Langsung ke konten utama

Habis Gelap Terbitlah Gelap

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.com/

Andai Kartini tidak lahir pada 21 April 1879, pastilah tidak akan muncul ledakan keperempuanannya hingga ia menulis Door Duisfernis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (P.N. Balai Pustaka, 1957). Ia tak lain adalah cermin tragedi perempuan di abad itu, saat harkat perempuan terperosok dan cuma berkubang ”riwa-riwi” di sumur, dapur, dan kasur. Batinnya dilecut gelisah, dipukul topan badai keterbelakangan. Dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang. Dikerangkeng adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang lama nian terjajah.

Siapa menyangka Kartini yang terlahir di Jepara itu lalu mencetuskan perubahan besar bagi kebangkitan perempuan Indonesia. Sebenarnya ia bukan apa dan siapa untuk digores dalam sejarah jika dibandingkan dengan sederet pejuang perempuan lain di negeri ini. Namun yang berharga darinya lebih karena 150 suratnya kepada Nyonya dan Tuan Abendanon. Terhadap dua londo baik budi ini, adik-adik Kartini pun menulis surat kepada mereka: Roekmini 29 surat, Kardinah (7), Kartinah (3), dan Seomatri (1). Sedangkan ayahnya (RMP Sosro Kartono) dan suami Kartini (Djojo Adiningrat) masing-masing menulis sepucuk surat untuk Tuan Abendanon.

Bagi Kartini, Nyonya Abendanon adalah ”ibu jiwa”-nya. Tempat bercurah bahagia dan derita. Tatkala malam-malam senyap pikirannya tidak tenang, saat tak ada obat tidur apa pun yang mujarab. Kegundahan yang terus mengisapnya hingga ia meratap tersedu dalam hati ketika Kardinah, adiknya, harus meninggalkannya untuk menjadi istri pilihan orang tuanya dan tersebab itu tak bisa membantunya mengajar anak-anak kampung. Air matanya tertumpah. Baju pengantin dan selambu kamar di malam pertama adiknya itu, di mata Kartini, tak lain hanyalah kain kafan belaka.

Lewat surat-surat itu, apa yang retak dari sisi gelap perempuan pelahan mulai tersingkap. Kartini sadar, dirinya tak akan lama di dunia, dan kata-kata yang dituangkan dalam tulisannya itulah kelak yang bakal abadi. Ia berpikir jauh ke depan bahwa harkat perempuan barangkali mustahil bangkit bila ia sendiri tak tergerak untuk menyorong perubahan. Serampung menyimak Kitab Hilda van Suylenburg dalam bahasa Melayu, ia bertanya-tanya mungkinkah perempuan bumiputera mendapatkan bacaan seperti ini? Membaca menjadi sesuatu yang asing dan mewah. Sementara banyak kaum alit di Jepara saat itu dilanda penyakit akibat kelaparan dan carut-marutnya buruh bergaji rendah yang ditelantarkan Belanda.

Pertanyaan kecil mungkin muncul di benak kita, apa sebenarnya yang menginspirasi Kartini hingga ia menulis 150 surat? Baginya barangkali tak ada cara lain di balik keterpasungan dirinya selain keakraban yang lekat pada mereka-mereka yang telah maju di Eropa dan terbuka untuknya berkeluh-kesah. Hanya pena dan kertas disulapnya menjadi ”lidah tajam” demi menyuarakan jeritan nuraninya. Nyonya Ovink-Soer yang simpatik dan penuh cinta kasih, hingga Kartini bersurat padanya, bertarikh November 1899, dengan judul Pada Kakiku Ternganga Djurang, Diatas Diriku Melengkung Langit Terang Tjuatja. Nona Estella H. Zeehandelaar si pendengar keluh yang setia. Kartono, si kakak yang penyanyang dan penyemangat. Nellie van Kol, si penenang hati yang bergolak.

Dalam film RA Kartini besutan Sjumandjaja (dengan aktor Yenny Rahman, Adi Kurdi, Nani Wijaya, Andi Auri, dan Chintami Atmanegara) digambarkan saat Kartono berkunjung pulang dari sekolahnya di Belanda dan menyimak gemuruh hati Kartini yang menolak menjadi Raden Ayu. ”Nik, kau terlampau radikal dan tidak menghormati tata krama Jawa yang adiluhung. O, adikku, kini kedewasaanmu sungguhlah mulia tapi betapa penuh bahaya,” kata Kartono.

Dengan mata sayu dan tubuh gemetar Kartini menukas, ”Yang paling ditakutkan saat ini justru menjadi dewasa, Kang Mas. Alangkah ngerinya, dan hal yang seperti itu pasti sebentar lagi akan datang. Kang Mas tahu kamar di belakang? Di sebelah kamar Mbak Yu Lastri, pintu kamar itu setiap kali terbuka sedikit, seolah kamar itu menerima Nik untuk dipingit, dikunci di dalamnya bertahun-tahun sampai harinya datang orang tua kita membawa seorang laki-laki yang belum pernah kita kenal untuk menjadi suami. Kejam sekali budaya yang menciptakan nasib semacam ini.”

Tapi apalah daya dirinya. Bakti dan kepatuhan pada orang tua mengatasi segala-galanya. Meski kepiluannya harus disekapnya sendiri di kamar pengapnya. Kehidupan Kartini saat itu hanya dapat meraba-raba bayangan adakah yang terkutuk dengan harkat keperempuannya? Atau berdamai saja dengan nasibnya yang nelangsa? Kerap pertanyaan demikian menggulung membanting pikirannya. Tapi tampaknya ia tak lelah untuk terus mencari titik terang. Merangkak-rangkak dan mencoba menggosok-gosok di ke-”gelap”-an tubuhnya. Sebentuk ikhtiar yang tulus dari lubuk hati terdalam bahwa perempuan juga layak mendapatkan pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensinya sebagaimana laki-laki. Dan, ternyata, Kartini seda (meninggal dunia) muda pada 17 September 1904, setelah melahirkan anaknya, RM Soesalit. Tapi sampai kini dan sejauh manakah ia terus menjadi inspirasi?

Agaknya terlalu musykil menjawabnya. Surat-surat sederhana Kartini justru mengintrusi lelorong kesadaran kaum hawa. Kita juga akan teringat Anne Frank yang mati di usia 14 tahun yang merekam kebiadaban Nazi dalam The Diary of Anne Frank. Paling tidak, di negeri kita, Kartini sudah menggerakkan spirit yang luar biasa bagi semisal Pramoedya Ananta Toer yang menganggit novel Panggil Aku Kartini Saja atau catatan-catatan progresif revolusiover Ir Soekarno dalam Sarinah.

Senyatanya perempuan zaman sekarang bahkan diperhadapkan pada problematika modernitas yang rawan nan pelik. Segelung air bah peradaban global di mana kini banyak perempuan menjadi korban baik di ruang domestik, penganiayaan buruh, pelecehan seksual, hingga mengimbas pada kekejaman dan penelantaran anak. Memang musti ada yang memekikkan kepahitan demikian. Bukan nubuat getir: Habis Gelap Terbitlah Gelap. (*)

*) Penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo