Kritik Sastra dalam “Kunjungan Atah Roy ke Penyengat”

Ahlul Hukmi *
Riau Pos, 9 Des 2012

KISAH ini dimulai dengan kedatangan Atah Roy ke Pulau Penyengat, yang menjadi saksi perjuangan Raja Haji selaku Yang Dipertuan Muda Riau IV bersama rakyatnya dalam melawan Belanda. Pulau Penyengat juga merupakan tempat lahirnya karya sastra ternama yakni Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.
Sosok Atah Roy dengan piawainya memancing keingintahuan Leman Lengkung. Sebuah kata yakni kata ‘beban’ menjadi awal Atah Roy dalam memotivasi Leman Lengkung untuk turut segak dalam kehidupan. Terdapat 18 percakapan dalam cerita ini. Hanya dengan 17 dialog cerita ini sudah dapat memberi gambaran bahwa Atah Roy ingin menyampaikan agar generasi Melayu terkini dapat tahu dan memahami esensi sejarah kegemilangan Melayu baik dalam sastra dan pelbagai hal lainnya. Atah Roy mengingatkan agar sejarah kegemilangan Melayu mesti diisi dengan berbagai hal yang positif dan bermanfaat.

Golongan muda biasanya gemar menunjukkan eksistensi dengan lebih senang duduk dalam ruang ber-AC sambil menambah gemuk badan. Ini seperti Leman Lengkung yang dinyatakan penulisnya dalam kalimat, ‘’Saye paling geram dengan Atah ni, Atah tak pernah bace karya-karya sastra saye berbentuk puisi tu?’’

Leman Lengkung selaku orang muda jadi marah sebab ia dikatakan Atah Roy tak berbuat sesuatu meski telah membaca sejarah kegemilangan Riau-Lingga dan Pulau Penyengat. Kalimat Leman Lengkung itu menjadi bukti bahwa orang muda kebanyakan ingin menunjukkan eksistensi mereka yang telah ‘berbuat’ sesuatu dalam kehidupannya. Meski tujuan ‘berbuat’ itu berdasar berbagai motif yang berbeda pula namun hasrat menunjukkan ‘eksistensi’ tetap saja diperoleh dari mencontoh golongan tua yang gemar bercerita tentang yang telah dibuatnya untuk menambah pencitraan diri. Ada juga golongan muda yang dengan arogannya melakukan pencitraan diri tentang apa yang telah diperbuatnya di tingkat lokal dan nasional. Padahal mungkin hanya untuk kepentingan sendiri.

Tentu sebagai orang tua yang telah makan asam garam takkan karya-karya sastra Leman Lengkung lepas dari sasaran mata Atah Roy. Dalam kalimat berikut terlihat bahwa Atah Roy memberi kritik sastra terhadap karya Leman Lengkung.

‘’…Puisi dikau terlalu cengeng, siket-siket, aie mate, siket-siket mengeritik orang, macam dikau aje yang betul. Seharusnye dikau bace berulang-ulang Gurindam 12 karya Raja Ali Haji tu; dapat orang berteduh di bawahnye, dapat juge orang berjalan berdasarkan tuntunannye. Puisi dikau tidak.’’

Atah Roy menyatakan, puisi-puisi yang ‘berair mata’ dan ‘mengkritik’ dianggap sebagai puisi yang terlalu cengeng. Agaknya kritik ini hanya untuk memotivasi lebih jauh bagaimana pemikiran Leman Lengkung terhadap eksistensinya dalam membuat puisi-puisi. Lihat bagaimana Leman Lengkung memberi respon terhadap kritik Atah Roy, ‘’Tah, zaman dah berbeze. Dulu karya sastra tu memang dibace orang, pade hari ini sastra cume jadi pekerje sampingan, karene tak banyak yang membace karya sastra. Lepas itu, honor karya yang ditulis pun tak dapat diandalkan, nak beli rokok je susah. Terpakselah penulis karya sastra macam pengemis, mintak sane, mintak sini, kalau punye jaringan yang kuat, dapatlah, kalau tak ade, sampai mampus buku-buku tak terbit.’’

Namun kerisauan Leman Lengkung tentang eksistensi karya sastra saat ini perlu diberi pencerahan agar ia makin bersemangat mengeksplorasi kreativitasnya dalam hal ihawal menulis dan membaca puisi. Jika karya-karya sastra yang ditulis merupakan karya yang bermutu dan berkarakter, peluang menjadikan karya sastra sebagai salah satu sumber ekonomi kreatif tidaklah mustahil. Tak perlu pula penulis karya sastra sampai jadi pengemis atau mencari uang dengan tulisan-tulisan tentang ‘kesalahan-kesalahan’ pihak-pihak tertentu dengan tujuan ada ‘amplop-amplop’ kiriman agar tulisan itu tak dilanjutkan. Leman Lengkung hanya mesti cermat meneroka segementasi pasar pembaca sebab dalam pasar sastra tetap berlaku teori ekonomi tentang pemasaran. Sejauh mana Leman telah berhasil memperkenalkan dan dikenal orang banyak tentu akan membuka peluang baru untuknya dalam meraih minat pembaca di tingkat nasional dan internasional. Namun yang paling utama adalah karakteristik dan kekuatan puisi dan tulisan Leman.

Semoga ada manfaat yang didapatkan sosok-sosok muda seperti Leman Lengkung dari pesan Hasan Junus: ‘’Saudara-saudaraku para pengarang yang berusia muda, sedangkan Vaclac Havel yang hidup di tengah belantara lebat totaliterisme yang hebat dahsyat, yang lebih sempit dari penjara, yang lebih terkungkung dari penindasan para tiran, yang lebih pedih dari disembelih sedangkan dapat menghasilkan karya-karya besar yang tahan dirempuh waktu apalagi Anda yang jiwa dan badan merdeka tidak terbelenggu.’’

Jika masih kurang yakin, cobalah memaknai pesan Yusmar Yusuf: ‘’Jalan seni bukan dunia kerja. Dia bukan urusan tempat orang melamar atau bursa kerja, kemudian dipersepsi lagi sebagai dunia yang serba berjenjang eselon. Seni bukan persoalan sedangkal eselon itu. Dia bakal menjadi bahan tertawaan dunia yang telah menghadirkan seni sebelum agama-agama hadir dengan satu perintah langit; demi keteraturan manusia. Seni ialah sosok purba yang tak pernah takluk oleh para pecundang dalam zaman apapun. Karena seni menghadirkan dirinya pada basis tunggang bernama karya. Maka mereka yang berkaryalah yang memperoleh tempat.’’

Kalau Leman tak hendak jadi penulis sastra yang ‘pop’ maka jalan-jalan ‘stensilan’ melalui jalur media alternatif dapat jadi solusinya. Barangkali jalur-jalur seperti sastra cyber juga dapat dimanfaatkan. Leman tak perlu malu berupaya membuat proposal untuk mencari peluang agar karya-karyanya dapat diterbitkan dan didistribusikan.

Bukankah Leman berada dekat dengan lokasi kerja orang-orang kreatif yang berupaya melahirkan dan mengalirkan sastra dunia? Apalagi yang Leman tunggu, sering-seringlah berdiskusi dengan mereka jika ada waktu senggang. Leman juga dapat mengambil pembelajaran dari jalan-jalan kreatif yang telah dilakukan Andera Hirata dengan Laskar Pelangi yang dikatakan merevolusi sastra Indonesia setelah novelnya itu diterjemahkan dan diterbitkan di berbagai negara.

Konsep ‘’Buat, Baca dan Bagi’’ dari salah seorang sahabat yang aktif dalam dunia media alternatif mungkin dapat diterapkan juga agar karya Leman makin tersebar. Leman tak harus menukar keyakinan dan membelokkan agamanya agar cepat terkenal.

Atah Roy mampu memberi kritik sastra yang bermanfaat dan tak pengkerdilan atau pembunuhan karakter Lemang dalam dunia sastra. Jika terdapat sosok-sosok muda seperti Leman dan Atah Roy dalam kehidupan nyata maka jalan-jalan kreatif untuk membuat karya sastra dapat dibaca dan diapresiasi orang. Leman juga dapat mengenalkan karya-karya dalam kerja-kerja sastra dan aktivitas budaya yang sangat beragam.

Dalam cerita, Atah Roy telah memberi kritik sastranya terhadap puisi-puisi Lemang. Ini untuk membuka horison harapan Lemang agar menjadi sosok muda yang cerdas mengkritisi dan berani mempertanyakan segala hal tanpa harus jadi ‘perajuk’ jika tak ditulis namanya dan dibesar-besarkan sebagai seseorang yang telah ‘berbuat’.

Selain itu juga ditemukan, antara golongan tua dan muda masih sering bertelagah. Saat ini acap ditemukan orang-orang tua yang dengan pongahnya mengkerdilkan generasi muda yang dianggap tak dapat berbuat apa-apa. Golongan tua pula yang terkesan menciptakan stigma itu sebagai upaya yang cemas dan takut dengan golongan muda yang dikhawatirkan akan mengeser posisi enak mereka. Berapa banyak orang muda yang jadi pemimpin di negeri ini? Kalaupun ada mungkin setali dengan pemegang tali kekang kuda.

Dalam cerita ini disebutkan bahwa Leman menyindir Atah Roy: ‘’Sebagai orang tue, ape yang Atah buat? Pandai menyalahkan aje? Lepas tu merajuk kala tak dibawak?’’

Agaknya sifat perajuk yang sering ditemukan dalam masyarakat saat ini adalah hasil nyata perjuangan golongan tua yang suka merajuk sehingga menurun ke generasi muda. Pada umumnya secara psikologis orang-orang muda itu pemberani dengan darah muda. Entah kenapa, mungkin sebab tiap hari sudah diberi teladan untuk merajuk, orang muda yang pemberani sudah langka.

Dalam kisah kunjungan Atah Roy, nilai kesejarahan yang ingin disampaikan adalah mengenai eksistensi sebuah perkumpulan cendekiawan orang-orang Melayu dalam Rusdiyah Klab di Pulau Penyengat. Sedang nilai kesusastraan yang ada selain gaya bahasa yang digunakan penulisnya dengan kekuatan karakteristik bahasa Melayu juga terdapat pesan mengenai sebentuk kritik sastra yang telah disampaikan penulis melalui percakapan Atah Roy dan Leman Lengkung.

Dalam kisah ini juga terdapat teknik memotivasi orang muda dalam diskusi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan dan kritik tentang eksistensinya agar lebih terbuka cakrawala berpikirnya. Dalam kisah Atah Roy juga terdapat nilai silaturahim tentang golongan tua masih senang berdiskusi dengan golongan muda.

Tak salah kiranya jika dinyatakan bahwa Atah Roy dan Lemang Lengkung adalah sosok-sosok yang ‘istimewa’ meski tak pongah pula mereka berkoar-koar ‘kami istimewa’. Keistimewaannya terlihat pada kecintaan terhadap nilai-nilai lokal yang masih mau menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi meski Atah Roy dan Lemang Lengkung sudah terbiasa hidup di pusat kehidupan yang pekat dengan modern nan langka dengan keindahan bahasa lokal.

Hang Kafrawi sebagai salah seorang sastrawan Indonesia yang bermastautin di Riau merupakan salah satu penulis dari sekian banyak penulis kreatif di Negeri Lancang Kuning. Kisah yang berjudul ‘’Kunjungan Atah Roy ke Penyengat’’ merupakan salah satu tulisannya dari 71 kisah dalam Blog Hikayat Atah Roy. Jika di antara pembaca ingin menambah sebentuk kenikmatan saat membaca Atah Roy dalam kisah-kisahnya maka Atah Roy dalam ‘’Hantu Duit’’ di halaman ‘’Pujangga ‘’ Riau Pos Spesial dapat menjadi salah satu hidangan berikutnya. Hang Kafrawi telah berhasil menggunakan Atah Roy dalam kisah yang ditulisnya untuk menjadi sebuah media menyampaikan pesan yang memiliki makna serta bermanfaat.

Syabas, makin hari makin bertambah pula sosok-sosok kreatif yang akan merubah kerisauan bahwa sastra di Riau menjadi seakan-akan redup setelah beberapa sastrawan besarnya berpulang menghadap Sang Pencipta. Selama kata, kalimat dan paragraf belum dilarang untuk dituliskan maka selama itu pula akan bermunculan penulis-penulis kreatif yang tidak akan terjebak dalam stagnansi untuk berkreativitas meski dihadapkan dengan minimnya anggaran dan kepedulian berbagai kalangan tentang esensi sastra untuk memanusiakan manusia. Semoga ‘’Hikayat Atah Roy’’ dapat diterbitkan dalam bentuk buku sehingga makin bertambah kesempatan pembaca dan penikmat sastra untuk membaca, meneroka dan menelaahnya tak sebatas hanya di laman-laman online dengan majalah digital dan blog.***

*) Ahlul Hukmi, Bermastautin di Dumai dan merupakan salah seorang penikmat seni, sastra, budaya dan humaniora
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/12/kritik-sastra-dalam-kunjungan-atah-roy.html

Komentar