Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri*

Ignas Kleden**
Kompas, 04 Agu 2007

Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi.

Dalam sebuah esainya Sutardji menulis “puisi adalah alibi kata-kata”. Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut.

Sebuah kata, dalam pemikiran Sutardji, diberi beban makna oleh berbagai kekuatan, yang dalam proses selanjutnya tidak mau bertanggung jawab lagi tentang makna yang mereka berikan dan memindahkan tanggung jawab tersebut pada kata yang telah diasosiasikan dengan makna tertentu.

Adapun kekuatan-kekuatan yang dianggap menindas kebebasan kata-kata deng…

Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra

Yohanes Sehandi *
harian Pos Kupang, 23 Juni 2010

Sejak Dami N. Toda meninggal dunia 10 November 2006 di Hamburg (Jerman) sampai dengan pengantaran abu jenazahnya ke Indonesia/NTT, Oktober 2007, sejumlah koran nasional dan lokal NTT (Pos Kupang dan Flores Pos), memberitakannya. Wartawan Pos Kupang di Manggarai, Kanis Lina Bana, merekam kembali perjalanan hidup almarhum dan menghasilkan tiga tulisan berseri di Pos Kupang (25-27/10/2007). Dua penulis muda NTT, Bill Halan (Pos Kupang, 1/11/2007) dan Isidorus Lilijawa (Flores Pos, 24/10/2007) memberi sumbangan “opini sastra” tentang Dami N. Toda beserta jasa-jasanya. Semakin semarak berita tentang almarhum dengan kehadiran sastrawan besar Indonesia, WS Rendra, yang memberi kesaksian tentang kehebatan Dami N. Toda, juga ikut mengantarkan abu jenazah almarhum ke Kupang terus ke Todo-Pongkor, Manggarai, untuk disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir (Pos Kupang, 12, 16, 17, 19, 21/10/2007, dan Flores Pos, 16, 19/10/2007).

Dari ber…

LELAKI BERSANDAR PADA ANGIN

Bambang kempling
http://sastra-indonesia.com/

Lorong menuju kamar itu, mengingatkannya pada kebisuan-kebisuan yang tidak sempat tertulis. Begitu banyak yang mendesak perlahan, termasuk pilihan-pilihan. Tetapi ada semacam kesadaran bahwa kata-kata yang menjelma begitu saja, tidak seharusnya berakhir sia-sia.

Hari lewat tengah malam, dengan sempoyongan dia masuki lorong sempit itu. Sebuah lorong melarat, dimana barangkali seluruh debunya telah terlebih dahulu mencatatkan peristiwa setiap hari yang dilalui menjadi satu tarikan abstraksi jalan hidup.

“Apakah masih ada kegembiraan?”desisnya, membaur dengan bau yang tertimbun oleh kepengapan udara kamar.

Masih begitu diingatnya, bagaimana mesti menyembunyikan keganjilan ketika lewat pada sebuah jalan kecil samping masjid; suara azan yang syahdu, juga bersimpangannya dengan orang-orang yang hendak berkunjung ke rumah Tuhan, dan tentang bagaimana dia secara tiba-tiba berlari menjauh. Ekpresi aneh segera tergambar dari setiap wajah mereka.

Begitu ke…

KELIR BEDAH

Indiar Manggara
http://indiarmanggara.blogspot.com/

Hari nampak lelah digenang senja. Warna emas yang leleh mencair mewarnai cakrawala, semakin redup, menarik cahaya dari celah-celah rimbun bukit. Bulan semenanya muncul dengan setengah keangkuhan menatap tajam matahari yang mulai terseok-seok menuruni renta waktu –seperti menuntut sebuah keadilan.

Angin gegas serentak menyerbu ke sebuah arah menuju lautan. Menciptakan sapuan lembut pada setiap apa yang berdiri kokoh di tempatnya. Mengayun seperti tak tentu arah. Menyeret apa saja yang dapat ditariknya. Tak terkecuali anyir darah bercampur peluh yang menggenang di padang Kurusetra.

Kurusetra, sebuah hamparan tanah luas yang bengis dan kejam. Menelan segala jerit sakit dan kobar semangat yang pupus di ayunan mata pedang dan tikaman anak panah. Sebuah padang gersang, kering, yang menggembur merah, berselimut gelimpangan mayat-mayat manusia. Kurusetra, hamparan tanah lapang yang dibanjiri anyir darah, berkeliling bukit yang menyaksikan pemban…

Tanjungpinang dalam Bingkai Sastra Indonesia

Judul : Dermaga Sastra Indonesia
Penulis : Jamal D. Rahman,dkk
Penerbit: Komodo Books
Tahun :2011
Tebal:xxx+298
Peresensi: Abd. Rahman *
http://netsains.com/

Pertama kali membaca buku ini, penulis merasa terkejut karena kaum intelektual dari tanjungpinang dan Kepulauan Riau secara umum cukup signifikan mewarnai sastra Melayu dan Nusantara pada umumnya. Sejarah sastra di daerah ini berkembang bukan hanya di tangan Sutardji Calzoum Bachri, tetapi jauh sebelumnya sastra telah berkembang.

Buku ini secara obyektif memaparkan sejarah kesusastraan dalam rentetan perkembangan sastra sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-21,mulai dari Raja Ahmad yang dikenal ‘Sang Pembuka Jalan’ hingga Suryatati A Manan. Secara umum,buku ini membagi sejarah kepenyairan Tanjungpinang ke dalam dua babak atau gelombang.

Babak pertama adalah priode antara tahun 1779 [raja Ahmad] hingga 1924 [Aisyah Sulaima]. Sedang gelombang kedua kepenyairan di Tanjungpinang muncul pada akhir 1960-an dan awal 1970-an,dimulai dari Hasan Jun…

Kota dan Penyair

Juniarso Ridwan
Pikiran Rakyat, 12 Des 2010

SEBUAH kota tidak serta merta hadir untuk memenuhi deretan daftar keinginan manusia penghuninya. Tidak juga diproyeksikan untuk mengaktualisasikan harapan yang semakin jenuh. Sebuah kota merupakan perwujudan kompromi yang saling berkaitan antara keinginan manusia, bentuk lahan, kondisi topografi, kekayaan alam, posisi tapak, orientasi terhadap lingkungan sekitar, kondisi tanah, kemampuan merekayasa, kemampuan ekonomi, jangkauan administrasi dan legislasi, lalu-lintas sosial-budaya, serta harapan-harapan yang terus tumbuh. Kota adalah sumber energi bagi penyair yang terus bergulat menggali idiom-idiom baru bagi peningkatan kekayaan kosakata yang akan disemburkan melalui karya kreatifnya. Kota merupakan jalinan interaksi sosial yang tiada henti, mulai dari gerak langkah penyelarasan sampai pada benturan konflik, yang bermuara pada proses pembaharuan dan munculnya persemaian toleransi.

Kota menjadi ladang perburuan kata-kata dengan suasana yang se…

Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji

Hasnan Bachtiar
http://kataitukata.wordpress.com/

Dewasa ini telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para kritikus, seolah bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani suatu mazhab yang mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi mayoritas umat: Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Bukan hal yang mengherankan, penisbatan ini tertuju kepada penyair masyhur itu. Pujangga yang hebat, memiliki puisi-puisi yang sangat baik dan sungguh sulit mencari cela pada anak-anak rohani yang telah tercipta dengan kualitas berkelas, kecuali oleh ketajaman kritikus tulen yang bernyali. Dengan menaruh segala rasa hormat, bahwa tulisan-tulisannya yang hadir dalam kesusastraan Indonesia, barangkali setara dengan pelbagai khazanah tafsir kitab suci yang diagungkan.

Kehebatan SCB terdengar menyeruak di tengah pujangga, kritikus, akademisi, hingga penikmat sastra. Bahkan sangat familier, sehingga begitu dekat dengan pembacanya.

Di tengah gegap gempita bersinarnya sosok SCB, tidak jarang beberapa kalangan me…

RUMI DAN JEJAK TUHAN DI ATAS SAJADAH MUSA

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam pembahasan sebelumnya telah disinggung bahwa hakekat hidup manusia di dunia ini adalah untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa limpahan keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, orientasi hidup di dunia ini hanya kepada Tuhan. Manusia hidup di dunia ini hanyalah proses pencarian terhadap hakekat Tuhan yang haqq, agar saat ia kembali kepada-Nya kelak sanggup memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.

……“Dunia ini ibarat Thursina, dan kami Musa pencari sinar-Nya; setiap petunjuk datang dari-Nya, puncak gunung ini akan pecah berkeping-keping” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Rumi menegaskan, bahwa semua tempat yang berada di dunia ini diibaratkan sebagai bukit Thursina serta semua manusia berposisi sebagai Musa AS. Manusia berposisi sebagai subjek yang melakukan pencarian terhadap bukti keberadaan tuhan dalam realitas kehidupanya. Tentunya bagi Rumi perlambang ini bukan berorientasi kepada seluruh manusia, tetapi bagi mereka yang …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com