Langsung ke konten utama

Mengembalikan Diri pada Hakikat Kemanusiaan

Judul : Lalu Aku
Penulis : Radhar Panca Dahana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juli 2011
Tebal : 124 hlm.
Peresensi : Arif Saifudin Yudistira *
Lampung Post, 9 Okt 2011

LALU aku, lalu kau, lalu aku kau adalah tiga bab kehidupan kita yang diterjemahkan, dituliskan, dan ditangkap Radhar Panca Dahana dalam buku puisinya ini. Aku, kau, dan kita adalah bagian dari kehidupan ini, bagian dari hakikat kosmos yang tak mungkin terpisahkan dalam kehidupan kita. Ketika aku terlepas dari kau, ketika kata aku terlepas dari kau dan kita maka aku adalah sosok yang hilang, sosok yang tak punya nyawa. Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam sekumpulan puisi ini.

Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan orang lain, dengan alam, dan dengan imajinasinya. Ketika manusia tidak lagi mempunyai rasa sensibilitas, tidak memiliki rasa sensitivitas dengan alam, manusia lainnya, maka tidak jauh berbeda dengan cyborg. Sebagaimana Lyotard pernah berujar tentang makhluk mekanik. Herbert Marcuse menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan one dimensional of men (manusia satu dimensi).

Manusia yang seperti itulah manusia yang mereka menyentuh, mereka mendengar, mereka melihat tapi tidak tersentuh, tidak mendengar, dan tidak merasakan. Akhirnya manusia yang seperti inilah yang tentu tidak sama-sama kita inginkan. Sastra adalah bagian dari kemanusiaan itu. Puisi adalah bagian dari sastra. Mencintai puisi, adalah mencintai sastra, dan mencintai kemanusiaan.Lewat kata-kata itulah kita berperan, dengan kata-kata kita bersuara, dan dengan kata-kata kita mengumpulkan dan menciptakan, serta dengan kata-kata kita berpihak. Maka tak khayal bila Pramudya pernah mengatakan: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak mencintai sastra ia ibarat anjing yang bodoh.

Dalam puisi Radhar Panca Dahana, kita akan menemukan keterasingan, kelemahan, kegembiraan, kekaguman, dan juga refleksi diri yang sangat wajar dihadapi oleh manusia. Menulis puisi adalah memerkarakan hidup dan kehidupan. Puisi bagi Radhar adalah upaya mengembalikan kita sebagai manusia. “Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta. Susunlah ia jadi puisi sehingga ia memanusiakan kamu, sebagaimana sejarah waktu ada padamu, sejarah cinta membentukmu”.

Radhar meletakkan kata aku dengan lihai, aku menjelma menjadi alam, aku menjelma menjadi anak, dan metafora yang asyik dan membawa kita pada dunia imajinasi yang luar biasa. Ini yang kita baca dari sajak Ragukan Aku tanpa Ragu: laut dimana semua tetesnya/adalah cinta, untukmu semata./Tapi, sekali lagi ragukan aku/bila tetap tersedu,tetap jadi aku./Ragukan semua/tanpa ragu.

Dalam puisi ini pula kita akan menemukan rasa kekaguman, perasaan yang biasa kita alami sebagai sosok manusia yang mengagumi seseorang. Radhar menuliskan ini dengan indah dengan judul Lenggakmu, Lenggok Waktuku; Ratih sanggarwati.

Dalam puisi ini kita akan menemukan peristiwa yang intim antara penulis puisi dan Ratih Sanggarwati, yang mengalami satu peristiwa yang sama, kenyataan yang sama, yang berjalan beriringan antara mereka berdua. Dalam puisi ini kita diajak berpikir, merenung, dan mengagumi sosok Ratih Sanggarwati. Begitu pun dalam puisi sejenis berjudul Pisau Kecil Pingkan Mambo.

Radhar menggambarkan cinta yang ada hanyalah sepintas lalu, yang biasa saja dan penuh dengan kesederhanaan. Kata kesederhanaan seperti tak terlepas dari biografi Radhar yang memulai kisahnya dengan segenap kesederhanaan yang akrab dengan kemiskinan. Namun, Radhar mencintai dan mempunyai jalan seni yang awal dianggap tidak sesuai dengan keluarganya. Puisi cinta yang lain bisa ditemukan dalam Ibu yang Baik, Seindah Itukah Kamu, Dari Cinta yang Sederhana.

Puisi-puisi Radhar adalah puisi yang halus, pelan, lirih tapi terkadang menusuk ulu hati. Yang biasa, wajar dan kadang penuh dengan ketegangan. Lewat puisi-puisinya kita kembali diajak untuk bertamasya tentang manusia, manusianya, kehidupan, kehidupannya, dan kehidupan kita. Sebagaimana kita manusia, kita pun akan menemukan rasa dalam kata-katanya. Itulah yang diharapkan dengan hadirnya puisi ini. Lalu aku, lalu aku kau, lalu kita, dan semua ini akan berlalu.
_______________________
Arif Saifudin Yudistira, mahasiswa UMS, Presidium Kawah Institute Indonesia
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/10/buku-mengembalikan-diri-pada-hakikat.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).