Langsung ke konten utama

Penelusuran Khazanah Manuskrip Pesantren

Agus Sulton
_Radar Mojokerto, 8 Juli 2012

Penelusuran naskah menyimpan keunikan tersendiri, selain belajar tentang pemetaan penyebaran naskah, pihak lain juga mengetahui tradisi masyarakat dalam menyalin termasuk fungsi naskah itu sendiri, dan beberapa cerita-cerita rakyat yang masih dipegang oleh penuturnya. Setidaknya mengetahui adat berbudaya masyarakat berupa; slametan ritual, nyadran (bersih desa atau sedekah desa), ritual kepercayaan batin, dan sebagainya. Tetapi ruang lingkup penulis hanya sebatas penulusuran (penyelamatan dan dokumentasi) naskah, sekaligus mengungkap mutiara teks itu sendiri, dan jejak proses penyalinan ataupun produksi naskah (skriptorium). Selain itu sebagai bumbu penyedapnya, penulis lanjutkan mengenai dampak jangka panjang, karena keengganan pemerintah dan beberapa peneliti pernaskahan tidak begitu perhatian pada masalah naskah-naskah yang tersimpan di masyarakat. Tidaklah mudah untuk melakukan perburuan begitu intens dengan memakan waktu bertahun-tahun. Bahkan untuk melihat teks naskah sendiri, terkadang memakan waktu sampai dua tahun. Pendekatan personal sangat diutamakan.

Masyarakat kita kebanyakan menganggap naskah (manuskrip) itu sebagai jimat, prodak peninggalan moyangnya. Sehingga tidak salah kalau peneliti sering putus asa menghadapi persoalan yang nampak melilit karena sulitnya menjamah naskah koleksi masyarakat. Ada metode tersendiri, bagaimana pendekatan kedua belah pihak tidak saling dirugikan, dan tidak lupa harus memberikan wawasan atau penyuluhan akan manfaat lebih dari naskah itu sendiri. Prinsip kegigihan dan keuletan lebih prioritas bagi peneliti, masalahnya berhadapan dengan masyarakat global sama artinya kita belajar watak, adat kebiasaan, dan perilaku komunitas masyarakat terkait.

Membicarakan mengenai pernaskahan di masyarakat dan problematikanya memang bisa jadi sebuah satu buku tersendiri. Jalinan pemetaan tradisi pernaskah begitu luas terutama pendidikan pesantren yang banyak mewarisi tradisi naskahnya. Pesantren adalah sub kultural bagian akar kekuatan suatu kekhasan negara, moralitas, dan religiusitas sebagai dasar wawasan keagamaan sebagai corong utama. Naskah koleksi mbah Wi di Ngoro Jombang adalah bagian kecil dari sisa warisan tradisi khazanah pesantren. Fungsi naskah pada saat itu sebagai pegangan penting, karena dengan naskah penyebaran dakwah melalui pesantren bisa berkembang luas. Sang Kyai melakukan pengajian kepada santri tolak ukur musti teks naskah yang dijadikan pedoman, terutama naskah-naskah klasik berbahasa Arab. Pesantren ibarat culture yang dibangun lebih agamis, kesederhanaan, dan hubungan sosialnya sangat tinggi.

Naskah koleksi mbah Wi sekarang mencapai 6 judul. Semua memakai kertas daluwang, hanya 2 judul naskah yang memakai kertas eropa (watermark) terdapat semacam garis rapat membentuk persegi kecil-kecil. Satu menceritakan tentang Aji Saka versi Islam dan naskah satunya menjelaskan mengenai ilmu astronomi. Naskah 4 koleksi lain berupa naskah daluwang, yaitu naskah Al Qur tulisan tangan (utuh), naskah bunga rampai (khasiat doa mujarab dan tauhid), naskah bunga rampai (silsilah penjabaran tarekat Naqsyabandiyyah sampai macam-macam sahadat dan Suluk Sujinah), dan naskah bunga rampai (ilmu perdukunan dan pengobatan herbal). Bagian jilid bunga rampai ada juga yang mengungkap mengenai silsilah Nabi Muhammad, ilmu tauhid, tarekat Syattariyyah sekaligus cara biatan. Naskah ini oleh pemiliknya diletakkan pada tumpukan buku-buku lain tanpa ada perawatan khusus. Naskah koleksinya mulai muncul bintik-bintik jamuran, alternatif perawatannya lebih sederhana, yaitu dengan menaruh di bawah terik matahari selama kurang lebih lima jam agar naskah dalam kondisi mengering karena kelembapan udara di kamar dan pengaruh cuaca yang tidak menentu.

Dalam salah satu naskah bagian kolofon dijelaskan, bahwa naskah ini ditulis pada abad ke-18 dengan memakai kertas daluwang; (1).”Pimut kala pathine Nyai Khamsinah ing dina isnen wukul tanggal 23 wulan roh tahun alif anggene warsa sewu pitung atus telung puluh suwiji (1731). Tatkala pathine Kyai Khamsinah ing dina atur khamis tanggal pisan sasi mukharam tahun B angggene warsa sewu pitung atus telung puluh nenem (1736)” (2). ”Mareng punika kala dhohire anak manira nafsiah ing dina selasa pahing tanggal ping sanga wulan mukharam anggene warsa, pitung atus telung puluh loro (732). Kala dhohire Anwar ing nina ahad legi tanggal ping telu wulan jumadil awal ing tahun dal anggene warsa sewu pitung atus telung puluh lima (1775)”.

Tidak disangka sebelumnya kalau Jombang menyimpan jejak tradisi naskah pesantren dari abad ke-18, padahal berdasarkan beberapa penelusuran sejarah, pesantren selawe adalah pesantren paling tua di Jombang dari abad ke-19. Setidaknya diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui jejak pesantren kuno di Jombang disertai bukti-bukti pendukung. Jombang sebagai julukan ”kota santri” seharusnya mampu untuk memetakan perkembangan sejarah penyebaran Islam. Masalahnya penyebaran (dakwah) Islam tidak lepas dari bukti penguat, seperti naskah pesantren atau sastra pesantren. Karena para kyai dalam dakwahnya tidak lepas dari buku acuan untuk santri, yang sifatnya menyalin secara tradisional.

Sebagai tanggung jawab akademisi, marilah kita menyedarkan diri untuk berbuat yang terbaik agar aset bangsa berupa naskah ini bisa dijadikan akar kekuatan bangsa. Beberapa usaha sadar budaya harus kita mulai tanamkan dari pribadi masing-masing untuk bangsa ini menjadi suatu bangsa yang kokoh. Contoh kecilnya dengan menyelamatkan naskah-naskah warisan pendahulu kita yang masih tersimpan di masyarakat. Penulis tidak menggurui pada kondisi seperti ini, setidaknya semangat kebersamaan untuk saling berbagi dan merenungi budaya mimikry. Berbagai sektor kultural tradisi pernaskahan yang sesegera harus kita ungkap dan kita pelajari sekaligus dikembangkan untuk dijadikan penelitian sejarah hubungan masa lalu dengan dunia masa kini.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo