Langsung ke konten utama

Asrul Sani, Pelopor Angkatan 45

Riau Pos, 30 Sep 2012

ASRUL Sani adalah penulis sajak, cerita pendek, esai, skenario film dan sutradara. Salah seorang dari trio pelopor Angkatan 45 dalam bidang puisi, bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Mereka bertiga menerbitkan kumpulan sajak bersama dengan judul Tiga Menguak Takdir (1950).
Pada 1950-an, bersama Usmar Ismail dan kawan-kawan dia mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Sebagai penulis skenario maupun sutradara. Dia pernah meraih piala tertinggi dalam Festival Film Asia; demikian juga dalam Festival Film Nasional. Skenario yang dibuatnya antara lain: Lewat Jam Malam (disutradarai oleh Usmar Ismail, 1956), Tauhid (disutradarai bersama oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani, 1965), Mutiara Dalam Lumpur (disutradarai oleh Wahyu Sihombing, 1970), Apa yang Kau Cari Palupi? (disutradarai sendiri, 1970), AI-Kautsar (disutradarai oleh Chairul Umam, 1977), dan Bulan di Atas Kuburan (disutradarai sendiri, 1976).

Asrul Sani banyak membuat film berdasarkan roman Indonesia yang penting-penting, misal: Pagar Kawat Berduri (karya Trisnoyuwono, 1963), Salah Asuhan (karya Abdul Muis, 1974), Kemelut Hidup (karya Ramadhan KH, 1978), Di Bawah Lindungan Kabah (karya Hamka, 1978). Bersama H Umar Ismail, Arras Ma’ruf dkk mendirikan Lesbumi dan menjadi salah seorang ketuanya. Pada 1972-1973, menjadi ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta dan 1977-1979 menjadi salah seorang Ketua Dewan Kesenian Jakarta. 1976, menjadi Ketua Lepfinas (Lembaga Pembinaan Film Nasional) Departemen Penerangan dan 1979 menjadi Wakil Ketua Harian Dewan Film Nasional. Menterjemahkan lebih dari 100 judul lakon karya pengarang dunia, baik klasik maupun modern seperti William Shakespearae, Moliere, Bernard Shaw, Ibsen, Rabindranath Tagore, Thornton Wilder, Arthur Miller, Boleslawski (Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor, 1960) dan Stanilavski.

Sementara itu roman yang diterjemahkannya pun tidak sedikit, belasan buah judul telah diselesaikannya antara lain karya-karya Fyodor Dostojewski, Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Maria Dermout, Franz Kafka, Goethe, dan lain-lain. Sajak-sajaknya Mantera (terbit 1975) dan cerita-cerita pendeknya dibukukan dalam dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.

Asrul Sani lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 77 tahun. Pada 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI. Asrul Sani merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, merupakan kepala adat Minangkabau di daerahnya. Ibunya Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing.

Asrul Sani memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (sekolah dasar bentukan pemerintah kolonial Belanda) di Bukit Tinggi pada 1936. Lalu ia melanjutkan SMP di SMP Taman Siswa, Jakarta pada 1942. Setelah tamat, ia melanjutkan ke Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor. Akan tetapi, minatnya akan Sastra sempat mengalihkan perhatiannya dari kuliah kedokteran hewan sehingga Asrul sempat pindah ke Fakultas Sastra UI dan, dengan beasiswa Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, mengikuti pertukaran ke Akademi Seni Drama, Amsterdam pada 1952 walaupun akhirnya kembali melanjutkan kuliah kedokteran hewan hingga memperoleh gelar dokter hewan pada 1955.

Pada masa kuliah itu juga Asrul sempat mengikuti seminar kebudayaan di Harvard University pada 1954. Setelah tamat kedokteran hewan, Asrul kembali mengejar hasratnya akan seni sastra dengan melanjutkan kuliah dramaturgi dan sinematografi di South California University, Los Angeles, Amerika Serikat (1956) dan kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan 45. Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka. Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz dimasukkan oleh Teeuw ke dalam Moderne Indonesische Verhalen dan dramanya Mahkamah mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda). Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre dan Burung Camar karya Anton P, dua dari banyak karya yang lain.

Karya sastranya yang terkemuka adalah Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988) dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).

Sedang karya filmnya antara lain Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959), Pagar Kawat Berduri (1963), Salah Asuhan (1974), Bulan di Atas Kuburan (1976), Kemelut Hidup (1978), Di Bawah Lindungan Kabah (1981).(fed)

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/09/jejak-asrul-sani-pelopor-angkatan-45.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).