri, Sugandhi Putra, dan Iwan Nurdaya Djafar nyaris tak memublikasikan karyanya lagi. Namun, keenam penyair ini selalu dapat menunjukkan puisi baru mereka dalam setiap acara sastra di mana mereka terlibat.

Yang perlu dicatat –khususnya pada Iwan Nurdaya Djafar– meski tak rajin lagi menulis dan memublikasikan puisi, ia justru kian produktif menerjemahkan karya Khalil Gibran, Omar Khayam, Rumi, Tagore, Goethe, Octavio Paz, Ogi Muri, dan lain-lain.

Satu-satunya penyair Lampung generasi ’80-an yang hingga kini terus berkarya, baik puisi maupun prosa, adalah Isbedy Stiawan Z.S. Untuk konteks sastrawan Indonesia generasi ’80-an, Isbedy adalah salah seorang yang paling produktif. Para penyair Lampung yang menyusul barisan Isbedy Stiawan Z.S. dkk. di antaranya Syaiful Irba Tanpaka, Sutarman Sutar, dan Christian Heru Dwi Cahyo.

Era ’90-an

Memasuki era ’90-an, dunia sastra di Lampung kian diramaikan dengan kehadiran nama-nama Ahmad Yulden Erwin, Panji Utama, Muhtar Ali, Pondi Al-Kindy, Eva Lismiarni, Budi P. Hutasuhut (P. Hatees), Dahta Gautama, Iswadi Pratama, dan belakangan Oyos Saroso H.N., yang hijrah dari Jakarta dan hingga kini menetap di Lampung. Sebenarnya, pada era ini, masih cukup banyak penyair Lampung yang juga berkiprah. Namun maaf, tidak seluruhnya bisa saya ingat dengan baik.

Salah satu “dentuman besar” yang menandai maraknya jumlah penyair Lampung di era ’90-an adalah diterbitkannya antologi puisi Memetik Puisi dari Udara oleh Radio Suara Bhakti (Rashuba), sebuah radio kawula muda setiap minggu menyelenggarakan acara pembacaan puisi on air dan diskusi sastra. Ini adalah acara yang diasuh oleh Ari S. Mukhtar, salah seorang alumnus Teater Sae angkatan Budi Otong. Melalui acara ini, sastra khususnya puisi bahkan sempat menjadi tren di kalangan remaja di Bandar Lampung.

Dari penyair era ’90-an ini lahir pula beberapa antologi puisi, di antaranya Tap (manuskrip puisi Ahmad Yulden Erwin dan Panji Utama, 1992), Pasar Kabut (antologi puisi Panji Utama, 1994/1995), Kibaran Bendera (antologi puisi Panji Utama, 1997), dan Meditasi Sebatang Rokok (manuskrip puisi Ahmad Yulden Erwin, 1996/1998).

Meski Ahmad Yulden Erwin dan Panji Utama, dua penyair yang paling menonjol di ujung era ’90-an (1988-1989) ini tidak rajin lagi memublikasikan karyanya, keduanya masih menulis.

Era 2000

Menapaki era 2000-an (sejak 1994/1995) ranah sastra Lampung diramaikan dengan kemunculan penyair dan cerpenis yang sebagian besar memiliki basis aktivitas kesenian di perguruan tinggi. Di antaranya Rivian A. Chepy, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Budi Lpg, Lex Robert, Kuswinarto (cerpenis), dan Dyah Indra Mertawirana (cerpenis). Di luar kampus, muncul nama-nama Arman A.Z., (cerpenis) Dina Octaviani, Nersalya Renatha, Imas Sobariah, Robby Akbar, dan Hendri Rosevelt.

Dari gerbong era 2000 ini, kita lalu mengenal nama-nama yang hingga kini karyanya sering muncul di banyak media massa, di antaranya Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Dina Octaviani (menikah dengan Gunawan Maryanto dan kini menetap di Yogya), Dyah Indra Mertawirana (cerpen). Sesekali, muncul karya Nersalya Renatha, Alex Robert, dan Hendri Rosevelt di koran atau media massa lainnya. Di luar ini, sebagian terus berjuang untuk bisa “hadir” lebih luas melalui media massa.

Dari tradisi sastra yang tercipta di kampus, khususnya Universitas Lampung, telah terbit antologi puisi yang memuat karya-karya penyair yang notabene masih menjadi mahasiswa. Di antaranya Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas Tumbuh (Teknokra, 1995) dan Menikam Senja Membidik Cakrawala (Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung, 1997/1998).

Epilog

Sketsa pertumbuhan penyair di Lampung tersebut tentu tidak serta-merta merepresentasikan regenerasi penyair Lampung secara utuh. Semua sekadar fragmen-fragmen yang berupaya menangkap fase-fase paling penting. Meskipun di sana sini tetap tak bisa lengkap. Namun, saya sedang menyodorkan sebuah data mengenai kepenyairan di Lampung yang mudah-mudahan dapat memperkaya pandangan akan kepenyairan di Lampung.

Salah satu faktor yang telah menjadikan Lampung memiliki begitu banyak penyair dan sebenarnya juga cerpenis adalah karena di hampir dalam setiap generasi selalu ada penyair atau cerpenis yang juga memiliki basis kreativitas di komunitas-komunitas seni.

Melalui mereka inilah, menulis puisi atau cerpen jadi semacam “penyakit menular” di banyak komunitas seni di Lampung. Tak terkecuali sanggar-sanggar seni yang ada di sekolah-sekolah. Juga, tak mengabaikan peran media massa seperti yang pernah dilakukan “Radio Suara Bhakti” di era ’80-an, Lampung Post dengan “Redaksi Siswa”-nya yang hingga kini masih dipertahankan. Kini ada pula radio swasta “Mandala FM” yang gemar melaksanakan bincang seni dan sastra, atau radio komunitas yang dikelola KNPI khusus untuk meladeni hasrat besar para pelajar di Bandar Lampung untuk berekspresi-kreatif soal apa saja termasuk sastra.

Pertanyaannya, setelah “dinobatkan” sebagai “Negeri Penyair”, layakkah Lampung selanjutnya menjadi “Negeri Puisi”? Saya kira akan ada banyak takaran, parameter, pendapat, dan penilaian yang bisa diajukan dan kita diskusikan bersama.***

*) Penyair, peserta “Festival Mei 2006″
Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2007/02/sketsa-penyair-lampung.html

Komentar